
Setelah pertemuan semalam, Cantik kok jadi sering mikirin Bara. Dia seolah mengagumi sosok Bara. Laki-laki yang dewasa banget, secara fisik dia keren karena itu dia jadi idola. Secara pemikiran sangat dewasa dan ngemong.
"Ma, Kak Bara itu hebat ya. Masih muda sudah punya usaha sendiri." ucap Cantik sama Bu Ratih saat duduk-duduk sore diteras samping rumahnya.
Bu Ratih memandangi wajah anak gadisnya yang sudah tumbuh dewasa. Usianya kini menginjak delapan belas tahun. Dimana usia segitu adalah usia yang memang lagi hangat-hangatnya mengagumi lawan jenis.
"Nak, kamu naksir sama Bara.?" tanya Bu Ratih sambil memegang pipi anaknya itu.
"Iih, Mama ini apaan sih. Aku kan cuma bilang kalau Kak Bara itu hebat. Kok malah dibilang Cantik naksir." jawab Cantik dengan wajah yang merona.
"Sayang, naksir pun juga nggak apa-apa. Kini kamu sudah delapan belas tahun. Anak Mama kan memang hebat, masih delapan belas tahun sudah mahasiswa." ucap Bu Ratih.
"Mama kok gitu, sih. Cantik kan hanya bilang gitu aja." jawab Cantik.
"Mama kan pernah muda, sayang. Jadi bisa ngerasain apa yang kamu rasakan saat ini." jawab Bu Ratih.
Saat lagi ngobrol, tiba-tiba Sant mendekati Bu Ratih dan Cantik yang lagi duduk-duduk santai.
"Maaf, Bu Ratih. Di luar ada temannya Non Cantika." ucap Santo.
"Oh iya, Pak. Makasih." jawab Bu Ratih.
"Siapa ya, Ma. Aku juga nggak janjian ama Sisil." ucap Cantik heran.
"Dilihat aja dulu, sayang." jawab Bu Ratih.
Akhirmya Cantik beranjak dari tempat duduknya dan menuju teras depan. Dan ternyata dia kaget karena siapa yang datang.
"Kak Bara.,!"
"Hai, Cantik."
"Silakan masuk, Kak." ucap Cantik sambil mempersilakan masuk Bara.
"Makasih Dek,!"
"Kak Bara mau ketemu Kak Gazi, apa untuk apa." tanya Cantik polos.
"Kpk gitu pertanyaannya, masa aku kesini mau ketemu Kak Gazi. Jeruk makan jeruk.?" celetuk Bara.
"Hehe, siapa tahu Kakak mau ada janji soal pembuatan logo soal usaha cafe nya Kak Gazi." ucap Cantik.
"Belum, kok. Kita aja belum meeting soal itu. Aku kesini kan mau ketemu adikku yang centil dan mungil ini." jawab Bara.
__ADS_1
"Aku hanya dianggap sebatas adik saja sama Kak Bara." ucap Cantik dalam hati.
"Hai kok malah bengong, sayang." ucapan Bara semakin membuat Cantik melayang.
"En..ggak apa-apa kok, Kak." jawab Cantik terbata.
"Kenapa aku jadi gugup gini, apa benar yang dibilang Mama kalau aku naksir sama Kak Bara," batinnya kembali bergejolak.
"Tik, mau nggak Kakak ajak keluar." ucap Bara.
"Kemana, Kak.?" tanya Cantik penasaran.
"Kakak mau memghadiri grand opening show room temen Kak Bara." jawab Bara.
"Kapan, Kak.?"
"Sekarang.?"
"Kok mendadak amat sih, Kak."
"Nggak apa-apa. Acaranya nggak begitu formal banget kok, ini hanya acara anak muda saja. Itu showroom juga milik Ayahnya, kebetulan yang design logo serta konsep showroom nya Kakak yang kerjain." jelas Bara.
"Tapi Cantik malu Kak, kan aku belum pernah menghadiri yang kayak gituan." jawab Cantik.
Cantik berfikir sejenak, setelah itu dia mengangguk, "Baiklah, aku mau."
"Okey, aku tunggu."
Akhirnya Cantik menuju dalam rumahnya menuju kamarnya untuk ganti pakaian. Ketika menunggu Cantik berganti pakaian, Gavin datang dari kantornya.Dia kaget waktu melihat ada Bara di ruang tamu sendiri.
"Lho, Nak Bara. Apa Cantiknya sudah tahu.?" tanya Gavin setibanya di ruang tamu.
"Sudah, Om. Dia lagi ganti pakaian." ucap Bara sambil menyalami Gavin.
"Oh gitu." jawab Gavin.
"Oh iya Om, sekalian saya minta ijin ajak Cantika keluar untuk saya ajak ke acara grand opening showroom ayahnya teman Bara." ucap Bara.
"Oh, iya nggak apa-apa. Yang penting pulangnya jangan malam-malam, ya.?" jawab Gavin.
"Siap, Om. Nggak sampai malam kok. Mugkin habis Isha sudah pulang." jawab Bara.
"Ya sudah, Om tinggal kedalam dulu ya.?" ucap Gavin sambil masuk kerumahnya.
__ADS_1
"Silakan Om.!"
Tak lama kemudian Cantik keluar dengan memakai pakaian yang sangat girly. Dress warna putih bunga-bunga selutut dengan dipadu flat shoes warna abu sangat menambah keanggunannya.
Bara langsung membelalakan matanya karena kaget deman penampilan Cantik kali ini. Mata Bara tak lepas dari sosok gadis manis nan rupawan dihadapannya saat ini.
"Kamu cantik banget, Tik. Aku sampai pangling." ucap Bara.
"Kak Bara bisa aja. Memang aku Cantik bukan mona apa sali, hehe." jawabnya sambil terkekeh.
"Beneran, kamu kelihatan cantik banget. Aku nggak bohong." jawab Bara.
"Ya sudah, kita pamit Mama sama Papa dulu." ucap Cantik.
"Baiklah."
Akhirnya keduanya pamit sama Bu Ratih dan Gavin yang tengah ngobrol di ruang tengah. Serelah pamitan mereka langsung berangkat dengan mengendarai mobilnya Bara.
Bu Ratih dan Gavin hanya memandang anak Gadisnya itu dengan tatapan yang sangat lembut.
"Tidak terasa anak kita sudah tumbuh dewasa, ya Pa. Padahal aku rasa baru kemarin aku dititipin anak perempuan sama Rita." ucap Bu Ratih sambil memandamg kearah depan.
"Iya, Ma. Kira-kiraRita dulu dimana ya.?" ucap Gavin tiba-tiba.
"Nggak tahu, Pa. Dulu dia nggak pamit sama Mama. Wong namanya kabur." jawab Bu Ratih.
"Ya sudah, dimanapun dia berada semoga tetap dalam lindungan Allah." ucap Gavin.
"Amin.,"
"Ma,!"
"Hemm.,"
"Anak-anak kita kan pada nggak ada, lagi keluar dengan teman-temannya. Gimana kalau kita nostalgia mengenang masa pacaran dulu." ucap Gavin sambil menggendong Bu Ratih menuju kamarnya.
"Papa, apa-apaan ini. Turunin, nggak,!" teriak Bu ratih.
Gavin sudah tidak menghiraukan teriakan istrinya. Kini dia mengamgkat Bu Ratih ala bridal style menuju kamarnya. Kebahagiaan yang selalu mengiringi rumah tangganya sampai diusia pernikahan hampir dua puluh lima tahun.
-----------------------------
Bersambung...
__ADS_1