Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
75


__ADS_3

Adam dan Dahlia bertemu pandang ketika mereka ingin pulang setelah anak mereka merasa puas bertemu papanya.


Perasaan aneh kembali menyeruak di hati Dahlia,secepatnya Dahlia memalingkan wajahnya ke arah lain tidak mau perasaan itu semakin tidak jelas.


"Al,mari kita pulang,Mas kami pulang," Adam menganggukkan kepalanya memandang dari balik jeruji kepergian mantan istri dan anaknya tersebut.


"Dada Papa..." Al melambai tangannya,Adam membalas lambaian tangan anaknya.


Sementara Dahlia melangkah tanpa menoleh kembali,Dahlia memencet hidungnya dengan tisu membersihkan sesuatu yang membuat suaranya berat.


"Mama menangis?" Dahlia membersihkan semua sisa sisa tangisnya dengan tisu,hingga membuat hidungnya memerah,matanya juga sembab.


Baik buruknya kamu Mas,kamu tetap orang yang pernah membuat aku tertawa bahagia,apalagi hadirnya buah hati kita yang sangat mirip dengan mu,ajar kan aku melupakan mu Mas


"Ma...." Al menggoyang tangan mamanya sambil berjalan menuju mobil mereka.


Rupanya Bagas sudah memesan taksi online untuk mempersingkat waktu.


"Kak,,kita cari tempat untuk makan dulu ya,perjalanan kita masih panjang,kita juga perlu energi yang cukup" Maya mengusap pundak Dahlia,dia memahami apa yang di rasakan oleh Dahlia.


"Apa tiket pesawatnya sudah di pesan untuk kita pulang?" Dahlia hanya mengangguk setuju,di sertakan pertanyaan perihal kepulangan mereka ke kota kecil X.


"Tidak ada jadwal penerbangan sore ke kota kita kak,kita harus menggunakan travel menuju ke sana" Bagas menjelaskan dengan Dahlia.


"Kenapa kita tidak nginap saja tadi tempat Papa," Maya ingin saja tertawa dengan polosnya Al,


"Kita tidur di mana Al...?" ternyata ulah Al bisa menjadi hiburan untuk Dahlia.


"Kalau papa bisa kita kan juga bisa,dari pada kita pulang malam malam mana jauh lagi " Al ketus.


"Nak,tempat itu bukan untuk kita,itu hanya di khusus kan untuk orang yang di nyatakan bersalah oleh pihak hukum" Dahlia menjelaskan dengan putranya.


Taksi merapat ke sebuah cafe lengkap dengan sajian berbagai jenis makanan.


Mereka masuk ke cafe tersebut.


Dahlia melihat menu menu yang tersaji di buku,setelah merasa pas barulah Dahlia memesannya.


Pelayan datang membawa semua pesanan mereka,ketika sedang menikmati santapan mereka,sebuah kamera hp memotret diam diam dari jarak lima meter.


Dahlia berada di sini bersama anaknya dan sepasang suami istri


Pesan terkirim bersama foto.


Aku akan ke sana,secepatnya.

__ADS_1


Sebuah balasan pesan.


Di hotel berbintang,seorang pria berbadan atletis bergegas keluar dari ruangannya.


Semua karyawan menatapnya heran tidak seorang pun dari mereka yang berani menanyakan ada perihal apa dengan pemilik hotel itu sangat tergesa.


Rudi melangkah sedikit berlari menuju mobilnya,dengan gerakan gesit mobil keluar dari area parkir menuju cafenya.


Mobil melaju membelah jalanan, tidak perlu memakan waktu lama mobil mewah itu memasuki halaman cafe berukuran besar.


Rudi turun dari mobil,mengenakan kacamata hitam,memasuki area cafe semua pelayan menunduk hormat,Rudi tidak sempat melihat ada berapa pelayan yang membungkukkan badannya.


Matanya menelisik seluruh ruangan cafe khusus umum,belum menemukan orang yang dia cari.


"Mana mereka "Rudi menghampiri Herman yang sedang mengawasi semua pelayan di sana.


"Mereka di sudut sana di ruangan yang menghadap taman" Rudi langsung bergegas menuju ruangan yang di buat khusus untuk tamu yang tidak mau berinteraksi dengan pengunjung lainnya.


Ternyata kamu menyukai tempat duduk ku Dahlia,aku akan membuat mu menjadi pemilik kursi yang kamu duduki sekarang .


"Kamu lihat di meja kasir,makanan apa yang sudah mereka pesan,lalu bungkus untuk mereka bawa pulang,bungkus juga menu andalan kita di sini,sampaikan pada kasir,jangan menerima pembayaran untuk mereka" Titah Rudi pada Herman yang mengikutinya dari belakang.


"Baik tuan," Herman berlalu meninggalkan Rudi sendirian yang sedang terlena menatap Dahlia.


Susah melayani tuan bos yang sedang bucin dengan dengan janda orang,coba kelar kan dulu statusnya biar aku tidak terlalu repot nantinya.


Rombongan Dahlia sudah selesai mengisi perutnya,mereka masih ingin bersantai sejenak sambil melihat pemandangan taman dari dalam cafe.


"Selamat siang Dahlia,selamat siang Boy,Selamat siang juga Mas,mbak" Rudi menyapa satu persatu mereka yang asyik dengan ponselnya masing masing.


"Siang" Mereka serempak.


"tidak di sangka kita bisa jumpa di sini,oh ya perkenalkan saya sahabatnya suami Dahlia,panggil saja saya Rudi " Wajah Bagas berubah menjadi masam.


Dia pernah mendengar sepintas saja dari Adam dengan orang yang bernama Rudi.


"Kak Lia,mari kita pergi kasian sopir sudah lama menunggu" Bagas menarik tangan Maya,tidak ada perlawanan dari Maya.


Dahlia dan anaknya mengikuti dari belakang,


"Mari Nak,Om dan aunty sudah duluan,permisi Bang Rudi,kami pamit," Dahlia sekedar basa basi saja.


Sebenarnya Dahlia juga heran dengan Bagas yang tiba tiba berubah moodnya.


"Ma,sepertinya aku pernah lihat Om yang tadi,tapi lupa di mana " Dahlia tidak menghiraukan perkataan Al,dia pun juga mengingat di mana dirinya dan anaknya berjumpa dengan Rudi.

__ADS_1


Tidak perlu di bahas,suasana hatiku juga belum kelar lalu otak ku menambahnya dengan kembali lagi ke episode yang sudah lama berlalu.


"Ma...Mama...mama dengar gak sih dari tadi Al bicara" Dahlia mengatur posisi duduknya di dalam mobil yang akan mengantar mereka kembali lagi ke kota kecil dan padat penduduknya.


"Iya mama dengar," Dahlia menyandarkan kepalanya ke jok mobil.


"Kalau dengar kenapa mama tidak jawab pertanyaan Al ?"Protes Al.


Anak ini makin hari semakin bertingkah layaknya seorang jaksa saja,belum di jawab berulang ulang nanya terus.


"karna mama lupa," Dahlia tidak mau mengingat di mana mereka bertemu.


"kenapa tidak bilang dari tadi " Al mengembung kan kedua pipinya.


"ihhhh, " Dahlia mencubit pelan pipi putranya gemas,


"Cerewetnya kok seperti anak perempuan saja ," Goda Dahlia


Maya dan Bagas hanya senyum melihat tingkah Al,jika sedang berada bersama nenek nani Maya lah yang mengurus keperluan Al.


Sepanjang perjalanan selalu saja ada yang di tanyakan bocah laki laki itu,jika mamanya tidak menjawab dia akan bertanya pada aunty dan Omnya.


Hingga kantuk menyerang matanya akhirnya bocah itu tertidur di pangkuan Mamanya.


"Kak,tadi pas aku mau bayar di meja kasir katanya makanan kita di gratiskan oleh pemilik cafe,bahkan juga di bungkus kan banyak makanan," Bagas mengangkat paper bag yang penuh berisi makanan.


"Kakak kenal pemilik cafe tadi?" lanjut Bagas lagi.


Dahlia menggelengkan kepalanya,


"Mungkin mereka kenal kakak sebagai istri mas Adam dulu Gas, temannya dulu banyak pengusaha" Tutur Dahlia.


"hm, " Bagas dan Maya sama mengangguk ,


"Kak Lia tidak pernah di ajak Mas Adam ke tempat tadi ?" Kini Maya yang bertanya.


"Kakak dulu sibuk dengan bisnis kakak May,sekarang kakak sadar,ternyata kesibukan kakak telah membawa Mas Adam ke lembah dosa " Dahlia menarik napasnya dan mengeluarkan dengan kasar.



\*\*Hai sahabat pembaca setia Bukan Menantu Pilihan,



Dukung terus author ya,beri like dan komen biar author tambah semangat

__ADS_1



Beri vote juga,terima kasih sahabat baca ku 😊😊\*\*


__ADS_2