BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 93 (Duh, Bu Hesty.!)


__ADS_3

"Perempuan, Bu." jawab Kasih.


"Sudah kamu suruh tunggu, sekarang dimana orangnya.?" tanya Bu Ratih.


"Dia ada di ruang tamu, Bu." jawabnya.


"Ya sudah kalau gitu. Biar saya yang temui dia dulu." jawab Bu Ratih.


"Baiklah, Bu. Saya akan buatin minum dulu." ucap Kasih sambil meninggalkan Bu Ratih yang masih penasaran dengan tamu suaminya.


Bu Ratih melangkah menemui tamu tersebut, saat tiba diruang tamu, tiba-tiba dia terkejut siapa yang datang.


"Ya ampun, Tiur..!" seru Bu Ratih kegirangan.


"Bu Ratih..!" sapa wanita itu seraya melangkah mendekati Bu Ratih sambil memeluknya erat-erat.


Mereka berdua lama tidak bertemu, sejak lulus kuliah, Tiur pindah ke luar kota karena ada tawaran pekerjaan, sehingga pas nikahannya Gavin dia nggak bisa datang. Kini dia datang main kerumah Gavin sahabatnya waktu jaman masih kuliah.


Mereka berdua masih melepas rindu satu sama lain. Tiur memeluk Bu Dosennya dengan erat penuh kegirangan.


"Ya sudah, silahkan duduk dulu. Aku senang sekali kamu mau mampir." ucap Bu Ratih.


"Iya, mumpung saya pulang ke Jakarta." jawab Tiur.


"Bentar, saya panggilkan Gavin dulu.!" ucap Bu Ratih.


Tiur mengangguk pelan, kemudian Bu Ratih kedalam untuk memanggil suaminya. Tak lama kemudian mereka keluar, dan seketika Gavin tersenyum sumringah.


"Haaii.. Tiur,! apa kabar.?" seru Gavin seraya dia langsung memeluk sahabatnya itu.


Tiur tertawa kegirangan yang melihat banyak perubahan dalam diri sahabatnya itu. Dia merasa kini Gavin terlihat lebih dewasa dan tambah gagah. Tiur melihati sahabatnya itu dari atas sampai bawah.


"Kamu tambah keren aja, Vin." ucap Tiur.


"Ya jelas dong, kalau aku nggak keren, mana mungkin disebelahku ini bisa jatuh cinta sama aku." jawab Gavin sembari melirik istrinya.


"Hemm, pede banget kamu, sayang. Kan kamu yang kejar-kejar aku." sahut Bu Ratih sambil bibirnya menyebik.


"Ayo duduk dulu sini, kita lanjutin kangen-kangenannya sambil ngobrol." ucap Gavin.


"Ngomong-ngomong, kamu sudah nikah apa belum Tiur,?" tanya Bu Ratih.


"Belum, Bu. Masih sibuk kerja." jawab Tiur santai.


"Dia ini orangnya santai kayak dipantai, sayang. Pas kuliah saja dia sibuk dengan BEM, mana sempat pacaran." seru Gavin.


"Iya, santai saja. Yang jelas kalau nikah undang kita lho.!" sahut Bu Ratih.

__ADS_1


"Iya beres.! tapi, maaf waktu kalian nikah aku lagi sibuk-sibuknya, jadi nggak bisa pulang." ucap Tiur.


"Oh iya, btw.. Kamu ke Jakarta dalam rangkah apa?" tanya Gavin.


"Aku sudah pindah di kantor cabang yang disini. Senang banget karena aku bisa kumpul keluarga." jawab Tiur.


"Syukurlah kalau gitu, sewaktu-waktu ketemu bisa." sahut Bu Ratih.


Saat mereka ngobrol, kemudian datanglah Pak Indra dan Bu Hesty. Seketika Tiur berdiri lalu memeluk Bu Hesty.


"Apa kabar Tante, Tiur kangen banget sama Tante.!" seru Tiur.


"Kamu kemana aja, kerja sampai lupa sama kita." jawab Bu Hesty.


"Iya, maaf Tante. Tiur memang sibuk. Tapi sekarang Tiur sudah pindah ke Jakarta lagi Tante." jawab Tiur.


Akhirnya mereka gabung dan duduk diruang tamu. Bu Hesty kelihatannya senang banget dengan kedatangan Tiur. Memang mereka sudah kenal lama, karena Gavin dan Tiur sudah lama berteman.


"Kenapa kamu belum nikah juga. Jangan sampai terlau sibuk jadi lupa sama urusan pribadi." ucap Bu Hesty.


"Iya, Tan. Masih belum menemukan yang cocok." jawab Tiur asal.


"Mau cari yang gimana, sih?" sahut Pak Indra.


"Ah, Om Indra bisa aja. Kalau Tiur mah nggak muluk-muluk. Yang penting setia." jawabnya.


Mereka ngobrol-ngobrol sampai nggak terasa hari semakin gelap. Hampir nggak ada cahaya, kini hanya bintang-bintang kecil yang muncul. Akhirnya obrolan mereka berlanjut di meja makan.


"Kenapa Kasih nggak ikut makan sekalian?" tanya Pak Indra.


"Oh iya, kok Kasih belum gabung, sayang.!" sahut Gavin.


"Mungkin masih sibuk dibelakang." jawab Bu Ratih.


"Ratih, tolong, panggil Kasih kesini.!" seru Pak Indra.


"Baik, Pa." jawab Bu Ratih.


Tak lama kemudian Bu Ratih datang bersama Kasih. Kemudian mereka gabung dan ikut makan bersama. Bu Hesty menampakan wajah yang kurang suka, tapi sebaliknya Pak Indra sangat senang. Bu Ratih yang mendapati sikap Ibu mertuanya terhadap Kasih begitu, jadi sungkan. Karena dia adalah asistenya.


Bu Hesty sendiri begitu senang dengan kedatangan Tiur. Dia mengenal Tiur sudah lama. Gadis itu memang baik, pintar, meskipun dari keluarga sederhana. Pak Indra yang melihat obrolan istrinya dengan Tiur jadi ikut kawatir. Jangan-jangan dia bersikap baik sama Tiur karena ada maksud.


Secara, sejak menantunya diangkat rahimnya karena penyakit, istrinya lah yang kekeh untuk menyuruh Gavin menikah lagi. Kalau ini sampai terjadi, dia kasihan sama menantunya. Lagian Gavin sendiri belum tentu mau.


"Oh iya, Vin. Apa Bu Ratih sudah isi.?" tanya Tiur tiba-tiba.


Sontak yang berada dimeja makan langsung diam. Bu Ratih wajahnya jadi pucat karena kaget. Bu Hesty tak kalah terkejutnya. Gavin dan Pak Indra saling pandang. Kemudian Gavin menatap wajah istrinya yang sedih.

__ADS_1


Tak lama kemudian Bu Ratih angkat bicara.


"Aku sempat hamil, Tiur. Tapi keguguran karena kandungannya lemah. Tak lama kemudian didalam rahimku tumbuh tumor dan mengharuskan rahimku harus diangkat. Jadi, sekarang harapan untuk mempunyai keturunan, pupus sudah." jelas Bu Ratih sambil matanya berkaca-kaca.


Gavin yang mendapati istrinya begitu, langsung saja dia memegang tangan istrinya erat-erat. Dia tak ingin istrinya semakin sedih.


"Ya ampun, maafin Tiur, ya Bu. Tiur nggak tahu kalau Bu Ratih mengalami musibah seperti ini. Saya nggak bermaksud mengingatkan lagi." jawab Tiur.


"Iya, nggak apa-apa Tiur. Saya sudah rela dan mengihklaskannya." jawab Bu Ratih.


"Kalau memang kamu sudah rela dan ikhlas dengan semua ini, berarti kamu harus siap jika suatu saat nanti suamimu menikah lagi.!" ucap Bu Hesty.


Kalimat Bu Hesty sontak mengagetkan semua yang ada dimeja makan. terlebih-lebih Gavin dan Bu Ratih. Kenapa dia harus sefrontal itu. Bu Ratih hanya diam dan tenang karena dia sudah siap dengan pertanyaan seperti ini.


"Kalau Ratih itu serahkan sama suami Ratih, Ma. Karena dia adalah kepala keluarga." jawab Bu Ratih santai.


"Mama ini apa-apaan sih.! kok bisa-bisanya bicara seperti itu. Jaga perasaan istriku kenapa?" ucap Gavin dengan nada tinggi.


"Mama bilang apa adanya, Vin. Dia sendiri kan yang bilang kalau dia sekarang itu sudah rela dan ikhlas dengan semua ini. Apa salah jika Mama bertanya seperti itu.?" sahut Bu Hesty.


"Pertanyaan Mama memang nggak salah. Tapi, tempat dan waktunya yang salah. Gavin jadi kecewa sama, Mama.!" jawab Gavin sambil meninggalkan meja makan.


Situasi dimeja makan jadi semakin tegang. Pak Indra menatap tajam kearah istrinya, sedangkan Tiur dan Kasih hanya tertunduk dan diam. Bu Ratih semakin cemas dengan sikap suaminya.


"Ratih, susul suamimu. Tenangin dia." ucap Pak Indra pelan.


"Baik, Pa.! Oh iya, Kasih, kamu kalau sudah selesai makan, kamu nggak apa-apa kembali ke belakang." ucap Bu Ratih.


Bu Ratih meninggalkan meja makan. Kini hanya tinggal mereka bertiga. Tiur jadi nggak enak, karena awalnya memang gara-gara pertanyaan dia, yang membuat situasi semakin panas.


"Nak Tiur, maaf ya. Kalau kedatangan kamu yang awalnya untuk bertemu dan melepas kangen sama kami semua, jadi berantakan dengan kesalah fahaman ini." ucap Pak Indra.


"Nggak apa-apa, Om. Justru Tiur yang minta maaf. Karena pertanyaan Tiur tadi, jadi membuat kacau seperti ini." jawab Tiur.


"Nggak apa-apa." jawab Pak Indra.


Akhirnya Tiur ditemani Bu Hesty ngobrol-ngobrol diruang tengah. Sedangkan Pak Indra masuk ke kamarnya.


Kini didalam kamar Gavin. Bu Ratih mencoba menenangkan suaminya itu. Dia tahu kalau suaminya lagi marah pasti seperti itu.


"Sayang, sudah jangan marah lagi, ya? aku sudah nggak apa-apa, kok. Mama mungkin lagi khilaf saja." ucap Bu Ratih sambil mengelus pundak suaminya.


Gavin duduk didepan meja dengan tangan ditutupkan ke wajahnya. Dia memikirkan ucapan Mamanya yang barusan. Gimana kalau seandainya Mamanya menuntut hal itu padanya.


Perlahan Gavin menoleh kearah istrinya, dia mendapati istrinya yang tersenyum dengan santai. Kenapa justru malah istrinya yang lebih tenang, padahal dialah yang terpojok. Hatimu memang seluas samudra, sayang. Batin Gavin.


"Sayang, aku ihklas kok kalau memang suatu saat nanti kamu ingin menikah lagi.!" ucap Bu Ratih sambil memeluk suaminya.

__ADS_1


----------------------------------


Bersambung......


__ADS_2