BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 138 (Surat gugatan)


__ADS_3

Bu Ratih masih penasaran dengan orang yang pernah dia lihat. Dia mencoba untuk mendekatinya untuk memastikan siapa dia. Kerika dia sudah berada didekat orang tersebut, Bu Ratih tersenyum dan dia baru ingat, bukankah dia Tiur teman Gavin. Batinnya.


"Tiur,!"


Seketika perempuan itu menoleh dan terkejut dengan sapaan barusan. "Bu Ratih.,!" jawabnya sembari memeluk Bu Ratih.


"Ya ampun, Tiur. Saya sampai pangling sama kamu. Tadi saya agak ragu kalau itu kamu. Cuma dari jauh saya kayak pernah lihat wajah itu. Lalu saya mendekati kamu." jelas Bu Ratih.


"Iya, Bu. Kalau tadi Bu Ratih nggak menyapa, saya juga nggak tahu kalau ada Bu Ratih." ucap Tiur sambil mengajak Bu Ratih untuk mencari tempat untuk ngobrol-ngobrol.


"Kamu diundang juga, Tiur?"


"Iya, Bu. Saya menemani seseorang, kebetulan dia pimpinan di perusahaan dimana saya bekerja." jawabnya.


"Oh gitu. Tapi, mana teman kamu itu?"


"Tadi dia pamit mau ketemu Pak Indra mertua Bu Ratih." sambil matanya celingukan mencari seseorang.


"Gimana, Tiur. Masih betah sendiri atau sudah ada calon.?" ucap Bu Ratih sambil melirik kearah Tiur.


"Hmm.. doakan saja sama yang ini bisa jadi sampai ke pelaminan, ya Bu." ucap Tiur malu-malu.


"Cie..cie.. akhirnya kamu menemukan tambatan hati kamu juga." ucap Bu Ratih sembari memeluk Tiur.


"Masih pendekatan, Bu. Doakan saja." ucapnya.


"Apakah orang yang kamu maksud adalah dia sekarang yang lagi kamu temani.?" tanya Bu Ratih.


Tiur menganggukan kepalanya, "Iya, Bu."


Bu Ratih tersenyum ketika mendengar jawaban Tiur.


Tak lama kemudian, datanglah seseorang mendekati mereka berdua. Bu Ratih membulatkan matanya ketika menyadari siapa yang datang mendekatinya.


Tiur seketika wajahnya berbinar menjadi senang dengan kedatangan orang tersebut.


"Oh iya, Bu. Kenalin, ini dia orang yang barusan saya ceritakan sama Bu Ratih." ucapnya seraya melirik laki-laki itu.


Bu Ratih masih bengong dengan apa yang dihadapannya saat ini. Laki-laki itu tersenyum lalu menyalami Bu Ratih.


Apakah Tiur sekarang jadian sama Pak Keanu. Batinnya.


Ternyata laki-laki itu adalah Pak Keanu, sudah lama Bu Ratih nggak pernah bertemu dengan Pak Keanu. Dia masih seperti yang dulu.


"Apa kabar, Bu Ratih.?" sapa Pak Keanu.


"Kamu kenal dengan Bu Ratih?" tanya Tiur pada Pak Keanu.


"Iya, Tiur. Ini Dosennya Vanya." jawab Pak Keanu yang masih menatap Bu Ratih.


"Oh, ternyata dunia memang sempit. Kalian sudah saling kenal." ucap Tiur.


"Iya, Tiur. Aku dan Bu Ratih kenal udah lama. Sejak pertama kali Vanya pindah kuliah disini. Bukan begitu Bu?" ucap Pak Keanu.


Bu Ratih tersenyum lalu mengangguk. "Iya, Tiur. Kita kenal udah lama."


"Ya sudah, Bu. Kami permisi dulu, karena mau ada acara lagi." ucap Pak Keanu melempar senyum sambil menggandeng tangan Tiur.

__ADS_1


"Oh iya, silahkan Pak. Jangan lupa undangan nya saya tunggu, ya?" teriak Bu Ratih sambil tersenyum.


Pak Keanu mengerlingkan matanya serta mengacungkan jempol tangannya sambil teriak, " Beres, Bu.!"


"Alhamdulilah akhirnya Pak Keanu sudah menemukan tambatan hatinya. Tiur, kamu harus bangga karena bertemu dengan Pak Keanu. Meskipun dia seorang Duda. Tapi, jangan kawatir kalau Pak Keanu adalah orang baik." ucap Bu Ratih dalam hati.


Akhirnya malam puncak penggalangan dana pun berakhir. Jarum jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Bu Ratih kini sudah bersama Gavin dan Papa mertuanya. Setelah Bu Ratih pamit sama yang lainnya untuk pulang duluan, merekapun meninggalkan tempat itu.


Setelah sampai rumah, mereka langsung masuk kamar masing-masing. Bu Hesty tidur dikamar Raka. Setelah Bu Ratih selesai membersihkan badannya lalu menuju kamar anaknya dan mencoba membangunkan mertuanya.


"Ma, maaf Ratih harus bangunin Mama. Apa sebaiknya Mama nggak pindah ke kamar Mama.?" ucap Bu Ratih pelan.


"Nggak usah, Tih. Ini Raka sudah pulas dipelukan Mama. Kalau Mama bangun, nanti dianya ikut kebangun. Sudah biar dia sama Mama aja. Kamu tidur dikamar kamu saja." jawabnya.


"Beneran Mama nggak apa-apa. Ya sudah kalau gitu. Tapi, kalau dianya nanti nangis bangunin Ratih, ya Ma?" ucap Bu Ratih.


"Iya, nanti Mama bangunin." jawabnya.


Kemudian Bu Ratih kembali kekamarnya. Dia mendapati suaminya lagi mengamati ponselnya dengan serius. Bu Ratih mencoba mendekati Gavin yang lagi asyik dengan ponselnya.


"Ada apa, sayang. Kok kelihatannya serius amat." tanya Bu Ratih.


"Nggak apa-apa, kok sayang." jawabnya.


Tapi Bu Ratih agak curiga. Ada apa dengan suaminya kali ini. Bu Ratih membiarkannya karena dia nggak mau mengganggu suaminya. Akhirnya mereka pun ketiduran sampai tidak dapat diganggu lagi.


(****)


Beberapa bulan kemudian, sudah hampir sepuluh bulan kedepan, Kasih tidak ada kabar sama sekali. Sedangkan Gavin juga lagi sibuk karena kerjaan dikantor banyak sekali. Tapi, kali ini Gavin agak bingung kenapa Kasih nggak ngasih kabar.


"Pa, kenapa Kasih kok nggak ngasih kabar sama sekali." tanya Gavin pada Papanya.


"Mungkin dia lagi sibuk, Vin." jawab Pak Indra.


"Iya, mungkin juga Pa." jawab Gavin.


Tak lama kemudian Pak Joni satpam rumah Pak Indra berlari kecil mendekati mereka sambil membawa sesuatu ditangannya.


"Maaf, Pak Gavin. Ini tadi ada orang Pos datang memberikan surat ini buat Pak Gavin." ucapnya.


"Dari siapa, Pak?" tanya Gavin.


"Saya nggak tahu, Pak. Karena tidak alamat pengirimnya." jawab Pak Joni.


"Ya sudah Pak. Terima kasih." ucap Gavin sambil mengamati amplop warna coklat tanpa ada nama pengirimnya dan hanya nama penerimanya saja.


Pak Indra mangangkat bahunya tanda dia sendiri juga nggak tahu. Gavin membolak-balikan amplop itu sebelum dibuka. Dia semakin penasaran karena amplop itu sangat tipis sekali seperti nggak ada isinya.


Perlahan Gavin membuka amplop itu dan mengeluarkan isi dari amplop tersebut. Disaat dia membuka kertas warna putih yang ternyata isinya sangat mencengangkan Gavin. Seketika tubuh Gavin menjadi lemas dan kertas itu terlepas dari tangan Gavin.


Pak Indra langsung menyambar kertas itu yang membuat syock anaknya. Kemudian Pak Indra sendiri dibuat sama dengan Gavin. Dia kaget setelah membaca isi dari surat tersebut. Tak selang lama Pak Indra mulai bisa mengendalikan dirinya.


"Vin, apa kamu baik-baik saja?" tanya Pak Indra.


"Pa, kenapa Kasih tega melakukan ini sama Gavin, Pa?" ucapnya dengan gemetar.


"Sabar, ya Vin. Mungkin Kasih melakukan ini karena dia ingin yang terbaik buat semuanya. Itu karena dia juga nggak mau egois." jawab Pak Indra.

__ADS_1


"Tapi, Pa. Kenapa dia melakukan ini disaat Gavin sudah mulai tumbuh benih-benih cinta padanya." ucapnya sambil matanya berkaca-kaca.


"Vin. Segala sesuatunya pasti perlu pengorbanan. Dulu disaat awal pernikahan kamu dengannya, kan ada yang berkorban, yaitu istrimu Ratih. Dia rela berbagi suami dengan Kasih. Sekarang juga begitu, dia akan mengorbankan perasaannya demi keutuhan rumah tangga kamu dan Ratih.!" jelas Pak Indra.


"Apa Papa bilang? Perasaan! apa maksudnya, Pa!" tanya Gavin serius.


Pak Indra menghela nafas panjang untuk menata hatinya untuk bicara jujur sama anaknya. Gavin masih penasaran dan nggak sabar untuk segera mengetahui apa yang dimaksud dengan ucapan Papanya barusan.


"Vin. Sebenarnya Kasih itu sudah lama mencintai kamu. Itu sebelum kamu menikah dengan Ratih." ucap Pak Indra pelan.


"Apa! kasih mencintai Gavin. Tapi, kenapa bisa sampai seperti ini?" ucapnya sambil mengacak rambutnya.


"Iya, Vin. Dia sebenarnya sudah jatuh cinta sama kamu disaat pertama kali bertemu dengan kamu. Saat itu kamu kecelakaan, dia sudah menyimpan perasaannya sama kamu. Apa kamu ingat soal sapu tangan kamu yang ada padanya. Dia masih menyimpannya sampai dia bertemu dengan kamu lagi dikantor waktu itu. Sebenarnya dia sudah sadar diri ketika kamu ternyata bosnya dan kamu juga punya pacar. Jadi, rasa itu buru-buru dia buang. Tapi, ternyata dia nggak bisa, dia menyimpan rasa itu tiap hari sampai datang soal perjodohan itu. Dia melakukannya dengan tidak terpaksa karena memang ini bukti baktinya sama Ratih. Papa juga memakluminya, Vin. Dia menyimpan rasa sampai bertahun-tahun sampai-sampai dia nggak mau dilamar laki-laki lain. Mungkin saat ini dia ingin melihat kamu hidup bahagia dengan Ratih dan Raka. Coba kamu hargai pengorbanannya." jelas Pak Indra panjang lebar.


"Tapi, kok bisa Papa tahu semua ini.?" tanya Gavin.


"Saat itu dia curhat sama Bibi. Tanpa sengaja Papa mendengarnya. Akhirnya dia jujur sama Papa. Tapi, dengan catatan Papa nggak boleh bilang siapa-siapa. Buktinya, Papa bisa menyimpannya sampai hari ini karena keadaan yang mengharuskan Papa cerita biar kamu juga tahu." jawab Pak Indra.


"Ya ampun Kasih.! kok bisa kamu menyimpan semua ini sampai bertahun-tahun. Tapi, aku salut sama kamu. Pengorbananmu kali ini benar-benar luar biasa. Dan aku janji akan menjaga semua apa yang aku miliki." ucap Gavin sendiri.


"Waktu malam hari sebelum keberangkatannya pindah ke Jawa. Dia mengatakan sesuatu sama Papa dan Mama, katanya dia memang sengaja perlahan untuk mundur dari pernikahan ini. Karena dia nggak mau ada diantara kamu dan Ratih. Dia bilang kalau cinta kalian sangatlah kuat, dan nggak sepatutnya ada dia diantara kamu dan Ratih. Jadi dia hanya melakukan tugasnya saja, yaitu melahirkan anak kamu secara sah." ucap Pak Indra lagi.


"Berarti memang dia menginginkan perpisahan ini, Pa." tanya Gavin.


"Secara tidak langsung memang iya. Karena memang itu jalan yang terbaik." jawab Pak Indra.


"Baiklah, Pa. Kalau memang itu yang diinginkan Kasih. Jujur Gavin berat melepaskan dia. Karena semakin kesini Gavin sudah mulai nyaman dengan pernikahan ini. Malahan Gavin ingin kedua istri Gavin bisa hidup rukun seperti sebelum dia pindah." ucap Gavin.


"Itu menurut kamu, Vin. Tapi, mereka tidak bisa melakukannya. Meskipun kedua istrimu itu ikhlas dan rela, tapi dari lubuk hatinya masing-masing pasti ada rasa sakit." jawab Pak Indra.


Obrolan antara Anak dan Bapak itu akhirnya berakhir. Karena hari semakin sore. Raka sudah waktunya mandi. Kini Gavin memandikan anaknya dengan telaten. Dia pandangi anaknya yang kini ada didepannya. Dalam hatinya senang karena dia sudah dikaruniai anak dari seorang istri yang baik seperti Kasih.


(****)


Setelah beberapa minggu kemudian, setelah Gavin menerima surat gugatan cerai dari Kasih. Kini dia resmi pisah secara hukum dengan Kasih. Prosesnya nggak lama karena kedua belah pihak menyetujui perceraian ini.


Kini Gavin menjalani hidupnya seperti semula, beristrikan Bu Ratih yang cantik dengan anak yang lucu dan semakin beaar bernama Raka.


"Sayang, kini kita seolah menempuh hidup baru lagi. Memulai dari awal hidup setelah Kasih pergi dari kita." ucap Gavin sambil membelai rambut Bu Ratih.


"Iya, sayang. Aku juga akan menjaga semua yang sudah aku miliki." jawab Bu Ratih.


Akhirnya kehidupan rumah tangga Bu Ratih dan Suaminya berjalan seperti pada umumnya. Sehari-harinya mereka jalani seperti sedia kala. Raka lambat laun tumbuh besar dan semakin pintar. Dia sudah pintar berkata-kata meskipun sedikit belepotan.


(****)


Hari ini Bu Ratih dan Gavin libur kerja. Seharian dia ingin mengahabiskan waktunya bersama anak semata wayangnya. Kali ini mereka nggak kemana-mana. Mereka menghabiskan waktunya bermain ditaman rumah saja.


Gavin mengajak Raka main bola dihalaman taman yang ditumbuhi rumput tebal. Bu Ratih duduk dikurai taman dekat kolam ikan. Mereka terlihat bahagia dan senang.


Pak Indra dan Bu Hesty melihat pemandangan itu jadi terharu. Bu Hesty meneteskan air matanya karena dia terharu.


Keluarga Indra wijaya sekarang punya generasi penerus. Raka kecil yang nantinya akan mewarisi dan meneruskan kerajaan bisnis yang Pak Indra punya. Harta dan kekayaannya tidak akan habis jika kelak akan diwariskan pada cucu-cucunya. Segala sesuatu nya sudah dipersiapakan oleh Pak Indra.


♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥


Maaf ini mungkin part yang di akhir cerita. Nanti akan saya kasih ektra part dan ucapan terima kasih Author.

__ADS_1


__ADS_2