BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 182 (Cita-cita Bu Ratih)


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Kasih kemarin, Bu Ratih sedikit berfikir apakah memang benar kalau Gazi adalah anak dari suaminya. Semuanya masih belum benar adanya. Cuma kemungkinan saja.


"Sayang, kamu sudah makan apa belum?" tanya Gavin ketika melihat Bu Ratih menggendong Cantik karena badannya sedikit panas karena habis di imunisasi.


"Aku nggak lapar, lagian mana mungkin aku bisa makan kalau si kecil masih nangis terus." ucap Bu Ratih.


"Aku suapin, ya Ma."


"Nggak usah, aku belum lapar. Nanti kalau sudah lapar aku akan makan sendiri.


"Ya sudah, sini gantian aku yang gendong Cantik." ucap Gavin sembari meraih Cantik dari gendongannya Bu Ratih.


Tapi, justru anaknya malah nggak mau dan nangis. Akhirnya dia kembali dia digendong Bu Ratih.


Gavin kasihan dengan istrinya kalau anaknya lagi sakit lalu rewel gini, dia nggak bisa istirahat. Tapi, namanya seorang Ibu pasti rela apa saja demi anaknya.


"Tih, kamu memang bukan yang melahirkan Cantik. Tapi, kamu sudah melebihi Ibu kandungnya. Aku bangga dan salut sama kamu, karena bagaimanapun jiwa keibuan disetiap wanita pasti ada meskipun dia tidak pernah melahirkan seorang anak." ucap Gavin dalam hati.


Gavin keluar kamar dan duduk diteras depan rumahnya. Dia menyendiri lagi memikirkan istrinya. Tiba-tiba Papanya datang mendekatinya dan ikut duduk disamping Gavin.


"Kamu kenapa duduk disini, katanya anak kamu demam habis imunisasi." tanya Pak Indra.


"Iya, Pa. Aku kasihan sama dia, Cantik hanya mau sama Ratih saja. Padahal tadi Gavin pingin bantu gendong biar dia makan, tapi anaknya nggak mau hanya sama Ratih saja." jawab Gavin.


"Itulah hebatnya istrimu, dia memang tidak melahirkannya, tapi dia berperan seperti oarang yang melahirkannya karena memang sudah menjadi tanggung jawabnya. Memang semua anak kecil akan lengket sama Ibu yang merawatnya meskipun bukan Ibu kandung, tapi hebatnya istrimu adalah dia bisa melakukan hal itu sama kedua anak-anakmu. Dia itu keibuan banget, Vin. Kamu beruntung sekali mempunyai istri seperti dia." ucap Pak Indra.


"Iya, Pa."


"Oh iya, istrimu itu kan pintar, sekarang mau S3. Apa kamu nggak tawari dia misal pingin mendirikan sekolah, mungkin." ucap Pak Indra.


"Dulu, memamg kita sempat cerita-cerita, suatu saat ingin punya yayasan sekalian sekolahnya, kalau Kak Kinan kan hanya yayasan aja, sedangkan anak-anaknya sekolah di sekolah umum. Kalau Ratih ingin dia memiliki keduanya itu." jawab Gavin.


"Bagus itu, jelas dia sudah punya pikiran seperti itu, secara dunianya tak jauh dari bidang pendidikan. Dia juga punya banyak kenalan pengajar-pengajar diluaran sana. Papa setuju itu, Vin. Nanti Papa yang akan menjadi donatur tetapnya." seloroh Pak Indra semangat.


"Iya, Pa. Nanti Gavin omongin lagi sama Ratih."


Ketika Gavin dan Pak Indra lagi membahas soal sekolah, tiba-tiba Bu Ratih berlari keluar memanggil Gavin.


"Pa, Papa.!" serunya dari dalam.

__ADS_1


Gavin spontan berdiri dan beranjak dari duduknya dan melangkah kedalam.


"Ada apa, Ma!" jawabnya.


"Cantik kok badannya semakin panas." ucap Bu Ratih panik.


"Kita bawa ke rumah sakit, ya?" ajak Gavin.


"Ada apa ini?" sahut Bu Hesty dari dalam kamar.


"Ini, Ma. Cantik badannya semakin panas." jawab Bu Ratih.


"Coba Mama lihat."


"Kita bawa aja, ya Ma?" kini Pak Indra ikut menimpali.


"Ini memang efek imunisasi, kita kompres aja nggak apa-apa. Nanti juga turun sendiri." ucap Bu Hesty.


"Syukurlah kalau memang nggak kenapa-kenapa." jawab Gavin.


"Beneran, Ma. Kita nggak usah bawa dia ke rumah sakit." tanya Bu Ratih lagi untuk memastikan.


"Kita lihat perkembangannya nanti setelah dikompres. Biasanya nggak apa-apa. Kalau memang masih panas, baru kita bawa. Jangan panik kalau menghadapi si kecil demam." jelas Bu Hesty.


"Iya, setiap anak punya daya tubuh yang berbeda-beda, mungkin saat itu imun tubuhnya Raka lagi fit. Sedangkan Cantik ini tadi kebetulan lagi kecapekan, kan habis perjalanan jauh." jawab Bu Hesty.


"Ya sudah kalau gitu kalian istirahat saja. Sudah malam." ucap Pak Indra.


"Baiklah, Pa." jawab Bu Ratih.


Kemudian mereka akhirnya masuk kamarnya masing-masing. Bu Ratih dan Gavin tidur dengan menjaga Cantik. Mereka berdua sangat menyayangi Cantik layaknya anaknya sendiri. Mereka tak langsung bisa tidur, dan akhirnya ngobrol-ngobrol.


"Pa, tadi pas aku ke rumah Mama Rahma aku ketemu Kasih di SPBU saat isi bensin." ucap Bu Ratih.


"Iya ta? kabarnya gimana dia, Ma?" tanya Gavin.


"Dia baik, dia semakin cantik dan sukses." jawab Bu Ratih sambil melirik suaminya.


Mungkin Bu Ratih mau melihat ekspresi dan reaksi Gavin ketika dia menyebutkan kalau Kasih semakin cantik dan sukses. Ternyata dia zonk, Gavin reaksinya biasa saja.

__ADS_1


"Syukurlah, Ma. Aku ikut senang kalau dia semakin sukses. Berarti kerja kerasnya selama ini nggak sia-sia." jawab Gavin.


"Oh iya, rumag mertuanya ternyata di Sleman juga, sama dengan kita." ucap Bu Ratih.


"Lho, iya ta?" jawab Gavin.


"Malahan sebulan yang lalu dia ke sana untuk melihat pabrik batiknya yang di Solo kebakaran. Dia sekeluarga mampir ke rumah mertuanya." ucap Bu Ratih.


"Sebentar, Ma. Aku jadi ingat sesuatu kalau soal kebakaran. Dulu aku dikasih tahu Pak Fajar kalau saudara yang anaknya kecelakaan itu punya pabrik batik di Solo yang mengalami kebakaran. Apa yang dimaksud Pak Fajar itu, Kasih?" jawab Gavin.


"Ya mungkin saja benar. Emangnya kenapa, Pa?" tanya Bu Ratih.


"Ingat nggak yang aku cerita, waktu aku membantu ponakan Pak Fajar menyumbangkan darah. Itu anaknya saudara Pak Fajar yang pabriknya kebakaran, Ma." jawab Gavin.


"Berarti dia anaknya Kasih, dong?" seru Bu Ratih.


"Terus, kalau emang dia anaknya Kasih, kenapa emang? kamu cemburu, ya?" jawab Gavin menggoda


"Ish, ngapain juga aku cemburu. Kan sekarang aku adalah istri kamu satu-satunya." jawab Bu Ratih.


"Iya, aku percaya. Sekarang kamu kan jadi juara dihatiku dan anak-anak. Hehe,!" jawab Gavin sambil tertawa.


"Eh, Pa. Apa kamu nggak ingin ketemu dengan dia lagi, Pa.?" tanya Bu Ratih tiba-tiba.


Gavin semakin terpojok dengan pertanyaan Bu Ratih yang sedikit membuatnya kikuk. Bu Ratih mengerti kalau suaminya sebenarnya juga ingin bertemu, karena selama ini dia juga merindukannya. Cuma dia hanya diam saja, takutnya salah.


"Kamu ini bicara apa, sih Ma. Jangan suka memancing orang marah, dong!" jawab Gavin sewot.


"Iya, maaf dech. Mama kan cuma becanda, kali aja kamu ingin ketemu. Secara kalian juga sempat ada ikatan, bahkan ikatan itu tidak akan putus karena sudah ada Raka." jawab Bu Ratih lirih.


"Sudahlah, Ma. Jangan dibahas dan diungkit-ungkit lagi soal itu. Kita juga sudah bahagia dengan keluarga kecil kita, kan.?" ucap Gavin.


"Iya, Pa. Maafin Mama, ya?" tanya Bu Ratih.


"Iya, Papa maafin. Sekarang kita istirahat saja, mumpung Cantik juga sudah tidur dan panasnya juga turun." ucap Gavin.


"Baik, Pa."


Keduanya mengecek keadaan Cantik dulu sebelum mereka melanjutkan untuk tidur. Gavin dan Bu Ratih sempat saling bertatapan matanya sebelum akhirnya mereka tidur diantara Cantik yang sudah tidur duluan.

__ADS_1


-----------------------------------


Bersambung....


__ADS_2