
Gavin menyusuri jalan menuju rumahnya. Sesampainya dirumah, dia langsung memarkirkan mobilnya di garasi. Dengan wajah yang penuh kegembiraan dia nggak sabar menyampaikan hal ini sama Kakak iparnya.
"Kak, Kak Kinan!" teriak Gavin sambil mencari-cari Kakak iparnya. Ternyata yang dicari ada di dapur bersama Bibi.
"Kak, aku bawa kabar bagus.!" ucap Gavin.
"Apa, Vin.?" jawab Kinan.
"Papa, hari ini sudah boleh dibawa pulang, karena nggak ada yang serius.?" ucap Gavin.
"Alhamdulilah, Vin. Akhirnya Papa pulang juga." jawab Kinan.
"Iya, Kak. Nanti sore kita jemput di Bandara." sahut Gavin
"Baik, Vin." jawab Kinan.
Gavin kemudian melangkah keluar menemui Pak Narto. Ternyata Pak Narto sedang memcuci mobil di sebelah rumah.
"Pak Narto, nanti sore antar saya jemput Papa di Bandara, ya?" ucap Gavin.
"Apa, Den.! Tuan sudah boleh pulang?" tanya Pak Narto.
"Iya, Pak. Papa sudah nggak apa-apa. Nanti sore jam empat an kita ke Bandara." ucap Gavin.
"Alhamdulilah, iya, Den Gavin. Saya siap!" sahut Pak Narto.
Kembali Gavin melangkah meninggalkan Pak Narto. Dia masuk rumah kemudian naik keatas menuju kamarnya.
Dihempaskan tubuhnya ke tempat tidur kesayangannya itu. Matanya menatap plavon kamarnya yang penuh dengan ukiran. dia kembali membayangkan kalau habis ini akan melangsungkan pertunangan dengan kekasih tercintanya.
Bu Dosen cantik. Bu Ratih yang galak, disiplin dan selalu ceria. Keseluruhan dari apa yang ada di diri Bu Ratih itulah yang membuat Gavin jatuh cinta. Meskipun usianya beda empat tahun lebih tua darinya, tidak akan membuatnya patah semangat.
Apalagi kejadian buruk yang menimpa kekasihnya waktu itu, juga tidak melunturkan rasa sayang dan cintanya sama Dosen cantik itu. Gavin sedikit nggak tenang jika Seno benar-benar keluar dari penjara. Apalagi si Ferry maulana itu, kenapa sih nggak henti-hentinya dia mengganggu keluarganya. Gavin masih rebahan diatas tempat tidurnya. Sampai akhirnya dia ketiduran.
Sekitaran jam dua ia kebangun, mungkin semalam dia kurang tidur, jadi dia tidur sampai lama banget. Dia lalu masuk kamar mandi untuk siap-siap. Setelah sekitaran tiga puluh sampai empat puluh menitan dia keluar kamar lali menuju meja makan. Dilihatnya Bibinyang sedang di dapur, kemudian menghampirinya.
"Den, Gavin mau makan? biar Bibi siapin!" ucap Bibi.
"Gak usah, Bi. Tolong, bikinin jus aja." sahutnya.
"Baik, Den." jawab Bibi.
Gavin melirik jam yang ada di tangannya. Saat itu menunjukan pukul dua lebih empat puluh menit. Kinanti belum menampakan batang hidungnya.
__ADS_1
"Ini, Den. Jus nya!" ucap Bibi seraya menaruh segelas jus jambu merah kesukaan Gavin.
"Makasih Bi..." ucap Gavin sambil mengambil jus itu.
"Iya, Den." jawab Bibi.
Gavin kemudian meminum jus itu sambil memainkan ponselnya. Tak lama kemudia keluarlah Kinanti dari kamarnya, kemudian menghampiri Gavin di meja makan.
"Hey, Kak Kinan. Makan dulu, Kak!" ucap Gavin.
"Kamu, sudah makan apa, belum?" tanya Kinan balik.
"Aku, nggak lapar, Kak. Ini minum jus aja." sahutnya.
"Ya sudah, Kakak juga nggak lapar, kok." jawab Kinan.
"Lho, Kak Kinan makan aja dulu, aku tungguin, kok" ucap Gavin.
"Kakak minum aja, nggak apa-apa." ucap Kinanti.
"Ya Sudah, kalau gitu kita berangkat, sekarang." ucap Gavin.
"Okey," sahit Kinanti.
Keduanya melangkah keluar menemui Pak Narto yang sudah siap-siap di halaman. Ketika melihat kedua majikannya itu, dia langsung membukakan pintu mobil. Gavin duduk didepan dekat sopir, sedamgkan Kinanti dibelakang. Berangkatlah mereka menuju Bandara untuk menjemput Pak Indra.
Sementara ditempat lain, dikediaman Ferry maulana, Sasha sedang duduk-duduk santai dengan Papanya di teras belakang. Ditemani dua cangkir teh hangat serta makanan kecil. Pak Ferry terlihat sedang membaca sebuah buku. Sedangkan Sasha sendiri sibuk dengan ponselnya.
"Pa, Anaknya teman Papa yang kemarin, keren ya" ucap Sasha.
"Hmm.., kamu ini tahu aja barang bagus." sahut Pak Ferry.
"Iihh..Papa, orang kok di samain sama barang.!" jawab Sasha ketus.
"Iya, Papa becanda. Gitu aja sewot." jawab Pak Ferry.
"Pasti sudah punya pacar,!" ucap Sasha.
"Kalau, sudah punya pacar, emang kenapa?" tukas Pak Ferry.
"Ya, Sasha nggak ada kesempatan untuk mendekatinya."ucap Sasha menunduk.
"Sebelum janur kuning melengkung, masih bisa lah!" jawab Pak Ferry.
__ADS_1
"Emang, bisa Pa?" tanya Sasha.
"Serahin aja sama, Papa." jawabnya.
Sasha tersenyum senang ke arah Pak Ferry. Begitu pula sebaliknya, Pak Ferry melemparkan senyuman kearah anaknya.
Kemudian mereka menyerupu tehnya masing-masing.
Setelah itu Sasha pamitan menuju kamarnya. Sekarang Pak Ferry sendirian. Dibukanya ponsel yang tadi tergeletak diatas meja.
'Tolong, cari tahu hubungan asmara anak Indra wijaya yang bernama, Gavindra putera wijaya.'
send..
-----flashback dikit--------------
Pak Ferry memang terkenal keras. Dia menjadi seperti sekarang tidak mudah. Banyak rintangan dan masalah yang selalu mengiringi. Dulu dia memang berteman baik dengan Indra wijaya.
Sejak muda mereka berteman akrab, bahkan masa-masa kuliah. setelah menikah pun keduanya masih saling komunikasi, bahkan menjalin kerja sama. Mereka bertemu dan berkenalan saat masih dibangku kuliah, bahkan Pak Indra wijaya kenal Bu Hesty pun tak lepas dari campur tangan Pak Ferry.
Mereka dikenalkan saat Bu Hesty kerja part time di travel milik om nya Pak Ferry. Disitulah akhirnya Pak Indra ketemu Bu Hesty saat ada urusan dengan travel dimana Bu Hesty kerja.
Tapi ada rahasia besar antara Pak Ferry dan Pak Indra yang sampai sekaraƱg belum terungkap selain anak adopsi si Mahen.
Ternyata dulu diam-diam Pak Ferry Jatuh cinta dengan Bu Hesty. Berhubung saat itu keadaan Pak Ferry masih belum sekaya sekarang, jadi dia minder. Beda dengan Pak Indra secara keturunan dari dulu sudah kaya.
Makanya dia minder saat Bu Hesty di dekati Pak Indra. Ternyata Pak Ferry masih menyimpan semua rasa itu sampai sekarang. Bahkan setelah menikah dengan Mamanya Sasha pun, Pak Ferry tidak bisa melupakan cinta pertamanya. Sekarang dia menduda sudah lama. Dia ditinggal istrinya meninggal setelah melahirkan Sasha.
Saat itu dia masih merintis bisnis dari bawah. Kenapa selama ini dia selalu mengusik dan mengganggu kehidupan Pak Indra wijaya mungkin karena masa lalunya yang pernah sakit hati dengan Pak Indra.
Dia memendam cintanya kepada Bu Hesty, lantaran saat itu secara ekonomi yang siap menikahi seorang gadis adalah Pak Indra. Memang egois Pak Ferry, dia melampiaskan rasa sakit hatinya sama Pak Indra dengan menjadi benalu dan merongrong Pak Indra.
Setiap Bisnis yang dijalankan pak Indra selalu direcoki, bahkan nggak sungkan-sungkan meminta langsung. Tapi Pak Indra orangnya sabar, selama hal ini tidak berdampat negatif terhadap keluarganya dia akan penuhi semua permintaan Pak Ferry.
Drrrrttt.....drrtttt.....drrrrtttt....
Ponsel Pak Ferry bergetar.
'Pak, maaf. Info yang saya dapat nihil.'
Pak Ferry mukanya berubah memerah. Kepalan tangannya menahan amarah sudah diletakkan diatas meja.
"Apaaa.!!"
__ADS_1
Next...............(40).