BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 72 (Gara-gara "Seminar")


__ADS_3

Bu Ratih menarik nafas lega, karena Vanya dan Papanya sudah pergi. Sebenarnya dia nggak enak kalau menolak, Tapi, kalau nggak nolak takutnya Vanya salah faham. Karena dia selalu ingin mendekatkannya dengan Papanya.


Bu Ratih duduk di dekat pos satpam seperti biasa. Belum lama dia duduk, tiba-tiba ada mobil lewat depan dia lalu berhenti. Kemudian jendela dibuka dan ternyata si Farrel.


"Bu Ratih dijemput?" tanya Farrel.


"Enggak Rel, saya mau pesan Taxi." jawab Bu Ratih.


"Nggak usah pesan, Bu. Ayo bareng saya aja, Bu.!" seru Farrel.


"Nggak usah, ntar ngerepoti." jawab Bu Ratih.


"Udah, Bu. Ayo masuk aja. Daripada nunggu." teriak Farrel lagi.


Akhirnya Bu Ratih nggak bisa menolak, dan masuk mobil Farrel. Kemudian melajulah mobil Farrel dijalan raya.


"Bu Ratih, kenapa tadi pas Vanya tawari ikut mobilnya, kok nggak mau?" tanya Farrel.


"Lho.! emang kamu tahu, kalau Vanya tadi nawari saya?" tanya Bu Ratih balik.


"Ya tahulah, Bu. Kan tadi saya berdiri dekat mobil saya. Dan kebetulan mobil saya nggak jauh dari tempat Bu Ratih nunggu." jawab Farrel.


"Bu Ratih takut, Rel. Semenjak kenal saya, Vanya sedikit manja sama saya. Dan pernah iseng-iseng mau jodohin saya sama Papanya. Kan Bu Ratih sudah menikah." jawab Bu Ratih.


"Oh gitu ya, Bu. Tapi, kok Bu Ratih mau saya barengin?" tanya Farrel.


"Kamu maksa sih. Hehe, nggak kok Rel becanda. Ya kamu kan sudah kayak adik Ibu sendiri." jawab Bu Ratih.


"Iya juga ya, Bu." jawab Farrel.


"Iya Rel, kadang saya nggak enak sama Papanya Vanya. Eh, kok saya jadi curhat gini ya?" ucap Bu Ratih.


"Nggak apa-apa, Bu. Sama saya itu nyantai aja." sahut Farrel.


"Nanti saya turun diluar aja, ya. Sungkan soalnya dirumah mertua. Takut salah faham." ucap Bu Ratih.


"Siap Kakak.!"ucap Farrel.


"Kamu nih, ya bisa aja.!" jawab Bu Ratih.


Tak lama kemudian sampailah dirumah. Bu Ratih turun diujung jalan depan pagar. Kemudian Farrel melajukan mobilnya. Dan Bu Ratih masuk ke dalam rumahnya.


Bu Ratih mendapati suaminya lagi duduk di ruang tengah sedang nonton TV.


"Lho sayang, kamu naik apa?" tanya Gavin.


"Naik Taxi. Aku sengaja nggak nunggu Pak Narto dari kantor, biar bisa pulang cepat dan ketemu suamiku." ucap Bu Ratih.


"Hemm.., bisa aja kamu, sayang. Ya sudah, mandi dulu sana, gih!" seru Gavin.


Bu Ratih kemudian melangkah meninggalkan Gavin dan menuju kamarnya. Dia buru-buru mandi biar setelah itu bisa santai dengan suami tercinta.


Setelah setengah jam kemudian Bu Ratih selesai dan menuju ruang tengah dimana Gavin lagi duduk. Kini mereka bercengkerama berdua saja. Mama Papanya lagi ke rumah Mahendra.


(****)


"Sayang, hari ini aku ada Seminar. Jadi nggak ada jadwal ngajar." ucap Bu Ratih saat siap-siap mau berangkat.


Gavin yang masih rebahan diatas tempat tidur memperhatikan istrinya yang sibuk berias untuk Seminar.


"Iya, sayang. Kamu ke Seminar sama siapa.?" tanya Gavin.


"Sama anak magang, sayang. Dosen senior nggak ada yang mau, jadi anak magang disuruh nemaniku." jawab Bu Ratih.


Kemudian Gavin duduk di bibir tempat tidur, dan tetap memperhatikan istrinya.


"Oh ya sudah kalau gitu." jawab Gavin santai.


"Aku berangkat dulu ya," ucap Bu Ratih berjalan ke arah pintu.


"Sayang," seru Gavin sambil membentangkan tangannya minta dipeluk.


Bu Ratih menoleh, berlari, lalu memeluk dan mengecup bibir suaminya. "Sana mandi lalu sarapan."

__ADS_1


Gavin mengangguk, melepas istrinya pergi dengan senyum. "Hati-hati, sayang."


Bu Ratih meninggalkan Gavin sendirian di kamar. Dia menuju luar karena Taxi sudah menunggu.


"Pagi semua.," sapa Bu Ratih saat tiba dikampus saat diruangan Dosen.


"Bu Ratih hari ini Seminar, kan?" tanya Bu Silvi.


"Iya, Bu." jawab Bu Ratih.


Disaat mereka lagi ngobrol, Pak Anwar masuk ke ruangan Dosen.


"Bu Ratih, bisa ke ruangan saya sebentar.!" ucap Pak Anwar.


"Baik, Pak.!" jawab Bu Ratih seraya beranjak dari tempat duduknya.


Bu Ratih berjalan mengikuti Pak Anwar ke ruangannya. Setibanya diruangan, Farrel sudah datang dan duduk dimejanya.


"Pagi Bu Ratih," sapa Farrel ketika Bu Ratih memasuki ruangan itu.


"Pagi, juga Farrel. Kamu, rajin banget sudah datang.!" seru Bu Ratih.


"Iya Bu, dia rajin berangkat pagi karena lagi naksir salah satu Mahasiswi dikampus ini, Bu.!" celetuk Pak Anwar sembari melirik Farrel.


"Bohong, Bu. Pak Anwar bisa aja bikin gosip." jawab Farrel malu-malu.


"Beneran juga nggak apa-apa, Farrel." jawab Bu Ratih.


Farrel sedikit malu digodain Pak Anwar sama Bu Ratih. Wajahnya sedikit memerah.


"Oh, iya. Nanti jam sembilan Bu Ratih bisa berangkat bersama Farrel." ucap Pak Anwar.


"Baik, Pak." jawab Bu Ratih.


"Saya buatkan surat tugas untuk perwakilan kampus. Serta ada biaya transportnya." ucap Pak Anwar.


.


.


.


Bu Ratih dan Farrel masuk ke Gedung dimana Seminar itu diadakan. Setelah menandatangani buku tamu, mereka mencari tempat duduk yang kosong.


"Farrel,! kok masih banyak yang belum datang, ya. Apa kita memang datangnya lebih awal.?" bisik Bu Ratih.


"Iya, nih Bu. Sebenarnya dimulai jam berapa sih, kok masih segini yang datang." ucap Farrel.


"Kalau undangannya sih jam sepuluh. Sekarang jam sembilan lebih lima puluh menit. Sepuluh menit lagi dimulai, tapi, manusianya baru berapa ini.?" ucap Bu Ratih.


Mereka berdua menunggu Seminarnya dimulai sampai berkeringat. Padahal ruangan itu ada AC nya.


Bu Ratih melirik jam yang ada di tangannya. Jarum sudah menunjukan pukul sebelas. Seminarnya ini jadi apa nggak sih. Bathin Bu Ratih.


"Bu, ayo balik aja deh. Kita disini hampir sejam nunggu tapi, belum di mulai juga." ucap Farrel sedikit kecewa.


"Iya, nih. Sebenarnya jadi apa nggak sih! kalau nggak jadi, kita kan bisa balik ke kampus." gerutu Bu Ratih.


"Bu, kita tunggu setengah jam lagi kalau masih belum dimulai, mendingan kita balik saja." ucap Farrel.


"Tapi, apa sama pihak kampus kita nggak kena tegur nantinya. Dikira kita nggak becus ikuti Seminar." tanya Bu Ratih.


"Nggak lah, Bu. Sekarang sampai jam segini belum dimulai juga. Lagian ini juga Seminar biasa, Bu." ujar Farrel.


"Iya, juga sih. Ya sudah kita tunggu sampai jam dua belas. Kalau masih aja belum dimulai, kita balik." ucap Bu Ratih.


"Baiklah, Bu.!" Jawab Farrel.


Kemudian keduanya diam dan sibuk dengan ponselnya masing-masing. Kini Bu Ratih sudah mulai bosan dan capek, keringat juga sudah mulai membasahi tubuhnya.


Undangan yang dari tadi digenggamnya kini mulai dibuat kipas. Farrel yang melihat tingkah Bu Ratih yang sudah menunjukan rasa bosan, tersenyum dengan mulutnya ditutupi telapak tangannya.


"Kenapa,! kamu meledek saya?" ucap Bu Ratih.

__ADS_1


"Siapa yang meledek sih, Bu. Farrel ketawa lantaran Bu Ratih sudah mulai jenuh dan bosan." ucap Farrel.


"Iya, juga sih. Tapi, sekarang masih pukul setengah dua belas. Nanggung, sekalian jam dua belas aja." jawab Bu Ratih.


"Okey Bu." jawab Farrel.


Farrel akhirnya menghubungi Pak Anwar untuk meminta pertimbangan soal Seminar ini. Kalau memang nggak apa-apa untuk ditinggal, mending balik saja. Dan Pak Anwar membolehkan untuk balik.


Setelah jam dua belas pas, mereka memutuskan untuk balik ke kampus. Tapi, sebelum balik Farrel mengajak Bu Ratih untuk makan siang dulu. Mereka berdua kelaparan.


Farrel membelokan mobilnya ke rumah makan padang yang ada disekitaran tempat Seminar tadi.


Masuklah Bu Ratih diikuti Farrel dibelakangnya. Bu Ratih lalu memesan dua porsi dan minum es teh manis dua gelas.


"Bu, dari tadi kesini kan enak." celetuk Farrel.


"Itu maunya kamu aja, Rel." jawab Bu Ratih.


Seketika ponsel Farrel berdering. Dia berdiri lalu menjauh dari Bu Ratih untuk mengangkat telpon. Setelah sekitar sepuluh menitan, Farrel kembali ke meja nya.


"Siapa yang telpon, Rel?" tanya Bu Ratih.


Farrel mencoba membetulkan duduknya, kini lebih menghadap Bu Ratih.


"Itu tadi Kakek Farrel, Bu. Sejak orang tua saya pisah, saya lebih senang ikut Kakek. Karena Ayah nggak tahu kemana." jawab Farrel.


"Lalu, Ibu kamu kemana?" tanya Bu Ratih.


"Ibu pergi sama Kakak saya nggak tahu kemana, karena seingat Farrel saat itu saya masih kecil. Saya sepuluh tahun, kalau Kakak saya lima belas tahun." jelas Farrel.


"Oh lama juga, ya. Sekarang aja usia kamu dua tiga. Berarti tiga belas tahun yang lalu." jawab Bu Ratih.


"Ya gitulah, Bu. Sekarang saya ikut bantu usaha Kakek. Dia punya usaha toko furniture. Sudah ada beberapa cabang di kota lain." jawab Farrel.


"Hmm.., bagus itu Rel. Nantinya kamu yang akan meneruskan usaha Kakekmu." ucap Bu Ratih.


"Iya, Bu. Karena Ayah saya anak tunggal. Kakek hanya punya cucu dari Ayah saja. Kakek sudah benci sama Ayah, karena tabiat Ayah yang nggak patut dicontoh." jelas Gavin.


"Apa kamu nggak pingin ketemu Ibu dan Kakak kamu?" tanya Bu Ratih.


"Sebenarnya pingin Bu, tapi, mau cari dimana. Foto aja nggak punya. Tapi, misal kalau ketemu gitu mungkin sedikit bisa mengenali." jawab Bu Ratih.


Akhirnya pesanan datang juga. Farrel seketika terdiam ketika melihat makanan yang tersaji dimeja.


Bu Ratih melihat keanehan dari sikap Farrel ketika melihat menu masakan padang ini. Seolah sengaja untuk mengingat sesuatu.


"Farrel, ayo dimakan. Nanti nasinya keburu nggak enak." ucap Bu Ratih.


"Saya jadi ingat saat keluarga masih utuh, Bu. Ibu saya kan buka depot seperti ini, Kakak saya juga suka memasak. Jadi bisa membantu Ibu." jawab Farrel.


"Oh jadi Kakak kamu cewek?" tanya Bu Ratih.


"Iya, Bu. Kakak saya cewek. Dia suka sekali memasak." jawab Farrel.


"Ya sudah, makan dulu. Nanti dilanjut ngobrolnya." jawab Bu Ratih.


Mereka kemudian menikmati makan siang dengan lahapnya.


"Jadi ingat sama Kak Irene..!" seru Farrel.


"Uhuk..uhuk..!" seketika Bu Ratih kesedak gara-gara Farrel menyebut nama "Irene".


Farrel lalu membantunya untuk mengambilkan minuman. Setelah dirasa baik, Bu Ratih menarik nafas panjang.


"Siapa nama Kakak dan Ibu kamu?" tanya Bu Ratih.


"Nama Kakak saya Irene anastasia. Dan Ibu saya bernama Retno." jawab Farrel.


"Apa,!


-----------------------------------


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2