BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 195 (Pencapaian yang luar biasa)


__ADS_3

Sepuluh tahun kemudian, kehidupan dalam keluarga Bu Ratih sangat bahagia. Raka tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan berwibawa seperti Gavin saat muda. Dia kini duduk di bangku kuliah semester lima. Dia kuliah di kampus dimana Mamanya sekarang diangkat menjadi Dekan.


Sedangkan Cantik kini sudah menginjak remaja dan duduk di sekolah menengah pertama. Dia sangat cantik dan pintar, bahkan dia mengikuti program akslerasi jadi diusianya yang masih tiga belas tahun dia mau lulus SMP.


Bu Ratih dan Gavin selalu mengajari anak-anaknya untuk tetap renda hati, suka menolong dan jangan sombong. Semua itu di anut sama kedua anaknya yang selalu baik dengan teman-temannya.


Diusia Bu Ratih yang nggak muda lagi, dia masih aktif mengajar dikampus yang dulu dia pernah mengenyam pendidikan S3 nya. Kini fase itu dia rasakan. Mengajar orang-orang yang ambil program S3 Doktor.


Gavin masih dengan aktivitasnya didunia perhotelan dan kuliner. Sekarang hampir tiap kota dan daerah sudah ada caabng rumah makan miliknya. Semuanya memang berjalan nggak semulus orang melihat, kadang juga ada rintangan yang mungkin hampir membuat Gavin stres. Tapi, semua itu dia lakukan dan terus semangat dalam berusaha.


"Ma, Raka hari bawa mobil Mama, ya?" ucap Raka saat sarapan.


"Emang kenapa dengan mobil kamu, sayang?" tanya Bu Ratih balik.


"Raka pingin bawa mobil yang kecil saja, bosen kalau bawa mobil yang besar." jawabnya lucu.


"Kak, kamu ini aneh, ya. Yang lain saja pada pingin mobil yang besar, Kakak malah pilih mobil kecil." sahut Cantik.


"Biar beda aja, Dek." jawabnya singkat.


"Iya, bawa saja. Biar nanti ke kampus Mama diantar Pak Santo pake mobil kamu." jawab Bu Ratih.


"Iya, Ma. Besok kalau Mama sudah masuk seperti biasa, kita berangkat ke kampusnya barengan saja." tukas Raka.


"Iya, Nak."


"Raka, Papa lihat kamu kok selalu mepet sama Mama terus kalau ke kampus. Emangnya kamu belum punya pacar?" sahut Gavin sambil cengingisan.


"Hahaha, Mana ada yang mau sama Kakak yang super muanjaaa. Weeek..,!" ucap Cantik sambil menjulurkan lidah meledek Kakaknya.


"Kamu ini apaan, sih Dek. Nggak mau bela Kakaknya mala ngeledekin." jawab Raka.


"Ssstt.,! Cantik, nggak boleh gitu sama Kakaknya, ya Nak." timpal Bu Ratih kalem.


"Iya, Ma. Maafin Cantik, ya Kak.?"


"Iya, Kakak juga minta maaf."


"Nah, gitu dong. Anak-anak Mama pada rukun. Kalian adalah penyemangat buat Papa dan Mama." ucap Bu Ratih.


"Ya sudah, Cantik. Kamu bareng Papa apa Kakakmu?" tanya Gavin.


"Aku sama Papa aja."


"Okelah, ayo salim sama Mama dulu."


Setelah Cantik salaman sama Bu Ratih, dia kini langsung menuju depan. Bu Rayih memganyarkan sampai ke teras tak lupa sebelum Gavin pergi, dia mencium tangan Gavin. Begitu juga dengan Raka, dia mencium tangan Bu Ratih.

__ADS_1


Bu Ratih melambaikan tangan kepada semua orang yang dicintainya itu. Dia selalu terharu ketika mengantarkan suami dan anak-anaknya berangkat beraktivitas. Dan matanya sampai berkaca-kaca.


"Tuhan begitu baik dan sayang sama aku karena telah mengkaruniai orang-orang seperti suami dan anak-anakku. Meskipun mereka berdua tidak lahir dari rahimku, tapi, mereka adalah malaikat bagiku. Nggak terasa Raka sudah tumbuh dewasa dan Cantik menjadi gadis remaja yang cantik sesuai dengan namanya. Dia begitu pintar, semoga kelak dia bisa meneruskan seperti aku." ucap Bu Ratih dalam hati.


.


.


.


KAMPUS


"Raka, tumben bawa mobil Mama kamu?" tanya Ferdi temannya.


"Ya bosen aja pakai mobilku, habis besar sih." jawab Raka.


"Ganti dong sama mobil sport. Kecil tapi keren, Bro." sahut Ferdi.


"Aku nggak berani bilang sama Papa, takut aja. Kan mobil sport mahal." jawab Raka.


"Papa kamu kan pengusaha sukses, siapa yang nggak kenal sama pemilik hotel-hotel yang sudah tersebar di penjuru Jogja dan Semarang. Belum lagi yang di kota-kota besar lainnya." tukas Ferdi.


"Ish, kamu kayaknya mengidolakan Papaku, deh. Sampai hafal berapa hotel yang dimilikinya." jawab Raka.


"Bagus dong, siapa tahu kelak aku bisa seperti Papamu." ucap Ferdi.


"Siap bos,!"


Raka dan Ferdi berjalan menuju kelasnya. Kebetulan mereka satu kelas sama-sama satu jurusan. Raka sangat tampan sehingga banyak para cewek-cewek yang tebar pesona saat di dekatnya.


.


.


.


Seperti halnya siang hari ini, Raka lagi dikantin sendirian menikmati makan siangnya. Sedangkan di meja lain ada segerombolan cewek yang lagi bisik-bisik menggodanya.


Kemudian salah satu dari mereka mendekati Raka dan mencoba mengajaknya bicara.


"Hai, kamu Raka, kan. Anak Hukum."


Raka menoleh dan mengangguk. Kemudian dia kembali pada makanan yang ada di depannya. Gadis itu sedikit kesel melihat sikap Raka yang cuek terhadapnya. Kemudian dia menggerutu sambil mengumpat, "Sombong, banget.!"


Raka yang mendengar umpatan gadis itu langsung saja berdiri dari tempat duduknya lalu menatapnya tajam.


"Kalau aku sombong, terus kamu mau apa?" jawab Raka.

__ADS_1


"Kamu tuh, ya. Diajak ngobrol gitu aja, belagu. Kayak anak yang punya kampus ini aja.,!" jawab cewek itu kesal.


"Sekarang yang belagu siapa. Kamu tadi kan tanya aku, kalau aku ini Raka anak Hukum. Lalu aku mengangguk. Terus kamu yang mulai, ngatain aku sombong, kan.!" jawab Raka dengan nada tinggi.


Cewek itu kaget karena nggak nyangka kalau Raka bakal marah gini. Pengunjung kantin langsung menoleh kearah mereka berdua. Sebagian ada yang bisik-bisik. Tak lama kemudian Ferdi sahabat dekatnya Raka datang melerai.


"Raka, sudah jangan diladenin cewek nggak jelas kayak dia." ucapnya lirih didekat Raka.


Raka mengangguk kemudian mereka berdua meninggalkan cewek itu masih berdiri di kantin. Cewek itu kesal karena sikap Raka dan temannya itu.


Kini Ferdi dan Raka duduk di kursi taman. Kemudian Raka duduk dengan muka yang jengkel dengan kejadian barusan.


"Ka, sudah jangan dipikirin tuh cewek. Dia memang terkenal resek. Dia anak Sastra." ucap Ferdi.


"Pantesan aku nggak pernah lihat sebelumnya. Tapi, dia kok ngerti namaku, ya Fer?" tanya Raka.


"Siapa yang nggak kenal kamu, Ka. Kamu sih nggak sadar kalau kamu itu menjadi idola para cewek-cewek. Jadi orang jangan super cuek gitu." jawab Ferdi.


"Hahaha., kamu bisa aja, Fer. Aku ini siapa kok jadi idola. Anak presiden bukan." seloroh Raka sambil ngakak.


"Serah kamu, lah! Kita ke kelas, yuk?" ajak Ferdi.


"Ayo, kita masih ada satu mata kuliah lagi." jawab Raka.


Kemudian mereka bedua berjalan menuju kelas. Mereka menyusuri koridor gedung B untuk menuju kelas. Tapi, ketika ditengah jalan mereka menemui ada dua mahasiswa yang mau berantem. Raka dan Ferdi seketika langsung mendekati mereka untuk melerai.


"Hey, hentikan.!" teriak Raka.


Spontan dua mahasiswa itu kaget mendengar suara Raka. Lalu keduanya menunduk.


"Ngapain kamu mau menyerang, dia?" tanya Raka.


Mereka nggak ada yang mau jawab. Lalu yang satunya tadi kini mencoba untuk menjelaskannya.


"Maaf, Kak. Kita hanya salah fajam saja, kok." jawabnya.


"Kamu, tadi aku lihat kamu akan nyerang dia. Sekarang, kamu pergi sana. Awas kalau ada berantem-berantem lagi." tukas Raka tegas.


Kemudian dia pergi, kini tinggal Raka, Ferdi serta mahasiswa yang mau diserang tadi. Ferdi kemudian mendekatinya.


"Nama kamu siapa, anak apa?" tanya Ferdi.


"Namaku Gazi, Kak. Anak Ekonomi." jawabnya.


--------------------------------


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2