
Pagi ini Cantik kuliah dijemput Bara. Bu Ratih dan Gavin sangat senang kalau anaknya ini dekat dengan Bara, karena Bara anaknya baik dan dewasa.
"Bara, Om nitip Cantika, ya. Kali aja kalau di Kampus agak bandel." ucap Gavin saat Bara jemput Cantik.
"Iya, Om. Saya akan jaga Cantika." jawab Bara.
"Papa ini apaan sih, kok pqke dijagain segala. Emang Cantik anak kecil." sahutnya sewot.
"Bukan begitu, Dek. Kan kalian satu jurusan, pasti sering ketu meskipun beda tingkat. Kalau Kak Gazi kan beda jurusan jelas gedungnya beda." jawab Gavin.
"Terserah Papa lah, sekarang Cantik berangkat dulu." ucap.Cantik sambil menyalami tangan Papanya.
Demikian juga dengan Bara, dia memyalami Gavin lalu mereka berangkat ke kampus. Gavin hanya tersenyum melihat anaknya tumbuh dewasa dan sekarang sudah punya teman dekat.
"Cantik,!" ucap Bara saat di dalam mobil.
"Iya, Kak."
"Kamu kenapa aih kaalu di ganggu Vera seperti kemarin kok diam saja. Padahal dia yang salah. Kamu yang ditabrak, kan?" tanya Bara.
"Sudahlah Kak, biarin saja. Nanti kan mendapat balasannya sendiri." jawab Cantik.
"Aku bangga sama kamu, Tik. Nggak salah aku pilih kamu." ucap Bara aambil matanya lurus kedepan.
"Apa, Kak.,!"
"Maksud Kakak, nggak salah kalau Kakak pilih kamu sebagai adik Kakak." ucap Bara mengelak sambik melirik Cantika.
Sejenak muka Cantika berubah, yang tadianya ceria kini menjadi sedikit ditekuk. Bara yang melihat perubahan wajah Cantika langsung meraih tangan gadis itu dengan tangan kirinya.
"Sudah, kok mukanya ditekuk gitu. Mana senyum manisnya gadis mungilku ini." sahut Bara sambil melirik Cantika.
"Apaan sih, Kak. Aku nggak apa-apa kok." jawab Cantika biasa.
"Ya sudah kalau gitu" ucap Bara.
Tak terasa akhirnya sampai juga di kampus. Bara memarirkan mobilnya ditempat biasa. Saat Cantika keluar dari mobil Bara, semua yang lewat langsung melihatnya. Apalagi cewek-cewek senior pasti melihatnya dengan tatapan sinis.
Mereka berjalan beriringan menuju dalam kampus. Bara dengan langkah percaya dirinya dia meraih tangan Cantika. Seketika gadis itu kaget dan menoleh kearah Bara.
Bara pun menoleh lalu tersenyum dan kembali menatap kedepan. Keduanya otomatis menjadi pusat perhatian yang lain. Cantik akhirnya bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa.
"Gadis mungilku, sekarang kamu masuk kelas dulu, aku juga akan masuk." ucap Bara sambil mengacak rambut Cantika.
__ADS_1
"Siap, Kak!"
Akhirnya keduanya berpisah dan menuju ke ruang kelasnya masing-masing. Cantika menuju kelasnya yang letaknya diujung dan sesampainya dikelas dia langsung duduk.
Tya sahabatnya langsung menarik tangannya dan mengajaknya duduk dipojok. Cantika bingung ada apa dengan Tya sampai dirinya diajak ngobrol serius gini.
"Tik, kamu tahu nggak, saat kamu berjalan digandeng sama Kak Bara semua orang perhatikan kamu, lho.!" seru Tya dengan muka serius.
"Tya, aku kira ada apa. Ya memang gitu Kak Bara kalau jalan selalu gandeng tanganku." jawab Cantika.
"So sweat banget sih! aku ngelihatnya sampai baper" ucap Tya dengan wajah yang sumringah.
"Aku dan Kak Bara kan nggak pacaran, kamu kok heboh gini, sih Tya.?" jawab Cantika.
"Tapi kalian tadi kayak sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Tapi, kalau memang kalian jadian aku orang pertama yang kasih dukungan ke kalian." ucapnya dengan tegas.
"Makasih, ya Tya. Kamu memang sahabatku yang paling aku sayaang dan paling the best." jawab Cantika sambil memegang kedua pipi Tya.
"Tapi kamu benar nggak pacaran.?" Tya bertanya lagi karena memang dia belum yakin.
Cantika menggeleng, "Enggak, aku hanya dianggap seperti adiknya." jawab Cantika sambil menunduk.
Tya yang melihat ada gurat kesedihan dari wajah sahabatnya ini lanhsung bisa menangkap kalau sebenarnya Cantika menarih rasa sama Bara.
Cantika dan Tya kembali ke kursinya masing-masing. Tak lama kemudian Dosennya masuk.
Bu Arin terkenal orangnya santai tapi serius. Mata kuliah yang diajarkan ada bahasa inggris.
"Good morning everybody (Selamat pagi semuanya)!" ucap Bu Arin saat tiba dikelas.
Semua penghuni ruangan itu menjawabnya serempak. Terlihat Cantika semangat karena dia senang sekali kalau dengan bahasa inggris.
"Okey, now please open your Grammar Book page 15 (Oke, sekarang silakan buka buku Grammar halaman 15)." titah Bu Arin.
Dengan kemahirannya berbahasa inggris Bu Arin menjelaskan materi kuliah. Dalam sesi tanya jawab mahasiswi yang paling aktif bertanya ada Cantika. Bu Arin senang sekali kalau ada mahasiswa atau mahasiswi yang aktif bertanya. Apalahi petanyaan itu bukan pertanyaan yanh
biasa.
Setelah hampir dua jam kini akhirnya mata kuliah bahasa inggris selesai juga. Bi Arin sudah bersiap-siap untuk meninggalkan ruangan ini dengan merapikan semua buku-bukunya.
"Okey, thanks for today! Don't forget to do your assignmen! See you later, bye! (Baiklah, terima kasih untuk hari ini! Jangan lupa kerjakan tigasnya, ya? Sampai jumpa lagi, daaah!)"
"Bye.,!" jawab mereka serempak.
__ADS_1
.
.
.
Saat istirahat siang, Cantika menghabiskan waktu luangnya di perpustakaan. Dia membaca buku dan biasanya digunakan untuk mengulang dan mempelajari kembali apa yang barusan diajarkan di materi kuliah.
"Siang Cantika,!" sapa Bu Arin.
"Siang juga, Bu.!" jawabnya.
"Lagi baca apa, nih.!" tanya Bu Arin sambil melihati buku yang dipegang Cantika.
"Kamu suka bahasa inggris.?" tanya bu Arin dengan membulatkan matanya.
"Suka sekali, Bu." jawabnya semangat.
"Kamu memang mahasiswi yang aktif dan kreatif. Selain bisa menggambar dan suka mendesain, kamu juga mahir bahasa inggris. Saya salut sama kamu.!" ucap Bu Arin sambil memegang pundak Cantika.
"Ah biasa saja, Bu. Saya juga masih belajar. Karena bahasa inggris bagi saya itu penting setelah bahasa indonesia itu sendiri. Bahasa inggris sekarang menjadi bahasa internasional, jadi nanti suatu saat karier saya bisa mendunia pasti tidak akan kesulitan lagi dalam berkomunikasi." jelas Cantika.
"Hebat kamu, oh iya. Ibu punya tawaran buat kamu. Kira-kira kamu setuju apa nggak.?" tanya Bu Arin.
"Apa itu, Bu. Selama saya bisa InsyaAllah saya terima tawaran Ibu." jawab Cantika.
"Kamu mau nggak menjadi Asisten Dosen saya?" ucap Bu Arin.
Cantika membulatkan matanya, dia nggak menyangka kalau dapat tawaran menjadi Asisten Dosen oleh Bu Arin. Dia nggak bermimpi kah ketika Bu Arin menawarkan itu padanya.
"Apa saya mampu, Bu.?"
"Cantik, kenapa saya memilih kamu karena saya punya pertimbangan sendiri. Saya anggap kamu mampu dan bisa, dan itu juga bukan main-main. Kamu pintar, rajin, cerdas serta selalu aktif." jawab Bu Arin.
"Kalau saya minta waktu buat memikirkan hal ini apa boleh, ya Bu.?" tanya Cantika.
"Iya, Boleh. Nanti kalau sudah menemukan jawabannya langsung kasih tahu Ibu, ya.?"
Cantika mengangguk. Kini dirinya seolah bermimpi, karena dia nggak terbesit sama sekali kalau akan ditawari sebagai Asisten Dosen.
--------------------------------
Bersambung...
__ADS_1