
Gavin kaget karena Sasha tiba-tiba memeluknya. Dia takut kalau nanti dilihat orang yang mengenalnya dan salah faham. Perlahan Gavin melepaskan pelukan Sasha. Dan Sasha pun menyadari akan hal itu mungkin Gavin tak ingin terjadi salah faham.
"Maaf, Mas Gavin. Aku tadi kebawa suasana, harus cerita sama siapa." ucap Sasha.
"Iya, Nggak apa-apa. Sekarang kamu mau aku antar pulang atau gimana.?" tanya Gavin.
"Nggak usah Mas. Aku mau langsung ke rumah sakit karena harus kembali menunggui Mas Seno." jawab Sasha.
"Nggak apa-apa, sekalian aku mau jenguk Seno." jawab Gavin.
Akhirnya keduanya meninggalkan Cafe itu, Sasha merasa nggak enak karena sudah merepotkan Gavin. Sedangkan Gavin sikapnya biasa saja, karena dia merasa Sasha dan Seno adalah temannya.
Sesampainya dirumah sakit, Sasha membawa Gavin menuju kamar dimana Seno dirawat. Gavin kaget setelah mendapati Seno yang terbaring dengan kondisi badannya yang menyusut drastis.
Seno menoleh saat Gavin dan Sasha memasuki ruangan itu. Dia kaget kenapa tiba-tiba istrinya datang bersama Gavin. Awalnya Seno agak kurang suka, karena secara dulu istrinya pernah punya hati terhadap Gavin. Tapi, pikiran itu buru-buru dibuangnya.
"Sayang, ini aku datang bersama Mas Gavin. Tadi aku tak sengaja bertemu dengannya di sebuah Cafe saat aku janjian sama orangnya Pak Rustam." jelas Sasha pada suaminya.
"Apa kabar Sen.?" ucap Gavin sambil memegang lengan Seno.
"Aku sekarang ya seperti ini, Vin. Aku hanya pasrah saja soal penyakitku ini." ucapnya lemah.
"Kamu yang sabar, ya. Dan kamu harus semangat, karena biar cepat sembuh." ucap Gavin menghibur.
"Kamu sendiri gimana, Ratih apa kabar.?" tanya Seno.
Gavin sedikit terdiam. Wajahnya tiba-tiba berubah sedih. Seno dan Sasha saling pandang kenapa dia seperti itu. Tak lama kemudian Gavin tersenyum.
"Ratih sekarang masih cuti karena habis kegururan." jawab Gavin lirih.
"Apa.! Mbak Ratih keguguran.?" tanya Sasha dengan serius.
"Iya, Sa. Ratih habis keguguran karena kandungannya lemah. Dan lebih parahnya lagi, dalam rahimnya ternyata ada tumor dan mengharuskan dia untuk kehilangan rahimnya." jawab Gavin sambil matanya berkaca-kaca.
"Ya ampun, Mas. Sasha ikut prihatin ya. Kalian yang sabar, pasti dibalik semua ini ada hikmahnya." jawab Sasha.
"Aku juga ikut prihatin, Vin." ucap Seno.
"Iya, makasih...," jawab Gavin.
Setelah ngobrol-ngobrol, akhirnya Gavin pamit pulang. Sasha mengantarkan Gavin sampai pintu. Gavin juga bilang nanti kapan-kapan akan datang lagi sama Bu Ratih.
.
.
.
Saat dirumah, setelah selesai mandi dan duduk-duduk sama istrinya diruang tengah. Gavin memeluk pundak istrinya dari samping sambil menonton TV.
__ADS_1
Kasih menghampiri mereka sambil membawakan makanan kecil buat majikannya itu. Setelah itu dia kembali ke belakang.
"Gimana kerjaan hari ini, sayang.?" tanya Bu Ratih pada suaminya.
"Alhamdulilah lancar, sayang." jawab Gavin.
"Oh iya, tadi Mama telfon aku, Kak Kinan masih bukaan empat. Mungkin nanti malam atau nggak gitu besok pagi pasti udah lahiran." jelas Bu Ratih.
"Semoga dilancarkan kelahirannya." jawab Gavin.
"Amiin..!" ucap Bu Ratih.
"Oh iya, tadi pas aku makan siang dengan orang Marketing diluar, ketemu Sasha ditempat makan itu. Dia ternyata ada masalah. Seno punya sangkutan hutang sama orang dan Sasha tadi mencoba ketemuan sama orang buat nego soal penangguhan cicilan. Ternyata mereka terlibat cekcok dan Sasha sempat ditampar. Makanya setelah itu aku mencoba menolongnya. Dan lebih parahnya lagi, Seno divonis kena kanker otak. Kasihan kan?" jelas Gavin.
"Apa.! Seno sakit kanker.?" tanya Bu Ratih.
"Iya, sayang. Sasha kayaknya memang lagi dalam masalah, uangnya habis buat pengobatan Seno." jawab Gavin.
"Kenapa nggak minta bantuan sama Papanya Sasha atau keluarganya Seno?" tanya Bu Ratih.
"Aku kurang tahu, sayang. Tadi, saat lagi cekcok sama dept colektornya, aku nggak pakai pikir panjang, mereka aku kasih kartu namaku, soal urusan hutang nanti sama aku.!" ucap Gavin.
"Kamu mau bantu Seno, sayang?" tanya Bu Ratih dengan matanya membulat.
"Iya, sayang. Aku nggak tega saat Sasha didesak sama kedua dept colektor tadi. Makanya aku nggak pakai pikir panjang saat bilang akan menanggung hutangnya." jelas Gavin.
"Selama kita bisa berbuat baik sama orang lain, kenapa tidak. Toh mereka kan teman kita juga." jawab Gavin.
Saat mereka ngobrol, Kasih mendekati mereka untuk bilang saatnya makan malam. Gavin dan istrinya kemudian beranjak menuju meja makan.
Kasih dan Bibi menyiapkan semua makan malam. Mereka kini kembali berempat dirumah, karena Mama Papanya sudah balik ke rumah Mahen.
"Kasih,! kamu ajak Bibi sekalian untuk makan malam bareng disini.!" seru Gavin.
"Baik, Pak.!" jawabnya.
Tak lama kemudian mereka datang, dan Bibi sempat menolak karena merasa nggak pantas makan malam satu meja sama majikannya. Tapi, setelah Gavin memaksanya biar rame, akhirnya Bibi mau bergabung.
Gavin kalau punya kemauan pasti gitu, meskipun hal ini belum pernah sama sekali dilakukan saat ada Papa Mamanya, kini dia tiba-tiba pingin makan malam bareng-bareng sama asisten rumah tangganya.
"Ya sudah, sekarang kita makan bareng-bareng. Bibi makan aja apa yang Bibi suka." ucap Gavin.
"Makasih Pak Gavin..," jawab Bibi.
Makan malam kali ini sangat berbeda, karena Gavin mengajak Bibi sekalian makan bareng dimeja yang sama. Mereka berempat menikmati makan malam dengan lahapnya. Setelah selesai, Bibi dan Kasih kembali membereskan semuanya.
Gavin mengantarkan istrinya ke kamar karena sudah mengeluh capek dan ngantuk. Kasih tidak lupa membantu menyiapkan obat untuk diminum Bu Ratih. Setelah itu Kasih keluar kamar dan kebelakang kali aja masih ada yang harus dikerjakan.
Setelah semua selesai, Kasih melihat jam masih pukul delapan lebih. Dia belum ngantuk dan mencoba keluar teras untuk duduk-duduk. Dia mengamati sekeliling halaman rumah Gavin. Dalam hatinya, begitu besar rumah ini.
__ADS_1
Tanpa disadarinya kalau Gavin sudah berdiri didekat pintu dan memperhatikannya tanpa kedip. Seketika Kasih jadi kikuk dan kaget ketika mengetahui bahwa Gavin sudah didekatnya.
"Eh, Pak Gavin. Sudah dari tadi, Pak. Maaf, saya nggak tahu." ucap Kasih sambil gugup dan berusaha pindah dari duduknya.
"Sudah duduk saja. Ngapain berdiri.?" ucap Gavin.
"Mau saya buatin kopi, Pak?" tawar Kasih.
"Emm..Boleh. Tapi, kopi susu aja, ya?" jawab Gavin.
"Baik, Pak.!" jawab Kasih sambil beranjak meninggalkan Gavin sendiri.
Tak lama kemudian, Kasih kembali dengan membawa secangkir kopi panas. Kasih meletakan kopi itu diatas meja. Kemudian Kasih hendak pergi, tapi, tiba-tiba Gavin mencegahnya.
"Kamu mau kemana? terus kamu membiarkan saya minum kopi disini sendirian?" ucap Gavin.
Kasih mengurungkan niatnya, dan kini kembali duduk dikursi teras menemani majikannya itu.
"Sih, aku mau nanya sesuatu sama kamu?" ucap Gavin.
"Iya, Pak. Ada apa?" tanya Kasih.
"Saat kamu menjaga istri saya, apa kamu pernah lihat sikap dia yang berbeda semenjak mengalami masalah keguguran dan operasi.?" tanya Gavin.
"En..nggak pernah, Pak. Bu Ratih biasa-biasa saja." jawab Kasih.
"Saya kini yang bingung, Sih. Kemarin Papa bertanya sama aku, setelah istri saya mengalami hal ini, apa saya nggak punya keinginan untuk menikah lagi supaya saya punya anak. Tapi, Papa hanya bertanya bukan menyuruh. Kalau dia nggak memaksa saya untuk itu. Malah dia bilang jika saya mengadopsi anak pun, dia mau menganggap anak itu sebagai cucu kandungnya. Saya, bingung Sih. Saat saya dan istri saya mengalami masalah ini, yang kami pikirkan hanya perasaan kami saja, padahal ada juga perasaan yang harus kita pikirkan, yaitu orang tua saya. Mereka juga menginginkan lahirnya seorang cucu dari saya dan istri saya. Kalau menurut kamu, saya harus bagaimana, Sih?" jelas Gavin sambil menyandarkan kepalanya disandaran kursi.
"Maaf, Pak. Sebenarnya saya juga nggak tahu Bapak harus gimana. Memang sulit bagi Pak Gavin. Misal Pak Gavin mau menyetujui apa yang Pak Indra katakan soal nikah lagi, terus gimana dengan Bu Ratih. Tapi, kalau Pak Gavin menolak, gimana perasaan orang tua Pak Gavin. Saya yakin pasti Pak Gavin lebih bijak untuk menghadapi masalah ini." jawab Kasih.
Gavin menatap Kasih dengan senyuman. Kata-kata Kasih memang benar, kalau ini dia memang sulit untuk memutuskan. Karena banyak perasaan yang harus dijaga. Kasih yang mendapati lagi ditatap majikannya itu, buru-butu megedarkan pandangan ke objek lain.
"Sumpah saya bingung banget, padahal saya belum kepikiran untuk melangkah sejauh itu, Sih." jawab Gavin sambil menatap kedepan.
"Apa, Pak Gavin sudah pernah membicarakan hal ini sama Bu Ratih.?" tanya Kasih.
"Sebenarnya bukan membahas, lebih tepatnya mungkin Ratih mengetes saya dengan menanyakan hal ini saat pertama kali pulang dari rumah sakit. Jelas saja saya bilang enggak lah. Memang saya juga nggak kepikiran untuk itu, dan saya juga nggak mau menyakiti perasaan dia." jawab Gavin.
"Pak Gavin memang suami hebat. Pantesan Bu Ratih sangat sayang dan cinta sama Pak Gavin." ucap Kasih.
Tak terasa obrolan mereka memakan waktu, kini jarum jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Kasih meminta sebaiknya masuk kedalam dan beristirahat. Gavin pun juga begitu, dia masuk dan menutup serta mengunci semua pintu.
Saat masuk kamar, dia kaget karena mendapati istrinya duduk didepan meja rias. Dia terdiam tanpa menoleh kearah suaminya yang kini sudah berdiri dibelakangnya. Tapi, ketika Gavin hendak memegang pundaknya, tiba-tiba Bu Ratih menoleh kearah Gavin dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang, apa benar kamu mau menikah lagi.!"
-----------------------------------
Bersambung.....
__ADS_1