BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 184 (Ternyata)


__ADS_3

Ditempat yang berbeda, kini Gavin mengecek pembangunan resort, dia senang banget ternyata semua sesuai dengan harapannya. Mungkin tinggal satu bulan lagi sudah selesai.


Dia menyusuri semua lokasi pembangunan resortnya. Semuanya sangat bagus dan rapi.


"Bakal jadi sebuah seeling point di hotel ini." ucapnya dalam hati.


"Pak Dody, gimana menurut Bapak. Bagus nggak?" ucap Gavin saat berada di tempat Pak Dody.


"Ini sangat luar biasa, Pak. Hotel kita bakal maju, Pak." jawab Pak Dody.


Gavin sangat takjub dengan apa yang sudah direncanakan kali ini. Dia akan berjanji pada dirinya sendiri bakal membawa Hotel dan Resto ini menjadi icon kota ini.


Akhinya Gavin pamit kembali ke ruangannya. Dia berjalan melewati banyak orang yang berlalu lalang di hotelnya. Ketika dia mau naik ke lantai atas, dia mendapati seorang karyawan hotel lagi bersitegang dengan salah satu tamu hotel.


Dia mendekati mereka, kemudian tamu hotel itu melihat Gavin yang mendekatinya langsung dia berbicara sama Gavin.


"Oh, ini Manajer hotel ini, ya?" ucap tamu itu sama Gavin.


Ketika Gavin melihat tamu hotel itu, wajahnya langsung kaget, karena dia tahu siapa orang itu sebenarnya. Dia tak lain adalah suami Kasih.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya Gavin dengan sopan.


"Tolong, kasih tahu sama anak buahnya ini kalau kerja yang hati-hati, dong. Masak saya dan istri saya hampir jatuh gara-gara dia nggak becus ngepel." ucap Rahman.


Gavin seketika mengernyitkan alisnya, karena jelas dia yang salah. Padahal karyawannya sudah jelas-jelas pasang tanda bahwa lantai ini dalam keadaan basah. Tapi, mau di apakan juga dia adalah tamu yang harus tetap di hormati.


"Maaf, Pak. Biar nanti saya tegur anak buah saya, jika Bapak butuh bantuan ataupun pelayanan yang lebih, silahkan langsung hubungi petugas kami." ucap Gavin ramah.


"Baiklah, berhubung Anda sangat baik, saya maklumi dan maafkan tindakan karyawan Bapak. Tapi, lain kali kalau saya mendapatkan hal ini lagi, saya nggak segan-segan membuat nama hotel ini jelek." umpatnya.


"Iya, Pak. Sekali lagi saya atas nama Hotel dan Resto ini mengucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas ketidak nyamanan Bapak." jawab Gavin sambil menakupkan kedua telapak tangannya.


Kemudian mereka meninggalkan Gavin dan karyawannya yang masih berdiri di sebelahnya. Lalu Gavin melihat ke arah karyawannya yang masih menunduk sambil membawa peralatan kerjanya.


"Kamu yang sabar kalau menghadapi tamu yang model gitu. Meskipun dia yang salah, tapi tetap saja kita yang harus mengalah. Saya tahu kalau sebenarnya dia yang salah, tapi mau di apakan juga dia tamu kita yang harus kita layani dan hormati. Jadi, kamu lain kali hati-hati, ya?" jelas Gavin dengan bijak.


"Iya, Pak Gavin. Sekali lagi saya minta maaf atas kejadian ini." jawabnya.


"Iya, sama-sama. Ya sudah, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu. Saya tinggal dulu, ya?" ucap Gavin sambil melangkah pergi.

__ADS_1


Karyawan itu masih berdiri dan memperhatikan Gavin yang meninggalkannya sendiri.


"Pak, Gavin memang sangat baik. Beda dengan Pak Robby dulu." ucapnya dalam hati.


Saat diruangannya, Gavin masih memikirkan tamu hotelnya barusan. Dia nggak habis pikir dengan suami Kasih yang tega-teganya melakukan ini sama istrinya.


Gavin jadi kasihan sama Kasih. Gimana perasaannya jika dia mengetahui suaminya selingkuh seperti ini. Tapi, Gavin nggak bisa berbuat apa-apa karena dia nggak berhak ikut campur.


Tak lama kemudian ponselnya berdering, dan dilihatnya ada nama istrinya.


"Hallo, iya Ma. Ada apa?" ucap Gavin ditelpon.


"Pa, aku ini tadi kan ke Mall sama Cantik dan susternya, tiba-tiba aku lihat suaminya Kasih lagi sama cewek, kayaknya mereka baru sampai di Jogja." ucap Bu Ratih diujung telpon.


"Iya, Ma. Mereka nginep di hotel Papa."


"Apa,! mereka nginep disitu?"


"Benar, malahan barusan aku ngobrol sama mereka bentar gara-gara dia komplain ke karyawan aku."


"Ya ampun, Pa. Aku jadi kasihan sama Kasih, Pa."


"Iya, juga sih. Ya sudahlah, aku tafi cuma mau ngabari itu saja."


"Oke, sayang. Cium sayang buat si kecil, ya. Muaaach."


"Oke, Pa. Hati-hati."


Gavin lalu menutup ponselnya dan kembali duduk dan melamu.


"Kasih, kalau boleh jujur aku nggak terima kalau kamu diperlakukan seperti ini. Bagaimanapun juga kamu adalah Ibu dari anaku. Jika Raka tahu kalau kamu adalah Ibu kandungnya dan diperlakukan oleh laki-laki nggak bertanggung jawab seperti suamimu ini, apa dia nggak ikut sakit hati." ucap Gavin dalam hati.


Gavin jadi mengingat kejadian yang dulu-dulu saat Kasih masih jadi istrinya. Dia begitu polos dan pemalu, sampai dirinya mau dijadikan istri kedua dan bersedia memberikan anaknya demi kesetiaannya pada Bu Ratih. Sampai akhirnya Gavin tahu kalau sebenarnya Kasih sudah mencintainya dari dulu.


Tanpa terasa mata Gavin berembun saat dia mengenang masa lalunya sama Kasih. Sejak pertama dia bertemu dengan Kasih di kantor Papanya, dia sudah merasa ada yang lain dengan gadis itu. Dia begitu anggun, pendiam serta pemalu. Dan yang lebih tidak bisa Gavin lupakan adalah dia selalu mencuri pandang kepadanya tatkala mereka ketemu di kantor.


Dia sangat loyal terhadap Papanya dan dirinya saat di kantor. Sampai kejadian dia membawanya ke rumah di jadikannya sebagai asisten istrinya. Dan sampai akhirnya takdir telah mengantarkan dia sebagai istri keduanya dan memberikannya seorang anak yang sekarang sudah tumbuh besar.


Jasanya begitu besar terhadap dirinya dan Bu Ratih. Sekarang Kasih hidup bahagia atau nggak Gavin juga nggak tahu. Tapi, begitu ironis jika dirinya kini bahagia dengan istri dan anaknya, sedangkan Kasih nggak merasakan hal itu.

__ADS_1


Gavin masih sibuk dengan lamunannya sampai dia nggak menyadari kalau hari semakin siang. Dia kemudian beranjak dar kursinya dan melangkah meninggalkan ruangannya dan nggak tahu akan kemana.


Dengan ringan langkah dia menyusuri setiap jalan yang ada di gedung itu. Semakin hari hotelnya lumayan rame, banyak wisatawan lokal maupun asing yang singgah untuk menginap. Sampai akhirnya dia sampai di restorannya.


"Pak Gavin,!"


Gavin seketika berhenti dan menoleh kearah sumber suara tersebut. Dia kaget karena siapa yang telah memanggilnya.


"Bu Christy.,!" seru Gavin.


"Apa kabar, Pak?" ucap wanita itu sembari menyalami tangan Gavin.


Mau nggak mau Gavin menyambut uluran tangan Bu Christy, "Saya baik, ada yang bisa saya, bantu?" tanya Gavin.


"Saya mau bicara sesuatu sama, Pak Gavin. Gimana kita kalau duduk disana saja," ucapnya sambil menunjuk sebuah bangku panjang dekat taman.


Gavin mengikuti saja apa yang wanita itu inginkan. Keduanya kemudian duduk lalu mulai mengobrol.


"Bu Christy mau ngomong apa?" tanya Gavin.


"Saya mau minta maaf atas kejadian Pak Alex. Saat Pak Gavin memergoki saya di Semarang, memang saat itu saya lagi ada proyek bareng dengan Pak Alex. Jadi, saya nggak mau kalau Pak Gavin salah faham atas kedekatan saya dan Pak Alex." jelasnya.


"Maaf sebelumnya, ya Bu. Soal Pak Alex sudah tidak ada hubungannya dengan saya lagi. Dan saya nggak mau tahu soal dia. Yang jelas, saya sudah nggak ada urusan sama dia. Okey!" ucap Gavin dengan tegas.


"Iya, Pak saya tahu. Tapi, saya mau minta maaf atas kejadian waktu itu. Dan saya ingin bisa kembali bisa mengenal Pak Gavin sebagai pemilik hotel, dan saya sebagai tamu langganan hotel ini. Dan untuk embel-embel Pak Alex, tolong dibuang. Karena saya juga tidak ada hubungan apa-apa dengan dia." jelas Bu Christy.


"Kalau itu saya masih tetap menganggap Bu Christy adalah tamu langganan hotel saya dan untuk urusan Pak Alex saya juga sudah nggak mau dengar." jawab Gavin.


"Baiklah kalau begitu, Pak. Makasih atas kepercayaannya kembali kepada saya. Mudah-mudahan suatu saat nanti kita akan menjadi patner kerja yang baik." ucap Bu Christy.


"Iya, makasih.," jawab Gavin sambil melangkah meninggalkan Bu Christy yang masih duduk dibangku itu.


Bu Christy masih memperhatikan Gavin dari tempat duduknya. Matanya tak lepas dari Gavin yang semakin lama dia jauh meninggalkannya.


"Pak Gavin, kamu gagah dan ganteng sekali, saya suka sekali dengan type laki-laki seperti kamu. Badanmu yang atletis membuat hatiku semakin deg-deg an saja saat berada didekatmu. Meskipun kamu bukan abege lagi, tapi pesonamu nggak kalah dengan laki-laki yang masih muda. Suatu saat aku pasti bisa memilikimu." ucap Bu Christy dalam hati.


-----------------------------------


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2