BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 181 (Nggak sengaja ketemu)


__ADS_3

Pagi ini Bu Ratih sibuk memandikan Cantik lalu memberikan susu. Si sulung sudah bisa mengurusi dirinya sendiri. Setelah semuanya beres, giliran Bu Ratih yang bersih-bersih dirinya. Anaknya digendong Gavin.


Gavin mengajaknya jalan-jalan dihalaman rumah mengelilingi taman. Raka berjalan sambil menggoda adiknya. Akhirnya Gavin mengajak anak-anaknya untuk duduk dikursi taman sambil menunggu Mamanya selesai mandi. Tak lama kemudian Bu Ratih datang menemui anak-anak dan suaminya.


"Pa, nanti aku mau ke rumah Mama Rahma." ucap Bu Ratih.


"Tapi, kamu diantar sama Pak Santo aja, ya. Aku mau lihat kantor bentar." jawab Gavin.


"Iya nggak apa-apa." ucap Bu Ratih.


"Oh iya, anak-anak. Habis ini ikut Mama kerumah Nenek Rahma, ya?" ucap Bu Ratih.


"Nanti aku pakai mobilnya Papa Indra, saja." ucap Gavin.


Akhirnya setelah sarapan dan siap-siap, Bu Ratih dan kedua anaknya menuju rumah Mamanya diantar Pak Santo. Gavin langsung berangkat ke kantor buat melihat suasana kantor yang sudah ham pir tujuh bulan dia tinggalkan.


Dalam perjalanan ke rumah Mamanya, Cantik tidur jadi dia nggak rewel hanya digendongannya Bu Ratih. Raka hanya diam duduk disamping Mamanya.


"Pak Santo, nanti Bapak boleh balik ke rumah Papa lagi juga nggak apa-apa, biar nanti sore kita dijemput Gavin." ucap Bu Ratih.


"Oh iya, Bu."


"Atau balik nanti juga nggak apa-apa. Terserah Pak Santo enaknya gimana saja." ucap Bu Ratih lagi.


"Iya, Bu. Maaf, kita mampir pom dulu isi bensin." ucap Pak Santo.


"Iya, Pak."


Ketika menemukan pom, Pak Santo membelokan mobilnya ke pom guna isi bensin. Akhirnya digunakan Bu Ratih untuk ke kamar kecil. Tapi, dia nunggu Santo selesai bayar karena biar dia bisa jaga Cantik bentar yang lagi tidur didalam.


Bu Ratih menuju kamar mandi, sekitar lima menit kemudian dia keluar kamar mandi dan saat membuka pintu, dia hampir bertabrakan dengan seseorang. Dia wanita memakai pakaian muslimah lengkap dengan cadarnya, tapi kali ini cadarnya sengaja dilepas karena Bu Ratih melihat cadar itu tergantung.


"Kasih.,!"


"Mbak Ratih,!"


Tapi sekitar satu menit kemudian Kasih langsung memakai cadarnya dan membalikan badannya hendak melangkah pergi. Tapi, dengan satu gerakan tangan Bu Ratih langsung meraih tangan Kasih dan mencegahnya. Mau nggak mau Kasih berhenti.


"Kamu kenapa menghidar gini, apa salah ku?" tanya Bu Ratih.


Kasih kemudian memutar badannya dan menatap ke arah Bu Ratih. Perlahan cadarnya dilepas dan berkata, "Mbak Ratih nggak salah, kok. Justru aku yang salah, Mbak."


Kemudian Kasih menyentuh wajah Bu Ratih dan akhirnya mereka berpelukan satu sama lain. Keduanya menangis di kamar mandi umum yang ada di SPBU itu.


"Aku kangen sama kamu, Sih." ucap Bu Ratih.


"Aku juga, Mbak."

__ADS_1


"Ayo kita ngobrol-ngobrol di tempat duduk didepan minimarket sana!" ajak Bu Ratih.


Keduanya melangkah menuju tempat duduk di depan minimarket yang ada disitu. Ketika sudah sampai luar kamar mandi, Raka berlari memanggil Bu Ratih.


"Ma., Mama, Dede' Cantik bangun." serunya.


Seketika Kasih membulatkan matanya ketika melihat anak laki-laki yang berlari menghampiri Bu Ratih. Kasih spontan berjongkok dan menghadap Raka serta menyentuh wajahnya. Mata Kasih mulai mengembun kembali ketika menatap Raka yang sekarang mulai tumbuh besar.


Bu Ratih hanya diam dan tersenyum saja melihat Kasih yang melepas rindu pada anaknya. Bagaimanapun juga mereka punya hubungan Ibu dan anak. Raka hanya diam dan sedikit bingung dengan aikap Kasih.


"Maaf, Tante ini teman Mama?" ucap Raka polos sambil tubuhnya didekatkan pada Bu Ratih.


Kasih memaklumi sikap anak itu, memang selama ini yang merawat dan membesarkannya adalah Bu Ratih. Raka masih menunjukan wajah kebingungan dengan pemandangan yang ada dihadapannya ini.


"Sayang, sebenarnya ini adalah--"


"Saya Tante Kasih, teman Mama kamu." sahut Kasih sebelum Bu Ratih meneruskan kalimatnya.


"Oh Tante Kasih, nama saya Raka, Tante." jawab Raka sambil mengulurkan tangannya.


Kemudian Kasih membalas uluran tangan Raka. Tiba-tiba Santo mendekati mereka dengan menggendong Cantik yang sudah bangun.


"Bu, Non Cantik bangun cari Mamanya." ucap Santo sambil memberikan Cantik kepada Bu Ratih.


"Oh, Maaf Pak Santo."


"Makasih, Pak.Tunggu kami di mobil saja, ya Pak. Saya masih ngobrol sebentar dengan teman saya." ucap Bu Ratih.


Kasih menatap anak kecil yang cantik digendongannya Bu Ratih. Kini mereka duduk berempat di kursi depan minimarket. Bu Ratih menyuruh Raka membeli minuman di minimarket itu.


"Mbak, ini siapa?" tanya Kasih.


"Ini anakku, Sih. Rejeki yang diberikan Tuhan kepadaku." jawab Bu Ratih.


"Maksudnya, Mbak. Berarti selama ini Mbak Ratih bisa punya anak?" tanya Kasih penasaran.


Bu Ratih tersenyum, lalu dia mulai menjelaskan kepada Kasih, "Bukan gitu, Sih."


"Terus, Mbak. Jangan buat aku penasaran."


"Waktu aku dijalan, tiba-tiba dicegat perempuan untuk minta tolong, dia menggendong anak kecil. Lalu aku ajak kerumah untuk istirahat. Lalu kemudian esok harinya mau aku bawa ke kantor Polisi, pas dia mandi anaknya dititipin sama aku. Tapi, setelah aku menunggu, ternyata dia kabur dengan menitipkan sebuah surat dengan pesan supaya aku merawat anak ini." jelas Bu Ratih.


"MasyaAllah, ini namanya rejeki kamu, Mbak." jawab Kasih.


"Iya, semua keluarga besar setuju, jadi aku langsung saja urus surat-suratnya. Aku laporkan dulu ke kantor Polisi, setelah itu Gavin mengurus semuanya." jawab Bu Ratih.


"Aku ikut senang mendengarnya, Mbak." ucap Kasih.

__ADS_1


"Iya, Sih. Makasih."


"Oh iya, ngomong-ngomong Mbak Ratih mau kemana?" tanya Kasih.


"Mau ke rumah Mama, maklum mumpung liburan ke Jakarta." jawab Bu Ratih.


"Oh iya, waktu itu Dito sempat cerita kalau ketemu Mbak Ratih dan Mas Gavin. Katanya kalian mau pindah ke Jogja. Jadi ingat, padahal kan mertuaku juga Jogja Mbak." ucap Kasih.


"Apa, Jogja juga. Yang benar. Di kota apa?" tanya Bu Ratih.


"Sleman, Mbak."


"Ya ampun, aku juga di Sleman, Sih. Aku memang sengaja pilih dekat kampus aku kuliah." jawab Bu Ratih.


"Baru sebulan yang lalu aku kesana. Waktu itu pabrik tempat pembuatan batik aku kebakaran, Mbak. Jadi aku kesana sekeluarga sekalian mampir rumah mertuaku, Mbak." ucap Kasih.


"Oh, aku ikut prihatin, ya Sih. Tapi, yang penting nggak ada korban jiwa." ucap Bu Ratih.


"Iya, Mbak."


Tak lama kemudian sopir Kasih menghampiri tempat Kasih ngobrol.


"Maaf, Bu Kasih. Den Gazi telpon katanya sudah dijemput Pak Rahman, jadi kita nggak usah jemput dia lagi."


"Oh iya, ponsel saya ada di mobil, Pak. Ya sudah tunggu sebentar, ya Pak" ucap Kasih.


"Iya, Bu."


Sopir Kasih kembali ke mobil meninggalkan Kasih dan Bu Ratih yang masih mengobrol.


"Gazi anak kamu, sih.?"


"Iya, Mbak.!"


"Umurnya berapa tahun, Sih.?"


"Delapan jalan sembilan tahun, Mbak."


"Beda dikit sama Raka, ya. Kalau Raka sepuluh jalan sebelas." ucap Bu Ratih sambil melirik Kasih.


Kasih hanya menunduk dan nggak berani menatap wajah Bu Ratih. Dia nggak ingin Bu Ratih curiga soal Gazi, karena memang secara selisih umur Gazi dan umur pernikahannya nggak wajar. Dia baru cerai dengan Gavin setelah Gazi lahir dan berumur empat puluh hari. Padahal dia cerai sama Gavin itu usia Raka baru setahun sepuluh bulan, kurang lebih dua tahunan.


Bu Ratih masih terdiam dan tetap melirik kearah Kasih. Dia curiga kenapa Kasih tiba-tiba diam setelah membicarakan umur anaknya.


"Apakah yang ada dibenakku selama ini benar adanya, kalau Gazi sebenarnya adalah anak Gavin." ucap Bu Ratih dalam hati.


-----------------------------------

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2