
Dipta kaget, dia masih nggak percaya dengan kerja sama yang ditawarkan oleh Vera. Dia nggak mau kalau sampai menyakiti Cantika. Meskipun dirinya merasa ada saingan di kampus, tapi kalau sampai yang mencelakai seseorang dia nggak mau.
"Maksud kamu apa dengan kerja sama.?" tanya Dipta.
"Katanya kamu kan merasa ada yang mengungguli kamu di kampus, lalu aku kurang suka kalau dia nempel terus dengan si cakep Bara. Makanya aku menawarkan kesepakatan sama kamu untuk membuat Cantika kapok." ucap Vera.
"Maksud kamu dengan kata kapok itu apa!" suara Dipta sedikit meninggi.
"Ya kita buat dia jera dengan membuatnya sedikit cidera." jawab Vera.
"Apa,! kamu sudah gila, apa.!" seru Dipta.
"Nggak lah, aku kan juga bukan psikopat. Kita buat sakit di kakinya atau mukanya gitu biar dia malu untuk ke kampus lagi." jelas Vera.
"Sama aja, Ver. Itu namanya kriminal, aku nggak mau. Kasihan Cantika." jawab Dipta.
"Hah,! payah kamu, Dip. Gitu aja sudah lembek." jawab Vera dengan mencebikan mulutnya.
"Bukan lembek, tapi aku masih punya hati. Aku nggak mau kalau pakai kekerasan." jawab Dipta.
"Hemm, aku ada ide yang tidak pakai kekerasan. Ya mungkin akan membuat dia malu aja." jawab Vera.
"Apa itu,?"
"Kita jebak aja dia, kita kunci dia di toilet sama cowok terus kita panggilkan anak-anak." jawab Vera.
Dipta diam sejenak, kalau ini mungkin masih mending. Tapi, dia ragu apa rencana Vera ini akan berhasil.
"Aku ikut aja deh, aku nggak punya ide. Tapi, kalau ada apa-apa sama Cantika aku nggak ikut-ikut." ucap Dipta.
"Ya nggak bisa gitu, Dip. Ini kan menguntungkan kita berdua. Kok kamu malah lepas tangan." jawab Vera.
"Serah kamulah, aku cuma pesan jangan sampai Cantika terluka." tukas Dipta.
"Siap,!"
"Baiklah, aku mau pulang dulu." ucap Dipta sembari melangkah meninggalkan Vera sendirian.
Payah kamu Dip, gitu aja sudah melibatkan hati. Kamu pasti suka sama Cantika. Batin Vera.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari berganti hari, sekitar seminggu kemudian Cantika kini sudah terbiasa mengisi kelas untuk menggantikan Bu Arin. Malah ada mahasiswa yang memanggilnya Bu Dosen Cantik.
Seperti saat ini, Cantika lagi di toilet wanita. Dia disapa mahasiswi adik tingkatnya.
"Hai Kak," sapanya.
__ADS_1
"Hai juga, kamu semester berapa.?" tanya Cantika.
"Saya semester awal, Kak."
"Oh iya."
"Kakak kan yang asisten Dosen nya Bu Arin itu kan.?" tanyanya tiba-tiba.
"Oh iya, kamu kok tahu.?" jawab cantika.
"Iya, tahu aja." jawabnya.
Cantika heran, kenapa mahasiswi ini bisa tahu tentang dia. Padahal kan dia nggak pernah bertemu dan kenal Cantika sebelumnya.
Ketika Cantika lagi menunggu antri mau masuk gilirannya, tiba-tiba ada segerombolan mahasiswi yang masuk ke toilet tersebut, dan anehnya dari segerombolan cewek-cewek itu ada satu mahasiswa yang sengaja dibuat ajang bulyan.
"Hey, kalian apakan dia.!" seru Cantika.
Salah satu dari cewek-cewek itu langsung menghampiri Cantika dan melihatinya dari atas sampai bawah.
"Kamu siapanya kok berani melarang kita.?" tanya cewek itu.
"Aku bukan siapa-siapa dia, aku hanya kasihan saja kalau kalian menyakiti dia." jawab Cantika.
"Aaah, kamu banyak omong. Kamu pasti pacarnya, iya kan.?" sahut cewek yang satunya.
"Kalian kenapa sih, udah dibilangin nggak ya nggak.!" teriak Cantika.
Sedangkan mahasisiwi yang tadi sempat menyapa Cantika sebelum segerombolan cewek-cewek itu datang, kini berlari keluar meninggalkan toilet dan mencari bantuan. Dia luput dari perhatian dari segerombolan cewek-cewek yang membuly tadi.
Kini cewek-cewek itu meninggalkan toilet dan membiarkan Cantika dan laki-laki itu masih didalam toilet cewek. Kini Cantika membuka ponselnya, dan dia mencari nama Bara. Dan setelah dihubungi, lama nggak diangkat.
"Hallo, Kak. Tolongin Cantik.!"
"......"
"Iya, di toilet perempuan."
"......"
"Nanti aku jelasin lagi."
Akhirnya Cantika menutup ponselnya, sedangkan laki-laki itu masih berdiri disebelahnya. Kini Cantika semakin curiga, kenapa laki-laki ini tidak kawatir sama sekali. Wajahnya santai dan biasa saja.
Tiba-tiba diluar toilet sudah terdengar suara rame-rame, nggak tahu kenapa kok tiba-tiba ada yang menggedor-gedor dari luar.
"Woooii., keluar kalian. Jangan bikin kampus ini jadi tercemar gara-gara ulah kalian.!" seru dari luar.
__ADS_1
"Iya, nih. Masa pacaran di toilet.!" sahut yang lainnya.
Cantika nggak menghiraukan teriakan dari luar, dia hanya diam dan berdoa supaya Bara segera datang. Masih sama diluar malah hebohnya lagi ada Dosen yang menghampiri.
"Ada apa ini kok rame-rame disini.?" seru Dosen itu.
"Ini, Bu Arin. Cantika dan pacarnya ada didalam!" sahut salah satu mahasiswi itu.
Cantika yang mendengar bahwa itu Bu Arin dia langsung teriak minta tolong dari dalam. "Bu, ini Cantika yang didalam." serunya dari dalam.
Bu Arin kaget, kok didalam ada suaranya Cantika. Kemudian dia mendekat dan menggedor-gedor dari luar.
"Cantika, kenapa kamu didalam?" seru Bu Arin dari luar.
"Bu, tolongin Cantika.!" ucap Cantika.
"Bu, laporin dia ke dekan saja. Masa pacaran di toilet, bikin kampus ini jadi tercemar aja." sahut mahasiswi yang ada disitu.
Tak lama ada petugas cleaning service membuka dengan memakai kunci cadangan. Tak lama kemudian pintupun terbuka, dan sontak semua mahasiswi yang ada di toilet itu bersorak karena melihat keduanya keluar dari toilet.
"Cantika, kenapa kamu ini. Kok bisa kalian didalam toilet.?" tanya Bu Arin sambil melotot.
"Saya nggak tahu, Bu. Tiba-tiba ada segerombolan mahasiswi bersama dia, saya hanya menegurnya jangan membuly, nanti kalau ketahuan yang lainnya bisa dilaporkan ke dekan. Katanya saya ini pacarnya makanya saya bela dia. Tapi mereka nggak percaya, lalu mendorong saya dan dia ke dalam toilet." jelas Cantika.
"Apa benar yang dikatakan, Cantika.?" tanya Bu Arin pada laki-laki itu.
"Enggak bener, Bu. Dia yang menarik saya kedalam.?" jawabnya.
Degh.,!
Cantika hampir pingsan mendengar jawaban laki-laki itu. Pasti ini ada yang mau menjatuhkan nama baiknya di depan Bu Arin.
"Hey, kamu ngomong apa. Aku sama kamu itu nggak kenal, kenapa kamu bilang kalau aku yang menarikmu ke dalam. Kamu pasti sekongkol dengan cewek-cewek tadi.!" sahut Cantika.
"Cantika, Ibu nggak menyangka kalau kamu bisa seperti ini.!" ucap Bu Arin.
"Maaf, Bu. Saya sama sekali nggak kenal dengannya. Saya berani sumpah, Bu!" jawab Cantika.
"Iya, ngaku saja. Dia kan pacar kamu. Kenapa kamu berkelit?" sahut cewek yang tadi.
"Ya ampun, sungguh Bu. Saya nggak tahu dan ngga kenal laki-laki ini.?" jawab Cantika sambil matanya berkaca-kaca.
"Lah terus kalau bukan pacar kamu, dia siapa?" tanya Bu Arin.
"Saya nggak tahu, Bu. Benar dia bukan pacar saya." ucap Cantika sambil menangis dan memohon.
"Benar, Bu. Dia memang bukan pacarnya Cantika. Sayalah pacar Cantika.!" suara bariton muncul dibalik kerumunan orang yang mengelilingi Cantika dan laki-laki itu.
__ADS_1
-----------------------------
Bersambung....