
Bu Ratih terkejut ketika Farrel menyebutkan nama itu. Kalau yang dimaksud Farrel adalah Irene Kakak iparnya, berarti dunia ini sempit. Dan dia harus mengatakan pada Farrel kalau ibunya sekarang sedang sakit keras.
"Farrel, saya mau bilang sesuatu. Tapi, kamu jangan kaget, ya?" ucap Bu Ratih.
"Iya, Bu." jawab Farrel.
"Rel, saya punya Kakak namanya Bagas. Dia menikah dengan wanita yang bernama Irene. Lalu Ibu dari wanita itu bernama Retno. Mudah-mudahan orang-orang yang saya sebutkan baru saja itu benar keluarga kamu." jelas Bu Ratih seraya memegang tangan Farrel.
"Apa Bu.! Bu Ratih nggak bohong, kan? ayo antarkan saya menemui mereka, Bu.!" ucap Farrel dengan wajah serius.
"Sabar, ya? saya mau telponkan Mas Bagas dulu.
Kemudian Bu Ratih menghubungi Bagas, dia lalu ngobrol ditelpon dan bicara apa yang baru saja dia alami. Tak lama kemudian Bu Ratih mengakhiri pembicaraannya.
"Rel, nanti kamu saya kasih nomor Mas Bagas, terus kalian janjian sendiri, ya. Karena Mas Bagas masih ada meeting." ucap Bu Ratih.
"Baik, Bu Ratih. Sekarang apa Bu Ratih saya antarkan pulang?" tanya Farrel.
"Kita balik ke kampus aja dulu, bilang sama Pak Anwar. Soal nanti pulang, gampang. Bisa naik Taxi." ucap Bu Ratih.
"Ya sudah kalau gitu. Sekarang kita balik kampus." jawab Farrel.
Kemudian Farrel melajukan mobilnya menyusuri jalan raya. Dalam perjalanan Farrel kelihatan berbeda. Wajahnya sumringah dan senang. Setidaknya dia akan bertemu keluarganya yang sudah hampir tiga belas tahun nggak bertemu.
Farrel menunggu Bagas disebuah Cafe. Mereka janjian sekitar jam empat sore setelah Bagas pulang kantor. Tak lama kemudian datanglah mobil warna hitam ke pelataran Cafe.
"Farrel,!" tanya Bagas setibanya di meja dimana Farrel duduk.
"Iya, Mas Bagas.!" seru Farrel sambil mengulurkan tangannya.
Bagas menyalami pemuda itu, kemudian mereka duduk kembali. Farrel sudah memesankan minuman buat Bagas.
"Ratih tadi sudah cerita sebagian ke Mas, makanya dia meminta untuk kita ketemu langsung. Maaf, tadi masih ada meeting jadi harus nunggu." ucap Bagas.
"Iya, nggak apa-apa Mas. Saya ngerti, kok Mas." jawab Farrel.
Bagas menceritakan awal mula bertemu dengan Kakaknya. Kehidupan Kakak dan Ibunya sangat mengawatirkan sampai dia menjadi simpanan pengusaha kaya supaya bisa Ibunya mendapat perawatan yang bagus.
Sampai akhirnya Bagas jatuh cinta dan menolong Irene keluar dari jeratan pengusaha kaya tersebut. Kemudian dia menikahi Irene dan hidup bahagia sampai sekarang.
Bagas juga menceritakan kalau Kakaknya sekarang sudah punya usaha sendiri Cathering dan lumayan sukses. Farrel berkaca-kaca mendengar cerita Bagas.
"Sekarang Ibu kamu dirawat di rumah sakit untuk jalani kemo. Kami berdua, aku dan Kakakmu selalu rutin menjenguk. Berhubung kami berdua sibuk, jadi Mas sewa orang untuk mengurusi dia dirumah sakit." jelas Bagas.
"Ya ampun.., Ibu sakit, Mas. Farrel kangen banget sama Ibu dan Kak Irene." ucap Farrel dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Iya, setelah ini kalian akan bersatu kembali dan tidak akan terpisahkan lagi." ucap Bagas.
"Dulu aku hidup enak, sedangkan Ibu dan Kakakku hidupnya setragis ini, semua memang karena ulah Ayahku." seru Farrel sambil memukul-mukul meja.
"Sudah kamu tenang, ya. Sekarang lebih baik kita jemput Kak Irene dikantornya lalu ke rumah sakit bareng-bareng." ucap Bagas.
"Baiklah, Mas." jawab Farrel.
Keduanya meninggalkan Cafe itu. Mereka mengendarai mobil sendiri-sendiri. Setelah sampai di kantor Irene. Keduanya memarkirkan mobilnya dihalaman.
Bagas menuju ruangan yang nggak begitu besar dalam gedung itu. Dimana ruangan itu terletak paling depan sendiri tapi letaknya disisi sebelah kiri. Yang lainnya bangungan itu sendiri terdiri dari dapur, gudang, lalu ruangan packing. Mungkin ruangan khusus untuk menata pesanan makanan.
Setibanya diruangan Irene, Bagas membuka pintunya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Sedangkan Farrel berada dibelakang Bagas.
"Sayang, lihatlah, aku datang dengan siapa?" seru Bagas seraya menoleh kearah pemuda yang kini berdiri di depan mereka.
Irene berdiri dari tempat duduknya, terlihat perutnya yang mulai membuncit. Dia menatap pemuda itu lalu tiba-tiba matanya mulai berembun.
"FARREL.!!" teriak Irene sambil berlari memeluk Adiknya itu. Mereka berpelukan sambil menangis. Demikian juga dengan Farrel memeluk tubuh Kakaknya sambil menangis.
"Kamu kemana aja Dek, Kakak dan Ibu kangen banget sama kamu." ucap Irene dipelukan Farrel.
"Iya, Kak. Farrel juga kangen banget sama kalian. Aku selama ini bingung mau mencari kemana sedangkan foto atau sedikit tanda untuk mencari Kakak sama Ibu tidak ada." jawab Farrel.
Irene kemudian melepaskan pelukannya. Dia lalu memandangi Adiknya itu dari atas sampai bawah. Begitu gagahnya Adiknya yang dulu masih bocah.
"Kakak juga cantik, dan ini calon keponakan Farrel" ucap Farrel seraya mengelus perut Kakaknya yang mulai buncit.
"Iya, Rel. Ini anak Kakak dan mas Bagas." sahut Irene sembari melirik suaminya.
"Ayo kita jenguk Ibu, Kak. Aku kepingin ketemu Ibu." ucap Farrel.
"Iya. Tapi, sebentar tunggu Kakak beresin ini dulu. Kalau nunggu jam kerja selesai pukul enam sore nanti kelamaan." jawab Irene.
Kemudian mereka bertiga berangkat menuju rumah sakit. Setelah sampai rumah sakit, Irene mengajak Farrel ke ruangan dimana Ibunya dirawat.
"Bu Dahlia, apa Ibu saya dari tadi tidurnya?" tanya Irene sama orang yang merawat Ibunya selama ini.
"Baru saja Bu Retno tidur, Mbak. Kasihan kalau dibangunkan." ucap Dahlia.
"Ya sudah, nggak apa-apa, Bu." sahut Irene.
Irene menyuruh Farrel mendekat. Dia lalu memegang tangan wanita paruh baya itu, menciuminya sambil air matanya mengalir deras. Semua yang ada diruangan itu ikut terharu melihat pertemuan Ibu dan Anak selama tiga belas tahun berpisah. Sekali bertemu ternyata kondisi sang Ibu sakit parah.
"Bu, Farrel kangen banget sama Ibu. Selama ini Farrel hidup dengan Kakek Burhan. Ayah nggak tahu gimana kabarnya. Yang penting sekarang Farrel bisa ketemu Ibu dan Kak Irene." ucap Farrel sambil terus menciumi tangan Ibunya.
__ADS_1
Irene memegangi pundak Adiknya itu. Dia juga senang banget karena sekarang keluarganya kembali bersatu meskipun tanpa Ayahnya.
"Aku berterima kasih sekali karena sudah kenal Bu Ratih. Dengan mengenalnya aku kini bisa bertemu dengan Kakak dan Ibu." ucap Farrel.
Mereka semua kelihatan senang sekali dengan kejadian ini. Tuhan masih menyanyangi mereka karena masih dipertemukan dengan orang-orang terkasih.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah beberapa bulan kemudian, setelah pertemuannya dengan Irene dan Ibunya, Farrel keliatan senang. Dia semakin akrab dengan keluarga Bu Ratih. Dia juga rajin menjenguk Ibunya di rumah sakit. Sekarang hari-harinya lebih semangat.
Seperti halnya soal pendekatannya sama Vanya ternyata membuahkan hasil. Dia selalu bercerita dengan Bu Ratih. Karena sekarang menjadi keluarga membuat dia nggak sungkan kalau mau cerita. Kini Vanya lebih sering bersama Farrel.
Sore itu setelah ngajar, Bu Ratih dijemput Gavin. Dia menunggu seperti biasa. Tak lama kemudian Gavin datang dan menjemputnya.
"Sayang, hari ini aku capek banget. Badanku lemas." ucap Bu Ratih.
"Apa aku antar ke Dokter.?" tanya Gavin.
"Nggak usah, langsung pulang aja." jawab Bu Ratih lemas.
Gavin yang mendapati istrinya seperti itu, dia langsung panik. Dia mempercepat mobilnya supaya lekas sampai rumah. Setibanya dirumah, Bu Ratih turun dari mobil dan belum beberapa langkah tiba-tiba dia terjatuh didekat pintu.
Gavin langsung berlari dan menggendong istrinya kedalam. Pak Indra dan Bu Hesty langsung kaget. Dia langsung menelpon Dokter pribadi keluarga wijaya. Tak lama kemudian datanglah Dokter itu.
Gavin dan keluarganya panik dan melihat Dokter lagi memeriksa Bu Ratih. Tak selang lama, kemudian Dokter mendekati Gavin dengan senyuman.
"Selamat, Pak Gavin. Sebentar lagi Anda menjadi seorang Ayah. Istri Anda hamil. Besok langsung bawa ke rumah sakit buat pemeriksaan lebih lanjut." ucap Dokter itu.
Seketika Gavin menampakan kegirangan. Wajahnya sumringah mendengar apa yang diucapkan Dokter itu. Pak Indra dan Bu Hesty yang mendengar juga senang.
"Alhamdulilah.., Terima kasih Dok. Iya, besok saya akan membawanya." jawab Gavin.
"Ya sudah, kalau gitu saya permisi dulu. Mari Pak Indra, Bu Hesty." seru Dokter itu.
Gavin mengantar Dokter itu keluar. Bu Ratih masih terbaring ditempat tidur. Ada Bu Hesty dan Pak Indra. Tak lama kemudian Gavin datang lagi.
Dia langsung memeluk istrinya erat. Bu Ratih yang belum tahu tentang kehamilannya itu jadi heran dengan sikap suaminya. Dia sedikit nggak enak kalau Gavin main peluk kayak gini, karena dilihat mertuanya.
"Kenapa sih, kamu peluk-peluk gini?" tanya Bu Ratih.
"Kamu, tahu nggak sayang. Kamu akan menjadi seorang Ibu.!" teriak Gavin.
"Apa.! beneran sayang. Aku hamil?" seru Bu Ratih sembari memeluk kembali suaminya.
Mereka kesenangan sampai-sampai nggak memghiraukan keberadaan orang tuanya. Bu Hesty dan Pak Indra tersenyum melihat Anak anak dan menantunya itu.
__ADS_1
----------------------------------
Bersambung.....