
Gavin dan Bu Ratih seketika saling pandang dan tersenyum setelah mendengar ketukan pintu kamarnya.
"Masuk.!"
Pintupun terbuka, ternyata Raka yang mengetuk pintunya tadi. Dia masuk dengan membawa buku-bukunya.
"Ma, ini buku Raka ada yang ketinggalan?" ucapnya polos.
"Nggak apa-apa, sayang. Nanti dimasukan kedalam tasnya Mama saja, ya?" jawab Bu Ratih.
"Oke, Ma." jawabnya sambil bergelayut manja dipangkuannya Bu Ratih.
"Oh iya, besok kita berangkat pagi-pagi sayang. Kita naik mobil." ucap Bu Ratih sama Raka.
"Oke siap, Ma. Tapi, hari ini kan terakhir di Jakarta. Ayo ajak Raka jalan-jalan ke Mall sekalian ajak Kak Tifany dan Kakak kecil Brian." ucap Raka manja.
"Oh iya, sayang. Nanti setelah Maghrib kita berangkat. Sekarang Raka mandi dulu, gih,!" ucap Gavin.
.
.
.
Setelah bersiap-siap mau ke Mall. Justru Gavin mendapat telpon dari Mahen kalau tidak bisa ikut. Mereka lagi ada acara sendiri, Tifany diundang temannya ulang tahun. Dan Brian lagi kurang enak badan.
"Kita ke Mall nya bertiga saja, ya?" ucap Gavin.
"Baik, Pa." jawab Raka.
Akhirnya mereka pergi bertiga saja. Gavin mengemudikan mobilnya dengan santai. Karena dia ingin menghabiskan malam terakhir di Jakarta bersama keluarga kecilnya.
.
.
.
Ditempat berbeda, Kasih dan keluarganya dirumah lagi ngumpul. Ada dia dan suami, anak serta adik dan Ibunya. Gazi kelihatan senang sekali habis diajak jalan-jalan sama Bundanya.
"Yah, besok kalau Ayah ke rumah Nenek di Jogja Gazi ikut, ya?" tanya Gazi pada Ayahnya.
"Iya, sayang. Kalian semua Ayah ajak ke rumah Nenek." jawab Rahman.
"Tapi, kapan ke Jogja nya, Yah?" ucap Gazi lagi.
"Ya, nanti kalau libur sekolah, Nak." jawab Rahman lembut pada Gazi.
"Iya, sayang. Atau kalau Bunda pas lagi ngecek pabrik Batik di Solo, kita bisa mampir ke rumah Nenek di Jogja." ucap Kasih.
"Iya, Nak. Bunda kan sering ke Solo. Nah, kalau pas malam minggu gitu kamu bisa ikut dan mampir ke rumah Nenek." timpal Rahman.
"Tapi, kira-kira kapan Bunda ke Solonya?" tanya Gazi.
__ADS_1
"Belum tahu, sayang. Kalau nggak minggu depan ya, bulan depan." jawab Kasih.
"Baiklah, kalau gitu. Nanti Gazi ikut, ya Bun?" ucap Gazi polos.
"Iya, sayang. Nanti kita kesana." jawab Kasih pelan.
"Gazi, Om Dito mau ke Mall bentar beli sesuatu. Kamu ikut, nggak?" tanya Dito.
"Ikut, Om." jawabnya polos.
"Kak, Gazi aku ajak ke Mall boleh, nggak?" tanya Dito sama Kasih.
"Boleh saja, nggak tahu kalau Mas mu?" ucap Kasih sambil menoleh kearah Rahman.
"Nggak apa-apa. Asalkan pakai sopir, jangan nyetir sendiri." jawab Rahman.
"Oke, Mas." jawab Dito.
Kasih dan Rahman saling pandang dan tersenyum ke arah Gazi dan Dito. Rahman adalah suami yang baik bagi Kasih, meskipun karakter dia agak keras. Tapi, dia sebenarnya penyayang keluarganya.
Dulu saat dia tahu kalau Kasih janda dengan beranak satu, tapi dia tetap ingin menikahi Kasih meskipun saat itu Rahman adalah perjaka dengan usia yang matang. Rahman sangat mencintai Kasih, meskipun Kasih awalnya menolak, karena cinta dia sudah diberikan sama Gavin semua. Tapi, dengan bujukan Ibunya, akhirnya dia menerima lamaran Rahman.
Usia pernikahan Kasih dan Rahman sudah hampir memasuki usia delapan tahunan, tapi mereka belum dikaruniai anak. Pernah dulu saat pernikahannya memasuki usia dua tahun, Kasih sempat hamil tapi keguguran karena dia kecelakaan jatuh dari tangga. Tapi, sampai sekarang dia belum dikaruniai anak lagi.
Rahman pun tidak menuntut apa-apa sama Kasih, bagi dirinya Gazi adalah anak kandung dan dia tidak akan menekan Kasih untuk segera hamil lagi. Dia pernah bilang sama Kasih kalau soal anak, se dikasihnya sama Allah saja.
"Bunda,!" teriakan Gazi mengagetkan lamunan Kasih.
"Iya, sayang." jawab Kasih.
"Iya, sayang. Hati-hati dijalan, ya Nak. Dito dijaga adiknya!" seru Kasih.
"Siap, Kak.!"
Akhirnya Dito mengajak Gazi ke Mall dengan ditemani seorang sopir. Dia senang banget karena jalan-jalan lagi meskipun berdua saja dengan Om nya.
Dalam perjalanan dia banyak berbicara tanya ini itu, seperti itu lah Gazi. Dia kritis meskipun baru umur sembilan tahun. Dalam berkata dia seperti orang tua. Tegas dan teliti. Kadang Kasih itu kewalahan untuk menjawab pertanyaan Gazi kalau anak itu pas lagi ada yang ditanyakan. Karena pertanyaan satu dijawab, maka dia akan bertanya terus.
.
.
.
Kini Keluarga Gavin sudah sampai di Mall. Bu Ratih segera mengajak anaknya ketempat bombom car. Disana Raka selalu bermain dengan Papanya, dan Bu Ratih menunggunya dari luar arena.
Ditempat yang agak jauh dari tempat bermain, Dito dan Gazi duduk dikursi sambil menunggu Gazi makan es cream. Ternyata Gazi dan Dito di Mall yang sama dengan Gavin dan keluarganya.
"Om Dito, main bombom car, yuk?" ajak Gazi.
"Emang kamu bisa?" tanya Dito.
"Nggak bisa, Om. Tapi, kan ada Om Dito.
__ADS_1
"Oke, ayo naik sama Om." jawab Dito.
Dito berjalan menuju tempat bermain. Dia kemudian membeli koin untuk main bombom car. Dito dibelakang kemudi, sedangkan Gazi ada disamping Dito. Mereka dengan senangnya bermain bombom car sampai Gazi tak takut lagi. Padahal diawal permainan dia hampir nangis karena takut.
Bu Ratih yang menunggu Gavin dan Raka dikursi dekat arena tersebut, kini mulai capek karena sudah hampir sejam Raka main itu. Pinginnya dia mengajak Raka dan Gavin balik untuk ke tempat lainnya, tapi dia nggak tega karena melihat Raka yang tertawanya lepas seolah nggak mau mengakhiri permainan itu.
Dalam arena bermain bombom car itu banyak sekali pengunjung yang main. Kadang Bu Ratih sampai tidak mengenali dimana Gavin dan Raka karena saking ramainya. Tapi, ketika dia hendak berdiri mau ke kamar kecil, matanya menangkap sosok pemuda yang nggak asing baginya.
Akhirnya Bu Ratih nggak jadi ke kamar kecil, karena ingin memastikan siapa pemuda itu sebenarnya. Tadi dia sempat melihat kearahnya tapi sekarang kok sudah nggak ada. Dia semakin penasaran karena semakin lama bayangan pemuda itu benar-benar menghilang.
Tapi, tak lama kemudian, Gavin dan Raka selesai juga. Kini mereka mendekati Bu Ratih yang masih celingukan mencari seseorang. Gavin mengerutkan keningnya melihat istrinya yang seperti itu.
"Kamu cari siapa, Ma?" tanya Gavin.
"Pa, aku tadi kayak melihat seseorang yang nggak asing. Tapi, aku lupa siapa dia. Laki-laki muda." jawab Bu Ratih.
"Emang siapa, Ma.?"
"Aku lupa, Ma. Cuma wajahnya aku nggak asing. Tapi, sudahlah. Nggak usah dipikirin. Kita cari makan dulu saja." ucap Bu Ratih.
Saat mereka berjalan meninggalkan arena bermain tersebut. Gavin melihat anak laki-laki lagi menangis, dan duduk dipinggir arena bermain itu.
"Ma, lihat itu ada anak kecil yang menangis. Yuk, kita lihat!" seru Gavin.
"Ayuk, Pa. Kasihan dia kayaknya terpisah dari orang tuanya." jawab Bu Ratih.
Mereka mendekati anak laki-laki yang menangis tadi. Setelah berada didekatnya. Gavin kaget, karena anak laki-laki ini adalah anak yang bersama Bu Laksmi Ibunya Kasih tadi siang.
"Lho, Nak. Kamu kok sendirian. Mana orang tuamu?" tanya Gavin sambil berjongkok didepan anak itu.
"Aku, ditinggal Om ku." jawabnya sambil menangis.
"Emang Omnya kemana, sayang?" kini Bu Ratih yang bertanya.
"Om tadi bilangnya ke kamar kecil, dan aku disuruh menunggu disini. Tapi, kok lama nggak balik-balik." jawabnya polos.
"Siapa nama kamu, Nak?" tanya Gavin.
"Nama aku Gazi Om." jawabnya singkat.
"Lalu, Om kamu namanya siapa?" Gavin mulai penasaran dan terus bertanya sama anak kecil itu.
"Nama Om aku adalah DITO." jawabnya datar.
"DITO.,!!" ucap Gavin dan Bu Ratih kompak.
Mereka lalu saling pandang dan semakin penasaran. Dito yang dimaksud anak ini apa nggak Dito adiknya Kasih. Gavin kemudian duduk disamping Gazi dan berusaha menghiburnya supaya dia nggak nangis lagi. Lalu, Bu Ratih mengeluarkan makanan kecil kemudian diberikan ke Gazi.
"Oh iya, ini kenalin anak Om namanya Kak Raka. Dan Om namanya Gavin. Lalu ini istri Om namanya Ratih." ucap Gavin sambil menunjuk Bu Ratih dan Raka.
Kemudian mereka bersalaman dan akhirnya sudah mulai akrab antara Raka dan Gazi. Ketika mereka berempat lagi bercanda sambil menunggu Om nya Gazi. Tiba-tiba ada pemuda yang berjalan menuju ketempat mereka. Gazi melihat Om nya yang sudah datang akhirnya dia berdiri dan berlari mendekati pemuda itu.
"Om Ditooo.,!!"
__ADS_1
---------------------------------
Bersambung.