BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 209 (Merencanakan pesta)


__ADS_3

Seminggu kemudian, setelah kejadian malam itu, Bu Ratih lebih sering diam. Mungkin dalam hatinya masih ada rasa takut jika anak-anaknya akan mencari Ibu kandungnya.


Seperti halnya saat ini, dia dikampus lebih banyak menghabiskan waktu senggangnya hanya dengan membaca buku di ruangannya. Jarang keluar, dia banyak diruangan saja.


Disaat yang bersamaan, ponselnya berdering. Bu Ratih melihat ada nama Cantik disana.


"Hallo, sayang. Ada apa?"


"Ma, gimana soal ulang tahunnya, Kakak. Jadi kan kita bikin surpprise party?"


"Ya ampun, sayang. Mama sampai lupa. Besok kan ulang tahunnya Kak Raka, kan?"


"Iya, Ma. Nanti makam kita bikin surprise partynya."


"Iya sayang. Kamu atur saja, Mama ngikut saja."


"Oke, Ma. Cantik hubungi Kak Dara sama Kak Gazi, ya Ma.?"


"Iya, sayang. Kamu atur semuanya. Nanti kalau kurang apa-apa bilang sama Mama, ya?"


"Siap, Ma,!"


"Bye, sayang."


Kembali Bu Ratih menutup ponselnya. Dia baru ingat kalau besok adalah ulang tahin Raka yang ke dua puluh dua satu. Nggak terasa anaknya kini sudah dewasa. Anak yang dulu kehadirannya sangat ditunggu-tunggu keluarga wijaya.


Bayi laki-laki mungil nan lucu kini tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan. Perawakannya memang persis Gavin saat masih muda. Bu Ratih nggak menyangka kalau dirinya sudah punya anak yang sudah beranjak dewasa.


Sekitar pukul setengah tiga sore, Bu Ratih mulai siap-siap untuk pulang. Hari ini kegiatan kampus nggak begitu padat. Biasanya dia kadang ikut mengisi materi kuliah kalau memang dibutuhkan.


Sekitar menunggu setengah jam lagi dia akan pulang. Pak Santo sudah menunggu diluar, karena Raka hari ini pulang kuliahnya nanti jam lima sore karena ada kerjaan yang harus diselesaikan dulu.


Sesampainya dihalaman dia bertemu dengan Gazi lagi menuju parkiran. Bu Ratih seketika memanggilnya.


"Gazi,!" panggilnya.


Seketika Gazi menoleh kemudian menoleh ke arah Bu Ratih. Lalu dia mendekati wanita itu dan menyalaminya.


"Kamu sudah enakan?" tanya Bu Ratih.


"Iya, Tante. Saya sudah enakan. Baru hari ini saya masuk kuliah." jawabnya.


"Kok kamu naik motor sendiri, kenapa nggak naik taksi saja." tegur Bu Ratih.

__ADS_1


"Iya, saya bareng temen. Kebetulan searah sama rumah, Gazi." jawabnya.


"Mau Tante antarin pulang, Nak?" tawar Bu Ratih.


"Nggak usah, Tante. Ntar malah ngerepoti Tante Ratih saja." jawabnya pelan.


"Nggak usah sungkan. Kamu kan teman anak Tante, ayo ikut Tante." tukas Bu Ratih sambil memegang lengan Gazi.


Gazi diam saja, sebenarnya dia sungkan sama Bu ratih. Sejak kejadian di rumah sakit tempo hari dia sedikit segan sama keluarga Gavin. Tapi, tak lama kemudian dia menganggukan kepalanya dan mau diantar pulang sama Bu Ratih.


Dalam perjalanan, Gazi lebih banyak diam. Kalau nggak diajak ngomong duluan sama Bu Ratih dia pasti diem. Gazi saat besar ini lebih cenderung pendiam, padahal kecilnya dulu tidak.


"Gazi, besok ulang tahunnya Kak Raka, lho!" ucap Bu Ratih memecah ketegangan diantara mereka berdua.


"Oh ya, Tante."


"Iya, Zi. Kamu ke rumah, ya. Tante mau bikin surpprise party buat Kak Raka." ucap Bu Ratih.


"Iya, Tante. Gazi usahakan datang." jawabnya pelan.


"Nanti biar Pak Santo yang jemput Gazi kerumah, ya Pak." ucap Bu Ratih sambil menepuk pundak Santo dari belakang.


"Oh iya, Bu. Besok Den Gazi saya jem


put." jawab santo.


"Nggak apa-apa, Zi. Kamu kan baru sembuh. Jadi, biar nggak susah-susah naik taksi." ucap Bu Ratih.


"Iya, Den. Nggak apa-apa. Biar Pak Santo yang jemput Aden." sahut Santo.


"Oh iya, Zi. Kamu bisa bawa mobil?" tanya Bu Ratih tiba-tiba.


"Emm, bisa Tante." jawabnya singkat.


"Kenapa kamu nggak bawa mobil,?"


"Gazi nggak suka saja, Tan. Dulu waktu di Jakarta saat SMU Gazi pernah bawa mobil. Tapi, sempat diejek sama teman-teman. Katanya Gazi anaknya belagu, masih sekolah saja sudah bawa mobil. Jadi sampe sekarang Gazi nggak suka aja. Takut diejek seperti itu lagi." ucapnya polos.


"Ya ampun Gazi, Tapi sekarang kamu bukan anak sekolahan lagi, sayang. Kamu sudah dewasa. Jadi nggak apa-apa kalau bawa mobil selagi mampu." jawab Bu Ratih.


"Hehehe, iya Tante."


Akhirnya sampai juga mereka dirumah Gazi. Bu Ratih nggak mampir karena dia sudah janjian sama Cantik untuk belanja buat acara besok. Gazi turun dan menyalami Bu Ratih.

__ADS_1


"Oh iya, Tante bener nggak mampir dulu."


"Lain kali aja, ya sayang. Sudah sore juga." jawab Bu Ratih pelan.


"Baiklah kalau gitu."


"Bye.., sayang."


"Bye.., Tante."


Akhirnya Bu Ratih meninggalkan Gazi sendirian. Kini Gazi masih berdiri dihalaman rumahnya. Setelah mobil Bu Ratih meninggalkan rumah Gazi. Pemuda itu langsung masuk rumahnya. Dan didapati Neneknya lagi duduk dikursi.


"Selamat sore, Nek." sapa Gazi sambil menyalami tangan Neneknya.


"Sore, juga. Kamu pulang diantar siapa?" ucap Neneknya sambil matanya melihat kearah depan rumah.


"Gazi tadi diantar sama Tante Kasih."


"Kok nggak kamu suruh turun, Zi."


"Nggak mau, Nek. Katanya keburu mau belanja buat pesta besok" jawab Gazi.


"Emangnya ada pesta apa?" tanya Neneknya.


"Hanya pesta ulang tahun saja, Nek. Beaok Kak Raka ulang tahun" ucap Gazi.


"Oh Raka ulang tahun. Lalu, kamu nggak kasih kabar Bundamu kalau Kak Raka ulang tahun." tanya Neneknya.


Gazi mukanya langsung ditekuk. Dia masih kecewa sama Bundanya. Sejak kejadian di rumah sakit dulu, Kasih menceritakan semua kejadian yang sebenarnya. Gazi sempat marah sama Kasih kenapa waktu itu Kasih nggak bilang sama Gavin kalau dua lagi hamil dirinya.


Jadi sejak kejadian itu, Gazi perang dingin sama Bundanya. Kemarin pas Kasih balik ke Jakarta pun dia biasa saja. Kasih maklumi karena itu memang sebuah bentuk pelampiasan kekesalan terhadap dirinya.


Gazi belum memberitahukan hal ini sama keluarga Gavin kalau dia sudah tahu yang sebenarnya. Dia memang sengaja diam dulu, karena nggak enak kalau tiba-tiba dia masuk kedalam keluarga Gavin. Biarlah semua berjalan apa adanya saja.


Makanya saat tadi dianter pulang Bu Ratih dia sedikit canggung karena bagaimanapun juga itu istri dari Papanya. Jadi dia harus menghormati dan menjaga sikap.


"Bunda, aku tahu Bunda punya alasan kenapa saat itu tidak bilang sama Papa soal kehamilan itu. Tapi, Gazi saat ini hanya sedikit kecewa saja sama sikap Bunda. Tapi, jangan kawatir. Bagaimanpun juga aku tetap sayang sama Bunda." ucap Gazi dalam hati.


"Gazi, kami masih marah sama Bundamu."


"Nggak kok, Nek. Gazi masuk dulu, ya?" ucap Gazi sambil masuk ke kamarnya.


Neneknya hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Gazi. Dia memaklumi kekecewaan yang dirasakan cucunya itu. Tapi, dia yakin kalau suatu saat Gazi pasti bisa mengerti.

__ADS_1


-------------------------------


Bersambung...


__ADS_2