
Akhirnya Pak Alex mengumpulkan kepala setiap divisi. Sekitar lima belas menit semuanya sudah kumpul diruangannya Pak Alex. Tak lama kemydian Gavin datang dan bergabung dengan yang lainnya. Dia berdiri ditengah didepan semua karyawannya.
"Selamat siang semuanya.!" ucap Gavin.
"Selamat siang, Pak,!" jawabnya kompak.
"Pertama-tama saya ingin memperkenalkan diri dulu. Nama saya Gavin, putra dari Pak Indra. Mungkin teman-teman semua disini sudah mengenal Papa saya. Disini saya ingin memberitahukan kepada kalian semua, bahwa mulai saat ini perusahaan yang dibawah naungan Indra N' Robby Corp sudah resmi milik Bapak Indra wijaya. Mungkin sebelumnya sudah banyak yang tahu kalau usaha Hotel dan Resto ini adalah join antara Pak Robby dengan Papa saya. Tapi, sejak dua bulan yang lalu usaha ini resmi milik Pak Indra wijaya pribadi dan diserahkan kepada saya untuk mengelolahnya. Jadi, saya harap kerja samanya supaya semuanya bisa berjalan lebih baik." jelas Gavin.
Pak Alex sontak kaget dengan apa yang dibicarakan Gavin barusan. Dia nggak tahu apa-apa soal ini. Sedangkan Pak Robby juga tidak pernah memberitahu Pak Alex. Untung saja perempuan itu sudah keluar dari ruangannya, kalau nggak gimana nasibnya Pak Alex ini.
Yang lain pada saling pandang dan berbicara sesama karyawan. Sebagian besar karyawannya menunjukan wajah yang sumringah. Kenapa bisa demikian mungkin saja selama kepemimpinan Pak Robby mereka banyak keluhan atau gimana belum tahu.
"Sudah-sudah, cuma ini saja sebenarnya yang ingin saya sampaikan kepada kalian semua. Dan Pak Alex, saya tunggu laporan keuangannya." tukas Gavin.
"Baik, Pak.!"
"Untuk yang lainnya, silahkan kembali ke tempat masing-masing." titah Gavin.
Akhirnya satu persatu mereka menyalami Gavin dan mengucapkan selamat. Gavin membalas uluran tangan mereka dengan senyuman.
Pak Alex sibuk membuka laptopnya untuk menunjukan laporan keuangan kepada Gavin. Setelah yang lain keluar ruangan, kini tinggalah Gavin dan Pak Alex berdua saja.
"Maaf, Pak Gavin. Ini laporan keuangan yang Bapak inginkan." ucap Pak Alex sembari menscroll layar monitor itu.
Gavin menelitis dari atas sampai bawah, semuanya hampir menunjukan peningkatan yang lumayan. Grouth dari penjualan bulan lalu juga menunjukan kenaikan yang lumayan. Berarti restoran ini masih aman.
Kini Gavin menyudahi kegiatannya itu dan menyerahkan kembali lapotop tersebut pada Pak Alex. Gavin kemudian meninggalkan ruangannya Pak Alex. Dia berjalan keluar dengan langkah yang santai, tapi ketika keluar pintu dia hendak tabrakan dengan seorang wanita yang pakainnya sangat mengundang hasrat semua para lelaki.
Gavin terkejut dengan siapa dia hendak bertabrakan dipintu. Wanita yang tempo hari tak sengaja dia tabrak di Hotel. Kenapa dia berada disini. Batinnya.
"Anda bukannya waktu itu yang tak sengaja saya tabrak di Hotel saat di Jogja,!" seru Gavin sambil mengacungkan telunjuknya.
"Emm., iya. Saya ingat, lalu selanjutnya yang saya undang untuk dinner, kan? kenapa Anda nggak datang saat itu?" cercah wanita itu.
"Maaf, saya ada klien yang harus saya temui, jadi nggak bisa menemui Anda." jawab Gavin.
__ADS_1
"Kok, Anda ada disini,?" tanya wanita itu.
Sebelum Gavin menjawab, tiba-tiba Pak Alex menghampiri. Kemudian wanita itu bertanya pada Pak Alex.
"Siapa dia, sayang. Kamu kenal?" tanya wanita itu.
Gavin semakin geram dengan tingkah laku Pak Alex. Dia kemarin sudah dikasih tahu Pak Fajar kalau wanita itu sebenarnya pernah dekat dengan Pak Robby. Tapi, sekarang dia malah disini dan sama Pak Alex. Dia mencoba sabar dan mengontrol emosinya.
"Maaf, Pak Gavin. Sebentar, saya akan segera kembali." ucap Pak Alex sambil menggandeng tangan wanita itu.
Gavin memggelengkan kepalanya setelah melihat kelakuan Pak Alex barusan. Dia benar-benar akan mengevaluasi Pak Alex kalau sikapnya masih seperti ini terus.
Sedangkan ditempat lain, Pak Alex bertengkar dengan wanita itu.
"Tolong, kalau dikantorku kamu jangan bersikap semaunya kamu." ucap Pak Alex dengan nada tinggi.
"Kamu ini kenapa, sih. Emang dia tadi siapa. Aku pernah ketemu dia di Jogja" jawab wanita itu.
"Kamu mau tahu dia tadi siapa? dia itu adalah Bos besar restoran ini. Puas kamu, hah.!" teriak Pak Alex.
Wanita itu langsung melongo dan nggak bisa berkata-kata. Dia masih terdiam dan hampir syok. Dalam hatinya dia senang banget karena bisa berkenalan dengan Bos dari Hotel dan Resto ini.
"Iya, emang kenapa. Kamu mau porotin dia?" ucap Pak Alex spontan.
Kalimat yang keluar dari mulut Pak Alex membuat wanita itu menyunggingkan senyuman. Secara tidak langsung Pak Alex menyuruhnya demikian. Kalau memang itu terjadi, ini sebuah berkah buatnya.
"Kamu benar, sayang. Seandainya dia aku rayu dan aku porotin, kamu nggak cemburu, kan? Nantinya hasilnya bisa kita nikmati sama-sama." ucap wanita itu.
Pak Alex jadi sedikit menurunkan emosinya. Benar juga apa yang dia bilang barusan. Misalkan Gavin masuk dalam pelukannya, pasti akan menguntungkannya. Batin Pak Alex.
"Oke, nanti kita bicarakan lagi soal ini. Sekarang kamu pergi dari sini dulu." ucap Pak Alex.
Akhirnya Pak Alex kembali menemui Gavin yang masih didepan ruangannya. Dia sangat nggak enak kalau kesan pertama ketemu owner sudah berantakan seperti ini. Apa jadinya kalau Gavin mengetahui belangnya.
"Maaf, Pak Gavin karena barusan ada kesalah fahaman sedikit." ucap Pak Alex setibanya ditempat.
__ADS_1
"Baiklah, lain kali jangan diulang lagi, Pak. Nanti kalau ketahuan anak buah, Pak Alex jadi nggak enak, kan?" ucap Gavin.
Pak Alex akhirnya mengantar Gavin untuk kembali keliling restoran. Dia jadi nggak berkutik karena baru saja kepergok. Gavin mengedarkan pandangannya ke setiap sudut restoran. Dia akan mengadakan meeting lagi nanti di Jogja.
Gavin berencana akan merombak dan mengadakan refresh bagi esdeem yang nggak produktif. Karena dia nggak mau perusahaannya ini akan menjadi nggak punya tujuan.
.
.
.
Sore harinya dia pamitan untuk kembali ke Hotel dimana dia menginap. dan akan beristirahat. Hari ini dia sangat lelah karena setelah perjalanan dari Jogja Semarang, lalu mengecek restoran.
(***)
JOGJA
Bu Ratih akhirnya memutuskan untuk mengajak temannya Fatma untuk bekerja dirumahnya. Karena calon yang dari Budhe Rahayu tidak mau.
"Hallo, Fatma. Ini aku, Ratih. Kamu mau kan kerja ditempatku?" ucap Bu Ratih di telpon.
"Oh kamu, iya aku mau, Tih. Mulai kaoan aku kerja ditempatmu?" tanya Fatma diujung telpon.
"Besok juga boleh." jawab Bu Ratih.
"Baiklah, besok aku langsung kerumah kamu. Kirim alamatnya."
"Nggak usah, biar sopir aku yang jemput kamu. Kasih alamatmu ke aku. Biar besok setelah antar aku dan anakku ke sekolah, langsung jemput kamu dirumah." ucap Bu Ratih.
"Baiklah, aku tunggu, ya Tih,!"
"Bye,"
Bu Ratih menarik nafas lega, akhirnya dia sudah mendapatkan asisten rumah tangga yang sudah lama dia inginkan.
__ADS_1
----------------------------------
Bersambung..