
Gazi akhirnya sampai rumah juga. Bu Ratih lagi duduk di ruang tengah sambil menatap laptopnya. Gazi langsung duduk di sebelahnya Bu Ratih dengan malas dan menyandarkan badannya di sandaran kursi.
"Aaaah,!" ucapnya dengan badannya langsung mendarat di kursi.
Bu Ratih menoleh ke anaknya itu kemudian dia kembali menatap layar monitor tersebut. "Kenapa Zi.?"
"Ma, Gazi bingung, Nih!"
"Bingung kenapa sayang?" ucap Bu Ratih sambil menutup laptopnya.
Kemudian Bu Ratih mendekati anaknya lalu memandangnya dengan tersenyum. Gazi yang diperhatikan seperti itu jadi malu sendiri.
"Kok Mama lihatinnya sampai gitu.?"
"Kan Mama tadi bertanya, kenapa. Tapi, nggak ada sahutan. Akhirnya Mama putuskan untuk melihat anak Mama ini." jawab Bu Ratih sembari memegang lengan Gazi.
"Mama Ratih ini beda sama Bunda. Kalau Mama langsung nanyain kenapa atau apa. Tapi, kalau Bunda cenderung dibiarkan dulu, baru beberapa hari kemudian membahasnya." ucap Gazi.
"Kamu nggak boleh membedakan antara Mama dan Bunda. Karena kami berdua memang punya cara sendiri untuk berdiskusi ataupun cerita. Mungkin Bunda cenderung membiarkan kamu sampai akhirnya kamu sendiri yang memulai bicara.
Tapi, kalau Mama memang orangnya langsung menanyakan sama yang bersangkutan, seperti sikap kamu barusan, kan menunjukan kamu lagi ada masalah atau pingin cerita sesuatu tapi kamu nggak langsung cerita. Makanya tadi Mama langsung nanyain ke kamu kenapa.?" jelas Bu Ratih.
"Iya juga ya Ma. Maafin Gazi kalau telah membedakan." ucap Gazi.
"Nggak apa-apa sayang, lalu tadi Gazi kenapa kok datang lalu tiba-tiba cemberut dan bingung." jawab Bu Ratih.
"Mama ingat gadis yang mabok saat gran opening Zies cafe waktu itu?" tanya Gazi.
"Mmm, iya Mama ingat. Kenapa memangnya sayang.?"
"Dia kan Cindy yang suka sama Gazi, tadi pagi pas Gazi antar Kak Raka ke Bandara, dia ke cafe lagi cariin Gazi, tapi dijawab Heru kalau Gazi jaganya sore. Pas Gazi mampir ke Cafe dia muncul, tapi mukanya pucat kaya orang sakit gitu. Lalu kami ngobrol-ngobrol, dia meminta maaf soal kejadian malam itu kemudian memohon untuk jadi pacar Gazi, tiba-tiba dia jatuh pingsan.
__ADS_1
Saat Gazi bawa ke rumah sakit, dokter mengatakan kalau ada masalah dengan jantungnya. Lalu kakaknya datang dan ternyata dia itu keluarganya broken home. Secara materi memang nggak kekurangan, Ma. Tapi, dia hanya hidup berdua dengan kakak perempuannya saja. Kakaknya bilang kalau dia itu sering mengeluhakan sakit di dadanya.
Dokter bilang dia nggak boleh stres, mikir terlalu berat dan kalau bisa buat hatinya senang dan selalu tersenyum. Saat dia siuman yang dipanggil malah Gazi, Ma. Dokter minta tolong sama Gazi untuk menyemangatinya. Karena sebelum pingsan dia selalu bilang kalau umurnya nggak akan lama. Gazi kan bingung dan kawatir." jelas Gazi dengan serius.
"Lalu sekarang gimana keadaannya.?" tanya Bu Ratih.
"Dia sekarang sudah sedikit tenang, karena Gazi telah menerima dia sebagai pacar Gazi." jawabnya pelan.
"Loh,! Lalu Zahra gimana.?"
"Zahra belum tahu, Ma. Gazi bingung karena keadaan Cindy sempat kritis. Kakaknya memohon-mohon sampai menangis agar Gazi terima dia. Dan Cindy juga bilang kalau mau jadi pacar kedua dan dia nggak akan menuntut apa-apa yang penting dia statusnya jadi pacar Gazi." jawab Gazi dengan raut wajah yang melas.
"Mama tahu perasaan kamu saat ini seperti apa. Tapi, apa yang sudah kamu putuskan pasti kamu juga sudah tahu konsekuensinya. Mama percaya kalau kamu bisa menyikapi semua ini dengan baik. Kamu harus bicara jujur sama Zahra dan katakan alasannya. Mama yakin kalau dia pasti ngerti." jawab Bu Ratih.
"Iya Ma, kalau gini hati Gazi rasanya sedikit lega. Setidaknya ada yang tahu kenapa Gazi menerima Cindy jadi pacar Gazi." jawab Gazi.
"Iya, cerita saja sama Mama kalau kamu butuh tempat untuk mencurahkan uneg-uneg. Mama Ratih kan juga Ibu bagi kamu. Jadi, semua anak-anak Mama itu sama dan nggak pernah Mama bedakan " ucap Bu Ratih sambil mengelus kepala Gazi.
"Ma, Gazi sudah lama nggak bermanja seperti ini. Terakhir itu ketika Gazi masih SMA, saat itu Bunda memangku Gazi saat Gazi diledekin teman-teman gara-gara Gazi ke sekolah bawa mobil. Bunda menenangkan Gazi supaya tidak terlalu memikirkan apa yang teman-teman bilang. Saat itu rasanya tenang sekali tidur diatas pangkuan Bunda." ucap Gazi tiba-tiba.
Bu Ratih memandangi anak laki-laki itu dengan penuh ketulusan. Kemudian tangannya menyentuh kepala Gazi dan meletakannya diatas pangkuannya.
"Maafkan Mama ya Zi, selama kamu tinggal sama kami disini, Mama nggak pernah memanjakanmu seperti ini. Mungkin Mama terlalu sibuk dengan kerjaan di kampus." ucap Bu Ratih sambil mencium ujung kepala anak itu.
"Ma, tahu nggak kenapa Papa Gavin itu sangat mencintai Mama Ratih, bahkan dia lebih mencintai Mama dibandingkan dirinya sendiri." tanya Gazi.
"Memangnya kenapa.?"
"Mama itu berhati mulia dan lembut sekali. Bijak dalam bertindak serta sabar." jawab Gazi.
"Aah kamu bisa aja, Mama seperti itu kan memang kita harus baik dan lembut sama semua, terutama sama keluarga. Manusia itu kalau sudah dewasa tahu akan fungsi dua tangannya. Satu tangan untuk menolong dirinya sendiri, dan tangan satunya untuk menolong orang lain." ucap Bu Ratih dengan bijak.
__ADS_1
"Ma, Gazi boleh tanya sesuatu nggak.?"
"Boleh, tanya apa sayang.?"
"Kenapa dulu Mama malah menyuruh Papa menikah dengan Bunda.?" ucap Gazi sembari menatap Bu Ratih.
Seketika wanita paruh baya itu langsung tersenyum. Kemudian dia memegang kedua pipi Gazi.
"Kalau Mama nggak menyuruh Papa Nikah sama Bunda, berarti kan nggak ada Kak Raka sama kamu. Hehe,!" jawab Bu Ratih sambil tertawa.
"Ish Mama malah ketawa, Gazi kan nanya serius." jawabnya cemberut.
"Hehe, ngambek nih,! Okey Mama akan jawab, Mama itu dulu diposisi yang sangat lemah banget. Setelah Mama keguguran dan ternyata ada masalah dalam rahim Mama yang akhirnya mengharuskan rahim Mama diangkat, maka Mama mikir kalau nggak mengijinkan Papa nikah lagi lalu keluarga Papa tidak ada generasi penerusnya. Papa anak tunggal kalau dia tidak punya keturunan lalu siapa generasi penerus keluarga Indra wijaya.?" jawab Bu Ratih.
"Loh, Ma. Lalu Om Mahen itu bukannya Kakaknya Papa.?"
"Oh iya kamu belum tahu, Om Mahen itu anak angkat Kakek, karena waktu itu Nenek Hesty belum punya anak." jawab Bu Ratih.
"Oh jadi itu alasannya yang membuat Mama menyuruh Papa menikah lagi." ucap Gazi.
"Ya salah satunya itu, karena Mama juga nggak boleh egois. Akhirnya Mama pilih Bunda kamu untuk menjadi istri Papa. Karena Mama lihat Bunda adalah wanita baik dan penyayang." jawab Bu Ratih.
"Pantesan Papa sangat mencintai dan menyayangi Mama, karena Mama memang berhati mulia." ucap Gazi.
Bu Ratih hanya tersenyum melihat Gazi yang dengan serius mendengarkan ceritanya.
"Gazi, kamu nggak tahu Nak. Saat itu Mama sangat bingung dan terpojok. Butuh mental serta hati yang kuat untuk memutuskan sebuah keputusan yang besar." ucap Bu Ratih dalam hati.
-----------------------------
Bersambung...
__ADS_1