BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON EMPAT Part : 251 (Keputusan Kasih)


__ADS_3

Kasih hanya tersenyum melihat reaksi anaknya saat menyebutkan nama rahman. Gazi memang sudah nggak respect lagi dengan Rahman setelah tahu kalau laki-laki itu mengkhianati Bundanya.


"Zi, Bunda sudah resmi cerai sama Ayah Rahman. Sudah sebulan kepengurusan perceraian Bunda dan Ayah dan kemarin resmi cerai," ucap Kasih.


"Bunda serius,?" tanya Gazi.


"Iya Nak. Bunda sudah melepaskan Ayahmu. Karena Bunda juga ingin hidup tenang tanpa bayang-bayang Ayah Rahman. Dulu memang Bunda pikir nggak mau cerai dari Ayahmu karena Bunda masih menyimpan harapan kalau suatu saat Ayah Rahman melepaskan wanita itu, tapi ternyata tidak seperti yang Bunda bayangkan. Dan akhirnya Bunda memutuskan untuk minta pisah saja," jelas Kasih.


"Bun, jujur Gazi lebih lega kalau Bunda sudah tidak ada hubungan dengan Ayah Rahman," jawab Gazi.


"Iya sayang, saat ini Bunda hanya ingin hidup tenang dan menghabiskan masa tua dengan anak cucu," jawab Kasih.


"Bunda nggak apa-apa kan, jika Gazi tinggal sama Papa dan Mama Ratih di Jogja,?" tanya Gazi.


"Nggak apa-apa sayang. Bunda ini terserah anak-anak Bunda mau tinggal sama siapa. Yang penting kita saling komunikasi dan tetap mendoakan," jawab Kasih sambil memegang tangan Gazi.


"Iya Bun, nnati kalau Kak Raka sudah lulus dan jadi pegang perusahaan Kakek Indra, pastinya dia akan tinggal di Jakarta dan dekat dengan Bunda."


"Iya sayang, terserah Kak Raka."


"Oh iya, Gazi pulang besok langsung Bun. Soalnya ada kuliah siang jam satu."


"Tumben kuliahnya siang,?" tanya Kasih.


"Gazi kan sudah semester akhir, jadi mata kuliahnya nggak begitu banyak," jawab Gazi.


Kasih menuduk dan terdiam sebentar, kemudian dia kembal menatap Gazi dengan tatapan lembut dan penuh kerinduan.


"Gazi, Bunda boleh bertanya sesuatu, nggak.?"


"Boleh, apa Bun,?" jawab Gazi.


"Zi, selama kamu tinggal dengan Papa, apa dia pernah menanyakan Bunda,?" tanya Kasih sambil menundukan wajahnya.


Gazi menautkan alisnya, lalu tersenyum sama wanita idolanya selama ini, "Bunda masih cinta sama, Papa.?"


Kasih langsung mendongakan kepalanya dan menggelengkan kepalanya sekeras mungkin, "Enggak sayang,!"

__ADS_1


"Ya ampun, Ma. Iya Gazi percaya kok. Pernah sekali Bun, Papa hanya tanya sama Gazi kalau Bunda itu seperti apa orangnya. Lalu dia cerita sedikit soal masa lalunya sama Bunda. Selebihnya nggak pernah," jawab Gazi.


"Sebenarnya Bunda itu kenal dengan pria. Kenalnya sudah lama di acara pertemuan pengusaha muda se Jakarta. Dia duda dan belum punya anak. Usaianya ya se usia Papa kamu. Kita dekat lantaran kerja sama bisnis. Dia usaha segala macam pakaian batik. Jadi batik dari semua wilayah di Indonesia ini dia ada.


Sebenarnya dia suka sama Bunda dan memberanikan ngajak nikah Bunda itu sejak setahun yang lalu dan menyuruh Bunda pisah sama Ayah, tapi Bunda jawab nggak, lantaran kan Bunda masih istri sahnya Ayah Rahman. Lalu saat ini kan Bunda sudah resmi pisah, gimana menurut kamu,?" jelas Kasih.


"Bunda suka sama laki-laki itu,?" tanya Gazi.


"Seusia Bunda itu kalau bilang suka apa cinta itu gimana gitu, Zi. Tapi, orangnya baik dan dia tinggal sama Ibunya saja."


"Bun, kalau Bunda memang nyaman dengan laki-laki tersebut, sebagai anak hanya mendukung saja dan mendoakan yang terbaik buat Bunda," ucap Gazi.


"Bunda hanya ingin masa tua Bunda hidup dengan orang yang menyayangi Bunda, selain anak-anak Bunda."


Gazi perlahan meraih tangan Kasih lalu menggenggamnya. "Bunda, terimalah laki-laki itu. Gazi setuju asalkan dia bisa menjaga Bunda."


"Yang benar sayang, jika Bunda menikah lagi kamu nggak keberatan,?" tanya Kasih.


"Iya Bun. Silakan kalau Bunda menikah lagi."


"Makasih sayang.," ucapnya sambil memeluk Gazi.


"Iya, Nak. Bunda juga mau bilang soal ini."


"Lanjutkan Bun, Gazi dukung apapun keputusan Bunda selama itu baik. Oh iya kok sampai lupa, Mama Ratih dan Papa nitip salam buat Bunda."


"Oh iya, bilang sama mereka salam balik dari Bunda."


Gazi dan Kasih saling pandang dan tersenyum. Kasih nggak kerasa kalau anaknya sekarang sudah besar dan tumbuh dewasa. Dalam hatinya dia sangat bersyukur kalau suatu saat ini anak-anaknya bisa menjadi orang sukses.


(***)


JOGJA


"Pa, Gazi nanti di jemput siapa,?" tanya Bu Ratih.


"Biar Papa yang jemput," jawab Gavin.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu."


Akhirnya jam dua belas siang Gavin menjemput Anaknya ke bandara. Dia mengemudikan mobilnya sendiri menuju bandara.


Hampir empat puluh menit kemudian akhirnya dia sudah sampai bandara. Nggak sampai lima menit menunggu, akhirnya Gazi datang.


"Loh, kok Papa sendiri yang jemput? Pak Santo mana,?" tanya Gazi sambil mencium tangan Papanya.


"Pak Santo lagi antar adikmu," jawab Gavin singkat.


"Oh gitu, ya sudah kalau gitu. Kita langsung pulang saja."


"Oke,"


Dalam perjalanan menuju rumah, mereka banyak ngobrol. "Gimana kabar Bundamu,?" tanya Gavin sambil matanya menatap kedepan.


"Bunda alhamdulilah sehat, dan nitip salam buat Papa dan Mama."


"Syukurlah kalau begitu, setidaknya kamu nggak perlu kawatir kalau ada apa-apa sama Bundamu."


"Iya, Pa. Bunda mau istirahat dari perusahaan."


"Loh kenapa? Terus siapa yang pegang sekarang,?" tanya Gavin.


"Sementara di pegang Om Dito. Gazi sempat ditawari sama Bunda untuk bantu di perusahaan Bunda, tapi Gazi tolak karena memang Gazi sudah punya usaha sendiri," jawab Gazi.


"Tapi nggak apa-apa jika kamu nggak mau bergabung dengan perusahaan Bundamu,?" tanya Gavin.


"Enggak Pa. Bunda sih menyerahkan semuanya sama Gazi. Kalau memang Gazi membantu Papa, Dia nggak keberatan," jawab Gazzi.


"Oh syukurlah kalau gitu, Papa kan jadi lega. Takutnya nanti dikira Papa yang nggak ngrbolehin kamu ikut gabung d perusahaan Bundamu."


"Oh iya, Pa Gazi sampai lupa bilang. Bunda sudah cerai dari Ayah Rahman, lalu sekarang dia berencana menikah lagi,!"


"Ciiiiiiiiiitttttt.,,!!" Suara rem mendadak tiba-tiba terdengar.


-------------------------------

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2