
Pesawat mendarat dengan selamat dan tepat waktu,seluruh penumpang turun,terlihat pemandangan sangat ramai oleh penumpang yang turun dan yang akan terbang lagi.
Orang orang yang mengantar dan menjemput keluarga dan sahabat juga berlalu lalang di sekitar khusus yang sudah di sediakan.
Rombongan Dahlia memesan taksi online menuju LP tempat Adam mendapat kurungan.
"Kak Lia,kita langsung ke tempat Mas Adam atau mampir ke resto dulu ?" Tanya Bagas.
"Aku ikut apa kata kalian saja "Dahlia datar.
"Kalau kita lagi ke resto nanti ribet bawa barang sebanyak ini ," Al mengangkat beberapa paper bag yang berisikan makanan siap saji dan beberapa cemilan untuk Adam.
"Langsung saja kalau begitu," Bagas menyebutkan lokasi tujuan mereka pada sopir.
Tiga puluh menit,Mereka sudah tiba di depan kantor LP, Bagas mengisi buku laporan kunjungan untuk Adam.
Petugas mengantar mereka ke tempat khusus pengunjung LP,
"Silakan duduk menunggu,kami akan panggilkan saudara Adam." Jantung Dahlia berdetak kencang,andai tidak ada suara berisik kipas angin dari berbagai sudut,mungkin mereka yang berada di ruangan tersebut akan mendengar bunyi detak jantung Dahlia.
Tap! tap ! tap! terdengar derap sepatu dari arah ruangan khusus penghuni LP.
Dahlia membuka botol minum meneguknya hingga separuh.
"Mama haus ya " Hampir saja Dahlia tersedak sisa air yang masih tertampung di dalam mulutnya.
Aku haus, mungkin iya , yang jelas aku seperti kontestan yang akan segera bertanding.
"Cuacanya panas" Dahlia mengibas tangannya.
"Kipas angin di sini ada empat ma,kenapa mama bisa panas," Tanya Al polos.
Dahlia mengurungkan niatnya menjawab pertanyaan Al,dia memposisikan dirinya miring menghadap samping setelah melihat Adam keluar dengan pakaian oranye.
"Papaaaa...."Al langsung menghambur memeluk papanya.
"Papa tidak di borgol lagi seperti pertama dan kedua Al ke sini?" Adam masih memeluk putranya,malu sedih, rindu,bersalah bercampur menjadi satu rasa.
Apa aku masih pantas menjadi papa mu Nak
"Papa tidak rindu Al,? kenapa dari tadi diam ? Apa papa marah sama Al" Wajah polos Al menatap papanya.
Adam memeluk putranya makin erat
"Papa tidak marah,papa bingung harus bicara apa saking senangnya melihat kamu datang," Adam mengecup kening putranya.
"Pa,Al bawakan ini untuk papa," meraih satu paper bag mengambil isinya, "Sebentar ya pa,Al buka untuk papa" membuka satu buah kulit jeruk.
"Buka mulutnya pa," Titah Al,Adam patuh membuka mulutnya mengunyah jeruk yang di suap oleh putranya.
Hatinya semakin teriris,Adam menangis tidak peduli dengan pengunjung yang lain melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Maafkan papa Nak, maaf kan papa " Suara Adam terisak,Maya dan Bagas menjadi terharu melihat momen ayah dan anak tersebut.
"Mas,.... minum dulu..." Bagas mendekati menyentuh pundak Adam.
Adam meneguk air yang di berikan adiknya Bagas,
"Lia...." Suara Adam lirih ingin dirinya berlari memeluk mantan istrinya,
"Maaf Lia,aku gagal dalam segalanya.." Dahlia memalingkan wajahnya menyembunyikan mata yang tergenang oleh air yang hampir tiap malam mengalir dari sudut matanya.
"May,aku ke toilet dulu ya...." Dahlia berlari ke toilet tanpa menunggu jawaban dari Maya.
Di sana dia menumpahkan air yang sudah tergenang,
Mengapa mataku harus menangis,aku pemilik mata,kenapa kamu mengkhianati ku,wahai hati sudah aku katakan jangan bersedih,kenapa kalian semua mengkhianati aku yang berkuasa atas mu
Dahlia berkata dalam hati di antara isak tangisnya.
Sementara di ruang besuk,Adam menatap nanar kepergian Dahlia menuju toilet.
Sesakit ini kah hati ku melihat mu pergi meninggalkan Aku Lia, Tidak ada kah secuil celah maaf mu untuk ku,
Adam terus mengusap rambut putranya dengan lembut.
"Apakah Dahlia sangat membenci ku May," Adam tahu jika Maya dan Dahlia sangat akrab,
"Mama tidak pernah bilang kalau mama membenci papa" Maya kalah cepat dari Al menjawab pertanyaan Adam.
"He,,em " Al memainkan telunjuknya di kulit lengan Adam.
"Papa kapan pulang,nanti kalau papa pulang langsung ke toko mama saja Pa,nanti Al sama Om bagas menyusul dari kampung,iya kan Om " Al menoleh Bagas,anggukkan kecil dari kepalanya,dirinya juga tidak mau melukai hati keponakannya itu.
Papa sudah tidak berarti lagi Nak,Papa mu sudah tidak pantas untuk kembali pada Mama mu
"Gas, bagaimana keadaan ibu," Adam mengalihkan pembicaraan dari anaknya.
Hatinya semakin tertusuk juka mendengar setiap kata yang keluar dari mulut anaknya.
"Ibu baik Mas,sudah jarang sakit,Ibu tidak ikut karena tidak mampu numpang mobil,"
Jawab Bagas.
"Waktunya sudah habis,mari saudara Adam kembali ke bilik anda" Adam tidak bisa berbuat apa apa melihat anaknya yang menangis meronta tidak rela melepas pelukannya.
Maya dan Bagas memeluk Al secara bersama,menenangkan keponakan mereka.
Dahlia yang mengintip dari arah toilet tidak mampu menahan kesedihannya.
Dia berlari memeluk putranya.
"Nak, kamu anak laki laki harus kuat dan tegar,tidak boleh cengeng,kamu adalah perisai mama kelak," Dahlia menghibur putranya,sementara hatinya juga terluka melihat anaknya terus menerus memanggil papanya.
__ADS_1
"Al masih kangen papa Ma, kenapa Om polisi jahat,tidak memberi waktu sedikit lagi untuk Al melepas rindu dengan papa?"
Ibu mana yang tidak akan menangis kalau sudah melihat anaknya seperti itu,Dahlia menarik napasnya mencari udara baru untuk kekuatan hatinya.
"Kita pulang sekarang ya,.... kalau om Bagas sudah punya waktu kita akan ke sini lagi jenguk papa" Hanya itu kalimat yang bisa Dahlia keluarkan untuk menghibur putranya.
"Al belum mau pulang ma! Om polisi tolong saya om polisi saya masih ingin peluk papa sebentar saja,tolong Om ," Al mengiba dengan salah seorang penjaga.
Salah seorang polisi wanita terenyuh melihat kejadian tersebut,diam diam polwan itu melapor dengan komandan mereka.
"Antar anak ini pada papanya " Suara bariton lembut dan tegas membuat Al menengadah melihat wajahnya.
"Benarkah Pak polisi,Al boleh peluk papa Al sebentar saja? " Al mendekati komandan yang memberi titah.
Komandan mereka menganggukkan kepalanya,Al di antar oleh petugas menuju bilik Adam.
Dahlia mengikuti dari belakang berjaga jaga jika Al meronta tidak mau melepas pelukannya lagi.
Adam tersandar di tembok,menjambak rambutnya,lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
Rasa ingin mati saja daripada aku terus menerus menyiksa darah daging ku sendiri dengan posisiku seperti ini.
Adam frustasi masih terasa hangat jari jari mungil tangan anaknya bermain di lengan dan wajahnya.
"Papa" Adam masih tertunduk,menganggap panggilan Al hanya sebuah halusinasi.
"Papa, Al mau peluk papa sebentar saja Pa,Al mau pulang bersama Mama aunty Maya dan Om Bagas" Adam belum berani mengangkat kepalanya, dirinya terisak.
"Mas Adam" Suara Dahlia pelan,perlahan Adam mengangkat kepalanya,di lihat tiga orang polisi datang bersama anaknya dan mantan istrinya.
"Mengapa kamu muncul di halusinasi ku Lia,tahu kah kamu aku lebih tersiksa dengan rasa rindu rasa bersalah ku padamu di banding aku harus mendekam seumur hidup ku di sini " Adam masih belum yakin dengan penglihatannya.
"Eh,kamu tidak mimpi bego !" Tambun menepuk kepala botak Adam.
"Benarkah ini...." Adam mengucek matanya meyakinkan jika mereka yang berdiri tidak menghilang.
"Papa...."Al lirih mengulurkan tangannya dari antara besi besi pembatas dirinya dan Papanya.
Adam juga melakukan hal yang sama,di usapnya lembut rambut anaknya.
Seorang polwan mengabadikan momen tersebut,dan mengunggahnya di akun instagramnya.
\*\*Hai sahabat pembaca setia Bukan Menantu Pilihan,
Dukung terus author ya,beri like dan komen biar author tambah semangat
__ADS_1
Beri vote juga,terima kasih sahabat baca ku 😊😊\*\*