
Bu Ratih dan Kasih kaget setelah mendengar suara barusan. Mereka sudah hafal siapa pemilik suara tersebut. Bu Ratih langsung berdiri dan menghampiri sang empunya suara.
"Sayang! Tolong, dengarkan aku dulu. Biar aku jelaskan." ucap Bu Ratih seraya memegang lengan suaminya.
Kasih yang dari tadi hanya bisa menunduk dan tidak berani berkata apa-apa. Kini dia mencoba beranjak dan mau meninggalkan kamar itu. Tapi, tiba-tiba Gavin mencegahnya.
"Kamu, mau kemana,!" seru Gavin.
"Sayang, kamu jangan marah sama Kasih, karena ini semua aku yang minta." ucap Bu Ratih.
"Siapa yang marah sama dia. Aku hanya ingin meluruskan permasalahan ini." jawab Gavin.
Kasih akhirnya tidak jadi meninggalkan kamarnya Bu Ratih. Dia masih berdiri dan tetap menundukan kepalanya.
Gavin menatap sama Kasih dengan tatapan yang tajam. Dia hanya kasihan kalau harus berkorban demi untuk memenuhi keinginan istrinya.
"Sayang, kemarin kan kita sudah membahas masalah ini. Dan kamu mencoba mempertimbangkan nya." Ucap Bu Ratih.
"Sayang, aku ngerti dan aku juga mengakui kalau aku kemarin juga mau mempertimbangkan masalah ini. Tapi, kenapa harus Kasih yang jadi pilihanmu. Aku nggak mempermasalahan apa-apanya, cuma kita sudah menganggap Kasih itu keluarga sendiri. Bahkan aku menganggapnya seperti adiku sendiri. Gimana aku bisa melakukannya. Belum lagi kalau dia sudah punya kekasih, gimana?" jelas Gavin sambil mendaratkan tubuhnya ditepi tempat tidur.
"Iya, aku faham. Aku juga tadi bilang sama dia, kalau nggak harus jawab sekarang. Biar dia memikirkannya dulu." jawab Bu Ratih.
Gavin kemudian menoleh kearah Kasih. Gadis itu masih tertunduk dan nggak berani menatap kedua majikannya itu.
"Kasih, saya mau tanya sama kamu. Soal permintaan istri saya ini, apa kamu mau mempertimbangkannya,?" tanya Gavin.
Kasih kemudian mengangkat wajahnya dan memberanikan untuk menatap wajah kedua majikannya itu. Kemudian dia mencoba menjawabnya.
"Maaf sebelumnya Pak. Saya tadi memang berbicara sama Bu Ratih, selama saya mampu untuk melakukannnya, saya akan membantu Bu Ratih. Untuk saat ini memang saya belum mampu melakukannya. Jadi, kasih waktu buat saya untuk mempertimbangkan sekali lagi." jawab Kasih.
"Maaf, apa kamu sudah punya kekasih?" tanya Gavin.
Kasih terdiam dan nggak berani menjawabnya. Bu Ratih melihat gelagat gadis ini kalau memang belum punya kekasih. Selama ikut dirinya, dia belum pernah bercerita bahkan menelpon ataupun smsan sama cowok. Tapi, belum tahu juga benar atau tidak. Batin Bu Ratih.
"Belum, Pak." jawabnya.
Gavin menghela nafas panjang. Dia berharap jika gadis ini sudah punya pacar. Tapi, nyatanya dia masih jomblo. Diliriknya istrinya yang duduk disebelahnya, dia mendapati bahwa istrinya terlihat sedikit sumringah. Ada gurat bahagia dalam wajah cantiknya.
"Ya sudah, kamu boleh kembali kebelakang dulu. Saya mau bicara sama istri saya.!" titah Gavin.
Kasih meninggalkan ruangan itu. Kini tinggal mereka berdua.
"Sayang, kamu pulang sendirian?" tanya Bu Ratih.
"Iya, Papa aku tinggal sendiri. Waktu kamu kirim pesan nggak mau dijemput, aku memutuskan pulang sendiri, nanti kembali sambil ajak kamu." jawab Gavin.
"Aku sudah mandi, kok. Kamu mandi dulu." ucap Bu Ratih.
"Sayang, kamu kok tiba-tiba kepikiran untuk menjadikan Kasih wanita yang akan melahirkan anakku?" tanya Gavin.
"Aku melihat Kasih itu anaknya telaten, sabar, serta dia juga baik, sayang." jawab Bu Ratih.
"Aku juga ngerti dia memang anak yang baik dan santun. Tapi, ini juga menyangkut masa depannya." jawab Gavin.
"Ya sudah, kalau gitu kita tunggu saja apa keputusan Kasih." jawab Bu Ratih.
Kemudian Gavin masuk kekamar mandi. Bu Ratih meninggalkan kamar menuju ruang tengah. Dia kemudian duduk-duduk sambil menonton tv.
__ADS_1
.
.
.
Dirumah sakit kini hanya ada Bu Hesty sama Pak Indra saja. Mereka lagi asyik ngobrol. Keadaan Bu Hesty lambat laun sudah membaik. Barusan Dokter bilang kalau besok pagi sudah boleh pulang.
Tak lama kemudian datang Gavin dan Bu Ratih. Mereka membawa makanan untuk makan malam. Bu Hesty lalu tersenyum ketika mereka menyalaminya.
"Sudah enakan, Ma?" tanya Bu Ratih.
"Alhamdulilah sudah, Nak. Kata Dokter besok sudah boleh pulang." jawab Bu Hesty.
"Syukurlah Ma, kalau besok sudah boleh pulang. Maaf, Ratih belum bisa ikut jagain Mama." ucap Bu Ratih.
"Nggak apa-apa, Tih. Mama ngerti kok, kalau kamu memang harus banyak istirahat." jawab Bu Hesty.
"Mama sudah makan?" tanya Bu Ratih.
"Sudah tadi habis disuapin Papamu." jawabnya.
"Kakau gitu ini buat Papa aja, biar sekarang Papa makan dulu." ucap Bu Ratih sambil mengeluarkan bungkusan yang ada didalam tas.
"Ya sudah, Papa makan dulu. Biar Mama kita yang jagain." sahut Gavin.
Kemudian Pak Indra membuka kotak yang berisi makanan. Gavin dan Bu Ratih kini yang ganti didekat Bu Hesty.
Kemudian mereka berempat ngobrol-ngobrol sampai nggak terasa waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Gavin dan Bu Ratih kembali pulang, dan kini yang bermalam hanya Pak Indra saja.
Besok pagi biar Gavin kembali lagi buat jemput.
---------Satu minggu kemudian-------
Semenjak Bu Hesty sakit, kini dia nggak pernah pulang kerumah Mahen sama sekali. Mahen dan istrinya pun sudah memahami. Mereka juga sudah ada asisten rumah tangga nya.
Pagi ini Bu Ratih libur, karena dikampus lagi ada kegiatan. Gavin dan Bu Ratih pamit untuk ke rumah Mamanya Bu Ratih. Kasih diperbolehkan pulang karena Bu Ratih akan menginap dirumah Mamanya, sedangkan Gavin langsung pergi ke kantor.
"Sayang, nanti aku langsung berangkat ke kantor, ya. Kamu kalau minta jemput telpon aja." ucap Gavin.
"Iya, sayang." jawab Bu Ratih.
Akhirnya mereka berdua masuk mobil dan kemudian pergi meninggalkan rumahnya. Tapi, ketika keluar gerbang utama komplek, dilihatnya Kasih masih berdiri nunggu taksi. Bu Ratih yang melihat itu langsung meminta suaminya untuk menghentikan mobilnya.
"Sayang, kita ajak sekalian saja Kasih biar nggak nunggu. Nanti kamu antarkan pulang, kan rumahnya searah sama kantor kamu.!" seru Bu Ratih.
"Baiklah, kalau itu mau kamu." jawab Gavin sambil membatin, kamu memang sengaja mendekatkanku sama Kasih.
"Kasih! ayo naik." titah Bu Ratih kerika mobilnya berhenti pas disebelah Kasih yang berdiri.
Kasih kaget, dia menolak karena sudah terlanjur pesan taksi. Tapi, Bu Ratih terus memaksa karena lumayan, nggak perlu ongkos buat bayar taksi. Sebenarnya bukan masalah irit ongkos, tapi memang kamu sengaja. Batin Gavin.
Kemudian Kasihpun menyetujui permintaan Bu Ratih. Dia masuk mobil dan duduk dibelakang. Kasih memandangi kedua majikannya itu, begitu serasi dan selalu menampakan kemesraan.
Sesampainya dirumah Bu Rahma, Gavin hanya menurunkan istrinya saja, karena dia harus langsung ke kantor.
Kemudian Bu Ratih langsung masuk. Setelah itu ketika mobilnya baru keluar dari halaman rumah Bu Ratih, Gavin menghentikan mobilnya.
__ADS_1
"Kasih, kamu pindah kedepan sekarang.!" titah Gavin.
"Ta.. tapi, Pak."
"Sudah pindah saja, nanti saya dikira sopir kamu, lagi." ucap Gavin.
Akhirnya Kasih menyetujui permintaan majikannya itu dan pindah ke depan. Dalam perjalanan mereka berdua hanya terdiam dan membisu.
Sementara dikediaman Bu Rahma, Bu Ratih langsung masuk kedalam, karena pintunya nggak ditutup.
"Assalamualaikum.,! ucap Bu Ratih.
"Waalaikumsalam..!" jawab Bu Rahma yang lagi memangku si kecil.
"Hallo jagoan Tante, emm, lagi bobok ya.?" ucapnya sambil memegang pipinya Reindra.
"Kamu kok tumben pagi-pagi kesini, Tih. Nggak ngajar kamu?" tanya Bu Rahma.
"Ratih libur tiga hari, Ma. Makanya pengen nginap sini. Sudah kangen sama si kecil." jawabnya.
"Tapi, nanti suamimu pulang kesini, kan?" tanya Bu Rahma.
"Belum tahu, Ma. Nunggu kabar dari dia saja. Mama Hesty kan juga baru seminggu pulang dari rumah sakit." jawab Bu Ratih.
"Kok belum tahu. Kalian tidak lagi bertengkar, kan?" tanya Bu Rahma menyelidik.
"Enggak kok, Ma." jawab Bu Ratih pelan.
Bu Rahma sudah faham betul dengan sifat anaknya satu ini. Dia nggak perlu membohongi Bu Rahma, diapun sudah tahu kalau Bu Ratih lagi ada pertengkaran kecil.
"Ya sudah, kalau kamu mau gendong Reindra, sana cuci tanganmu dulu." titah Bu Rahma.
.
.
.
Kembali ke Gavin dan Kasih, mereka berdua masih diam membisu tanpa berbicara.
Gavin melirik Kasih yang dari tadi pandangannya lurus kedepan.
"Kasih, kenapa kamu dari tadi diam saja?" Tanya Gavin.
"Maaf, Pak. Emangnya saya harus bicara apa." kini Kasih kembali bertanya.
"Ya terserah kamu, masak ya kita kayak nggak kenal saja. Padahal biasanya kamu nggak seperti ini." ucap Gavin.
"Saya nggak tahu harus bicara apa, Pak." jawabnya lagi.
"Sih, kamu jawab jujur sama saya. Kemarin-kemarin kan ada istri saya. Sekarang kita berdua. Dan saya ingin jawaban jujur dari kamu." ucap Gavin.
"Iya, Pak. Silahkan. Pak Gavin mau tanya apa?" jawab Kasih dengan hati yang sedikit deg deg an.
"Apa kamu mau menikah dengan saya, sesuai dengan permintaan istri saya.!"
-----------------------------------
__ADS_1
Bersambung......