BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON EMPAT Part : 228 (Aktivitas kampus)


__ADS_3

Pagi ini Cantika berangkat kampus, setelah menerima tawaran menjadi asisten Dosen, kini aktivitasnya bertambah. Hari ini dia dapat jatah mengajar mata kuliahnya Bu Arin dua kelas.


Saat istirahat siang, dia tanpa sengaja bertemu dengan seseorang di perpustakaan. Laki-laki umurnya kira-kira tujuh tahun di atasnya lagi duduk di kursi baca. Berhubung tidak ada tempat lain lagi mau nggak mau Cantika duduk di sebelahnya.


"Permisi, bolehkah saya duduk disini.?"


Tidak ada jawaban dari laki-laki tersebut, dia siam saja. Sedangkan Cantika tidak mau dianggap nggak sopan, makanya dia bericara sekali lagi. " Maaf, bolehkan saya duduk disini.?"


Mungkin laki-laki itu risih dengan Cantika, akhirnya dia menoleh lalu menatap Cantika tanpa kedip. "Kalau mau duduk ya duduk aja, apa susahnya sih tinggal duduk aja kok repot,!" jawabnya ngegas.


Spontan penghuni perpustakaan menoleh kearah mereka berdua. Cantika kaget kenapa laki-laki ini nggak sopan sama sekali. Tapi, mau gimana lagi Cantika akhirnya suduk di sebelah laki-laki itu. Dan sedikit menahan malu karena semua orang melihat ke arahnya.


Sekitar kurang lebih dari setengah jam Cantika membaca buku dengan tenang, tiba-tuba ponsel Cantika berbunyi sehingga menimbulkan suara. Dia lupa untuk mensilent ponselnya saat masuk perpustakaan.


Kejadian itu membuat seisi perpustakaan agak terganggu. Terlebih-lebih laki-laki yamg di sebelah Cantika, dia langsung mendelik kearah Cantika dan mengumpat, "Huufttt!! berisik tahu.,!" ucapnya sambil berdiri lalu meninggalkan ruangan itu.


Cantika jadi nggak enak, dia buru-buru mematikan ponselnya lalu kembali fokus dengan buku bacaannya. Sedangkan yang lain sudah kembali dengan bukunya masing-masing. Yang nggak habis pikir adalah siapa laki-laki itu.


.


.


.


Sore harinya saat Cantika keluar dari ruangan untuk mengisi kelas yang ditugaskn Bu Arin. Dia berjalan di sepanjang lorong dengan langkah yang penuh percaya diri.


Dia merasa ada yang mengikuti di belakangnya. Tapi dia tetap aja cuek dan nggak menghiraukan siapa dia. Tapi lama-lama seseorang itu berjalan lebih cepat dan menghampirinya dan tepat di sebelahnya.


"Hai, kamu. Tunggu dulu.,!" seru sesorang itu.


Cantika berhenti karena bagaimanapun juga dia harus menghormati orang yang memanggilnya, meskipun cara memanggilnya kurang begitu nyaman di dengar.


Bukankah laki-laki ini yang tadi siang di perpustakaan. Cantika memperhatikan laki-laki itu dari atas sampai bawah. Kalau melihat penampilannya dia bukan mahasiswa, melainkan mirip Dosen. Karena dia memakai baju yang formal dengan membawa beberapa buku.


"Kenalkan, aku Dipta. Lebih lengkapnya Wahyu pradipta. Biasa dipanggi Dipta." ucapanya sambil mengulurkan tangannya.


Cantika membalas dengan mengulurkan tangannya, "Cantika, biasa dipanggil Cantik." jawabnya.


"Maaf, kamu tadi keluar dari ruang kelas itu untuk apa? kok saya baru lihat.?" tanya Dipta.


"Oh iya, saya ngajar mata kuliah bahasa inggris gantiin Bu Arin.!" jawab Cantik.

__ADS_1


"Oh jadi kamu asistennya Bu Arin. Pantesan saya nggak pernah lihat kamu di sini.?" ucap Dipta sembari memperhatikan Cantika dari atas sampai bawah.


"Maaf, kenapa melihatnya seperti itu. Ada yang salah dengan penampilan saya.?" tanya Cantika.


"Enggak, nggak ada yang salah kok. Cuma dari wajah saya melihat kalau kamu sebenarnya masih muda banget, ya. Hebat masih muda sudah bisa jadi asisten dosen." ucapnya sambil mencebik.


"Maaf, kalau sudah nggak ada yang dibicarakan lagi, saya mohon untuk permisi dulu." ucap Cantika sambil mau melanglahkan kakinya.


"Eeits, tunggu dulu.! Santai saja." ucap Dipta sambil menghadang Cantika.


"Sebenarnya mau apa nih orang.?" ucap Cantika dalam hati.


"Anda mau apa.?" tanya Cantika.


"Kamu cantik juga, sesuai dengan nama kamu. Sudah punya pacar apa belum.?" tanyanya lirih sembari menoleh kiri kanan takutnya ada yang melihat.


"Maaf, sepertinya Bapak salah orang. Saya permisi dulu," ucap Cantika sambil meninggalkan Dipta sendirian.


Dipta yang merasa dicuekin langsung saja mengejar Cantika sampai kena, dan akhirnya Dipta berhasil menyusulnya dan kini malah dia berani memegang tangan Cantika.


"Lepaskan,!"


"Ssttt,! jangan keras-keras." seru Dipta.


"Jangan panggil saya Pak. Saya masih masih muda masa dipanggil Pak. Saya disini juga Asisten Dosen. Saya mengisi kelasnya Pak Doni. Saya mengajar mata kuliah statistik. Saya mahasiswa semester enam." jelas Dipta.


Cantika sedikit tenang karena Dipta sudah sedikit tenang dan nggak seperti tadi. Kini dia nggak ketakutan lagi. Dari tadi kek bicara pelan gini kan aku nggak takut. Batin Cantika.


"Oh iya, salam kenal juga." jawab Cantika.


"Oh iya, maafkan sikap saya saat di perpustakaan tadi ya." ucap Dipta.


"Iya, nggak apa-apa."


"Pulang ama siapa, bareng saya yuk.!" ajak Dipta.


"Saya biasanya sama Kakak, tapi hari ini dia nggak ada kuliah. Jadi pulang sendiri." jawab Cantika.


"Bareng saya aja. Gimana.?" tawar Dipta lagi.


"Maaf, saya pulang sendiri aja." jawab Cantika.

__ADS_1


"Baiklah, hati-hati." ucap Dipta.


"Makasih.!"


Akhirnya Cantika meninggalkan Dipta sendirian. Kini laki-laki itu masih berdiri sambil memperhatikan Cantika berjalan meninggalkannya.


"Hemm., masih muda sudah jadi asisten dosen. Pasti ada yang nggak beres. Anaknya kelihatan biasa-biasa saja. Cantik, sih. Tapi, dia saingan aku. Padahal aku merasa hanya akulah yang bisa menjadi asisten Dosen di kampus ini. Ternyata salah. Aku tahu kalau dia asisten Dosen baru dari Dekan, makanya saat aku bertemu dia di perpustakaan tadi responku jutek. Ternyata dia sainganku, huufftt!" umpat Dipta pelan.


"Hai Dip,!" teriak seorang perempuan dari belakang.


"Kamu, Ver. Ngagetin saja. Ngapain kamu kok ngomong sendiri." tanya Vera.


Perempuan itu ternyata Vera si jutek. Dia penasaran kenapa Dipta seolah kesal sama seseorang. Vera memperhatikan muka Dipta masih kesal.


"Hai, kamu kenapa. Cerita dong ke aku. Biasanya juga kamu cerita." tanya Vera.


"Itu, ada asisten Dosen yang baru, anaknya masih muda banget, mungil kayaknya masih semester awal deh. Tapi, kok bisa jadi asisten Dosen, ya.?" ucap Dipta kesal.


"Emangnya siapa asisten Dosen itu.?" tanya Vera.


"Itu, Cantika. Anak Design grafis." jawab Dipta.


"Apa, Cantika jadi asisten Dosen.?" seru Vera.


"Iya, emang kamu kenal sama Cantika.?" tanya Dipta.


"Bukan kenal lagi, dia juga saingan aku untuk dekatin Bara." jawab Vera ketus.


"Siapa Bara, jangan bilang itu gebetan kamu.!" ucap Dipta.


"Kalau emang dia gebetan aku kenapa.?" tanya Vera.


"Ya nggak apa-apa. Terus si Rony kamu kemanakan?" tanya Dipta.


"Dia kan yang tergila-gila sama aku, biarin saja yang penting dokunya tetap berjalan." jawab Vera sambil terkekeh.


"Kalau kamu saingan untuk dapetin Bara jelas kalah lah, Cantika anaknya cantik gitu." ucap Dipta.


"Eh Dip, aku punya ide. Gimana kalau kita kerja sama." tawar Vera.


"Kerja sama buat apa?"

__ADS_1


-------------------------------


Bersambung...


__ADS_2