
Dokter keluar dari ruangan di mana ibu nani di rawat Adam yang dari tadi gelisah langsung menemui dokter yang menangani ibunya.
"bagaimana keadaan ibu saya Dok?"
"Anda keluarga pasien ?"
"iya Dok,saya anaknya"
Adam menjelaskan
"baiklah,anda bisa ikut ke ruangan saya"
Dokter itu berkata lagi dengan Adam.
Adam pun mengikuti Dokter tersebut ke ruangannya.
Tiba di ruangan Dokter Adam di persilakan untuk duduk,
"Maaf pak,nama Bapak siapa?"
Dokter itu bertanya lagi dengan Adam.
"Adam Dok,lengkapnya Adam Saputra"
Adam memperkenalkan dirinya.
"Jadi begini pak Adam,Ibu anda saat ini mengalami depresi yang sangat kuat,usahakan ibu anda tetap ceria tanpa beban pikiran ya Adam"
Dokter itu hanya menjelaskan sedikit saja dengan Adam.
"Jadi ibu saya baik baik saja ya Dok?"
Adam bertanya dengan Dokter yang menangani ibunya
"Saya tidak bisa menjamin ibu anda baik baik saja untuk ke depannya,karena yang menjamin kesehatan beliau adalah pikirannya sendiri,jika ibu anda masih terus terbeban dengan pikirannya sendiri kesehatannya akan terus menurun,
__ADS_1
Jadi intinya jangan biarkan ibu nani ini menjadi stres yang berlebihan"
Dokter itu menjelaskan secara detail penyakit yang di alami ibu nani
Adam menarik napas panjang semakin rumit permasalahan yang di hadapinya sekarang.
"Baiklah Dok,kalau begitu saya permisi"
Adam keluar dari ruangan Dokter,dia segera menuju ruangan ibunya.
Saat Adam membuka pintu Dahlia sudah ada di sana sesak di dadanya melihat dua wanita yang berarti di hidupnya sedang menangis karenanya.
Adam memberanikan diri mendekati dua wanita yang sedang menangis
"Ibu .... Dahlia.... maafkan kesalahanku aku memang pernah khilaf,tapi percayalah anak yang di kandung siska bukan anakku....
aku sudah lama tidak pernah bertemu siska lagi semenjak pulang liburan dari kampung lia ... ibu . .."
Adam bersimpuh di kaki istrinya Adam juga memegang tangan ibunya
Dahlia berkata dengan Adam tapi matanya menatap ke arah lain
sementara bu nani diam tidak bicara sepatah pun.
Bukan karena rasa sakit hati yang menyebabkan dirinya tertekan,tapi rasa malu karena dulu dirinya telah menghujat Dahlia habis habisan.
Bertahun tahun bu nani memendam rasa bersalah yang terus membelenggu hatinya.
Selama itu juga nani mulai menurun kesehatannya.
Air mata bu nani mengalir dari sudut matanya Adam melihat pun melihatnya,Adam yang mengingat pesan dari Dokter jadi tidak tenang.
Adam pun memilih untuk meninggalkan ruangan ibunya membiarkan semuanya tenang dan bisa di ajak bicara barulah dia kembali.
Di luar ruangan terlihat pak yatno dan istrinya menatap Adam dengan tajam,terlihat jelas di sorot matanya yang sedang memendam amarah.
__ADS_1
Adam pun memahami amarah mertuanya tidak ada orang tua yang ingin hidup anaknya di sakiti oleh pasangannya.
Tapi saat ini Adam belum bisa berbuat apa apa.
Adam memilih diam jika dirinya bicara sudah pasti akan memperpanjang masalahnya,belum lagi Adam memikirkan kesehatan ibunya.
"Adam...! bagaimana keadaan ibu Dam ?"
Tiba tiba siska datang dan menghampiri Adam yang sedang tersandar di dinding rumah sakit.
Melihat kedatangan siska Lina menjadi geram di saat genting seperti ini masih saja siska berani datang.
Sedangkan Adam dia tidak ada reaksi apapun melihat kedatangan siska.
"Dam!"
Siska mengulangi lagi bicara dengan Adam
tetap saja Adam tidak mau bicara.
Siska menjadi emosi melihat Adam yang tidak menghiraukannya.
"Adam! kamu dengar atau tidak sih...aku bicara sama kamu saat ini!?"
Siska mulai tersulut emosinya
"Kalau aku jadi kamu sudah pasti aku pulang,gak malu apa kalau orang sudah tidak peduli"
Lina berkata sambil mencibir ke arah siska
"eh bu... saya bicara dengan calon ayah dari anak saya yang saat ini ada di rahim saya bu!"
Siska berkata dengan emosi yang tidak tertahan.
"Siska...tolong jangan memperkeruh keadaan... sebaiknya kamu jangan datang ke sini,ibuku akan bertambah sakit jika melihatmu"
__ADS_1
Adam yang tadinya diam saja akhirnya bicara juga ,Adam tidak mau ada masalah baru lagi yang di sebabkan oleh siska.