
Yuda yang sedang berteduh di salah satu halte, mengkerutkan kening saat melihat Ayarra sedang berjalan ditengah hujan.
Tadinya Yuda ingin ke rumah David, menyusul Diana dan Brian. Namun, karena hujan dia berteduh sejenak.
"Ayarra," panggil Yuda saat Ayarra hendak melewatinya.
Ayarra berhenti sejenak menoleh pada Yuda, kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
"Ayarra, kamu kenapa hujan-hujanan nanti sakit," teriak Yuda karena Ayarra berlalu begitu saja.
"Pasti ada masalah," gumam Yuda sambil menaiki motornya, hendak mengejar Ayarra.
"Ay," panggil Yuda tepat di belakang Ayarra.
Yuda pun turun dari motornya dan mencekal pergelangan tangan Ayarra. "Kamu kenapa hujan-hujanan, nanti sakit," ujar Yuda, dan saat Ayarra menoleh padanya.
Yuda baru tersadar, jika wanita itu menangis, karena mata Ayarra terlihat sembab dan merah.
"Kamu nangis huh?" tanya Yuda, dia menangkup wajah Ayarra dengan kedua tangannya.
Terlihat raut wajah kesedihan dari wajah cantik Ayarra. "Kamu kenapa?" Yuda kembali bertanya.
Ayarra yang merasa sangat sesak dan ingin meluapkan segala kesedihan langsung memeluk tubuh Yuda.
Yuda pun semakin dibuat bingung dengan sikap Ayarra, yang tiba-tiba saja memeluknya. Namun, dia tetap membalas pelukan Ayarra sambil mengelus punggungnya pelan.
"Ini terlalu sakit Yud, rasanya sesak sekali," lirih Ayarra.
"Memangnya kenapa? Arka, marahin kamu lagi? Atau nyuekin kamu lagi?" tanya Yuda.
"Lebih baik dia nyuekin aku atau marahin aku Yud, dari pada diselingkuhi," jawab Ayarra.
"Diselingkuhi gimana maksud kamu?" Yuda melepaskan pelukan Ayarra dan kembali bertanya, karena dia tidak mengerti maksud Ayarra.
Setau Yuda Arka tidak akan pernah mungkin menyelingkuhi Ayarra, karena dia sangat mencintainya.
Bukannya menjawab Ayarra malah kembali menangis hingga tersedu-sedu. "Kok malah nangis? kita duduk di sana yuk! hujannya semakin deras takutnya kamu sakit." Yuda membawa Ayarra untuk neduh dari derasnya hujan malam itu.
Akan tetapi Ayarra menolak, dia ingin tetap berada dibawah derasnya hujan. "Yaudah deh kalau kamu mau ujan-ujanan, coba jelaskan ke aku, apa yang Arka, lakukan ke kamu. Sampe-sampe kamu kayak gini?" tanya Yuda.
Ayarra semakin terisak saat mengingat apa yang Arka dan Nia katakan di rumah David tadi.
"Ay?" Yuda memegang bahu Ayarra.
Ayarra menundukkan kepalanya, sambil terisak. "Arka, ... Dia--- dia ...."
"Dia kenapa?" tanya Yuda.
"Dia menghamili Nia, Yud, ... Nia, hamil sama dia, dan mereka akan menikah," jawab Ayarra dengan lirih.
"Apa? kamu pasti salah paham Ay, Arka, nggak mungkin kaya gitu. Dia bukan laki-laki seperti itu Ay." Yuda tidak percaya dengan apa yang Ayarra katakan.
"Tapi itulah yang terjadi Yud, ...." jawab Ayarra.
"Tapi bagaimana bisa?" gumam Yuda tidak percaya, karena setau dia. Arka laki-laki yang baik.
Arka tidak pernah sedikitpun bermain mata atau menggoda wanita mana pun selain Ayarra. Jadi, bagaimana bisa tiba-tiba Arka menghamili Nia, yang sudah dia anggap sebagai adik sendiri.
"Arka, menghamili Nia, dia menghamili sahabat aku sendiri," gumam Ayarra.
__ADS_1
Yuda memperhatikan Ayarra, dan Yuda baru menyadari jika wajah Ayarra pucat pasih.
"Ay, kenapa muka kamu pucet banget, kamu sakit huh?" tanya Yuda sambil menyentuh dahi Ayarra.
"Ya ampun kamu panas banget Ay, ayok kita ke rumah sakit ya!" ajak Yuda. Namun, saat Yuda hendak membawa Ayarra pergi dari sana tiba-tiba saja Ayarra tidak sadarkan diri.
"Ayarra," pekik Yuda dan langsung meraih Ayarra yang tidak sadarkan diri itu.
Dia pun menggendong Ayarra dan mencari taksi atau tumpangan, untuk membawa Ayarra ke rumah sakit.
Tak berselang lama Yuda melihat taksi lewat di depannya, dia menghentikan taksi tersebut dan memintanya untuk mengantarkan dia ke rumah sakit.
***
"Ayarra, bangun Ay," gumam Yuda saat berada di dalam mobil.
Dia mendekap erat Ayarra dengan sesekali menciumi rambut panjang Ayarra.
Hatinya ikut hancur saat melihat Ayarra tidak berdaya seperti ini, selama ini dia mencoba untuk ikhlas saat melihat Ayarra bersama Arka, karena Yuda pikir dia akan bahagia jika bersama laki-laki yang dicintainya.
Akan tetapi hari ini Yuda merasa kesal karena Arka tidak bisa membahagiakan wanita yang telah memilihnya itu.
"Pak, tolong lebih cepat lagi!" pinta Yuda pada sang sopir.
Rahang Yuda mengeras, giginya bergemulutuk, tangannya terkepal, menahan kesal.
'Aku nggak akan maafin Arka, setelah ini aku janji akan kasih hukuman sama Arka,' batin Yuda. Dia tidak terima jika Ayarra disakiti seperti ini.
****
"Sudah sampai Mas," ucap sang sopir taksi memberi tahu, karena sejak tadi Yuda hanya fokus memandangi wajah Ayarra.
"Eh, iya Pak, maaf bisa bantu saya Pak," ujar Yuda dan sang sopir itu pun membantu Yuda mengeluarkan Ayarra dan memanggil beberapa perawat.
"Ini Pak, biaya taksinya, maaf ya uang dan jok taksinya basah," kata Yuda tidak enak hati.
"Nggak apa-apa Mas," jawab sang sopir.
"terima kasih ya Pak." Yuda memberikan beberapa lembar uang pada sang sopir taksi itu beserta uang lebihnya.
"Ini kebanyakan Mas, biayanya nggak sebanyak ini." Sang sopir berniat mengembalikan kembali beberapa lembar uang yang Yuda berikan.
Akan tetapi Yuda menolaknya, "nggak apa-apa Pak, itu rejeki buat bapak."
"Terima kasih ya Mas."
"Sama-sama," jawab Yuda kemudian sopir taksi itu pun pergi.
Yuda duduk di salah satu kursi yang ada di depan UGD tersebut. Sambil mengirimkan pesan pada Bayu.
Dia memberitahukan jika Ayarra sedang berada di rumah sakit, setelah pesan itu terkirim Yuda kembali fokus menatap pintu UGD. Dia berharap jika Ayarra baik-baik saja.
15 menit kemudian sang dokter yang memeriksa Ayarra tadi pun keluar, Yuda bangkit dari duduknya dan menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan Ayarra Dok?" tanya Yuda.
"Beliau baik-baik aja, sepertinya beliau hanya kecapean dan demam, makannya pingsan, tapi nggak usah khawatir, dia sudah diberikan obat dan infus. Mungkin sebentar lagi juga akan sadar," jawab sang Dokter membuat Yuda merasa lega.
"Terima kasih Dok," ucap Yuda.
__ADS_1
"Sama-sama." Setelah mengatakan itu sang Dokter pun pergi.
Sementara Yuda masuk ke dalam untuk melihat Ayarra.
Yuda menarik kursi dan duduk di sebelah Ayarra, matanya nanar melihat wanita yang dia cintai seperti ini.
"Kenapa harus Arka, yang kamu pilih waktu itu Ay, kamu buat aku nggak bisa berbuat apa-apa selain belajar untuk ikhlas dan berharap kamu bahagia bersama Arka, tapi nyatanya laki-laki malah nyakitin kamu," gumam Yuda sambil menggenggam tangan Ayarra.
Saat Yuda tengah fokus menatap Ayarra yang terbaring lemah diatas brankar, tiba-tiba saja ponselnya berdering.
Yuda mengambil ponsel tersebut dan melihatnya, ternyata yang meneleponnya adalah Diana.
Tadi Yuda memang sempat mengirimkan pesan pada Neil untuk membawa motornya ke rumah David, karena jaraknya tidak terlalu jauh dari pada harus ke rumahnya, kebetulan di rumah David juga ada Brian dan Diana, dan sekarang pasti Diana ingin bertanya.
Yuda menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu pada telinganya. "Ya Mah."
"Hallo Yuda, kamu di mana Nak? Kenapa motor kamu ada di jalan xxx sedangkan kamu pergi," cecar Diana membuat Yuda tersenyum.
Diana memang sangat cerewet, pantas saja Brian selalu tutup kuping jika Diana mulai mengomel.
"Aku ada perlu Mah," jawab Yuda singkat.
"Ada perlu ke mana sampai kamu tinggalin motor di jalan kaya gitu," cerocos Diana.
"Ayok cepat pulang sekarang! atau Mamah hukum kamu!" ancam Diana.
"Aku nggak bisa pulang sekarang Mah, karena aku harus nunggu seseorang dulu," jawab Yuda.
"Kamu lagi nungguin siapa?" Diana kembali bertanya dari sebrang sana.
"Nanti aku ceritain ya Mah, udah dulu ya Mah." Setelah mengatakan itu Yuda langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Ayarra," panggil Angel yang baru saja datang bersama Bayu dan Fathan.
Yuda pun bangkit dari duduknya dan membiarkan Angel duduk di samping Ayarra.
"Yuda, Ayarra kenapa? Kenapa bisa sampai di sini?" tanya Angel pada Yuda.
"Tadi aku ketemu sama dia di jalan Tante, dan nggak lama dia pingsan. Mungkin karena kehujanan." Yuda terpaksa berbohong, karena dia tidak ingin Angel dan Bayu tau yang sebenarnya dari mulutnya. Yuda ingin Angel dan Bayu tau dari Ayarra atau Arka langsung.
'sepertinya memang bukan dia wanita yang menghabiskan malam bersamaku waktu itu,' batin Fathan saat memandanginya wajah Ayarra dengan saksama.
"Tapi bukannya Ayarra, pergi ke rumah David? kenapa dia bisa kehujanan dan berakhir seperti ini," tanya Bayu.
"Aku nggak tau Om," jawab Yuda.
"Om, Tante, karena kalian udah ada di sini, aku ijin pulang ya!" pamit Yuda.
"Iya Yud, makasih ya udah bawa Ayarra, ke sini," jawab Angel.
"Sama-sama Tante." Setelah mengatakan itu Yuda pun pergi dari sana.
BERSAMBUNG...
Hai 👋 semoga suka ya sama ceritanya, jangan lupa kalau kalian sudah selesai membaca, tolong ya tinggalkan like and komennya 🙏
Kalau ada typo atau apalah itu yang mengganggu, harap di maklum ya 🙏 jempolku emang suka nakal 😂😂
Kalau ada yang mau ngasih bunga atau love monggo dengan senang hati aku akan menerimanya 😂
__ADS_1
Bantulah author Somplak sedikit ini untuk menjadi lebih baik. Terima kasih 😘
~*Salam sayang Author Somplak Dikit*~