Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
chapter 146


__ADS_3

"Mampir dulu yuk!" Ayarra menawari Arka untuk mampir ke rumahnya.


"Nggak dulu deh sayang, aku mau istirahat cepet, ini udah malam. Besok juga aku masih ada tugas di kampus," tolak Arka.


Sebenarnya dia masih sangat merindukan berduaan dengan Ayarra, tapi tugasnya besok pagi membuat dia mau tidak mau harus istirahat lebih awal.


Agar tidak kesiangan, karena tugasnya ini harus sudah selesai besok.


"Tugas kamu belum selesai? emang acaranya kapan?" tanya Ayarra.


"Hari minggu, besok harus finishing." Arka menjawab seraya membelai rambut Ayarra.


"Yaudah, kalau gitu aku pulang dulu ya," pamit Arka.


"Ok, hati-hati ya sayang," pesan Ayarra keceplosan.


Saat tersadar dengan ucapannya yang memanggil Arka sayang. Ayarra langsung menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.


"Apa tadi?"


"Nggak ada," jawab Ayarra.


"Coba panggil sayang sekali lagi!" pinta Arka.


"Nggak ... Udah sana! tadi katanya mau istirahat cepet." Ayarra mengusir Arka.


"Ah, panggil aku sayang dulu kaya tadi, kalau nggak. Yaudah aku nggak mau pulang," rayu Arka.


"Yaudah kalau gitu aku yang masuk." Ayarra membuka pintu gerbang rumahnya dan langsung masuk ke dalam.


Meninggalkan Arka yang masih duduk diatas motor sambil menatapnya penuh cinta, sebelum menutup kembali gerbang itu, Ayarra sempat melirik Arka, dan Arka melambaikan tangan padanya.


Hal itu membuat Ayarra kembali tersipu, dan langsung menutup pintu gerbang itu.

__ADS_1


Sementara Arka terkekeh melihat tingkah kekasihnya itu, Ayarra memang belum pernah memanggilnya dengan panggilan sayang.


Melihat Ayarra yang sudah memasuki rumahnya, Arka pun langsung melajukan motornya meninggalkan rumah Ayarra.


****


Sesampainya di rumah Arka langsung di sambut dengan beberapa pertanyaan dari Yumna, yang sedang menunggunya di ruang tamu.


"Dari mana bang? ini udah malam banget lho, nggak tau apa Mamah, khawatir," ketus Yumna sambil bersedekap da*da.


"Aku tadi dari kampus Mah, terus nganterin Ayarra, dulu." Arka menjawab sambil menundukkan kepalanya.


Arka memang sangat takut jika Yumna sudah marah, apa lagi David tidak ada di ruang tamu. Sehingga tidak ada yang akan membelanya dari kemarahan atau pertanyaan dari Yumna.


Aneh memang seharusnya setiap anak akan takut pada seorang papah, dan akan meminta perlindungan pada ibuknya.


Akan tetapi itu tidak berlaku pada Arka dan Alexa, jangankan mereka, David pun tidak akan berkutik jika Yumna sudah marah.


"Tadi ... Arka, main dulu Mah, ke pantai," jawab Arka.


"Astaga, malam-malam begini kamu ajak Ayarra, ke pantai bang? Kalau dia masuk angin gimana?" bentak Yumna.


"Bentar doang kok Mah, lagian bukannya masuk angin dia malah seneng kali, kan aku kasih kejutan," jawab Arka dengan suara yang semakin pelan hingga nyaris tak terdengar oleh Yumna.


"Hah? apa?"


"Eh, enggak Mah, nggak jadi."


"Yaudah sana masuk, ganti bajunya bersih-bersih terus tidur. Ini udah malam," perintah Yumna.


"Iya Mah, makasih ya." Arka memeluk tubuh Yumna sekilas kemudian dia pergi meninggalkan Yumna yang masih berdiri di sana.


Melihat anaknya yang menaiki tangga. Yumna hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia merasa waktu begitu cepat berlalu.

__ADS_1


Tak terasa kini kedua anaknya sudah tumbuh dewasa, bahkan bisa dikatakan sebentar lagi dia akan mempunyai menantu.


'persaaan baru kemaren kalian lahir, sekarang kalian sudah tumbuh dewasa,' batin Yumna.


***


Arka tidak langsung pergi ke kamarnya, dia berjalan menuju kamar Alexa lebih dulu, untuk memberikan cokelat pesanan adik kesayangannya itu.


"Ale, ini cokelat pesanan kamu." Tanpa mengetuk lebih dulu Arka langsung masuk ke dalam kamar Alexa.


Saat Arka melangkah masuk, dia terkejut saat melihat Nia yang sedang berdiri membelakanginya dengan hanya berbalutkan handuk.


Nia baru saja selesai membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena dia memang belum mandi. Arka langsung memutar kembali tubuhnya, berniat untuk kembali.


Akan tetapi panggilan Alexa yang baru saja keluar dari kamar mandi menghentikan langkahnya. "Abang," panggil Alexa membuat Nia ikut menoleh pada kebelakang.


"Abang ngapain ke sini?" tanya Alexa.


"Ini, Abang, mau nganterin pesanan kamu." Arka menjawab sambil menyodorkan plastik berisi cokelat itu ada Alexa tanpa menoleh sedikitpun.


"Wah, makasih Abangku, sayang." Alexa menerima coklat tersebut dengan senang hati.


"Iya sama-sama, yaudah Abang, ke kamar dulu ya, jangan lupa kunci pintunya," jawab Arka, kemudian dia melangkah pergi meninggalkan kamar Alexa.


Alexa menutup dan mengunci pintu kamarnya kemudian duduk di tepian kasur. "Kamu mau coklat?" tawar Alexa yang dijawab gelengan oleh Nia.


"Jangan kaget gitu, dia nggak akan liat kamu, buktinya dia mau balik lagi dan nggak noleh kebelakang," sambung Alexa.


Alexa pikir Nia diam karena takut jika Arka melihatnya, padahal Nia tidak berpikiran seperti itu.


Dia justru merasa sangat bangga dengan sikap Arka, yang memberikan coklat tersebut tanpa mau menoleh padanya. Jarang kan ada laki-laki yang seperti itu.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2