BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON EMPAT Part : 250 (Ke Jakarta)


__ADS_3

Keesokan harinya, Gazi langsung pergi ke Jakarta karena Bundanya menyuruhnya kesana.


"Zi, salam sama Bundamu, ya,?" ucap Bu Ratih saat Gazi persiapan berangkat.


"Iya, Ma."


Bu Ratih kini melirik ke suaminya yang sok sibuk dengan ponselnya. Dia nggak bicara apa-apa sama Gazi.


"Bilang dapat salam dari Mama sama Papa."


"Baik Ma."


"Zi, kamu diantar siapa ke bandara,?" kini Gavin bertanya.


"Diantar Pak Santo, Pa,!" jawab Gazi.


"Oh ya sudah, hati-hati.!"


"Iya, Pa."


Setelah Gazi bersalaman sama Bu Ratih dan Gavin, dia langsung masuk mobil yang sudah di tunggu oleh Pak Santo.


(***)


JAKARTA


Gazi naik taksi menuju rumah Bundanya. Sekitar siang hari dia sampai rumahnya. Sekitar tiga puluh menit dari bandara ke rumahnya. Sebelumnya dia sudah telpon Kasih. Akhirnya dia sampai juga dengan selamat di rumah Bundanya.


"Assalamualaikum.," ucap Gazi dari luar.

__ADS_1


"Waalaikumsalam.," jawabnya dari dalam.


Ketika pintu dibuka, Kasih sudah berdiri di depan pintu sambil tersenyum, "Anak Bunda sudah datang," serunya sambil memeluk Gazi.


"Bunda apa kabar, sehat kan,?" tanya Gazi sambil mencium punggung tangan Kasih.


"Alhamdulilah sehat, Nak. Kamu dan keluarga Papamu gimana? Sehat-sehat juga, kan.?"


"Sehat Ma."


"Oh iya Nak, Bunda turut berduka cita atas meninggalnya Cindy. Mungkin Allah lebih sayang sama dia," ucap Kasih.


"Iya Ma. Makasih, ya Ma.?"


"Ayo masuk. Pasti kamu sudah lapar. Bunda tadi sudah masak," ucap Kasih sambil menutup kembali pintunya.


"Bun, Om Dito juga sering kesini, kan,?" tanya Gazi.


"Oh ya sudah kalau gitu, berarti Bunda nggak kesepian."


"Kan ada Bi Marni dan Mang Udin. Mereka berdua sudah Bunda anggap seperti orang tuan sendiri," jawab Kasih sambil duduk di meja makan.


"Iya Bun, mereka juga nggak punya keluarga. Jadi keluarganya ya Bunda."


"Oh iya, Bunda dulu kaget saat kamu bilang kalau kamu mau menikahi Cindy. Kalau nggak salah Cindy itu kan teman kampusmu yang dari dulu memang suka sama kamu. Tapi, setelah kamu ceritakan masalah sebenarnya, Bunda jadi kasihan sama dia," ucap Kasih sambil mengambilkan nasi buat anaknya.


"Cukup Bun, Gazi juga kasihan. Untung Zahra pengertian banget sama Gazi. Jadi dia membiarkan Gazi. Malahan saat ijab Gazi ditemani oleh Zahra," jawab Gazi.


"Pasti Zahra sudah dibilangin sama Mama Ratih soal bagaimana mengikhlaskan laki-laki yang dicintainya menikah dengan wanita lain. Secara dulu Mama Ratih pernah mengalami hal itu," jelas Kasih.

__ADS_1


"Iya Bun. Untung ada Mama Ratih, jadi Zahra bisa mengerti," jawab Gazi.


"Oh iya, kapan hari Kak Raka telpon Bunda. Dia cerita kalau sudah komitmen sama Dara. Jadi, nanti sepulang dari Jepang dia menikahi Dara?" ucap Bu Ratih.


"Iya Bun, Kak Raka memang pernah bilang seperti itu sama Gazi. Nanti kalau sudah lulus dia akan menggantikan Kak Tifany di kantor Wijaya's Group. Karena dia akan mengikuti suaminya ke Belanda, jawab Gazi sambil meminum air putih yang sudah di ambilkan Bundanya.


"Kalau rencana kamu sendiri seperti apa setelah lulus nanti, Zi.?" tanya Kasih.


"Gazi di tawari Papa untuk mengelolah hotel dan restorannya, tapi Gazi jawab lihat nanti saja. Karena belum tahu kedepannya perusahaan Bunda seperti apa," jawab Gazi.


"Iya sayang, makanya kamu Bunda pnggil kesini itu juga mau bicarakan soal perusahaan garment warisan Kakek buyut kamu."


"Memang kenapa soal perusahaan Bunda,?" tanya Gazi.


"Nggak apa-apa, Nak. Bunda berencana pensiun dari kantor. Soal perusahaan, nanti sementara Bunda serahkan Om Dito untuk menghandlenya. Jika setelah lulus nanti kamu bergabung dengan Om Dito, silakan nggak apa-apa. Tapi, jika kamu punya usaha sendiri atau membantu Papamu, Bunda juga nggak keberatan," jelas kasih.


"Berhubung Gazi sudah punya usaha cafe, ya nanti Gazi akan mengembangkan usaha tersebut saja. Bisa juga nanti Gazi bekerja sama dengan Papa bahkan bisa juga Gazi yang akan meneruskannya. Soal perusahaan Bunda, biarlah Om Dito saja yang pegang," jelas Gazi.


"Sudah final keputusanmu? Kalau Bunda sih terserah saja. Jika memang kamu mau mengembangkan usaha kamu sendiri, Bunda setuju saja. Jika kamu mau ikut bantu Om Dito ya nggak apa-apa."


"Gazi akan tetap di Jogja saja, Bun. Nanti kan Kak Raka bakal ke Jakarta pegang Wijaya's Group. Maka Gazi biar tetap di Jogja saja temani Papa dan Mama," jawab Gazi.


"Iya nggak apa-apa, Nak. Bunda sih nggak memaksakan kehendak. Semua terserah kalian saja."


"Iya Bun. Makasih ya.?"


"Oh iya Zi, Ayah Rahman kapan hari datang kemari sama istrinya," ucap Kasih tiba-tiba.


"Mau apa dia menemui Bunda.?"

__ADS_1


------------------------------


Bersambung..


__ADS_2