BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 126 (Ditinggal Bu Ratih)


__ADS_3

Hari ini Bu Ratih berangkat ke Surabaya bersama Pak Reyhan mengikuti Seminar yang ditugaskan oleh Kampusnya. Sekitar pukul satu siang mereka terbang ke Kota Pahlawan tersebut.


★ SURABAYA ★


Bu Ratih dan Pak Reyhan langsung menuju Hotel yang terletak di tengah kota. Mereka memesan kamar, dan kebetulan kamar mereka berdua bersebelahan cuma beda dua kamar saja. Akhirnya Bu Ratih bisa merebahkan tubuhnya diatas ranjang sambil melepas lelah.


Hari ini dia mengikuti Seminar serta gathering bersama dengan perwakilan Dosen-Dosen dari Kampus lain. Berarti dia akan bertemu dengan orang-orang baru untuk menambah teman sekaligus sejenak melupakan beban pikiran yang akhir-akhir ini sedikit menyita waktunya.


Malam harinya dia dan Pak Reyhan makan malam direstoran Hotel. Bu Ratih berjalan menuju restoran yang dimana Pak Reyhan sudah menunggunya.


"Maaf, Pak Rey. Saya bikin Pak Rey menunggu." ucap Bu Ratih setibanya dimeja yang ditempati Pak Reyhan.


"Oh nggak apa-apa. Saya juga baru sampai." jawab Pak Reyhan.


Akhirnya mereka memesan makanan. Bu Ratih dan Pak Reyhan ngobrol-ngobrol sambil menunggu pesanan datang. Pak Reyhan tiba-tiba terdiam karena mengingat sesuatu. Bu Ratih yang melihat Pak Reyhan raut mukanya berubah, dia langsung menegurnya.


"Ada apa, Pak.?" tanya Bu Ratih sambil mengamati wajah Pak Reyhan.


"Nggak apa-apa, Bu. Cuma saya teringat saja, Surabaya kan tempat tinggal mantan istri saya." jawab Pak Reyhan seraya menyunggingkan senyuman.


"Oh iya, ya. Saya hampir lupa kalau Pak Reyhan dulu pernah tinggal disini juga." jawab Bu Ratih.


"Iya, Bu. Tapi, nggak apa-apa kok." jawab Pak Reyhan.


Akhirnya pesanan mereka pun datang. Lalu dengan lahapnya menikmati makanan yang sudah mereka pesan. Sesekali Pak Reyhan bercerita hal-hal yang lucu sehingga membuat Bu Ratih tertawa lepas. Pak Reyhan setelah melihat Bu Ratih tertawa sedemikian lepasnya menjadi senang.


"Saya kasihan sama kamu, Bu Ratih. Apa yang kamu rasakan sama seperti apa yang saya rasakan. Setelah mendengar kabar kalau suami Bu Ratih nikah lagi, saya ikut prihatin. Kamu berhak bahagia, Bu. Demikian juga halnya dengan saya. Kita ditakdirkan mempunyai kekurangan tapi bukan berarti harus hidup dalam keterpurukan." ucap Pak Reyhan dalam hati sambil menatap Bu Ratih tanpa kedip.


Bu Ratih yang mendapati Pak Reyhan memandanginya langsung menghentikan ketawanya dan menatap balik kearah Pak Reyhan. Sejenak mereka berdua saling pandang, dan tanpa sadar kalau pandangan itu menimbulkan rasa kikuk pada mereka berdua.


Bu Ratih buru-buru mengalihkan pandangannya ke objek lain guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dia langsung mengambil minumannya kemudian meminumnya.


Pak Reyhan pun demikian, dia jadi malu karena Bu Ratih merasa kalau dirinya memperhatikannya terlalu berlebihan.


Pak Reyhan segera membuka ponselnya guna mengalihkan perhatiannya.


"Oh iya, Bu. Besok kita jam delapan pagi harus sampai di Kampus H. Karena dimulai jam setengah sembilan." ucap Pak Reyhan sambil melihat kearah ponselnya.


"Okey, Pak." jawab Bu Ratih.


---------Dua hari kemudian---------


★ KANTOR WIJAYA'S GROUP ★


Gavin memasuki ruangan Pak Galih guna membicarakan soal kerjasama dengan perusahaan Jepang. Urusan yang proyek di Bandung suda beres, dan bulan depan selesai. Perusahaan Wijaya's Group semakin hari semakin sukses. Gavin teryata ulet dan lincah.


"Pak Galih, minggu depan kita akan kedatangan perwakilan perusahaan Mr. Ko ke Indonesia. Tolong, dipersiapkan segala sesuatunya, ya Pak?" ucap Gavin setibanya di ruangan Pak Galih.


"Baik, Pak Gavin. Segera saya siapkan!" jawab Pak Galih.


"Untuk urusan Hotelnya buat mereka saya akan minta Pak Bima yang urus. Nanti atau lusa kita adakan meeting sama semua Divisi untuk menyambut kedatangan mereka. Kita akan menyambutnya semaksimal mungkin biar mereka terkesan, seperti kita disambut waktu itu." jelas Gavin.


"Iya, Pak. Siap laksankan.!" jawab Pak Galih.

__ADS_1


Akhirnya Gavin kembali menuju ruangannya. Dalam perjalanan menuju ruangannya yang beda lantai sama ruangan Pak Galih yang dilantai bawah, tanpa sengaja dia mendengarkan percakapan dua orang wanita.


"Hai, kamu tahu nggak, siapa cewek berhijab yang tempo hari digandeng sama Pak Gavin." tanya salah satu dari orang itu.


"Oh itu Kasih, Bu. Emang Bu Tiara nggak tahu? Dia dulu Office girl dikantor ini. Terus saat istri Pak Gavin sakit, dia dijadikan asisten istrinya." jawab wanita yang lainnya.


"Saya nggak tahu, Oh jadi dia asisten istrinya. Tapi, kenapa kemarin dia bicaranya kok akrab gitu, pake digandeng lagi sama Pak Gavin.?" tanya Tiara.


"Saya juga nggak tahu, Bu. Setahu saya ya itu tadi." jawabnya.


"Ternyata itu tadi Tiara. Nggak ada kapok-kapoknya dia selalu ingin tahu tentang Kasih." ucap Gavin dalam hati.


Tak lama kemudian Gavin muncul untuk sekedar lewat. Seketika Tiara dan salah satu karyawan itu langsung bubar. Apalagi Tiara, dia lalu mengikuti Gavin dan mengejarnya.


Gavin menghentikan langkahnya dan berdiri tanpa menoleh Tiara yang berada dibelakangnya.


"Kamu ngapain ngikutin aku,!" seru Gavin tanpa membalikan badannya.


Tiara terkejut ketika Gavin berucap seperti barusan. Dia berdiri tepat dibelakang tubuh Gavin yang masih berdiri.


"Maafin aku, Vin. Aku masih penasaran sama cewek berhijab tempo hari itu. Kamu kok segitunya membelanya." tanya Tiara.


Seketika Gavin langsung membalikan badannya dan kini berhadapan langsung dengan Tiara.


"Kamu masih pingin tahu siapa cewek berhijab tempo hari?" tanya Gavin sembari menatap Tiara dengan tatapan yang tajam.


"Iya," jawab Tiara.


"Dia istriku.!" jawab Gavin singkat.


"Iya, dia istriku pilihan Ratih. Dia calon ibu dari anak-anakku kelak!" jelas Gavin.


"Terus, soal perjodohan kita gimana, dong? kok Tante Hesty nggak bilang sama aku?" sahut Tiara kesal.


"Terserah, bukan urusanku!" jawab Gavin seraya melangkah meninggalkan Tiara.


Tiara ngedumel sendirian karena dia merasa dipermainkan oleh Papanya dan Bu Hesty. Dia geram dan seolah menahan amarah yanga sangat besar.


"Lihat nanti kamu ya, aku buat hidupmu dan istrimu nggak bahagia. Berani-beraninya mempermainkan seorang Tiara!" ucapnya dalam hati.


Kemudian dia kembali melangkah menuju ruangannya. Karena hari ini dia diberi tugas banyak oleh Pak Bima.


.


.


.


Malam hari sekitar pukul tujuh malam, Kasih membantu menyiapkan makan malam buat Gavin. Karena Bu Ratih dan yang lainnya tidak ada dirumah. Sedangkan Gavin belum juga menampakan batang hidungnya. Selama Bu Ratih di Surabaya, Gavin selalu pulang malam dan kalau sudah pulang, langsung tidur.


Kasih pun nggak berani menegur, yang penting dia menyiapkan segala keperluan suaminya. Soal dia mau tidur dikamarnya atau dikamar suaminya sendiri, dia nggak begitu mempermalasahkan.


Seperti malam ini pun seperti biasa. Kasih dan Bibi Menyiapkan makan malam, tapi Gavin nya belum pulang. Kasih duduk dimeja makan sambil menunggu Gavin pulang.

__ADS_1


Malam semakin larut dan Gavinpun belum pulang. Kasih dari tadi mondar-mandir melihat keluar.


"Mbak Kasih, sebaiknya Mbak Kasih tidur aja. Ini Sudah hampir pukul sebelas malam. Biar nanti Den Gavin saya yang membukakan pintunya." ucap Bibi sembari menemani Kasih dimeja makan.


"Kemana dia ya, Bi. Bukannya apa-apa. Saya takutnya kalau dia kenapa-kenapa. Saya dipesan sama Mbak Ratih kalau saya harus memperhatikan dia" ucap Kasih.


"Iya, juga. Tapi, Sekarang sudah malam. Sebaiknya Mbak Kasih tidur duluan." ucap Bibi.


"Ya sudah, Bi. Biar Kasih tunggu diruang tengah sini aja. Bibi sekarang istirahat, biar Kasih juga istirahat tapi tiduran disini." jawab Kasih.


"Okelah, Bibi masuk kamar dulu, ya?" ucap Bibi.


Kasih duduk disofa sambil nonton TV. Meskipun nggak ada acara TV yang dia suka, tapi dia tetap menunggu Gavin sampai ketiduran.


(*****)


★ SURABAYA ★


Tinggal hari ini Bu Ratih berada di Kota ini, besok pagi dia sudah balik ke Jakarta. Kini waktunya santai. Dikamar Hotel dia beru selasai mandi. Tak lama kemudian ponselnya berdering. Apakah suaminya, padahal semalaman Gavin sudah telpon lama banget.


Dilihatnya kok nomor tidak dikenal. Siapa ini. Batin Bu Ratih.


"Hallo selamat pagi, Bu Ratih. Ini saya Pak Dirga sudah menunggu Anda dilobby hotel untuk menjemput Bu Ratih." ucapnya diujung telpon.


"Pak Dirga siapa, ya Pak." jawab Bu Ratih.


"Saya asisten teman Ibu, saya disuruh menjemput Anda untuk mengantarkan ke suatu tempat." jawabnya lagi.


Bu Ratih sejenak berfikir, apakah ini suruhannya Pak Reyhan. Tapi, kemarin Pak Reyan bilang kalau dia sedikit pusing jadi sekarang dia ingin tiduran aja dikamar. Siapa dia. Batinnya.


"Baiklah, Pak. Saya segera keluar." jawab Bu Ratih.


Tak lama kemudian Bu Ratih menuju lobby Hotel guna menemui orang tersebut. Apa salahnya kalau dia menemuinya. Siapa tahu memang dia yang lupa kalau punya teman disini.


Bu Ratih melihat ada laki-laki pakai baju kerja. Seperti seorang sopir pribadi tapi kok pakaiannya rapu. Batinnya.


"Maaf, Anda Pak Dirga," sapa Bu Ratih sembari menghampiri laki-laki yang tengah duduk.


"Iya, Bu. Mari ikut saya." ucap laki-laki itu sambil menuju sebuah mobil yang sangat mewah.


Bu Ratih masih mengikuti laki-laki itu dan masuk kedalam mobil. Pak Dirga melajukan mobil dan menuju kesuatu tempat. Ternyata sebuah rumah makan yang berkonsep pedesaan. Udaranya sangat sejuk karena daerahnya dekat pegunungan.


"Silahkan turun dulu, Bu. Anda sudah ditunggu oleh seseorang." ucap Pak Dirga.


Bu Ratih melangkah mengikuti Pak Dirga masuk kedalam rumah makan itu. Tempatnya memang asyik banget. Alami seperti melihat alam langsung. Tak lama kemudian Bu Ratih sampai ke tempat yang dimaksud.


"Silahkan, Bu. Saya permisi dulu." ucap Pak Dirga.


Bu Ratih masih penasaran siapa yang mengajaknya ketemuan ini. Didepannya sudah tersedia berbagai macam makanan khas Jawa timur. Tak lama kemudian munculah seorang laki-laki dari belakangnya.


"Selamat siang, Bu Ratih yang cantik!" ucap laki-laki itu.


Seketika Bu Ratih menoleh dan dia terkejut siapa yang kini telah dihadapannya. Dia nggak menyangka kalau dia menyiapkan semua ini.

__ADS_1


----------------------------------


Bersambung...


__ADS_2