
Bu Ratih akhirnya kembali ke mobilnya. Ketika mau masuk mobil, tiba-tiba ada mobil masuk dan berhenti tepat disamping mobil Bu Ratih.
"Pagi, Bu Ratih.?" sapa Pak Renhard.
"Oh iya, pagi juga, Pak." jawab Bu Ratih.
"Habis antar Raka, ya Bu?"
"Iya, Pak."
Tak lama kemudian Pak Renhard keluar mobil lalu mendekati Bu Ratih.
"Bu Ratih, kalau ada waktu, main-main lah kerumah, nanti saya kenalkan sama istri saya. Sedikit reuni."
"Iya, Pak. Nanti kalau suami saya sudah pulang dari luar kota." ucap Bu Ratih.
"Oh iya, saya tunggu, ya?" ucap Pak Renhard.
"Iya, Pak. Baiklah, saya permisi dulu, ya?" ucap Bu Ratih.
"Iya, Bu."
Kemudian Bu Ratih masuk mobil lalu melajukannya menyusuri jalan raya. Dia sedikit menghafal jalanan kota Sleman tempat lahirnya. Dia hendak ke supermarket mau belanjan bulanan, karena persediaan bahan-bahan sudah menipis.
Dia memasukan mobilnya pada salah satu supermarket dikota itu. Setelah itu Bu Ratih melangkahkan kakinya masuk ke supermarket tersebut.
Dengan naluri keibuannya dia berburu kebutuhan pokok dengan cekatan. Sekitar hampir setengah jam dia berkutat pada buah-buahan dan sayuran. Setelah itu dia mencari daging dan ayam segar. Dia nanti mau masak sup ayam kesukaan Raka anaknya.
Braaaak.!
Bu Ratih terjatuh dan barang belanjaannya otomatis sebagian ada yang jatuh berserakan dilantai. Seketika Bu Ratih langsung bangun dan mendapati perempuan yang menabraknya tadi melongo karena melihat Bu Ratih.
"Kamu Ratih, ya!" seru orang itu.
Bu Ratih terdiam dan mencoba untuk mengingat siapa wanita yang dihadapannya ini. Lalu dia mulai tersenyum kegirangan.
"Fatma,!"
Seketika keduanya langsung berpelukan, Bu Ratih berkali-kali mencium pipi temannya itu. Lalu Bu Ratih melepaskan pelukannya itu.
"Ya ampun, Ratih. Kamu apa kabar?" ucap Fatma sembari memegang kedua bahu Bu Ratih dan memandanginya tanpa kedip.
"Aku, baik Fat. Kamu juga apa kabar?" ucap Bu Ratih.
"Aku ya gini ini, Tih. Suamiku sudah lama meninggalkanku, lalu anakku ikut suaminya di Kalimantan. Sekarang aku kerja serabutan. Kalau ada yang minta tolong dibantu untuk mencuci pakaian, ya aku kerjakan. Seperti saat ini, Bu RT ditempat tinggalku mau ada hajatan, aku dimintai tolong bantu dia belanja, ya aku bantu." jelas Fatma.
__ADS_1
"Ya ampun, Fat. Aku ikut prihatin. Tahu gitu kamu ikut kerja sama aku saja. Tapi, aku sudah terlanjur pesan Budheku cari orang. Sudah sebulan aku disini belum dapat-dapat orang. Ini tafi sih rencananya orangnya akan datang, tapi aku belum mendapat kabar. Atau gini saja, kalau memang aku belum dapat, gimana kamu ikut sama aku saja.?" jelas Bu Ratih.
"Beneran, Tih,!" ucapnya antusias.
"Iya, Mudah-mudahan orangnya nggak jadi. Biar kamu saja yang ikut aku." jawab Bu Ratih.
"Baiklah, ini nomor telponku. Nanti kabati aku, ya Tih?" ucap Fatma senang.
"Iya, Fat. Baik!" jawabnya.
"Ya sudah, aku permisi dulu, ya?" ucap Fatma sambil melangkah pergi.
"Okey, hati-hati."
Akhirnya keduanya berpisah dan kembali melanjutkan aktivitasnya berbelanja lagi. Bu Ratih bergumam dalam hati kalau dia sangat senang bisa ketemu dengan Fatma lagi. Dia memang perempuan yang baik dan nggak pernah neko-neko.
Jika Fatma ikut kerja dirumahnya, Bu Ratih sangat terbantu dan sangat-sangat beruntung sekali. Dia dan Fatma adalah sahabat dari dulu dan sepertu saudara.
Setelah mengantri di kasir dan membayarnya, dia menuju parkiran dan membawa belanjaannya dengan troli. Sampai di parkiran, dia lalu memasukannya ke dalam mobil di bangku penumpang, lalu dia pulang kerumahnya.
.
.
.
Sesampainya dikamar, dia langsung memasukan barang-barangnya ksmudian keluar lagi karena sudah ada janji dengan Pak Ramon untuk meninjau lokasi proyek. Ketika diparkiran, dia disapa seseorang dan ternyata Pak Ramon.
"Maaf, Pak Gavin. Saya nggak tahu kalau Pak Gavin nginap di Hotel ini." ucap Oak Ramon.
"Lho, emangnya kenapa, Pak Ramon?" jawab Gavin.
"Pak Gavin, saya juga nginap di Hotel ini. Kalau gitu kita jalan bareng saja ke lokasi proyeknya." jawab Pak Ramon.
"Baiklah, Pak."
Keduanya kemudian masuk ke dalam mobil. Lalu Gavin dengan dipandu Pak Ramon mengecek lokasi proyek. Hampir sejam mereka menghabiskan waktu dimobil untuk menuju lokasi proyek, dan akhirnya sampai juga.
Gavin sangat takjub melihat gedung yang tingginya bagaikan menara. Proyek ini adalah salah satu tender Gavin ketika dia masih di Jakarta. Bangunan ini nantinya akan dibuat Hotel bintang lima dan restoran.
"Bagus banget ini, Pak Ramon. Saat saya melihat rancangannya dulu nggak bakalan menyangka kalau akan seperti ini." ucap Gavin kagum.
"Iya, Pak. Memang bagunannya belum selesai, cuma setelah melihat sebagian yang sudah selesai dibangun, kalau ini bakalan menjadi sebuah bangunan yang sangat menarik dan bagus." Jawab Pak Ramon.
"Pak Ramon, saya optimis kalau ini kedepannya bakalan sukses dan menjadi sebuah bisnis yang menjanjikan." tukas Gavin semangat.
__ADS_1
"Iya, Pak. Benar kata Pak Gavin." jawab Pak Ramon.
"Pak Ramon, kita cari makan siang saja. Saya akan bawa Anda ke restoran milik saya." ucap Gavin.
"Siap, Pak."
Gavin mengajak ke restoran miliknya yang ada di tengah kota. Restoran itu menyediakan menu khas Jawa. Jadi, makanan yang asalnya dari seluruh penjuru pulau Jawa, ada disitu semua.
Sekitar butuh waktu setengah jam dari lokasi proyek, akhirnya mereka sudah sampai. Gavin belum mengabari Menejer restoran karena memang dia hanya sekedar kunjungan biasa, jadi nggak akan mengambil alih wewenang restoran secara langsung, cuma dia datang sebagai owner saja.
Gavin mengambil meja yang letaknya disudut. Kemudian dia dan Pak Ramon memesan makanan kepada salah satu pelayan yang sudah menghampiri mejanya.
"Pak, hebat juga restoran Bapak. Pengunjungnya lumayan banyak, lho!" seru Pak Ramon heran.
"Saya baru kali ini kesini, Pak. Sebelumnya kan saya mengurusi kantor pusat. Dan ini diurus sama salah satu orang kepercayaan Papa." jawab Gavin.
"Ini jelas proseknya bagus sekali, Pak Gavin. Menu yang disediakan tak jauh dari makanan sehari-hari namun dikemas secara berbeda." ucap Pak Ramon takjub.
Tak lama kemudian pelayan itu kembali dan membawa pesanan Gavin dan Pak Ramon. Seketika mereka melototkan matanya karena melihat pesanan yang mereka pesan adalah sangat banyak sekali.
"Maaf, Mbak. Apa benar ini satu porsi?" tanya Gavin.
"Iya, Pak. Kenapa, ada yang kurang, Pak?" jawab Pelayan tersebut.
"Oh enggak. Malah ini sangat banyak dan sudah lebih dari takaran makanan saya sehari-hari." sahut Gavin.
"Tadi, kalau Bapak pesannya setengah gitu juga nggak apa-apa. Tinggal ditulis separoh gitu saja. Memang disini terkenal menunya itu porsinya jumbo." ucap Pelayan itu.
"Oalah, Mbak kita nggak tahu." jawab Gavin.
Ketika pelayan itu berbicara dengan Gavin, dari jauh ada seorang laki-laki yang memperhatikan ke meja Gavin. Tak lama kemudian laki-laki itu mendekat.
"Ada apa, ini?" ucapnya ketus sama karyawan itu.
"Ini, Pak. Bapak ini pesan satu porsi, dan nggak tahu kalau satu porsinya itu jumbo. Beliau bilang kalau ini sangat banyak dan mereka jelas nggak habis kalau makan sendiri. Lalu saya jawab, kalau memang porsinya seperti ini. Tadi misal pesannya separoh gitu saya buatkan sedikit." jawab pelayan itu.
"Ya sudah biarkan saja. Nggak habis ya urusan dia. Dimakan sedikit maupun banyak bayarnya tetap utuh. Malah menguntungkan kita.!" seru laki-laki itu ketus.
Degh!!
"Jawabnya kok seperti itu," ucap Gavin dalam hati.
-------------------------------
Bersambung...
__ADS_1