BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON EMPAT Part : 220 (Pedekate)


__ADS_3

Jam kuliah pun selesai, Cantik membereskan buku-bukunya lalu keluar ruangan. Dia mencari Kakaknya di gedung lain. Mereka beda gedung karena secara tingkat sudah beda.


Cantik berjalan dengan santai menuju gedung Kakaknya. Ditengah jalan dia ketemu Bara.


"Hai Cantika,!" seru Bara.


"Hai juga, Kak,!"


"Kamu mau kemana,?" tanya Bara sambil membetulkan kaca matanya.


Sembara pratikno adalah cowok idola kampus itu, perawakannya tinggi dengan wajah ganteng apalagi kacamata yang menambah kedewasaan pria muda tersebut.


"Saya mau menemui Kakak." jawab Cantik.


"Kakakmu kuliah disini juga?" tanya Bara.


"Iya, dia semester akhir, mau lulus." jawab Cantik.


"Oh gitu."


Cantik sekilas menatap pria itu, memang ganteng. Meskipun dia berkaca mata, tapi bukan berarti dia cupu. Penampilannya keren dan modis. Cantik sempat menggumam kalau cowok ini pantas disebut idola.


"Hai, kok malah bengong?" ucap Bara.


"Eh, maaf Kak." jawabnya malu-malu.


"Gimana, rasanya ambil jurusan design grafis. Asyik kan.?" tanya Bara.


"Iya, Kak. Saya memang suka gambar kadang bikin tulisan-tulisan yang semacam typografi gitu." jawab Cantik.


"Woow, keren dong. Memang sekilas mudah, tapi kalau yang nggak hobby atau suka grafis pasti bingung. Hehehe.," jawab Bara.


"Oh iya, Kak. Soal kejadian tadi jangan dikasih tahu siapa-siapa, ya. Saya malu soalnya." ucap Cantik.


"Kenapa kamu harus malu, seharusnya dia malah yang malu." ucap Bara.


"Karena saya itu orangnya nggak suka bertengkar. menurut saya bertengkar itu malu. Malu-maluin diri sendiri." jawab Cantik.


Bara hanya tersenyum, dan kemudian tiba-tiba pinsel Cantik berbunyi.


"Triing...triing..."


"Hallo, iya Kak. Ada apa.?"


"......"


"Oh iya-iya. Cantik nggak usah nunggu nih"


"......."


"Baiklah kalau begitu, Cantik naik taksi saja."


"....."


"Bye.,"

__ADS_1


Cantik menutup ponselnya kembali. Lalu dia kembali melanjutkan ngobrolnya dengan Bara.


"Kenapa, Tik?" tanya Bara.


"Kakak Gazi masih ngerjakan tugas. Jadi saya harus pulang duluan." jawab Cantik.


"Kalau nggak keberatan, pulang bareng saya aja, kebetulan saya juga mau pulang." tanya Bara.


"Tapi, Kak.!"


"Tapi kenapa.?"


"Nanti merepotkan Kak Bara."


"Sudah nggak apa-apa, ayo kita pulang." ajak Bara.


"Baiklah kalau begitu." jawab Cantik.


Kini Cantik berjalan beriringan dengan Bara. Banyak cewek-cewek yang memperhatikan mereka berdua. Mungkin mereka iri dengan Cantik yang dengan mudahnya bisa dekat dengan seorang Bara.


"Kak, mereka kok ngelihatin kita?" ucap Cantik polos.


"Sudah, cuekin aja." jawabnya acuh.


"Tapi, Cantik nggak enak. Mereka senior semua.!"


Bara menghentikan langkahnya lalu menghadap Cantik yang masih bingung karena dia nggak nyaman diihatin para gadis yang mengejar-ngejarnya.


Bara memegang kedua bahu Cantik dan menatapnya. Cantik semakin nggak nyaman karena tatapan itu begitu membuat dirinya tak bisa mengelak kalau Bara memang tampan.


"Cantik, tatap mata Kakak. Apa ada yang salah dari Kakak ataupun kamu yang membuat mereka boleh melarang kalau kita jalan bareng.?" tanya Bara sambil terus menatapa mata Cantik.


"Maka dari itu, kamu nggak usah hiraukan mereka. Selama kita nggak menyakiti mereka, kita cuek saja." jawab Bara meyakinkan.


"Baiklah, Kak. Kita pulang saja." ucap Cantik.


"Baiklah, kita pulang."


Akhirnya keduanya berjalan beriringan menuju parkiran mobil. Bara menuju sebuah mobil yang terparkir diantara mobil-mobil yang lain.


Setelah itu dia membuka pintu mobil buat Cantik. "Silakan masuk, Cantik." ucapnya.


Cantik masuk dalam mobil lalu tersenyum. " Makasih Kak." jawab Cantik.


Keduanya akhirnya meninggalkan pelataran kampus. Dalam perjalanan mereka banyak ngobrol berbagi pengalaman di dunia garfis. Cantik juga cerita saat sekolah dia sering membantu menggambar untuk teman-temannya.


"Tik, ikut ke tempatku sebentar ya.?"


"Tempat apa, Kak.?"


"Kamu pasti suka, lihat saja nanti."


"Apaan sih, Kak." tanyanya penasaran.


"Sudah, ikut saja. Siapa tahu nanti kamu tertarik." jawab Bara.

__ADS_1


Bara masih fokus menyetir mobilnya sambil ngobrol. Cantik senang ngobrol dengan Bara. Dia orangnya asyik, pengetahuannya luar biasa. Dia juga cerdas.


Akhirnya Bara membelokan ke sebuah ruko. Disitu ada sebuah tempat usaha percetakan digital printing. Disitu tertera nama usahanya Bara design N' Printing.


.



Cantik langsung membelalakan matanya ketika dia masuk. Ada beberapa karyawan yang bertugas. Bara menyapa semua karyawannya dengan santai.


"Tik, gimana menurut kamu.?" tanya Bara.


"Keren ini, Kak. Ini punya Kakak sendiri.?" tanya Bara.


"Iya, ini usaha sampingan saya." jawab Bara.


"Kak Bara memulai usaha seperti ini sejak kapan.?"


"Ya lumayan, sudah dua tahunan. Awalnya diajak join sama temen, lalu saya buka sendiri." jawab Bara sambil mengajak Cantik keliling.


Tempatnya memang nggak begitu besar. Ada dua lantai tapi ukuran lantainya sekitaran enam kali sepuluh. Yang bawah dibuat tempat percetakan dan meja buat melayani customer. Sedangkan diatas khusus kantornya Bara dan tempat beberapa file.


Kini Cantik naik keatas mengikuti Bara. Mereka kemudian melihat-lihat yang diatas. Cantik sangat senang sekali diajak ke tempat ini.


"Ini meja kerja saya, ada satu asisten untuk membantu saya mengerjakan project selain percetakan." tukas Bara.


"Jadi, yang dibawah itu khusus percetakannya, ya Kak."


"Iya, mereka khusus menerima orderan mencetak banner, undangan, spanduk dan lain-lain." jelas Bara.


"Oh gitu,"


"Iya, kalau diatas sini khusus project yang lumayan gede. Misal membuat logo makanan dan minuman kemasan secara online. Sebagian besar klien saya dari luar negeri. Jadi kita komunikasinya lewat telpon atau email. Kerjanya agak malam karena di negaranya kan otomatis siang. Gitu, deh!" jelas Bara.


"Sumpah keren banget, Kak." ucap Cantik antusias.


Bara senang kalau melihat Cantik seperti ini. Dia jadi lupa soal kejadian di kampus tadi. Cantik melihat-lihat poster dan logo-logo yang sudah dikerjakan oleh Bara.


Dia kemudian menangkap ada foto di meja kerjanya Bara, foto seorang gadis yang imut dan disitu gadis itu dipeluk Bara dari belakang. Kedua wajah dalam foto iti terlihat ceria karena keduanya terlihat tertawa lepas.


Bara melihat ketika Cantik memperhatikan foto tersebut. Dia kini juga ikut memperhatikan foto itu. Dimana dia dan adik kesayangannya itu tengah berlibur ke Bandung.


Kemudian Bara mendekati Cantik yang masih melihati foto itu. Lalu dia mengambil foto tersebut.


"Kamu tahu ini siapa.?"


Cantik menggelengkan kepalanya, "Tidak tahu, Kak.!" jawabnya singkat.


"Ini adik Kakak. Dia adalah adik kesayangan Kakak. Tapi, dia sekarang sudah tidak ada di sini." ucap Bara sambil menatap foto adiknya itu.


"Memang adik Kakak sekarang kemana.?"


"Dia sudah tenang disana, Kakak yakin dia juga senang melihat Kakaknya sudah bisa mewujudkan cita-cita Kakak untuk mendirikan usaha ini. Dulu dia yang paling antusias mensupport Kakak untuk membuka usaha ini, tapi Kakak masih belum percaya diri. Akhirnya setelah setahun sepeninggalnya dia, Kakak baru buka usaha ini." ucap Bara sambil matanya yang mulai mengembun.


"Jadi adik Kak Bara sudah meninggal.,?"

__ADS_1


---------------------------------


Bersambung.....


__ADS_2