
Pagi harinya, seperti biasa Bu Ratih pergi ke kampus. Kali ini dia mengendarai mobil sendiri. Gavin suaminya sudah berangkat duluan karena mau ketemu klien di Hotel Sanya.
Gavin langsung menuju Hotel. Dia janjian sama Pak Galih untuk bertemu klien di Hotel. Sesampainya di tempat meeting, mereka langsung menuju tempat yang sudah diboking terlebih dahulu. Mereka ada empat orang.
Akhirnya setelah berkumpul, mereka akan memulai pembicaraan soal proyek pembangunan Hotel di luar kota.
"Selamat pagi, Pak Gavin, Pak Galih. Ini Pak Ridho sebagai pelaksana dalam proyek ini. Seperti yang sudah saya bicarakan sekilas ditelpon kemarin, bahwasanya saya menawarkan sebuah konsep pembangunan Hotel, dan ini detail konsep tersebut." ucap orang itu sambil menunjukan beberapa konsep yang sudah dirancang yang ada dilaptop mereka.
Gavin meneliti setiap detail dari gambar tersebut. Setelah dia sudah puas melihatitu semua lalu Gavin menileh ke arah Pak Galih. Respon Pak Galih sangat senang dengan konsep yang ditawarkan mereka. Akhirnya dia juga sependapat dengan Pak Galih, dan mereka akan menyetujui proyek tersebut.
"Baiklah, Pak Ramon. Kami mewakili perusahaan Wijaya's Group akan terima proyek ini dan siap menggelontorkan dana untuk itu." jawab Gavin antusias.
Mereka juga tersenyum puas dengan jawaban Gavin. Akhirnya proyek yang di luar kota itu deal. Berarti kini Gavin akan mempunyai proyek baru. Setelah itu mereka melanjutkan makan siang sekalian.
.
.
.
Kini dikampus, Bu Ratih menemui Dekan untuk memberikan jawaban atas tawaran itu. Diketuknya pintu ruangan Dekan itu pelan.
"Tok..tok.."
"Silahkan masuk,!" jawabnya dari dalam.
Bu Ratih tersenyum saat sudah dihadapan Pak Dekan. Demikian juga sebaliknya Pak Dekan membalas semyuman Bu Ratih.
"Silahkan duduk, Bu Ratih." ucap Pak Dekan.
"Iya, Pak. Makasih." jawab Bu Ratih.
"Gimana, Bu. Apa Bu Ratih sudah dapat persetujuan dari keluarga?" tanya Pak Dekan.
"Alhamdulilah, sudah Pak. Suami serta anak saya juga mendukung." jawab Bu Ratih.
"Baiklah, Bu. Berarti positif Bu Ratih bisa berangkat, ya. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih." ucap Pak Dekan seraya memgulurkan tangannya untuk menyalami Bu Ratih.
"Iya, Pak. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih karena telah mempercayai saya untuk mendapatkan bea siswa ini." jawab Bu Ratih.
"Baiklah, Bu Ratih boleh kembali ke ruangan Bu Ratih." ucap Pak Dekan.
__ADS_1
"Terima kasih Pak..," jawab Bu Ratih sambil meninggalkan ruangan Pak Dekan.
Setibanya diruangan, Bu Ratih langsung melihat ponselnya. Dia akan menghubungi Gavin. Tapi, niatnya itu diurungkan karena dia ingat kalau Gavin lagi sama klien.
.
.
.
Sore harinya ketika anaknya pulang kerja. Pak Indra memanggil kedua anak laki-lakinya untuk kerumah, karena mau ada yang dikatakan oleh Pak Indra. Mahen sudah nyampe duluan, tak lama kemudian Gavin sampai.
Gavin dan Mahen tidak tahu apa yang akan disampaikan oleh Pak Indra. Kini dia berdua menunggu Papanya keluar dari dalam kamar. Tak lama kemudian Pak Indra dan Bu Hesty keluar dengan membawa beberapa map berisikan surat-surat penting.
"Kalian berdua belum tahu, kan. Kenapa Papa memanggil kalian berdua?" tanya Pak Indra.
Gavin langsung menoleh Kakaknya, demikian pula dengan Mahen juga menatap Gavin dan keduanya akhirnya berganti menoleh ke arah Papanya dan menggeleng.
"Baiklah, sekarang Papa akan menjelaskan beberapa poin tentang perusahaan yang Papa punya." ucap Pak Indra sambil mulai membuka map yang dibawanya tadi.
"Memangnya ada masalah dengan perusahaan, kita?" tanya Mahen.
"Nggak ada apa-apa. Tenang saja. Gini, Mulai hari ini Papa akan memperjelas status-status setiap perusahaan yang Papa punya. Selama ini kalian kan hanya tahu kalau perusahaan Papa hanya satu yang bergerak dibidang property itu. Meskipun kantor cabangnya ada dua, di Bandung dipegang orang kepercayaan Papa dan yang di Jakarta dipimpin oleh Mahen, tetap saja perusahaan itu dibawah naungan satu bendera WIJAYA'S GROUP yang ada di kantor pusat yang selama ini dipimpin Gavin.
Selain itu Indra wijaya juga terkenal sebagai raja saham se-Indonesia, karena Papa suka menanamkan modal jika ada sebuah perusahaan yang butuh suntikan dana. Asalkan perusahan tersebut punya prospek dan tidak perusahaan abal-abal. Contoh misal waktu dulu perusahaan Bagas butuh bantuan, Papa nggak segan-segan menggelontorkan dana, karena Papa sudah melihat prospek perusahaan Bagas itu kedepannya bagus. Dan lihatlah sampai sekarang perusahaan itu berkembang pesat, dan Papa pun menerima hasilnya juga." jelas Pak Indra.
"Iya, Pa. Papa memang pebisnis handal." ucap Gavin.
"Lalu, ingat nggak, waktu sebelum Gavin menikah, Papa pernah ada rapat pemegang saham di Semarang, itu sebenarnya Papa bukan rapat pemegang saham. Itu karena Papa dan teman Papa memulai membangun kerja sama mendirikan sebuah perusahaan baru di sana. Papa usaha dibidang perhotelan dan restoran. Dan sekarang usaha itu Alhamdulilah berkembang pesat dan sudah tersebar diseluruh kota Semarang dan Jogjakarta." ucap Pak Indra lagi.
"Wow, hebat Pa. Kenapa selama ini Papa nggak pernah cerita kepada kami.?" ucap Mahen.
"Iya, Pa. Kita jadi senang sekali kalau Papa punya usaha seperti itu." sahut Gavin.
"Papa memang sengaja nggak cerita dulu kalau perusahaan itu belum sukses. Kebetulan seminggu yang lalu teman Papa yang mengurusi usaha itu tiba-tiba kena musibah. Anaknya divonis kena kanker dan harus kemo, sampai ke luar negeri segala dan harus butuh biaya yang banyak. Dan akhirnya dia menyerahkan perusahaan yang selama ini kita bangun itu ke Papa untuk membeli saham yang 50%." ucap Pak Indra.
"Jadi, Papa mau membeli saham tersebut, biar perusahaan itu seluruhnya menjadi milik Papa." sahut Gavin.
"Iya, betul. Makanya kalian Papa panggil kesini untuk meminta pertimbangan dan saran. Dan bukan itu saja, nantinya setiap perusahaan Papa nantinya akan Papa serahkan kepada kalian berdua." jawab Pak Indra.
"Kalau, Gavin setuju saja kalau memang prospeknya bagus." ucap Gavin.
__ADS_1
"Iya, Pa. Mahen juga setuju saja seperti yang Gavin bilang." sahut Mahen.
"Baiklah, kalian memang anak-anak Papa yang baik. Mulai sekarang Papa akan menyerahkan sepenuhnya kedua perusahaan Papa kepada anak-anak Papa. Untuk Wijaya's group yang selama ini dipegang Gavin akan dibawah kepemimpinan Mahen karena dia juga kan pegang kantor cabang, jadi biar dia juga mengawasi yang dikantor cabang.
Dan untuk yang di Semarang dan Jogja akan sepenuhnya Gavin yang urus. Kebetulan juga Ratih kan akan melanjutkan kuliah di sana, makanya Papa atur seperti ini. Papa tidak merasa berat sebelah atau gimana, karena bagi Papa kedua anak Papa ini semua penting bagi Papa. Untuk penempatan juga Papa nggak akan berat sebelah, Papa melakukannya sesuai dengan kebutuhan kalian. Gimana?" tanya Pak Indra.
"Gavin setuju saja, Pa. Malah Gavin senang sekali, kalau nanti Gavin aktif disana kan bisa bersama Ratih terus dan Raka juga bisa Gavin bawa sekalian, jadi kita nggak akan terpisah. Lagian bagi Gavin ini adalah sebuah tantangan baru untuk terjun ke bisnis ini" jawab Gavin.
"Iya, Vin. Papa memang memikirkan sejauh itu. Kalian bertiga tidak akan hidup terpisah. Kalau Papa dan Mama kangen kan tinggal pergi ke sana untuk menjenguk." ucap Pak Indra.
"Mahen juga setuju saja. Karena apapun keputusan Papa kita sebagai anak akan menerima dan menjalankannya sesuai dengan harapan Papa." jawab Mahen.
"Iya, Pa. Gavin juga gitu. Akan menerima semua keputusan Papa." sahut Gavin.
"Dan untuk kepemilikan secara sah, Papa tidak akan mengatas namakan siapa-siapa. Setiap perusahaan yang Papa punya, akan Papa atasnamakan kedua anak Papa. Jadi Wijaya's group atas nama Gavin dan Mahen. Begitu pula perusahan perhotelan dan restoran itu juga atas nama Gavin dan Mahen. Papa sengaja baru sekarang melegalitaskan kepemilikan atas nama kalian, karena memang sekarang waktunya yang tepat. Anak-anak kalian sudah besar dan Papa juga secara fisik sudah tidak bisa lagi terjun langsung mengawasi." jelas Pak Indra.
"Iya, sayang. Bagi kami kalian berdua adalah aset yang sangat berharga. Makanya Papa mengatur seperti itu, karena kedepannya kami ingin anak-anak Mama dan Papa hidup rukun dan tidak bertengkar soal harta." sahut Bu Hesty.
"Iya, Ma. Gavin faham apa yang Papa dan Mama inginkan." jawab Gavin.
"Baiklah, sekarang kalian harus menandatangani berkas-berkas ini yang sudah Papa siapkan bersama pengacara Papa." ucap Pak Indra sambil menyerahkan berkas untuk mereka tanda tangani.
Gavin dan Mahen menandatangani semua, dan setelah itu Pak Indra kembali memasukannya ke dalam map seperti semula.
"Baiklah, terima kasih atas pengertian kalian, ini akan tetap Papa yang simpan di brankas Papa." ucap Pak Indra.
Tak lama kemudian, ponsel Gavin berdering. Lalu Gavin memgangkatnya.
["Hallo, ada apa Pak Ramon?"]
["_________"]
["Apa,! yang benar, Pak!"]
["__________"]
["Baik, Pak. Terima kasih infonya."]
----------------------------------
Bersambung....
__ADS_1