
Bu Ratih terkejut melihat Kasih yang lagi duduk-duduk dengan suaminya dimeja minibar dekat dapur. Seketika Kasih turun dari kursi minibar yang ukurannya lebih tinggi dari kursi-kursi pada umumnya.
Gavin hanya berdiri tanpa kedip melihat istrinya yang tiba-tiba muncul.
"Kamu kok bangun, sayang?" ucap Gavin sembari mendekati istrinya.
"Iya, aku kebangun dan melihat kamu belum juga disebelahku. Aku pikir belum pulang. Akhirnya aku putuskan untuk keluar melihat kamu sudah datang apa belum. Tapi, aku lihat lampu dapur menyala. Makanya aku kesini." jelas Bu Ratih.
"Aku datang dari jam satu tadi, lalu aku pingin buat teh didapur, karena Bibi sudah aku suruh istirahat. Aku bingung cari gula dan teh nya nggak tahu. Terus kebetulan Kasih datang juga mau ambil minum, akhirnya dibuatin sama dia. Dia bikin wedang jahe aku minta dibuatin juga, sambil ngobrol-ngobrol kami minum disini." jelas Gavin.
"Iya, Bu. Maaf, memang saya tadinya mau bikim minum, tak tahunya Pak Gavin kesulitan mencari gula untuk buat minum. Akhirnya saya bantu untuk buatin." jelas Kasih ketakutan.
Bu Ratih mendekati Kasih yang masih berdiri ketakutan, wajahnya menunduk nggak berani menatap Bu Ratih.
"Kasih, kenapa kamu ketakutan begini. Saya nggak apa-apa. Tadi, saya itu kaget aja kok kamu ada disini. Maafin kalau tadi saya mengagetkam kamu." ucap Bu Ratih.
"Iya, Bu. Saya nggak enak aja, karena saya duduk-duduk disini sama Pak Gavin. Apalagi ini tengah malam." ucap Kasih sambil menunduk.
"Kasih, kenapa juga kamu ketakutan. Kita juga nggak ngapa-ngapain." sahut Gavin.
"Iya, nih Kasih. Saya aja mengijinkan kamu untuk menikah dengan suami saya. Kenapa, ketika kamu duduk-duduk disini sama Pak Gavin, saya harus marah." ucap Bu Ratih sambil memegang lengan Kasih.
"Tapi, Bu. Saya tetap aja nggak__"
"Ssttt... sudahlah, nggak apa-apa, kok." sahut Bu Ratih.
"Kasih, Kalau memang kamu mau kembali ke kamar kamu, silahkan." titah Gavin.
"Baik, Pak." jawab Kasih sambil melangkah meninggalkan mereka berdua.
Kini tinggalah Gavin dan Bu Ratih yang masih berdiri didapur. Gavin mendekati istrinya, kemudian dengan perlahan memeluknya dan mengecup kepala istrinya.
"Aku kangen, sayang." bisik Gavin ditelinga Bu Ratih.
"Aku juga, sayang. Kangen banget.!" sahut Bu Ratih sambil membalas pelukan suaminya.
"Ayo kita tidur, aku sudah ngantuk." ajak Gavin.
Bu Ratih mengangguk. Kemudian mereka menuju kamarnya untuk istirahat.
(****)
★KAMPUS★
"Bu Ratih,!" teriak seseorang dari jauh.
Seketika Bu Ratih menoleh kearah sumber suara tadi. Dilihatnya ternyata Vanya.
"Ada apa, Van?" tanya Bu Ratih sembari memberi seulas senyum.
"Bu, Papa sudah diperbolehkan pulang." ucap Vanya.
"Syukurlah kalau begitu. Akhirnya Papamu pulang juga." jawab Bu Ratih.
"Nanti siang mungkin Papa sudah pulang." ucap Vanya.
"Siapa yang jemput?" tanya Bu Ratih.
"Calon menantu lah.!" ucapnya sambil malu-malu.
"Cie..cie.,! yang udah punya pacar, nih." gurau Bu Ratih.
__ADS_1
"Apaan sih, Bu." jawab Vanya.
Akhirnya mereka pun masuk ke ruangan masing-masing. Bu Ratih masuk ke ruangan Dosen. Sedangkan Vanya menuju kelasnya.
"Vanya, Tadi kamu dicari Pak Farrel." teriak Gani teman sekelasnya.
"Oh iya, kapan?" tanya Vanya balik.
"Barusan, mungkin sekarang orangnya ada diruangannya." jawab Gani.
"Oke Gani, makasih infonya." sahut Vanya.
"Sama-sama, Van." jawab Gani.
Akhirnya Vanya menuju ruangan Farrel. Dia sedikit berlari karena takut ada yang tahu. Hubungannya dengan Farrel belum ada yang tahu, meskipun itu teman sekelas Vanya. Kini dia sudah berada didepan pintu ruangan Farrel.
"Selamat pagi, Pak Farrel. Anda tadi mencari saya?" ucap Vanya dengan kalimat yang formal, dikarenakan disitu ada Pak Anwar.
Farrel yang melihat adalah wanita pujaannya. Dia langsung berdiri au mengajak Vanya bicara diluar ruangan.
"Maaf, sayang. Terpaksa aku ajak kamu bicara diluar." ucap Farrel.
"Iya, nggak apa-apa. Tadi aku dikasih tahu Gani kalau kamu cari aku." jawab Vanya.
"Nanti jemput Papa kamu jam berapa?" tanya Farrel.
"Paling sekitaran jam dua an, nggak apa-apa." jawab Vanya.
"Okelah, nanti aku minta ijin Pak Anwar untuk pulang cepat." ucap Farrel.
"Baiklah, sekarang aku balik ke kelas dulu." sahut Vanya.
"Oke, sayang. Sampai nanti!" seru Farrel.
.
.
.
★ RUMAH GAVIN ★
Setelah mengantar istrinya ke kampus, Gavin langsung masuk kedalam rumah. Dia akan membongkar barang-barang sama belanjaan yang dari Jepang.
Gavin duduk diruang tengah sambil membuka barang-barang belanjaannya.
Tak lama kemudian Kasih menghampiri Gavin untuk membantunya, karena semalam dia sudah dimintai tolong sama majikannya itu.
"Kasih, ini semua baju-baju kotor saya, tolong kamu bawa ke belakang, ya?" tukas Gavin sambil memberikan setumpuk pakaian kotor.
"Baik, Pak." jawabnya sambil mengangkat pakaian itu ke belakang.
Tak lama kemudian, Kasih sudah kembali lagi dari menaruh pakaian.
"Sih, ini buat kamu, semoga kamu suka." ucap Gavin sambil memberikan sebuah paper bag.
"Makasih, Pak Gavin." jawab Ratih seaya menerima bungkusan itu.
"Yang ini buat Bibi. Tolong, nanti kamu kasihkan dia" ucap Gavin.
"Baik, Pak." jawab Kasih.
__ADS_1
Akhirnya semua sudah keluar. Oleh-oleh buat keluarga besar sudah keluar semua. Gavin membelikan oleh-oleh buat keluarga besarnya masing-masing sebuah t-shirt, cuma kalau buat Mamanya Bu Ratih, dia membelikan sebuah tas. Kembaran sama punya Mamanya sendiri.
"Kasih, tolong ini kamu beresin, ya. Saya nguantuk." ucap Gavin sambil membaringkan tubuhnya disofa ruang tengah.
Kasih melanjutkan membereskan semua barang-barang itu sendiri. Tak lama kemudian dia dibantu oleh Bibi sampai selesai. Kasih melirik kearah Gavin yang sudah tertidur pulas, mungkin kecapekan. Batin Kasih.
"Mbak Kasih, kasihan Den Gavin. Lihatlah itu, sampai ketiduran di sofa." ucap Bibi.
"Iya, Bi. Tadi dia bilang sama Kasih kalau ngantuk banget." jawab Kasih.
Akhirnya mereka selesai juga membereskan semua barang-barang itu. Bibi dan Kasih kembali ke belakang. Berhubung sudah nggak ada kerjaan lagi, kini mereka berdua duduk-duduk dikursi diteras belakang.
"Bi, kasih boleh cerita sama Bibi." ucap Kasih.
"Mbak Kasih mau cerita apa?" tanya Bibi.
"Soal perjodohan Pak Gavin dengan Kasih yang sempat dibahas waktu lalu, kemarin sebelum Pak Gavin berangkat ke Jepang, mereka membahas lagi." ucap Kasih.
"Maksudnya, soal perjodohan itu kembali dilanjutkan?" tanya Bibi.
"Iya, Bi. Dan Kasih jawab iya, Bi." ucap Kasih.
"Kamu sudah siap jika nanti jadi istri kedua, Pak Gavin?" tanya Bibi sambil memandang wajah Kasih.
"Siap nggak siap, Kasih harus siap, Bi!" sahut Kasih.
"Tapi, kamu menerima lamaran Bu Ratih itu tidak dengan terpaksa, kan?" tanya Bibi.
"Enggak, Bi. Kasih ikhlas kok membantu Bu Ratih dan Pak Gavin." jawab Kasih.
"Ya sudah, kalau memang kamu sudah siap. Dan kamu harus menerima segala konsekuenainya nanti." tukas Bibi.
"Iya, Bi. Saya siap!" jawab Kasih.
"Mbak Kasih, Bibi mau tanya sesuatu. Tolong kamu jawab dengan jujur." ucap Bibi.
"InsyaAllah kalau memang pertanyaan itu harus dijawab, maka Kasih akan menjawabnya." jawab Kasih.
"Apa kamu sudah punya pacar atau teman dekat cowok, gitu.?" tanya Bibi menyelidik.
"Enggak ada, Bi. Kasih belum punya pacar." jawab Kasih setengah malu-malu.
Bibi memperhatikan Kasih. Kayaknya ada yang disembunyikan. Kenapa gadis seusia Kasih belum punya pacar atau teman laki-laki. Dari paras dia itu tergolong cantik alami, sopan serta sabar. Masa belum ada laki-laki yang mau sama dia. Batinnya.
"Bibi kenapa kok ngelihatin Kasih,!" seru Kasih.
"Nggak apa-apa, Kok. Cuma Bibi heran sama kamu. Masa kamu sampai saat ini belum pernah jatuh cinta." tanya Bibi.
Kasih langsung terdiam dan menundukan kepalanya. Matanya mulai berembun dan tak terasa air matanya menetes. Bibi yang mendapati Kasih menangis jadi bingung serta takut.
"Mbak Kasih, kok nangis? Maaf jika pertanyaan Bibi kurang berkenan dihati Mbak Kasih." ucap Bibi kawatir.
"Nggak apa-apa kok, Bi. Kasih cuma inget seseorang saja, jika Bibi bertanya apakah Kasih pernah jatuh cinta apa belum." jawab Kasih.
"Tapi, Mbak Kasih kok menangis. Bibi kan takut, Mbak?" tanya Bibi.
"Kasih pernah jatuh cinta, Bi. Sama seseorang yang Kasih tolong saat dia mengalami kecelakaan. Cinta pada pandangan pertama. Waktu itu dia kecelekaan mobil, kebetulan Kasih pas disitu. Lalu Kasih tolong. Orangnya ganteng banget, Bi. Kasih sangat kagum sama dia. Tapi, Kasih hanya bagaikan pungguk merindukan bulan. Kayak cerita didongeng saja. Upik abu mengharapkan cinta sang pangeran." terang Kasih sambil senyum-senyum menggambarkan hatinya senang kalau mengingat waktu itu.
"Kamu sampai sekarang masih mencintai laki-laki yang pernah kamu tolong saat kecelakaan itu?" tanya Bibi.
"Emangnya siapa laki-laki yang Kasih cintai.!"
__ADS_1
-----------------------------------
Bersambung.....