
Pak Indra langsung memeluk laki-laki itu. Dan sebaliknya laki-laki tersebut menyambut pelukan Pak Indra dengan sangat gembira.
"Pak Indra.., sudah lama kita tidak bertemu, terakhir kalinya saat kita ada proyek di Surabaya." ucap laki-laki itu.
"Apa kabarnya Pak.?" sahut Pak Indra.
"Kabarnya baik, Pak. Gimana dengan Pak Indra sendiri?" ucapnya lagi.
"Keadaannya ya tetap seperti ini, semakin tua. Kini, anak-anak saya yang menjalankan perusahaan. Saya, tinggal memantau saja, Pak!" jawab Pak Indra.
"Nggak masalah, itu Pak. Yang penting semuanya lancar dan Pak Indra sendiri bisa istrihat." jawabnya.
"Oh iya, Pak Keanu sendiri kok di Jakarta?" tanya Pak Indra.
Sejenak Pak Keanu terdiam, dan setelah itu dia menarik nafas panjang.
"Istri saya meninggal sejak tiga bulan yang lalu, baru seminggu saya dan anak semata wayang saya memutuskan pindah ke Jakarta, untuk mencari suasana baru. Urusan kerjaan sementara masih bolak-balik Jakarta-Surabaya. Cuma, saya berencana membuat kantor cabang disini." jelas Pak Keanu.
"Oh iya sampai lupa, saya kesini sama keluarga saya." ucap Pak Indra sambil menunjukan satu persatu keluarganya.
Kemudian Pak Keanu mendekat dan menyalami satu peraatu keluarga Pak Indra. Tapi, ketika giliran bersalaman dengan Bu Ratih, mata Pak Keanu menatapnya tanpa kedip seperti mengingat sesuatu.
Bu Ratih sedikit gugup karena laki-laki itu menatapnya dengan seksama. Gavin, sedikit terganggu dengan sikap dengan teman Papanya itu. Bu Ratih buru-buru melepaskan tangannya.
"Maaf, Anda kan yang tadi di kampus anak, saya?" tanya Pak Keanu.
"Iya, Pak. Saya Dosennya Vanya." jawab Bu Ratih pelan.
"Oh iya, saya baru ingat, makanya wajahnya nggak asing." jawab Pak Keanu.
Gavin sedikit menarik nafas lega. Ternyata laki-laki itu Ayah dari Mahasiswanya. Kini, semuanya bergabung jadi satu.
Tak terasa kalau obrolan mereka memakan waktu yang nggak sedikit. Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Mereka sepakat untuk menyudahi dan kembali pulang ke rumah masing-masing.
Pukul sepuluh malam Gavin dan keluarga sampai dirumah. Mahen langsung memasukan mobil ke garasi dibantu Gavin. Sekarang semua mobil masuk ke garasi.
Semuanya menuju kamar masing-masing. Demikian juga dengan Gavin dan Bu Ratih. Mereka kemudian beristirahat karena sudah capek. Tapi, mereka tidak bisa langsung memejamkan matanya. Keduanya ngobrol-ngobrol diatas tempat tidur.
"Sayang, kenapa tadi pas aku jemput di kampus, kamu sempat murung.?" tanya Gavin.
Bu Ratih membalikan badannya dan kini berhadapan dengan suaminya.
"Sebenarnya, tadi itu ada Mahasiswi baru, dia pindahan dari Surabaya. Lalu pas dia nunggu jemputan, dia duduk sama aku ditempat biasa aku nunggu kamu. Ternyata dia dijemput Papanya, lalu gadis itu mengenalkannya sama aku. Kamu, tahu siapa nama Papanya gadis itu? dia bernama "Keanu"." jelas Bu Ratih.
"Keanu! berarti Keanu teman Papa tadi yang bertemu di Mall.?" sahut Gavin.
__ADS_1
"Iya, sayang. Tapi, bukan itu permasalahannya. Kamu, masa lupa.?" tanya Bu Ratih lagi.
"Maksud kamu, apa sih?" tanya Gavin balik.
"Nama itu mengingatkan aku sama seseorang, tapi, kamu nggak marah kan?" ucap Bu Ratih.
Gavin mencoba untuk memahami apa maksud kalimat istrinya itu. Setelah dia berpikir sejenak, dia akhirnya teringat dan tersenyum pada istrinya itu.
"Sayang, aku sekarang ingat. Kamu teringat dengan mendiang Keanu mantan tunangan kamu, kan?" ucap Gavin sambil membelai rambutnya.
"Iya, sayang. Tapi, kamu nggak marah kan soal Keanu.?" tanya Bu Ratih dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kenapa mesti marah, sayang. Dia kan sudah nggak ada. Masak aku cemburu sama orang yang sudah meninggal?" jawab Gavin dengan mencubit hidung istrinya.
"Makasih, sayang. Kamu memang suami pengertian." jawab Bu Ratih.
"Sama-sama, sayang. Kamu juga istri yang sangat pengertian. Oh iya, gimana kalau besok kita ziarah ke makam tunangan kamu, itu?" ajak Gavin.
Bu Ratih seketika membulatkan matanya. Dia nggak nyangka kalau suaminya punya keinginan untuk ziarah ke makam Keanu.
"Beneran, sayang?" jawab Bu Ratih antusias.
"Iya, sayang. Aku nggak bohong. Besok kita ke makam Keanu." jawab Gavin sembari menarik tubuh istrinya dalam pelukannya
Bu Ratih menenggelamkan kepalanya ke dada suaminya. Dia terharu sampai meneteskan air matanya. Gavin membelai rambut istrinya itu dengan lembut. Keduanya terhanyut dalam suasana yang sedikit membuat hati jadi melo.
*******
Sore itu, cuaca sangat mendukung sekali. Cerah dan terang tanpa ada awan yang gelap. Gavin dan Bu Ratih mendatangi makam Almarhum Keanu. Bu Ratih berjalan diiringi suaminya. Mereka memasuki sebuah makam umum yamg terlihat rapi dan bersih.
Sesampainya mereka didepan pusara Keanu, keduanya lalu menundukan badannya dan memulai mendoakan Almarhum.
"Ken, ini aku Ratih datang menjengukmu. Aku, datang dengan suamiku, Gavin. Dia laki-laki baik sama seperti dirimu. Jadi, kamu nggak usah kawatir karena aku sudah ada yang jagain. Kamu yang tenang disana, ya?" ucap Bu Ratih sambil memegangi batu nisan di makam Keanu.
Air mata Bu Ratih tidak bisa dibendung dan akhirnya tumpah sudah. Bu Ratih menangis sesenggukan dihadapan makam Keanu. Gavin langsung memeluk tubuh istrinya dan membelai lembut rambutnya
"Ken, meskipun kita tidak pernah kenal sebelumnya, aku percaya dulu kamu pasti sangat mencintai Ratih. Tenang saja, sekarang aku akan menjaga dia dengan segenap jiwa dan ragaku." kini Gavin berucap.
Keduanya masih tenggelam dalam suasana sedih didepan makam Keanu. Dulu sebelum menikah mereka belum sempat kesini.
"Sayang, kamu sudah tenang sekarang?" tanya Gavin pada istrinya.
"Iya, aku sudah nggak apa-apa, kok!" jawab Bu Ratih.
"Ya sudah, kalau gitu kita pulang aja. Hari sudah semakin senja." ucap Gavin seraya membantu istrinya berdiri.
__ADS_1
Keduanya akhirnya menuju ke mobil, sebelum masuk mobil mereka mencuci kaki ditempat yang sudah disediakan. Kemudian mereka langsung masuk ke mobil.
Mobil Gavin menyusuri jalanan Ibukota yang semakin gelap. Bu Ratih kini sudah kelihatan tenang. Gavin melirik istrinya dengan senyuman bahagia. Mudah-mudahan dengan berziarah ke makam Keanu bisa mengobati kerinduannya dengan Almarhum. Bathin Gavin.
"Sayang, terima kasih, ya. Kamu telah menemaniku menjenguk Keanu. Bukannya aku nggak bisa melupakannya, tapi, tiba-tiba ingat gara-gara nama Papanya Vanya yang sama dengannya." terang Bu Ratih.
"Iya, sayang. Aku nggak apa-apa, kok. Aku malah senang jika kamu bilang apa adanya. Sekiranya aku bisa membantu kegalauanmu, pasti aku akan ada buat kamu." jawab Gavin.
"Iya, sayang." jawab Bu Ratih sambil menyandarkan kepalanya dipundak Gavin yang lagi menyetir.
Gavin membalas dengan mengelus pipi istrinya dengan tangan kirinya. Keduanya selalu menampakan kemesraan. Karena hanya dengan itulah yang bisa membuat pasangan lebih nyaman.
Sesampainya dirumah, Pak Indra menyambut kedatangan mereka dengan wajah sedikit serius. Dia memegang ponsel dan berdiri diteras dengan mondar-mandir.
Gavin yang mendapati Papanya bersikap seperti itu, langsung menghampirinya dengan muka yang nggak kalah serius.
"Ada apa, Pa. Kenapa Papa kok sepanik ini.!" tanya Gavin sambil memandangi wajah Papanya yang panik.
"Gawat, Vin. Proyek kita yang di Bandung ada masalah. Barusan orang Papa yang di Bandung telpon kalau pengawas proyek kabur tak ada kabar. Material belum dikirim padahal kan uang sudah kita gelontorkan." jelas Pak Indra.
"Sabar dulu, Pa. Papa tenang dulu, sekarang duduk dan kita bicarakan pelan-pelan." ucap Gavin sambil membantu Papanya duduk dikursi.
Bu Ratih masuk untuk mengambilkan air minum buat Papa mertuanya. Kini Pak Indra sedikit tenang.
"Pa, pembangunan di Bandung kan sudah berjalan hampir lima puluh persen. Maksud Papa, kok material belum dikirim itu bagaimana. Seharusnya kan tinggal kirim kalau dana sudah masuk.?" tanya Gavin.
"Iya Vin, itu tadi. Pengawasnya kabur bawa uang proyek. Jadi untuk biaya matetial mungkin belum seluruhnya kebayar, makanya pengiriman material dihentikan sepihak oleh pihak suppliyer." jelas Papanya.
"Astaga..! kok bisa seperti itu, ya Pa?" padahal kan Papa tidak satu dua hari mengenal para pekerja. Apalagi bekerja sama dengannya.?" ucap Gavin.
"Papa besok harus ke Bandung secepatnya untuk urus masalah ini." ucapnya.
"Jangan, Pa. Biar Gavin aja yang ke Bandung. Papa mendingan di kantor sini aja." jawab Gavin.
"Tapi, kamu harus meninggalkan istrimu, kalian masih pengantin baru." jawab Pak Indra.
"Nggak apa-apa, Pa. Ratih nggak apa-apa ditinggal. Kan memang ini urusan pekerjaan." kini Bu Ratih berucap.
"Tuh kan, benar apa yang dibilang Ratih, Pa. Biar Gavin aja, ya?" ucap Gavin.
"Ya sudah, kalau memang itu mau kamu. Papa ijinkan kamu berangkat ke Bandung." jawab Gavin.
"Sekarang, Papa masuk lalu istirahat dulu. Gavin dan Ratih mau bersih-bersih dulu." ucap Bu Ratih.
"Makasih Nak...," jawab Pak Indra.
__ADS_1
-----------------------------------
Bersambung.....