
"Aww," ringis Fathan sambil memegangi keningnya.
Saat Fathan menabrak pintu wanita yang sedang diatas balkon itu menoleh ke bawah dan melihat ke arah Fathan.
"itu bukannya laki-laki yang waktu itu," gumam Nia. Dia langsung mempertajam penglihatannya, dan matanya terbelalak saat dia yakin kalau laki-laki itu adalah orang yang sama, 'aduh jangan sampe dia liat aku,' batin Nia kemudian dia langsung berlari masuk ke dalam kamar Ayarra.
Bayu yang belum jauh dari pintu langsung berbalik arah saat mendengar suara benturan pintu.
"Fathan, kamu ngapain di sini?" Bayu bertanya pada Fathan yang masih mengelus keningnya.
"Eeemm ... anu Pak, saya mau bertanya---." Fathan melirik lagi ke atas balkon, dan ternyata wanita yang tadi dia lihat sudah tidak ada di sana.
"Tanya apa Fathan?" Bayu kembali bertanya pada Fathan, karena laki-laki itu malah diam saja.
"Eh itu Pak, besok jemput jam berapa ya?" jawab Fathan.
Dia berpura-pura bertanya soal keberangkatan mereka besok, karena dia tidak mungkin bertanya siapa wanita yang ada diatas balkon itu.
"Mungkin jam 6, makannya nanti kalau udah sampai rumah, langsung tidur! lumayan masih ada 3 jam sampai ke jam 6," pesan Bayu.
"Baik Pak, kalau gitu saya permisi dulu." Setelah mengatakan itu Fathan langsung berputar arah dan berjalan menuju mobil yang terparkir di depan gerbang.
Sesekali Fathan melirik pada balkon di mana Nia berdiri tadi, Nia yang ingin mengintip langsung bersembunyi di balik gordayn saat melihat Fathan sedang berbincang dengan Bayu dan melihat ke arahnya.
'kalau bener dia laki-laki yang waktu itu, ngapain dia bisa ada di sini?' batin Nia.
Nia kembali mengintip dan dia merasa sangat lega saat melihat Fathan sudah masuk ke dalam mobil.
"Syukurlah dia udah pergi, hampir aja ketauan ... eh tunggu, yang tadi dia bawa itu mobil om Bayu kan? Astaga apa om Bayu, kenal sama cowok itu?" Nia bergumam dan bertanya-tanya sendiri.
"Tapi kenapa baru kali ini aku liat cowok itu di sini? Kayaknya mulai sekarang aku harus hati-hati kalau mau ke sini, aku takut ketemu cowok itu sebelum menikah. Nanti yang ada nggak jadi nikah," gumam Nia.
"Nia, kamu ngapain di situ?" tanya Ayarra yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Eh, nggak apa-apa, aku lagi cari angin aja tadi," jawab Nia.
Ayarra melirik pada jam di dinding, ini sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. "Ini kan udah jam 3 pagi. Ngapain cari angin, tutup balkonnya dan cepet tidur," perintah Ayarra.
Nia mengangguk, kemudian dia menutup pintu dan jendela kamar Ayarra, lalu dia langsung merebahkan tubuhnya di sebelah Ayarra.
Ayarra sempat mencari ponselnya yang tadi dia letakkan diatas nakas. "Kamu liat ponsel aku nggak?" tanya Ayarra sambil bangkit dan merogoh laci nakas tersebut.
Nia yang baru saja memainkan ponsel Ayarra langsung berpura-pura mencari ponsel Ayarra dan meletakkannya di bawah bantal.
"Emang tadi kamu taro di mana?" Nia pura-pura bertanya.
"Tadi aku taro di sini, tapi kok nggak ada ya," jawab Ayarra.
"Kamu yakin nggak lupa soalnya kan kamu pelupa," kata Nia.
__ADS_1
"Nih ini apa, orang ponselnya ada di bawah bantal kamu kok." Nia berpura-pura menemukan ponselnya di bawah bantal.
"Astaga, perasaan tadi aku taro di atas nakas deh, kok ponselnya mati?" gumam Ayarra.
"Lowbet kali, sini aku cas dulu." Nia mengambil ponsel Ayarra dan mengecasnya.
Dia tidak mau kalau sampai Ayarra tau jika ponselnya tidak lowbet. "Yaudah tidur yuk! Besok kita kan sekolah," ajak Nia dan Ayarra pun mengangguk.
Nia tersenyum penuh arti saat melihat Ayarra tidur dengan membelakanginya.
'maafin aku Ay, ini bukan salah cinta, karena cinta memang tidak pernah salah,' batin Nia sambil mencoba memejamkan matanya. Namun, mengingat laki-laki tadi Nia menjadi gelisah.
'aku harus secepatnya memberitahukan ke mamah dan papah, kalau aku hamil. Biar mereka bisa secepatnya minta pertanggung jawaban dari Arka, sebelum laki-laki itu nemuin aku,' batin Nia kembali.
Dia takut jika ditunda lagi maka niat yang sudah dia susun ini menjadi kacau balau. Tentu saja Nia tidak mau itu terjadi.
***
Keesokan paginya.
Pagi-pagi sekali Fathan sudah tiba di rumah Bayu. Dia sengaja datang lebih awal untuk mencari tau soal si wanita itu. Fathan jadi mengira jika wanita itu adalah anak Bayu.
Fathan sudah tau jika Bayu memiliki satu anak perempuan, tapi selama ini dia belum pernah bertemu dengan anak dari bosnya itu, dan sekarang dia dibuat bingung apakah wanita itu betul-betul anak bosnya atau bukan.
Fathan memang orang sederhana dan dia pun di kota ini tinggal seorang diri, karena kedua orang tuanya memang sudah tiada sejak dia kecil. Dia hanya dibesarkan oleh panti asuhan yang letaknya tidak jauh dari tempatnya tinggal. Namun, rasa ingin tanggung jawab atas apa yang dia perbuat sangatlah besar.
Dia akan bertanggung jawab apa pun resiko yang akan dia terima nanti.
"Pagi Pak," sapa Fathan sambil melirik Ayarra.
'apa dia wanita yang itu, sepertinya bukan, tapi bagaimana bisa aku yakin kalau bukan dia si wanita itu, sedangkan aku sendiri lupa-lupa ingat,' batin Fathan.
"Rapatnya masih setengah jam lagi dan kamu udah sampai sini, astaga apa kamu nggak tidur?kata Bayu.
"Saya takut kesiangan Pak," jawab Fathan.
"Ha-ha-ha, kamu ada-ada aja, oh iya. Kenalin ini anak saya, namanya Ayarra. Ayarra, kenalin dia asisten baru papah, tapi dia memang selalu kaku seperti ini." Bayu memperkenalkan Ayarra pada Fathan.
"Hallo Non, nama saya Fathan." Fathan mengulurkan tangannya pada Ayarra.
Ayarra menerima uluran tangan Fathan sambil tersenyum. "Ayarra, jangan panggil non, panggil aja Ayarra," ucap Ayarra.
"Baik non, eh maksud saya Ayarra," jawab Fathan.
"Yaudah kalau gitu masuk dulu yuk! Kamu ngopi-ngopi dulu di dalam, sambil nunggu saya bersiap," ajak Bayu.
Lalu mereka pun masuk ke dalam. "Silakan duduk, jangan sungkan anggap aja rumah sendiri, saya mau mandi dan bersiap dulu." Bayu mempersilakan Fathan untuk duduk.
"Mbak Lia ...," panggil Bayu pada salah satu asisten rumah tangga.
__ADS_1
"Iya Tuan?"
"Tolong bawakan kopi dan beberapa camilan ya," kata Bayu dan setelah mengatakan itu dia langsung pergi menuju kamarnya.
Sementara Ayarra duduk di sofa yang tidak jauh dari Fathan, karena dia sangat kelelahan setelah berlarian hampir dua puluh menit bersama Bayu.
"Non, eh maksud saya Ayarra," panggil Fathan saat dia hanya berdua bersama Ayarra.
"Iya?" Ayarra menoleh ke Fathan.
"Apa kamu pernah ke club' xxx?" tanya Fathan dengan sangat hati-hati. Dia tidak mau menyinggung Ayarra.
Takut-takut jika wanita itu bukanlah Ayarra.
"Maksudnya gimana? Club xxx ap---."
"Sayang," pangil Arka memotong ucapan Ayarra.
Arka menatap bingung ke arah Fathan, matanya mengamati Fathan dari atas sampai bawah.
"Arka, bukannya janjiannya jam 6 ya?" tanya Ayarra, membuat Arka menoleh padanya.
"Iya, tapi karena kamu nggak telepon aku semalam, jadinya aku putuskan untuk datang lebih cepat, kamu dari mana pake baju tipis kaya gitu?" Jawab sekaligus tanya Arka.
"Aku habis joging sama papah," jawab Ayarra.
Arka berjalan mendekati Ayarra kemudian duduk di sampingnya. "Dia siapa?" Arka bertanya dengan berbisik.
"Dia asisten baru papah."
"Muda banget," sungut Arka sambil melirik pada Fathan.
Sementara Fathan hanya bisa diam sambil mengamati keduanya. "Yaudah aku bersiap dulu deh, kamu tunggu sebentar ya." Ayarra bangkit dari duduknya dan berlalu.
Kini tersisah Arka dan Fathan, keduanya sama-sama memberikan tatapan bingung serta ketidaksukaan dari Arka.
Tak berselang lama Mbak Lia yang di suruh menyiapkan kopi dan Snack pun datang.
Mbak Lia meletakkan kopi dan Snack itu di meja depan Fathan dan mempersilakan Fathan untuk minum. "Silakan diminum Mas!"
"Iya makasih Mbak," jawab Fathan.
"Udah lama Mas, apa Mas Arka mau kopi?" tawar Mbak Lia pada Arka.
Orang-orang rumah Bayu memang sudah sangat mengenal Arka, dari setatusnya yang dulu sebagai ponakan hingga sekarang dia adalah calon menantu di rumah ini.
"Nggak usah Mbak, makasih," tolak Arka.
Mbak Lia tersenyum kemudian dia pun pamit kembali ke belakang.
__ADS_1
'gimana aku mau bertanya kalau ada orang begini,' batin Fathan.
BERSAMBUNG...