
Setibanya Gavin dimobil, dia mendapati wajah istrinya ada yang aneh. Seperti habis menangis, karena dipipinya ada bekas air menetes. Bu Ratih begitu ceroboh kenapa dia tidak tahu kalau ada bekas air matanya yang masih menempel dipipinya.
"Sayang, kenapa. Kamu habis nangis?Ada yang salah?" tanya Gavin.
"Nggak apa-apa. Tadi habis kelilipan saja." jawab Bu Ratih bohong.
Akhirnya Gavin melajukan mobilnya menuju kampus istrinya. Dalam perjalanan Bu Ratih terlihat seperti biasa. Tidak tampak wajah muram atau marah. Memang istrinya ini sungguh luar biasa pintarnya menyembunyikan kesedihannya. Gavin masih diam saja, kalau dibahas takutnya dia malah tersinggung. Karena dia tahu persis watak istrinya.
"Sayang, kamu nggak ada rencana ajak Kasih bulan madu gitu." tanya Bu Ratih.
"Kamu ini apaan, sih. Nikah aja nggak pake rame-rame pake bulan madu segala. Udah lah, jangan punya ide yang aneh-aneh lagi!" seru Gavin.
"Iya, iya.! maaf kalau aku salah omong. Maafin, ya sayang?" ucap Bu Ratih sambil memegan lengan suaminya.
"Iya, sayang. Kamu jangan suruh aku lagi melakukan hal-hal yang sulit untuk aku lakukan." jawab Gavin.
"Iya, sayang. Maaf." ucap Bu Ratih pelan.
Akhirnya sampai juga dikampus Bu Ratih. Gavin memasukan mobilnya ke halaman kampus, lalu Bu Ratih mencium tangan suaminya kemudian dia keluar dan melangkah menuju dalam kampus.
Sesampainya diruangan Dosen, Bu Ratih langsung mendaratkan tubuhnya dikursi biasanya. Dia membuka ponselnya lalu mencoba menelpon Mamanya. Setelah dicoba dihubungi ternyata nggak bisa. Akhirnya dia memasukannya kedalam tasnya.
"Selamat pagi, Bu Ratih.!" seru Pak Reyhan saat memasuki ruangan Dosen.
"Hai pagi juga, Pak Rey.! jawab Bu Ratih.
"Apa kabar pagi ini, Bu?" tanya Pak Reyhan.
"Alhamdulilah baik, Pak. Kalau Pak Reyhan sendiri apa kabar?" ucap Bu Ratih.
"Saya juga Alhamdulilah baik, Bu." jawab Pak Reyhan.
Tak lama kemudian datanglah Dosen yang lain hingga ruangan itu sudah kumpul para Dosen. Sesekali ruangan itu ramai karena banyolan atau celetukan Dosen cowok yang sengaja menggoda Dosen-Dosen cewek.
Ketika mereka lagi bergurau, tiba-tiba Pak Anwar mengetuk pintu ruangan Dosen tersebut.
"Selamat pagi, maaf untuk Pak Reyhan dan Bu Ratih, sebagai Dosen Akuntansi, mohon keruangan Pak Dekan." ucap Pak Anwar.
Pak Reyhan dan Bu Ratih langsung saling pandang. Mereka nggak tahu kenapa Pak Anwar menyuruhnya ke ruangan Pak Dekan. Akhirnya Pak Anwar kembali meninggalkan ruangan itu.
"Pak Rey, ada apa kita dipanggil Pak Dekan?" tanya Bu Ratih.
"Saya juga nggak tahu, Bu!" jawab Pak Rey.
Tak lama kemudian mereka berdua menghadap Dekan. Mereka juga nggak tahu kenapa sampai dipanggil untuk menghadap.
★ KANTOR WIJAYA'S GROUP ★
Gavin melangkah menuju ruangannya. Dia tergesa-gesa karena barusan ditelpon orangnya yang di Bandung bahwa Proyek tersebut pembangunannya sudah sembilan puluh persen selesai, tinggal finishing aja.
Sesampainya diruangannya, dia langsung meletakan tasnya dimeja, kemudian dibukanya tas tersebut.
"Astaga,! kok sampai ketinggalan gini, sih!" gumam Gavin sambil menutup mukanya.
Dia kemudian menelpon rumah, tapi nggak diangkat-angkat. Kemana nih orangnya. Batin Gavin. Akhirnya dia memutuskan menelpon Kasih.
__ADS_1
"Hallo, Kasih." ucap Gavin ditelpon.
"Iya, Mas. Ada apa?" tanya Kasih diujung telpon.
"Tolong, kamu antarkan berkasku yang ketinggalan dikamar bawah. Kamu kesini naik taksi, ya?" ucap Gavin.
"Baiklah, Mas. Segera aku antarkan." jawab Kasih.
"Oke, aku tunggu. Hati-hati." ucap Gavin.
" Iya, Mas." jawabnya.
Kemudian Gavin menutup kembali telponnya. Lalu dia masih duduk-duduk sambil menunggu komputernya nyala.
Tak lama kemudian Pak Firman masuk mengantarkan minuman seperti biasanya.
"Ini minumnya, Pak!" ucap Pak Firman.
"Makasih Pak.," jawab Gavin.
"Saya, permisi dulu, Pak Gavin." ucap Pak Firman.
Gavin mengangguk, kemudian Pak Firman meninggalkan ruangan Gavin. Tapi, setelah kepergian Pak Firman. Tiba-tiba pintunya ada yang mengetuk.
"Masuk,!" sahut Gavin dari dalam.
Pintupun terbuka, dan ternyata Tiara yang masuk dengan membawa beberapa berkas untuk dia tanda tangani.
"Vin, kapan aku ditaruh ditempat yang enak. Masak aku harus bantuin Pak Bima ngecek payroll terus." ucapanya tiba-tiba sat disepan Gavin.
"Vin,! kamu dengerin aku, nggak!" teriak Tiara.
"Dengerin. Terus kenapa kalau kamu bantuin Pak Bima." jawab Gavin tanpa menoleh kearah Tiara.
"Aku ya bosen aja. Kasih aku ditempat yang sesuai dengan pendidikanku." jawabnya sewot.
"Masih belum ada tempat. Nanti saja kalau sudah ada proyek baru, kamu akan aku taruh di Semarang.!" jawab Gavin.
"Apa,! Semarang,!" tukas Tiara kaget.
"Kenapa. Kan enak, nanti kamu yang awasi proyek disana." jawab Gavin sambil ketawa yang ditahan.
"Nggak mau,! aku maunya disini dekat ama kamu?" jawab Tiara sambil mendekatkan wajahnya kemuka Gavin.
Gavin jadi risih, dia kemudian memundurkan wajahnya karena nggak mau terjadi sesuatu hal yang nggak diinginkan. Dia semakin benci melihat ulah Tiara yang masih saja seenaknya sendiri.
"Jauhin muka kamu, atau aku gampar, kamu!" seru Gavin dengan nada tinggi.
"Jangan galak-galak, dong. Gantengnya ilang kalau kamu marah-marah gini." jawab Tiara dengan senyum menggoda.
"Mana yang harus aku tanda tangani. Aku harus segera meeting mendadak, karena proyek di Bandung mau selesai." ucap Gavin serius.
"Sabar dong Bos, santai kan bisa." ucap Tiara yang semakin menunjukan sikap kurang sopan.
Kini dia berdiri disamping Gavin yang lagi duduk. Gavin semakin nggak nyaman dengan sikap Tiara. Dia masih bersabar karena saat ini dirinya tengah menanda tangani berkas-berkas yang banyak banget.
__ADS_1
Tiara kini semakin berani terhadap Gavin, karena berani memegang pundak Gavin. Dia mengitari punggung Gavin dan kini beralih disebelah kanan, yang tadinya disebelah kiri Gavin. Disaat Tiara mau memeluk Gavin dari belakang, kemudian terdengar pintu diketuk lalu dibuka.
Ternyata Kasih yang masuk dengan membawa berkas yang diminta Gavin tadi. Dia kaget karena ada cewek yang berada diruangan suaminya dan dari belakang menggelayutkan tangannya dipundak Gavin. Kasih masih terpaku melihat pemandangan dihadapannya kali ini.
Gavin langsung saja menepiskan lengan Tiara yang berada dipundaknya. Dia nggak mau kalau Kasih salah faham dengannya. Meskipun pernikahannya dengan Kasih atas dasar kesepakatan, tapi Gavin tidak mau ini menyinggung perasaan Kasih yang kini sudah jadi istrinya.
Kasih menunduk dan mendekati mereka. Lalu meletakkan berkas diatas meja Gavin.
"Maaf, ini berkas yang tadi kamu minta ambilkan.! maaf, aku langsung pulang saja" ucap Kasih pelan.
"Iy..yaa, makasih Sih, Tapi,--!" ucapan Gavin berhenti karena Kasih keburu meninggalkan ruangan itu.
"Tiara.! ini semua gara-gara kamu." seru Gavin.
"Kenapa sih, emang dia siapa!" sahut Tiara.
"Dia siapa bukan urusan kamu, tapi sikap kamu tadi membuat dia salah faham, tahu,!" sahut Gavin keras.
"Apaan sih, kamu!" gumamnya.
"Sudah, kamu kembali ke ruanganmu. Aku masih ada perlu." ucap Gavin sambil melangkah pergi mengejar Kasih.
Gavin setengah berlari meninggalkan ruangannya. Dia menelusuri semua jalan yang ada dikantor itu. Dia kemudian keluar siapa tahu Kasih langsung pulang. Tapi, ketika diluar kantor dia tidak menemukan Kasih.
"Kasih kamu dimana, maafkan aku. Ini bukan seperti yang kamu lihat. Meskipun aku menikahimu bukan karena cinta. Tapi, aku akan selalu berusaha menjaga perasaanmu biar tidak terjadi salah faham." batin Gavin.
Tak lama kemudian dia masuk kembali kekantor, mungkin lebih baik menelponnya saja. Ponselnya ada diruangannya. Saat dia masuk, ternyata Gavin melihat Kasih lagi bersama teman lamanya sewaktu dia masih bekerja disini.
"Kasih, kamu semakin cantik saja. Baju kamu bagus." ucap temannya itu.
"Ah, biasa saja." jawab Kasih.
Kasih memang sengaja kekantor suaminya dengan memakai baju yang pantas, karena dia nggak mau Gavin melihatnya kumel.
Gavin masih mengawasi dari jauh pembicaraan Kasih dengan temannya itu. Tak lama kemudian Tiara datang menghampiri Kasih dan temannya itu.
"Hai.,! kamu siapa sih, masuk ruangan Pak Direktur kok seenaknya sendiri. Gangguin orang lagi kerja saja." ucap Tiara sambil melotot.
"Maaf, Bu. Tadi saya hanya disuruh Pak Gavin ambilkan berkas dia yang ketinggalan dirumahnya." jawab Kasih.
"Oh.. jadi kamu hanya pesuruhnya Gavin. Pantas saja,--" kalimat Tiara berhenti ketika Gavin mendekatinya.
"Pantas apa, hah!" teriak Gavin.
"Jangan marah gitu dong, aku cuma becanda." sahut Tiara sambil menggelayut.
Kasih masih diam dan menunduk. Gavin segera mendekati Kasih kemudian dia memegang tangan Kasih. Tiara kaget dan membulatkan matanya ketika Gavin memegang tangan Kasih. Dia semakin penasaran saja.
"Sekali lagi kamu hina dia,! kamu akan berurusan sama aku" sahut Gavin sambil menarik tangan Kasih.
Gavin beranjak dari tempat itu sambil menggenggam tangan Kasih.
--------------------------------
Bersambung....
__ADS_1