
Ketika sampai rumah Budhe Rahayu, Mereka langsung masuk kedalam rumah. Disitu sudah ada Budhe Rahayu yang tengah duduk diruang tamu.
"Silahkan duduk, Pak Didit." ucap Bu Ratih.
Bu Ratih kemudian ikut duduk diruang tamu itu. "Mau ngomong apa, Budhe.?"
"Gini, Tih. Kapan hari Nak Didit ini kan ketemu Mbak mu Ifa soal mau ngontrak itu. Lah, tanpa sepengetahuan Ifa Nak Didit ini diam-diam bilang suka sama Ifa ke Budhe. Gimana menurut kamu, Tih?" ucap Budhe.
"Ah, yang bener, Pak." seru Bu Ratih.
"Iya, Bu. Mungkin sudah saatnya saya bisa bangkit lagi soal asmara." jawab Pak Didit.
"Syukurlah kalau gitu, Mudah-mudahan Mbak Ifa bersedia." ucap Bu Ratih.
"Apa Nak Didit sudah ngabari orang tuanya di Surabaya?" tanya Budhe.
"Sudah, Budhe. Orang tua saya bilang, kalau memang Mbak Ifanya setuju nanti disegerakan." jawab Pak Didit.
"Ifa kemarin sudah Budhe singgung dikit soal Nak Didit, cuma responnya hanya tersenyum saja." ucap Budhe.
"Nanti coca Ratih bantu bicara sama Mbak Ifa, ya Budhe." ucap Bu Ratih.
Ternyata memang benar dugaanku tadi. Pasti soal perjodohan Pak Didit sama Mbak Ifa. Aku sangat senang jika mereka berdua berjodoh. Karena, selama aku kenal Pak Didit, aku lihat dia laki-laki baik dan pintar. Jika, Mbak Ifa bersedia, alangkah bahagianya Budhe Rahayu. Batin Bu Ratih.
.
.
.
Malam harinya Bu Ratih menceritakan apa yang terjadi dirumah Budhe Rahayu. Gavin juga setuju jika memang mereka berjodoh, karena keduanya sama-sama irang baik.
"Jadiin aja, Ma. Aku rasa Mbk Ifa juga suka, cuma dia masih malu-malu saja." tukas Gavin.
"Iya juga, ya Pa. Mungkin Mbak Ifa masih malu." jawab Bu Ratih.
Tiba-tiba Raka muncul dan langsung duduk ditengah-tengah Gavin dan Bu Ratih. Mereka akhirnya menghentikan pembicaraan orang dewasa itu.
"Pa, besok kan hari minggu. Kita jalan-jalan, yuk?" ajak Raka.
"Lihat besok, ya sayang?" jawab Gavin.
__ADS_1
"Kenapa, Pa. Emangnya Papa mau kemana?" tanya Bu Ratih.
"Aku mau ketemuan sama Pak Fajar bahas perollingan menejer. Soalnya restoran yang di Semarang itu menejernya agak kurang beres, Ma." jawab Gavin.
"Kurang beres gimana, Pa?" tanya Bu Ratih.
"Dia kan keponakannya Pak Robby teman Papa Indra yang dulu join itu. Jadi kalau ada kekeliruan ataupun kesalahannya nggak ada yang berani negur. Pak Fajar aja dia nggak berani." jawab Gavin meyakinkan.
"Ya ampun, ada hikmahnya ya Pak Robby menjual separoh sahamnya ke Papa Indra. Jadi kamu sendiri kan yang pegang. Coba kalau nggak, bakal dia terus yang berkuasa dan semena-mena." ucap Bu Ratih.
"Pokoknya sekarang aku harus benar-benar ekstra ketat dalam mengawasi semua bisnis ini. Untung Pak Fajar itu orangnya jujur dan bisa diandalkan, coba kalau nggak ada Pak Fajar, aku nggak bisa apa-apa disini, Ma." jelas Gavin.
"Iya, Pa. Kita harus tetap waspada." ucap Bu Ratih.
"Hoaaaaamm..!" ternyata Raka nguap.
"Ya ampun, Pa. Anak kita sudah ngantuk. Ayo cuci kaki dan tangan dulu sebelum tidur." titah Bu Ratih.
"Baik, Ma."
Gavin memperhatikan dua malaikat dalam hidupnya. Dua-duanya adalah penguat dalam dirinya. Karena mereka berdualah Gavin bisa bertahan sampai sekarang. Meskipun dulu sempat ada prahara kecil hanya untuk mendapatkan Raka, Gavin tidak akan lupa akan semua itu.
"Kasih, aku tahu kamu mencintaiku, dan aku juga sempat mempunyai rasa nyaman sama kamu, tapi kamu nggak mau egois akan perasaanmu itu sehingga kamu memilih pergi dari aku dan anakmu. Dimanapun kamu berada, aku senantiasa berdoa semoga kamu sekeluarga selalu dalam lindungan Tuhan yang Maha Esa." ucap Gavin dalam hati.
Hari minggu ini Bu Ratih menghabiskan waktunya dengan anaknya tersayang. Gavin pagi-pagi telah pamit untuk ketemu Pak Fajar guna membicarakan soal kerjaan. Mungkin nanti siang dia sudah pulang. Tadi Gavin sudah berjanji sama anaknya kalau nanti sore dia akan mengajaknya jalan-jalan.
.
.
.
Kali ini dirumah mertuanya Kasih yang kebetulan juga di kota yang sama dengan Gavin dan Bu Ratih lagi kumpul sekeluarga.
"Nek, Gazi senang disini. Apa nanti Gazi boleh sekolah disini?" ucap Gazi polos.
"Boleh saja, sayang. Tapi, Ayah dan Bundamu kan kerjanya di Jakarta. Ya kalau kangen Nenek dan Kakek saja kamu main kesini." jawab Neneknya.
"Oh iya, Bu. Sekarang Ibu tahu kabarnya si Bram anaknya bulek Warni?" tanya Rahman.
"Oh dia, terakhir Ibu dengar dia kerja di Hotel. Tapi, nggak tahu lagi sekarang. Dia juga sudah nikah anaknya satu baru umur dua tahun." jawab Ibunya.
__ADS_1
"Oh iya. Hebat dong kerja di Hotel. Dulu dia itu anaknya pemalu tapi pinter." ucap Rahman.
"Siapa itu Bram, Mas." sahut Kasih.
"Kamu nggak tahu. Dia anaknya bulek Warni. Saudara jauh dari Bapak." jawab Rahman.
"Oh gitu." jawab Kasih.
"Oh iya, Man. Kamu ingat Ifa teman kamu saat SMP dulu. Kan sekarang Janda. Suaminya meninggal karena kecelakaan saat usia pernikahannya baru satu tahun." ucap Ibunya.
"Ya ampun, kasihan Ifa dong, Bu sekarang jadi janda. Dia itu anaknya kreatif dan lincah" jawab Rahman.
"Terus kalau janda kenapa, Mas. Kamu nyesel karena telah terlanjur menikah denganku, dan sekarang teman SMP mu jadi janda.?" tanya Kasih sinis.
"Kamu itu ngomong apa, sih Bun.!" ucap Rahman.
"Lah kamu reaksinya segitunya ketika mendengar kata janda.!" sahut Kasih.
"Nggak tahu lah. Kamu ini aneh!" ucap Rahman dengan nada tinggi.
Dia nggak tahu kalau didepannya ada Gazi. Anak kecil itu tahu kalau orang tuanya lagi bertengkar. Dia menangis lalu berdiri dan berlari menuju halaman. Rahman dan Kasih spontan kaget karena melihat anaknya berlari kencang menuju jalan raya.
"Kamu sih, Mas. Ngomongnya pake bentak-bentak aku segala. Dia jadi takut, kan?" ucap Kasih.
"Lah kamu mancing orang emosi saja!"
"Sudah-sudah.! kok kalian malah bertengkar. Sekarang kejar anak kamu?" sahut Ibunya Rahman.
Kasih langsung berlari mengejar Gazi, demikian juga Rahman. Ternyata Gazi larinya kencang sekali, dan ketika melewati lampu merah diperempatan jalan, dia nggak tahu kalau lampu sudah nyalah hijau dan akhirnya.
Ciiiiiiitttt...braaaak..!!!!
Sebuah motor matic telah menabrak Gazi tepat ditengah perempatan jalan itu. Pengemudi sudah nggak ada waktu buat mengerem motornya karena Gazi cepat sekali larinya. Kasih semakin histeris karena melihat anaknya tergeletak dijalan raya.
"Gaziii...,!!"
Seketika Kasih dan Rahman memeluk anaknya. Lalu kemudian orang berdatangan untuk melihat. Rahman tengah cari bantuan untuk membawa anaknya ke rumah sakit.
Tak lama kemudian ada mobil berhenti tepat disamping mereka. Mobil itu berhenti lantaran nggak bisa jalan karena terhalang banyaknya orang.
Rahman menggedor-gedor kaca mobil. Kemudian pengemudinya membuka kaca mobil itu. "Kamu, Bram? ayo tolong anterin anakku kerumah sakit."
__ADS_1
---------------------------------
Bersambung...