
Gavin seketika kaget saat istrinya bertanya seperti itu. Dia langsung mendekatinya dan memeluknya erat. Gavin bisa merasakan kalau istrinya sedang menangis. Semakin erat Gavin memeluknya.
"Sayang, kenapa kamu bertanya seperti itu.?" tanya Gavin sambil memeluknya.
"Karena aku takut aja, karena aku sudah tidak bisa memberimu seorang anak." jawab Bu Ratih sambil nangis sesenggukan.
"Sudah, kamu jangan berfikiran seperti itu lagi, sekarang ayo kita istirahat. Sudah malam juga lho.!" ajak Gavin.
Gavin melepaskan pelukannya lalu mengajak istrinya tidur. Direbahkan istrinya kemudian dia juga tidur disamping istrinya dengan memegangi tangannya.
Mereka akhirnya terlelap dan sejenak melupakan permasalahan yang ada. Malam semakin larut dan dingin sehingga dengan mudahnya mengantarkan sepasang suami istri itu memasuki alam mimpi masing-masing.
(****)
Pagi-pagi sudah mendapatkan kabar bahwa Kinanti sudah melahirkan, anaknya perempuan. Kini Gavin dan Bu Ratih siap-siap menuju rumah sakit. Kebetulan hari ini hari libur. Kasih juga minta ijin kalau mau pulang.
Gavin dan Ratih siap-siap berangkat menuju rumah sakit. Wajah Bu Ratih sudah tidak menampakan kemuraman, tapi, tidak tahu lagi kalau dalam hatinya. Gavin mengeluarkan mobilnya dan menyalakan mesinnya.
Mereka nggak mau sarapan, hanya membawa bekal roti dan susu untuk dimakan dimobil. Setelah semuanya siap, akhirnya mereka berangkat.
Gavin mengendarai mobilnya dengan santai agar bisa menikmati cuaca pagi hari.
"Sayang, ini makan dulu rotinya. Hah, buka mulutnya." titah Bu Ratih.
Gavin menuruti apa yang diperintahkan istrinya. Mereka kembali menampakan kemesraan seperti sebelumnya. Gavin sejenak melupakan apa yang semalam istrinya pertanyakan.
Bu Ratih juga menikmati roti yang ia bawa dari rumah. Gavin melirik ke arah istrinya yang sedang menikmati roti. Dia senang kalau melihat istrinya kembali ceria.
Akhirnya sampai juga mereka dirumah sakit. Gavin memarkirkan mobilnya diparkiran. Kemudian mereka berdua berjalan menuju ruangan Ibu melahirkan.
Mereka melihat Papanya lagi duduk dikursi depan kamar.
"Pa, gimana keadaannya Kak Kinan.?" tanya Gavin setibanya didekat Papanya duduk.
"Kakakmu baik-baik saja. Bayinya juga sehat, masuk aja." jawab Pak Indra.
Kemudian Gavin dan Bu Ratih masuk ke kamar. Ada Bu Hesty dan Mahen yang lagi nungguin Kinan. Mereka langsung menoleh ketika Gavin dan Bu Ratih masuk.
"Pagi semuanya..!" seru Gavin.
"Pagi, Kak, Ma." kini Bu Ratih menimpali.
"Pagi.., kalian pagi amat kesininya.?" tanya Bu Hesty.
"Iya, kepingin cepat ketemu keponakan baru." jawab Gavin antusias.
"Iya, bentar lagi dibawa kesini waktunya diberi ASI." jawab Mahen.
Tak lama kemudian suster masuk dengan membawa si kecil dalam box bayi. Semua yang ada diruangan seketika senang sekali dengan kedatangan si kecil.
"Hallo cantik..!" seru Gavin dengan antusias.
"Mohon diberi ASI dulu untuk belajar, nanti sekitar jam satu siang saya ambil lagi, ya?" ucap Susternya.
"Baik, Sus.!" jawab Bu Hesty.
Gavin begitu senang melihat anaknya Mahen, begitu antusiasnya sampai lupa kalau disampingnya ada istrinya. Bu Ratih hanya diam memandangi suaminya yang senang sekali dengan si kecil. Ada perasaan bersalah dalam dirinya karena tidak bisa memberikannya anak.
Kinan yang melihat Bu Ratih terdiam dia jadi terharu. Akhirnya dia mencoba menghiburnya dengan mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
"Ratih, Kakak bisa minta tolong, gak.?" seru Kinan.
Seketika Bu Ratih langsung menghampiri Kakak iparnya itu.
"Iya, Kak. Ada yang bisa Ratih bantu.?" tanya Bu Ratih.
"Tolong, bawa kesini si kecil, biar Kakak susui." ucap Kinanti.
Bu Ratih kemudian mengangkat si kecil, dengan cekatan Bu Ratih menggendong dan memberikannya ke Kinanti. Gavin melihat istrinya yang sudah lihai menggendong bayi, jadi terharu.
"Anak cantik digendong Tante, ya?" ucap Kinanti.
"Lucu dan cantik, Kak. Sudah ada namanya belom?" tanya Bu Ratih.
"Belom, nih. Kakak kemarin cuma siap nama cowok saja. Karena saat USG katanya cowok." jawab Kinan.
"Kalian yang kasih nama aja, Kakak juga belum punya persiapan nama cewek." sahut Mahen.
Bu Ratih melirik Gavin, mereka saling pandang dan nggak tahu harus kasih nama siapa. Gavin mengangkat bahunya.
"Wuah, kira-kira siapa ya,?" ucap Gavin.
"Iya, nih. Siapa kira-kira.?" jawab Bu Ratih.
"Mama juga nggak siap." sahut Bu Hesty.
"Kalau TIFANY gimana?" seru Bu Ratih.
"Em..Bagus juga, Aku setuju." jawab Kinanti.
"Aku juga setuju." sahut Mahen.
Pak Indra kemudian masuk, dia juga nggak mau kalah ikut nimbrung soal kasih nama anaknya Mahen.
"Bagus itu. Papa suka." jawab Pak Indra.
"Ya sudah, kasih nama Tifany saja." ucap Bu Hesty.
"Kalau lengkapnya siapa, Kak?" tanya Bu Ratih.
"Biar Aa' Mahen aja yang kasih." jawab Kinanti.
Mahen masih bingung memikirkan ide nama lengkap buat putrinya. Akhirnya tak lama kemudian dia tersenyum, mungkin sudah menemukannya.
"Tifany putri wijaya.! gimana.?" tanya Mahen.
"Oke. Papa setuju.!!" sahut Pak Indra antusias.
Akhirnya mereka sepakat memberi nama TIFANY PUTRI WIJAYA. Nama yang tetap menyandang nama besar Wijaya. Gavin memandangi istrinya. Dalam hatinya berkata
'Sayang, kamu pasti pingin melahirkan generasi Wijaya selanjutnya. Meskipun anak Kak Mahen itu bukanlah asli darah daging Indra wijaya, tapi Papa sangat antusias dan ngga keberatan saat Kak Mahen memberikan nama belakang wijaya.'
"Baiklah, biarkan Tifany minum dulu." seru Pak Indra.
Akhirnya mereka semua keluar kamar dan duduk-duduk dikursi didepan ruangan itu. Gavin dan Kasih juga duduk berdampingan didepan mertuanya.
Saat mereka lagi nyantai dan ngobrol, tiba-tiba Bu Ratih menangkap sosok perempuan yang dia kenal.
"Sasha.!" serunya
__ADS_1
Spontan Gavin serta mertuanya ikut kaget ketika Bu Ratih menyebutkan nama Sasha.
"Kamu lihat Sasha, sayang?" ucap Gavin.
"Iya, itu tadi dia jalan dengan tergesa-gesa menuju ruangan ICU." jawab Bu Ratih.
"Coba kita lihat, sayang.!" ajak Bu Ratih.
"Pa, kita mau lihat Seno dulu." ucap Gavin.
"Memangnya Seno sakit apa?" tanya Pak Indra.
"Dia divonis kanker otak, Pa." jawab Gavin.
"Ya Tuhan, Seno.!" seru Pak Indra.
"Kita kesana dulu, ya Pa?" ucap Gavin.
Akhirnya Gavin dan Bu Ratih menuju ruangan ICU dimana dia lihat Sasha. Ternyata memang benar, Sasha bersama seorang perempuan setengah baya.
"Sa,!" seru Gavin.
Sasha seketika menoleh, Gavin dan Bu Ratih melihat wajah Sasha tampak pucat dan matanya sembab. Bu Ratih yang melihat keadaan Sasha jadi nggak tega. Dipeluknya wanita itu seraya membelai rambutnya.
"Kamu yang sabar, ya Sa. Doakan saja biar suamimu lekas sembuh.!" ucap Bu Ratih.
"Aku sudah pasrah, Mbak. Padahal kemarin itu keadaannya sudah mendingan. Nggak tahu pagi tadi kok kritis dan katanya harus ada yang dioperasi. Akhirnya dipindahkan kesini. Tapi, belum sampai dibawah ke ruang operasi, keadaannya malah tambah parah. Kita menunggu mukjizat aja." jelas Sasha.
"Sudah Sa, kamu yang sabar.!" seru Gavin.
"Iya, Mas Gavin. Makasih..," jawabnya.
Tak lama kemudian Pak Indra dan istrinya ikut menyusul Gavin dan Bu Ratih. Sasha yang melihat kedatangan orang tua Gavin langsung menyalaminya. Bu Hesty juga sempat memeluk Sasha sebagai tanda prihatin.
"Papa kamu apa sudah tahu?" tanya Pak Indra.
"Sudah, Om. Tapi, belum bisa kesini sekarang, karena hari ini pembukaan hotel yang baru." jawab Sasha.
"Oh iya, sekarang pembukaan hotel Purnama." jawab Pak Indra.
"Kamu yang sabar, ya sayang. Kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan hubungi Tante.!" celetuk Bu Hesty.
Perkataan Ibu mertuanya itu setidaknya membuat Bu Ratih sedikit risih. Kenapa dia tiba-tiba baik sama Sasha, padahal sebelumnya dia nggak peduli dengan Sasha, lantaran dia anaknya Ferry maulana. Batinnya.
"Iya, makasih Tante." jawab Sasha.
Pak Indra memandangi istrinya dengan tatapan yang heran, kemudian dia melihat ke arah menantunya yang dari tadi mengawasi sikap istrinya itu.
Tak lama kemudian, Dokter keluar dari ruangan ICU. Kemudian dia menghampiri semua yang ada disitu.
"Maaf sebelumnya, keadaan pasien semakin memburuk. Hanya keajaiban Tuhan aja yang bisa membuatnya kembali sehat." ucap Dokter itu pelan.
Tapi, tiba-tiba perawat keluar dengan tergesa-gesa dan panik.
"Maaf, Dok. Pasien denyut nadinya melemah. Mohon diperiksa." ucap Perawat itu.
Kemudian Dokter masuk lagi. Sekitar sepuluh menitan dia keluar kembali dengan wajah yang lemas.
"Maaf, pasien sudah tidak bisa tertolong lagi." ucap Dokter itu dengan pelan.
__ADS_1
----------------------------------
Bersambung....