
Selamat membaca kesayangannya Yumna dan David.
🌹🌹 Love U All 🌹🌹
"Mas, kamu nggak apa-apa kan? mana yang sakit?" tanya Yumna dengan khawatir yang sangat terlihat.
Namun, David tidak menjawab dia masih meringis, menahan sakit di kepalanya.
Tak berselang lama, Brian sudah datang bersama Dokter.
"Dok, suami saya..."
"Iya, biar saya periksa pasien dulu, kalian tunggu diluar ya!" potong Dokter tersebut saat Yumna ingin menjelaskan soal David.
Yumna sempat menolak, tapi Ajeng menggandeng lengannya dan tersenyum. Lalu mereka pun menunggu di depan kamar rawat inap David.
Yumna menunggu dengan gelisah, sesekali dia mendongak menatap pintu kamar David.
Setelah menunggu beberapa saat, Dokter tersebut pun keluar, Yumna langsung menghampirinya.
"Dok, suami sayang gimana, dia nggak apa-apa kan?" tanya Yumna dengan khawatir.
"Pasien, tidak apa-apa, dia hanya merasa nyeri di bekas jahitan." Dokter itu menjawab.
"Tapi, Dok, suami saya tidak mengingat saya," ucap Yumna membuat Dokter itu mengkerutkan kening.
"Maksud, Mbak bagaimana?" tanya Dokter itu.
"Dia tidak mengingat saya, seperti lupa ingatan gitu, Dok." Yumna menjelaskan kondisi David.
"Tapi, sepertinya pasien tidak mengalami hal yang hebat," jawab Dokter itu.
Yumna menoleh pada Ajeng, Panji, dan Brian yang juga sedang menatap Dokter tersebut dengan bingung.
"Ada yang ingin ditanyakan lagi?" tanya Dokter itu, dan Yumna langsung menggeleng.
"Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit sang Dokter lalu di jawab anggukan oleh semua keluarga Wijaya termasuk Yumna.
__ADS_1
Setelah Dokter tersebut pergi, Panji, Ajeng, dan Brian melangkah masuk ke dalam ruang rawat inap. Kecuali Yumna, dia masih berdiri di depan pintu.
Brian yang menyadari Yumna tidak ikut masuk, langsung menarik tangan Kaka iparnya tersebut.
"Yan, aku gak mau masuk," tolak Yumna tapi Brian tetap membawa masuk Yumna.
Mata Yumna dan David bersitatap tapi David langsung memalingkan wajahnya dari Yumna.
Hal itu membuat hati Yumna terasa sesak, air matanya mulai menganak di pelupuk matanya. Namun, ia tahan agar tidak keluar sekarang.
Yumna berjalan ke sofa dengan lesu kemudian dia mendudukkan tubuhnya di sana, Brian yang ada di samping Yumna merasa prihatin pada Kaka iparnya tersebut.
Dia duduk di samping Yumna. "Sabar, ya Kaka ipar, nanti kita cari obat buat, Mas David, biar cepet sembuh," ucap Brian. Yumna hanya tersenyum sebagai jawaban.
Saat Yumna tengah asik menatap David yang asik mengobrol dengan kedua orang tuanya. Tiba-tiba ponsel Yumna berdering, dia mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan telpon tersebut.
"Hallo, iya, Pah?" ucap Yumna David langsung menoleh dan menatapnya.
📞"Sayang, bagaimana keadaan, David?" tanya Indra di sebrang sana membuat Yumna langsung menoleh pada David, dan mata mereka pun bersitatap.
📞"Syukurlah, apa David sudah sadar?"
"Sudah." jawab Yumna singkat karena dia tidak sanggup menceritakan apa yang terjadi pada Papahnya itu.
📞"Kamu, kenapa sayang? nggak ada masalah apa-apa kan?"
"Nggak, Pah, semuanya baik-baik aja, aku cuma lagi pusing aja."
📞"Yaudah, kalau gitu setelah makan siang, Papah, kesana deh."
"Iya, Pah, kalau gitu udah dulu ya, Pah." Setelah mengatakan itu Yumna mematikan sambungan telponnya.
"Kalau pusing, atau nggak enak badan, pulanglah! tidur dan istirahat," ucap David membuat mata Yumna membola.
"David, nggak boleh ngomong gitu." Ajeng menasehati David, sedangkan Yumna hanya diam.
"Kalian ngapain duduk berdua disana?" tanya David dengan tatapan dinginnya.
__ADS_1
Yumna mengkerutkan kening, lalu dia menoleh pada Brian. Namun, adik iparnya itu hanya angkat bahu tanda bahwa dia juga tidak mengerti apapun.
"Sini!" David memanggil Yumna agar mendekat.
Yumna beranjak dari duduknya dan dengan perlahan dia mendekati David.
"Ada apa, Mas?" tanya Yumna sembari menundukkan kepalanya.
David tersenyum dan merentangkan kedua tangannya, Yumna yang berdiri disana merasa bingung. Begitu juga Ajeng, Panji dan Brian, mereka juga terlihat bingung.
"Kok, diem aja sih?" tanya David pada Yumna.
"Maksud, Mas apa?" Yumna bertanya karena dia tidak mengerti maksud David.
"Peluk dong suamimu ini!" ucap David membuat semua yang ada disana membulatkan matanya.
Lalu dengan air mata yang mulai mengalir deras, Yumna menghambur kedalam pelukan David.
"Ssssttt, jangan nangis dong, aku cuma bercanda doang. Kepalaku emang pusing tadi tapi aku nggak apa-apa kok," ucap David sambil mengelus punggung Yumna lembut.
"Selamat ulang tahun cantikku,'' ucap David.
Yumna melepaskan pelukannya dan memukuli pundak David pelan. "Mas, jahat, nggak berperasaan, aku benci sama kamu, aku mau marah," kesal Yumna lalu kembali memeluk David.
Panji, Brian dan Ajeng tertawa melihat David yang mengerjai istrinya itu.
"Kok kamu marah, aku kan ngasih kejutan doang sama kamu."
"Kejutannya nggak lucu," ketus Yumna sambil mengeratkan pelukannya pada David.
BERSAMBUNG.
hai ka 👋 jangan lupa tinggalkan like and komennya ya 🙏 kalau kalian mau ngasih bunga atau love juga monggo dengan senang hati aku menerimanya 🥰
aku udah up dua bab ya hari ini.
yang satunya tunggu aja ya 🙏
__ADS_1