
.....................................
Gavin mengemudikan mobilnya dengan pelan. Dia masih tak habis pikir dengan jalan pemikirannya Ferry maulana. Dulu dia mau memperalat Irene guna mendekatiku, tapi untung nggak berhasil, karena Mas Bagas keburu menggagalkannya karena dia jatuh cinta sama Irene.
Sekarang kenapa justru anaknya sendiri. Memang belum sampai terucap olehnya, cuma sudah bisa ditebak, dengan mengundang anaknya dalam pertemuannya kali ini sudah menunjukkan kalau Ferry maulana ada maksud.
Gavin harus lebih berhati-hati dengan akal bulus Ferry maulana. Setelah tahu kalau Papanya masuk rumah sakit, dia memanfaatkan kelemahan Gavin yang merasa sendirian untuk menghandle semua perusahaan.
Tapi dia memerintahkan salah satu anak buah Papanya untuk tetap di restoran tadi untuk melihat apa rencana Ferry maulana selanjutnya. Saat ini dukungan dari orang terdekat memang sangat-sangat dia butuhkan. Untung Bu Ratih mau nginep dirumahnya untuk menemani Kakaknya, jadi dia bisa sedikit lega karena meninggakan rumah malam-malam begini.
Mau langsung pulang tapi pikirannya masih kalut, tapi mau kemana lagi, hari kian larut. Dia sengaja menyetir mobil pelan-pelan supaya lama. Sambil menunggu info dari anak buah Papanya tadi.
Akhirnya dia membelokkan mobilnya di sebuah Cafe di tengah kota. Kebetulan ada Cafe yang nggak begitu ramai, tapi aman jika jam segini buat nongkrong.
Setelah memarkirkan mobilnya, Gavin lalu masuk dan menuju tempat yang sedikit di pojok. Setelah pelayan mendekatinya, dia pesan secangkir kopi aja. Kembali dia memainnkam ponselnya. Mencoba menelfon Kakaknya, mungkin dia belum tidur. Dicarinya nama Mahen.
["Hallo, Kak. Gimana keadaan Papa?"]
["...................."]
["Alhamdulilah kalau begitu."]
["....................."]
["Kak Kinan sudah tidur, tadi aku minta Ratih untuk temani, karena aku keluar ada urusan"]
["..................."]
["Aku sama temen-temen aja, kok Kak"]
["...................."]
["Iya, Kak. Salam sama Mama juga."]
["..................."]
["Baik, Kak."]
Gavin kembali menutup ponselnya, ada perasaan lega karena keadaan Papanya tidak begitu mengawatirkan. Dia harus berbohong sama Kakaknya soal habis ketemu siapa barusan.
Kali ini Gavin harus memutar otak dan harus bisa merahasiakan masalah ini dari Mahendra dan istrinya. Satu-satunya jalan adalah Bagas. Iya, dia yang tahu permasalahan ini. Bathinnya.
Drrrrttt.....drrrtt.....drrrttt....
kembali ponselnya bergetar.
'Pak, Gavin dimana?'
__ADS_1
'Saya, sedang di Cafe Lestari, saya kirim lokasinya'
'Baik, Pak.'
Pesan dari anak buah Papanya yang dia suruh mantau gerak-gerik Ferry maulana. Mungkin mau melaporkan sesuatu. Gavin panggil pelayan guna memesan dua cangkir lagi. Satu buat anak buah Papanya nanti.
Gavin sudah hampir dua cangkir kopi, dia menunggu orang suruhannya sembari melihat-lihat keluar. Suasana malam ini memang nggak begitu ramai. Hanya beberapa pengunjung dan kebanyakan muda-mudi. Setelah menunggu, akhirnya datang juga anak buah Papanya itu.
"Silahkan, duduk Pak" ucap Gavin.
"Iya, Pak gavin." jawab laki-laki itu sembari mendaratkan tubuhnya dikursi.
"Ada berita apa, Pak?" tanya Gavin.
"Begini, Pak Gavin. Selepas Anda meninggalkan restoran itu, saya mendengar obrolan Pak Ferry dengan putrinya. Ternyata Putri Pak Ferry menyukai Anda, Pak. Dia bersih keras pingin dekat dengan Anda. Dan, saya juga dengar kata Pak Ferry, kalau suatu saat Putrinya itu pasti akan mendapatkan Anda." jelas laki-laki itu.
Gavin mengepalkan tangannya menahan amarah. Tapi, dia akan tetap waspada dengan Pak Ferry.
"Kurang ajar sekali Pak Ferry itu, emang saya apaan!" tukas Gavin.
"Anda tenang saja, Pak. Saya dan teman saya akan menjaga dan mengawasi terus si Ferry itu. Pak Indra selalu berpesan pada kami, kalau disuruh menjaga keluarga Pak Indra wijaya. Kami bekerja ikut Papanya Pak Gavin sudah lama, jadi Pak Gavin percaya pada kami." terangnya.
"Iya, Pak. Terima kasih. Saya sangat percaya kalau kalian memang bisa diandalkan." jawab Gavin.
"Iya, Pak. Tenang saja. Pak Gavin bekerja seperti biasa, nggak perlu memikirkan soal kelicikkan Pak Ferry, karena itu menjadi tugas kami." sahutnya.
"Iya, Pak. Oh ya, minum dulu kopinya." ucap Gavin.
Setelah ngobrol lama, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing. Gavin bersalaman dengan laki-laki itu kemudian mereka meninggalkan Cafe tersebut.
Gavin memasuki mobil sportnya dengan percaya diri. Laki-laki penerus Indra wijaya itu memang keliatan beda semenjak masuk di dunia bisnis. Dia keliatan gagah dan bertanggung jawab. Ketampanannya tak lekang oleh waktu. Makanya tidak aneh kalau banyak wanita yang mengejar-ngejar dia. Tapi, untuk urusan wanita.
Gavindra sudah menjatuhkan hatinya pada sosok Bu Dosen cantik di kampusnya dulu, yang sampai sekarang menjadi kekasihnya. Kalau mengingat perjalanan Gavin untuk mendapatkan Bu Ratih saat itu memang tidak mudah. Dia harus menghadapi Bagas Kakak Bu Ratih yang saat itu masih benci dengannya, karena Bagas menganggap kalau Gavin itu masih anak bau kencur dan tak pantas mendampingi Adiknya.
Ya, mungkin saat itu Bagas masih percaya sama yang namanya Seno. Bicara soal Seno, sudah setahun ia dipenjara gara-gara kasus penculikan dan pemerkosaan kala itu. Tapi belum dengar kabar apa-apa soal perkembangan si Seno. Bathin Gavin.
Dilirik jam yang melingkar di tangannya. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Dia memasuki halaman rumahnya setelah satpam membuka pintu pagar. Setelah turun dia bicara pada satpam itu.
"Pak Joni, selama saya tinggal, apa ada yang kesini?" tanya Gavin.
"Enggak ada, Den. Semua aman." jawab Pak Joni.
"Pak Narto tadi balik kesini apa nggak?" tanya Gavin lagi.
"Enggak Pak. Mungkin sudah malam jadi dia langsung pulang." sahut Pak Joni.
"Ya sudah, nggak apa-apa." jawab Gavin.
__ADS_1
"Iya, Pak.!" sahutnya.
Gavin berjalan memasuki rumah. Dipencet bel rumahnya. Tak lama kemudian pintu terbuka. Anehnya justru Bu Ratih yang membukakan, dan bukannya Bibi.
"Lho, kamu belum tidur sayang? kemana Bibi?" ucap Gavin.
"Tadi aku suruh Bibi langsung tidur aja, biar aku yang menunggumu pulang." jawab Bu Ratih.
Gavin teraenyum sambil membelai rambut kekasihnya itu. Dia semakin sayang dengan Bu Ratih.
"Ya ampun, calon istri idaman. Belum jadi istri saja kamu sudah setia begini sama aku, apalagi sudah menikah nanti." ucap Gavin sembari memeluk kekasihnya.
Mereka masuk menuju ruang tengah kemudian duduk di sofa.
"Kamu, dari mana saja sampai hampir pagi baru pulang.?" tanya Bu Ratih.
"Ada urusan dikit, kapan-kapan aku ceritain." jawab Gavin sambil menyandarkan badannya di sofa.
Kelihatan sekali kalau Gavin lelah banget. Bu Ratih melangkah ke dapur buat bikin teh hangat. Siapa tahu bisa membikin sedikit relax kekasihnya itu.
Tapi setelah ia kembali ke ruang tengah, dia dapati kekasihnya itu sudah tertidur. Bu Ratih hanya bisa tersenyum melihat wajah lelah yang ada pada kekasihnya itu. kemudia dia mendekati Gavin.
Dicopotnya sepatu dan kaos kakinya. Setelah itu jaket yang masih melekat ingin dia lepaskan, tapi keburu Gavin membuka matanya. Gavin tersenyum mendapati kekasihnya itu didekatnya.
"Kamu ketiduran. Ini minum dulu teh hangat." ucap Bu Ratih.
"Makasih sayang, kamu baik sekali." ucap Gavin sambil meminum teh buatan Bu Ratih.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat aja, besok dilanjut lagi ceritanya." ucap Bu Ratih.
"Sama kamu, ya?" ucap Gavin sambil mengerlingkan matanya memggoda.
"Huussst! belum boleh sayang, kan belum halal. Jadi aku tidurnya sama Kak Kinan." sahut Bu Ratih.
"Iya sayang, aku ngerti itu kok. Tadi cuma goda kamu aja." jawab Gavin.
"Ya sudah, naik sana gih! aku mau masuk kamar Kak Kinan." ucap Bu Ratih.
"Oke Bu Dosen cantik." ucap Gavin sembari naik ke atas. Bu Ratih hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku kekasihnya itu. Kadang muncul manjanya, kadang juga terlihat dewasanya.
.
Keesokan harinya, Bu Ratih dan Kinanti sudah bangun dan membantu Bibi menyiapkan sarapan. Ada nasi goreng buatan Bu Ratih. Sementara di kamar Gavin, dia sudah bangun tapi belum beranjak dari tempat tidurnya. Dia kebangun gara-gara ada telfon dari Bagas, Kakaknya Bu Ratih.
["Iya, Mas. Ada apa?"]
["........."]
__ADS_1
["Apaa! Seno sudah dibebaskan.!"]
Next...............(38).