
"Saya kenal Cantik saat di kampus, Om. Kami satu jurusan hanya beda tingkat." jawab Bara.
"Oh gitu, kamu sudah semester berapa.?" tanya Gavin.
"Saya kebetulan sudah masuk semester enam." jawab Bara.
"Oh kurang sebentar lagi, ya."
"Iya, Om."
"Kamu ada berapa bersaudara.?"
"Ada dua bersaudara, tapi adik saya sudah meninggal." jawab Bara pelan.
"Oh maaf, saya nggak bermaksud mengingatkan." ucap Gavin.
"Nggak apa-apa, Om. Santai saja." jawab Bara.
"Orang tua masih lengkap semua?" Gavin bertanya seolah mengintrogasi calon menantu.
"Alhamdulilah masih, Om. Ayah sama Bunda masih ada. Mereka kebetulan ada di Surabaya." jawab Bara.
"Oh jadi kamu disini merantau gitu, atau gimana?" tanya Gavin.
"Enggak, Om. Kami sekeluarga asli Jogja, cuma sejak kejadian adik saya meninggal, Bunda kadang sering masih keinget. Akhirnya sama Ayah dibawa ke Surabaya untuk sementara. Akhirnya keterusan dan kerasan di Surabaya." jelas Bara.
"Lalu kerjaan Ayah kamu nggak keganggu dengan kepindahannya.?" tanya Gavin menyelidik.
"Kebetulan Ayah punya usaha mebel, dan usahanya disini dipegang sama Om, jadi kadang-kadang Ayah ke Jogja untuk mengecek saja." jawab Bara.
Gavin manggut-manggut saja saat Bara menceritakan tentang keluarganya. Tak lama kemudian Cantik keluar dan sudah ganti baju yang lebih santai.
"Pa, Kak Bara. Dipanggil Mama untuk makan malam." ucap Cantik.
"Iya, sayang." jawab Gavin.
__ADS_1
Mereka berdua berdiri lalu menuju meja makan. Disana sudah siap semuanya makanan yang sudah disiapkan sama Bu Ratih.
"Ayo Nak Bara, silakan dinikmati makan malamnya." ucap Bu Ratih.
"Iya, Tante." jawab Bara.
Akhirnya mereka bertiga mulai makannya. Bu Ratih dengan telaten meladeni suami, anak dam tamunya. Saat makan mereka ngobrol ringan.
"Oh iya Pa, Cantik tadi diajak ke tempat usaha Kak Bara, lho.!" ucap Cantik tiba-tiba.
"Oh iya, Nak Bara ini sudah punya usaha sendiri.?" jawab Gavin.
"Iya, Om. Usaha kecil-kecilan saja, kok. Buat nambah-nambah ongkos kuliah sama bensin mobil, hehe." jawab Bara sambil tertawa kecil.
"Jangan merendah gitu, besar kecilnya usaha tetap kita kan pimpinannya, apapun itu harus disyukuri." jawab Gavin.
"Iya, Nak. Jarang-jarang lho, anak muda seusia kamu mempunyai usaha sampingan kalau bukan memang anak itu bersungguh-sungguh." sahut Bu Ratih.
"Iya, Ma. Benar yang kamu bilang." sahut Gavin.
Ketika mereka lagi makan-makan, tiba-tiba terdengar ada suara mobil datang. Dan ternyata Gazi datang. Dia langsung menuju meja makan untuk menyalami Mama dan Papanya. Kemudian dia menoleh kearah Bara.
"Kak Bara, ini Kakakku Gazi. Kak Gazi ini Kak Bara teman Cantik." ucap Cantik.
"Oh iya, Bara."
"Gazi."
"Zi, sekalian makan Nak." sahut Bu Ratih.
"Iya, Ma." jawab Gazi sambil mengambil tempat duduk.
"Kak Gazi ini kuliah ambil apa.?" tanya Bara.
"Saya ambil menejemen." jawab Gazi.
__ADS_1
"Oh iya, ini tadi Cantika saya yang anterin pulang." ucap Bara.
"Oh iya nggak apa-apa. Soalnya saya tadi ada tugas." jawab Gazi.
"Iya, Kak. Nggak apa-apa." jawab Bara.
"Oh iya, Pa. Gazi sama teman Gazi mau buka usaha." ucap Gazi.
"Hmmm, bagus itu. Kamu mau usaha apa, sayang?" tanya Gavin.
"Hari teman satu kelas Gazi kan pernah kerja disebuah cafe, dia mau ajak Gazi buka usaha cafe. Gimana, Pa.?" tanya Gazi.
"Nggak apa-apa, Papa sih setuju saja. Asalkan bisnis itu dijalankan dengan serius." jawab Gavin.
"Iya, Nak. Mama juga setuju. Apapun usahanya kalau dijalankan dengan lkhlas dan serius pasti akan berhasil." sahut Bu Ratih.
"Aku juga setuju, Kak. Karena usaha seperti itu sekarang sudah rame dan prospeknya juga bagus." ucap Cantik.
"Kalau boleh saya menawarkan, untuk pengerjaan logo dan banner serta promosinya biar saya yang handle. Gratis buat Kak Gazi sekalian promosi." ucap Bara.
"Wooow keren sekali itu, pasti kolanorasi yang sangat luar biasa." jawab Cantik.
"Boleh juga, nanti akan saya pertimbangankan lagi. Setelah nanti saya sudah fix, akan saya hubungi lagi." jawab Gazi.
"Papa setuju. Jika kalian jadi kerja sama, maka silahturahmi kita akan tetap terjaga. Bukan begitu Nak Bara.?" tanya Gavin.
"Oh, iya Om. Saya juga sangat senang sekali kalau bisa membantu Kak Gazi. Selain pengalaman, jam terbang juga sangat penting." jawab Gazi.
"Iya, Nak Bara. Om sangat setuju dengan apa yang kamu bilang barusan. Saya akan jadi orang nomor satu yang mendukung kalian." ucap Gavin sambil tersenyum kearah Gazi dan Bara.
"Papa kok sangat senang sekali gitu ya. Apa Papa punya harapan terhadap Bara." ucap Bu Ratih sambil menatap suaminya.
--------------------------------
Bersambung......
__ADS_1