BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 197 (Ketemu seseorang)


__ADS_3

Sore harinya, Raka mengantar adeknya pergi ke toko buku yang ada di sebuah Mall. Mereka hanya berdua saja. Karena kedua orang tuanya nggak ikut.


"Dek, ayo cepetan turun. Katanya mau ke toko buku." seru Raka dari bawah.


"Iya, Kak. Ini udah jalan, kok." jawab Cantik turun dari atas.


"Lama banget, sih." ucap Raka.


"Udah, kok. Ayo berangkat." sahut Cantik.


Akhirnya mereka berdua pergi ke Mall untuk ke toko buku. Raka dengan santai mengendarai mobilnya. Cantik kelihatan senang sekali karena bisa jalan-jalan sendiri sama Kakaknya saja. Biasanya kalau jalan-jalan harus ditemani Mamanya.


"Dek, kamu nanti mau beli buku aja, atau beli yang lain." tanya Raka.


"Buku aja, Kak. Apa Kak Raka mau beli sesuatu juga?" tanya Cantik balik.


"Nggak ada, cuma nanti pingin cari makan aja." jawab Raka.


"Kak, ayo cari makan di angkringan. Katanya makanannya enak-enak. Murah jajanan khas Jogja." seru Cantik.


"Dimana itu.?"


"Kata teman Cantik, letaknya nggak jauh dari Alun-alun kota." jawab Cantik.


"Oke, nanti kita kesana."


"Yess,! asyik akhirnya bisa juga makan disitu." jawab Cantik kegirangan.


Raka memarkirkan mobilnya di oarkiran saat tiba di Mall. Dengan manja Cantik menggandeng lengan Kakaknya layaknya orang pacaran. Raka juga demikian, dia sangat menyayangi adiknya itu.


"Kak, itu toko bukunya, aku masuk dulu. Kalau Kakak ikut masuk nggak apa-apa." ucap Cantik.


"Kakak ikut masuk dong, nanti kalau ada yang godain adik manisku ini gimana?" jawab Raka.


"Hmm, Kakak yang baik. Ayuk kalau gitu."


Mereka akhirnya masuk ke toko buku bersama. Cantik memilih buku yang dia butuhkan. Sedangkan Raka juga iseng pingin lihat-lihat buku. Kini dia menuju rak yang khusus menyediakan buku pengetahuan umum.


Ketika dia tertarik sama salah satu jenis buku, dia mengambilnya dan ternyata barengan sama seseorang gadis. Kemudian Raka meepaskan buku itu supaya membiarkan gadis itu yang ambil.


"Maaf, kalau kamu suka, ambil aja." tukas Raka.


"Kamu aja, tadi kamu duluan yang pegang buku itu." jawab gadis itu.


"Nggak apa-apa, kamu mungkin lebih membutuhkan buku itu. Kalau aku belakangan aja nggak apa-apa." jawab Raka.


"Bener nih buat aku aja, aku ambil, ya?" ucap gadis itu sambil mengambil buku tersebut.


"Iya, silahkan."


"Makasih, ya.?" ucap gadis itu sambil melangkah meninggalkan Raka.


"Eh, tunggu.,!" panggil Raka.


Gadis itu berhenti lalu membalikan tubuhnya. Sedangkan Raka menghampiri gadis itu lalu mengajaknya kenalan.


"Emm, kenalin aku Raka.!" ucap Raka sambil mengulurkan tangannya.


Gadis itu tersenyum manis kearah Raka. Lalu dia membalas uluran tangan Raka. "Aku Dara." jawabnya.


Keduanya saling pandang dan tersenyum satu sama lain. Tanpa kedip mereka saling tatap. Tanpa disadari Cantik memperhatikan dari jauh kelakuan Kakaknya. Dia hanya tersenyum dan membiarkannya.

__ADS_1


Setelah sekitar lima menit, akhirnya keduanya menyudahi perkenalan itu. Kemudian mereka berpisah. Raka mencari adiknya karena dia tinggal tadi.


"Duooor.,!!"


Cantik mengagetkan Kakaknya yang lagi celingukan mencarinya. Raka spontan kaget karena ulah adik kesayangannya itu.


"Ya ampun, Dek. Kakak sampai kaget. Kamu dari mana saja, kok lama?" tanya Raka.


"Seharusnya yang nanya gitu itu aku, Kak. Kakak dari mana saja aku cariin kok menghilang." sahut Cantik.


"Emm, Kakak da--" belum sempat melanjutkan ucapannya, Cantik sudah nyerocos.


"Kakak habis dari kenalan ama cewek, kan?" ucap Cantik.


"Kok kamu tahu, kamu ngintip ya?" jawab Raka sambil mencubit hidung adiknya.


"Ya nggak apa-apa, kok Kak. Cantik malah seneng kalau Kakak kenal sama cewek." ucap Cantik bijak.


"Cantik ya dia tadi. Gimana menurut kamu?" tanya Raka.


"Emm, lumayan cantik, kok." jawab Cantik.


"Ya ampun, Kakak kok lupa minta nomor hpnya." sahut Raka sambil menepuk jidatnya.


"Ish, Kakak payah. Ya sudah kalau gitu, nanti kalau memang jodoh pasti Kakak ketemu lagi." ucap Cantik.


"Ya sudah, kamu gimana, sudah selesai belanjanya.?" tanya Raka.


"Sudah, Kak. Kita langsung lets go aja." ajak Cantik.


Keduanya keluar dari toko buku kemudian menuju parkiran. Raka menyalakan mesin mobilnya kemudian keluar pelataran Mal itu. Kini dia menuju angkringan yang letaknya di dekat alun-alun kota.


Tapi, saat ditengah jalan, dia melihat seorang gadis berdiri dipinggir jalan kayaknya mau mencegat taksi. Ketika hampir dekat, Raka terkejut karena gafis itu adalah Dara, gadis yang jumpai di toko buku tadi.


Bunyi rem mobil Raka mengagetkan Cantik dan gadis itu. Gadis itu kaget ketika ada mobil yang mendekatinya. Kemudian Raka membuka kaca mobilnya dan memanggilnya.


"Dara.!" panggilnya dari dalam mobil.


Dara menunduk melihat siapa yang ada didalam mobil itu. Dia tersenyum saat melihat Raka yang ada dalam mobil itu.


"Hai, Ka."


"Kamu nunggu siapa.?"


"Nunggu taksi lewat."


"Ayo naik. Aku anterin pulang."


Dara diam dan nggak berani menjawab, mukanya menyiratkan ketakutan karena dia baru bertemu dengan Raka. Sedangkan Raka yang melihat kalau Dara itu masih ragu dengannya, langsung saja dia turun dari mobil dan mendekatinya.


"Dara, aku sama adik aku, jadi kamu nggak usah takut." ucap Raka saat disamping Dara.


Dara kemudian menengok kearah mobil, lalu Cantik tersenyum kearahnya dan melambaikan tangannya. Dara kelihatan sedikit lega.


"Baiklah kalau gitu, saya mau." ucapnya sambil tersenyum malu-malu.


Akhirnya keduanya masuk mobil, Dara duduk dibelakang, sedangkan Cantik masih didepan.


"Oh iya, Dara. Rumah kamu dimana?" tanya Raka.


"Di jalan dr mustopo, dekat dengan Rumah sakit Medika." jawab Dara.

__ADS_1


"Oh daerah situ. Saya tahu." jawab Raka.


"Oh iya, Kak Dara. Nanti ikut kita makan dulu, ya. Aku sama Kak Raka mau makan di angkringan dulu. Ikut, ya Kak." sahut Cantik.


Dara nggak langsung jawab, dia masih bingung mau apa nggak. "Emm, tapi apa nanti nggak kemalaman."


"Ini baru jam tujuh, Kak. Kan makan nggak sampai lima jam, hehe." jawab Cantik sambil terkekeh.


"Baiklah kalau begitu, aku ikut. Tapi, jangan sampai jam sembilan, ya. Aku takut Bundaku marah." ucap Dara.


"Iya, Kak. Kita juga ada jam malam dari Mama. Nggak boleh lebih dari jam sembilan." jawab Cantik.


"Okey, kita cuuss, ke angkringan." jawab Raka.


Dalam perjalanan Cantik selalu mengajak ngobrol Dara. Raka diam-diam mencuri pandang lewat kaca spion yang di depan. Dara langsung tersenyum sambil menunduk ketika memergoki Raka lagi melirik kearahnya.


Akhirnya mereka sampai juga di angkringan. Raka memarkirkan mobilnya ditempat yang sudah disediakan. Lalu mereka semua turun dari mobil menuju tempat itu.


Raka memanggil Mbak nya itu, lalu dia memesan beberapa makanan. Dara ngikut saja dengan Raka dan Cantik. Kemudian mereka ngobrol-ngobrol sebelum pesananya datang.


"Dara, kamu kuliah apa kerja?" tanya Raka.


"Aku kerja. Tapi, aku juga kuliah." jawabnya.


"Hebat, ya Kak Dara. Kuliah sambil kerja juga." sahut Cantik.


"Kerjanya juga part time, Dek. Soalnya Kakak juga harus kuliah." jawab Dara.


"Sudah semester berapa, Ra.?"


"Aku baru semester dua, kok."


"Oh masih baru. Kalau aku sudah semester enam, ambil hukum." jawab Raka.


"Oh calon pengacara, dong." ucap Dara.


"Ya begitulah. Tapi, meskipun pengacara, tidak menutup kemungkinan untuk bisa jadi pengusaha, kan.?" jawab Raka.


"Ya juga, banyak sekarang pengacara terkenal melebarkan sayapnya untuk membangun usaha sendiri." ucap Dara.


Ketika mereka ngobrol-ngobrol, tiba-tiba ada yang menyapa Dara. Seorang pemuda yang tak lain adalah Gazi, Raka juga kenal.


"Dara.,!"


"Gazi,! Kamu sama siapa?" tanya Dara.


"Kak Raka.?"


"Kok bisa kebetulan gini, ya.." jawab Gazi.


Akhirnya Gazi bergabung dengan mereka. Mereka akhirnya semakin akrab karena semuanya saling kenal. Cantik yang kini tiba-tiba jadi pendiem dan nggak sebawel tadi. Dia melirik kearah Gazi dan tersenyum.


"Oh iya, Gazi. Ini kenalin adiku Cantik. Ayo Dek, salim dulu sama teman Kakak. Kamu tadi belum sempat kenalan, kan.?" ucap Raka.


Akhirnya mereka berkenalan, dan kini obrolan mereka semakin akrab. Mereka bercanda dan tertawa bersama-sama.


"Oh iya, Kak. Saya harus balik dulu. Ini Bunda kirim pesan kalau ditunggu di depan apotik. Tadi, saya habis beli jagung bakar kesukaan Nenek. Lalu kok lihat Dara, makanya saya samperin." jelas Gazi.


"Oh iya, nggak apa-apa. Salam sama Bunda kamu, ya. Lain kali ita kumpul lagi. Itu tadi nomor aku, Zi. Jangan lupa telpon." ucap Raka.


Raka menatap Gazi saat dia meninggalkan tempat angkringan tersebut. Dia semakin merasa kalau dia itu dekat banget sama Gazi. Rasa peduli serta melindungi itu reflek dia lakukan. Seperti kalau lagi bersama Cantik, bawaannya ingin menjaga dan melindunginya.

__ADS_1


-------------------------------


Bersambung...


__ADS_2