
...............................
Akhirnya nyampai juga dirumah setelah menjemput Pak Indra di Bandara. Semuanya turun. Pak Indra turun dibantu Gavin dan Mahen. Kinanti membawa tas dibantu Pak Narto. Semuanya masuk ke rumah.
"Papa, duduk disini aja." ucap Pak Indra seraya menuju sofa yang di ruang tengah.
"Iya, Pa." jawab Gavin.
Kemudian Pak Indra duduk di sofa ruang tengah. Diikuti Gavin dan Mahen. Mamanya masih dikamar menaruh barang-barang dibantu Kinanti. Selang beberapa menit kemudian mereka akhirnya berkumpul di ruang tengah.
"Gimana, Vin. Kerjaan lancar semua, kan?" tanya Pak Indra.
"Alhamdulilah, lancar Pa." jawab Gavin.
"Syukurlah, Papa seneng dengernya." jawab Pak Indra.
"Mahendra, mulai kapan kamu aktif di kantor cabang?" tanya Pak Indra.
"Sebenernya kemarin, Pa. Berhubung mendapat kabar Papa kecelakaan, besok Mahen mulai aktif." jawab Mahen.
"Iya, nggak apa-apa. Disana masih ada Pak Joko yang bisa dipercaya." jawab Pak Indra.
"Pa, kalau memang belum sembuh betul, mendingan istirahat aja dulu, jangan ngantor sampai sembuh total." ucap Gavin.
"Iya, Vin. Memang rencana Papa mau istirahat total, soal perusahaan Papa serahkan sama kamu." ucap Pak Indra.
"Pa, Gavin belum banyak pengalaman, masih perlu bimbingan dari Papa. Atau Kak Mahen aja yang di kantor pusat." seru Gavin.
"Vin, justru di kantor cabang itu perlu pengawasan yang lebih, karena semuanya masih baru, dan orang-orangnya kebanyakan juga baru." sahut Mahen.
"Tapi, Kak. Gavin juga baru, di kantor pusat aktivitas dan kerjaan lebih banyak." ucap Gavin.
"Iya, Vin. Benar apa yang dibilang Kakakmu. Nanti soal urusan yang dikantor pusat kan, Papa bisa pantau dari rumah." ucap Pak Indra.
"Baiklah, kalau memang itu yang kalian inginkan. Aku akan berusaha semaksimal mungkin melakukan yang terbaik untuk perusahaan." jawab Gavin.
"Maaf, Nyonya. Makan malamnya sudah siap." ucap Bibi tiba-tiba datang dari dapur.
"Iya, makasih Bi..." jawab Bu Hesty.
Kemudian semuanya melangkah menuju meja makan. Keluarga Indra wijaya memang selalu menjaga keharmonisan.
Bu Hestu mulai melayani suaminya. Nampak Kinan juga membantu mertuanya itu.
"Papa makan yang banyak." ucap Gavin.
"Iya, Vin. Papa sudah nggak apa-apa kok. Hanya kaki aja yang terlikir serta lecet-lecet dikit." jawab Pak Indra.
__ADS_1
"Pa, besok Mahen langsung ke kantor cabang aja, ya?" tanya Mahen.
"Iya, kamu temui Pak Joko. Papa sudah kasih tahu dia, kok." jawab Pak Indra.
"Iya, Kak. Kemarin aku juga bilang ke Pak Joko." sahut Gavin.
"Ya sudah, kalau begitu. Makasih Pa." jawab Mahen.
"Oh iya, jangan lupa. Mobil kamu panasi dulu, semenjak kamu di Bali mobil kamu hanya dua hari sekali dipanasi." ucap Bu Hesty.
"Iya, Ma." jawab Mahen.
"Oh iya, Pa. Gavin mau bicara sesuatu sama kalian semua." ucap Gavin.
"Iya, Nak. Bicara apa?" sahut Pak Indra.
"Gavin ingin melamar Ratih, Pa.!" ucap Gavin sembari malu-malu.
Bu Hesty dan Pak Indra nampak tersenyum sumringah. Mereka sudah melihat kedewasaan pada diri anak bungsunya. Pak Indra langsung bertepuk tangan kegirangan.
"Bagus, bagus..! itu tandanya anak Papa sudah dewasa dan sudah bisa menunjukkan tanggung jawabnya." ucap Pak Indra seraya menepuk pundak Gavin.
"Iya, Nak. Mama sih setuju-setuju aja. Mama akan selalu dukung kamu." sahut Bu Hesty.
"Makasih Pa, Ma,." ucap Gavin.
"Beres, Kak." sahut Gavin.
"Kamu sudah bilang Ratih dan keluarganya?" tanya Pak Indra.
"Iya, besok Gavin kasih tahu." jawab Gavin.
"Ya sudah, persiapkan dengan matang. Oh ya, proyek baru yang di Bandung gimana?" tanya Pak Indra.
"Beres, Pa. Minggu depan Gavin kunjungan ke sana.?" jawab Gavin.
"Usahakan sebelum kamu pergi ke Bandung, kamu sudah tunangan sama Ratih." ucap Pak Indra.
"Siap, Pa!" jawab Gavin.
"Perlu tambahan dana?" ucap Pak Indra sembari melirik Gavin dengan senyuman.
"Nggak usah, Pa. Gavin masih ada tabungan, kok." jawab Gavin.
"Nggak apa-apa, Vin. Kakak juga dulu gitu, meskipun ada tabungan, klo nggak cukup minta sama Papa" tukas Mahen terpingkal-pingkal.
"Tuh, Kakakmu bener. Kalau memang kurang, bilang sama Mamamu. Dia kan bendahara nasional." sahut Pak Indra sambil tertawa lepas.
__ADS_1
Semua yang ada di meja makan tertawa lepas sembari menggoda Gavin. Yang merasa dipojokkan hanya tersipu malu. Dia menahan tawa hingga mukanya memerah. Sekali lagi keakraban keluarga Indra Wijaya tercipta di meja makan.
Gavin merebahkam tubuhnya diatas tempat tidurnya. Dibuka ponselnya kemudian mengirim pesan ke Bu Ratih.
'Malam, sayang. Dah bobo' belum?'
'Iya, malam juga sayang. Ini lagi tiduran aja.'
'Aku sudah bilang ke Papa soal tunangan kita'
'Oh iya, beneran sayang?'
'Iya. Malah kalau bisa sebelum aku kunjungan kerja ke Bandung, kita sudah resmi tunangan.'
'Oke, aku ngikut apa kata calon suami. Hihihii.,'
'Mulai besok kita cicil belanja keperluan lamaran, ya?'
'Iya, siap.'
'Gimana, kalau hari sabtu acaranya, senin aku kan sudah pergi ke Bandung.'
'Iya, aku ngikut. Nanti aku bilang Mas Bagas sama Mama.'
'Oke, sayang. Sekarang kamu bobo' gih! besok kan ngajar?'
'Iya, sayang. Kamu juga istirahat. Besok harus ke kantor.'
'Iya. See you. Nice dream.'
'Bye.'
Gavin kemudian menutup ponselnya dan menaruhnya di nakas.
Dia masih nggak percaya, kalau sebentar lagi akan tunangan dengan Bu Dosen cantik.
Baru saja dia akan memejamkkan matanya, terdengar suara ponselnya bergetar.
ddrrrtt....ddrrrtt....
Nomor siapa ini. Bathin Gavin.
'Malam, Mas Gavindra. Lagi apa nich.!'
...........
Next.............(41).
__ADS_1