Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
Kalista?


__ADS_3

Gilang yang kebetulan lewat di jalan tempat Alexa kecelakaan menepikan motornya saat melihat keramaian. Dia turun dari motor dan menghampiri kerumunan orang-orang itu, dan mata Gilang membulat sempurna saat melihat Alexa tergeletak di jalan, dengan darah disekitar kepalanya.


"Kenapa kalian cuma liatin aja? bukannya bawa dia ke rumah sakit. Dasar b o d o h!" Gilang membentak semua orang yang hanya diam memperhatikan Alexa yang terluka.


Gilang memeriksa napas dan denyut nadi Alexa. "Syukurlah dia masih bernapas," gumam Gilang.


Lalu, Gilang memanggil taksi, kemudian membopong tubuh Alexa itu dan memasukkannya ke dalam mobil tadi itu dengan sangat hati-hati.


"Pak, tolong bawa saya ke rumah sakit terdekat," ucap Gilang pada sang sopir taxi.


"Baik Pak." Sang sopir taxi itu pun langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.


Selama perjalanan, Gilang selalu menutupi luka Alexa menggunakan jaket yang dia pakai, agar darah itu tidak keluar semakin banyak.


***


Tak berselang lama mereka pun sampai di rumah sakit terdekat. Sang sopir taxi memanggil beberapa perawat, sedangkan Gilang segera membopong tubuh Alexa dan meletakkannya di atas brankar yang dibawa oleh perawat.


"Tolongin dia sus! dia ngeluarin banyak darah tadi," ujar Gilang pada salah satu suster tersebut.


"Iya baik Pak, kami akan berusaha sebisa kami. Tolong Bapak tunggu aja di sini," jawab sang perawat sambil memerintahkan Gilang untuk menunggu di luar saja, karena tadinya Gilang ingin ikut masuk ke dalam UGD.


Sebab tidak diijinkan masuk oleh perawat itu, akhirnya Gilang pun duduk di kursi yang ada di depan itu. Dia menunggu Alexa dengan pikiran dan perasaan yang kalut.


"Permisi Pak! apa masih ada yang bisa saya bantu?" kata sopir taxi itu.


Gilang mendongak, ah dia baru ingat melupakan sesuatu. Yaitu dia belum membayar taxi yang tadi dia tumpangi. "Enggak ada Pak, makasih ya! dan ini biaya taxi-nya. Kembaliannya ambil aja!" ujar Gilang, seraya memberikan beberapa lembar uang pada sopir tersebut.


"Terima kasih Pak, kalau begitu saya permisi dulu ya Pak!" pamit sang sopir.


"Iya Pak, sama-sama. Sekali lagi terima kasih ya Pak!" sahut Gilang tersenyum.


Sang sopir mengangguk, kemudian pergi meninggalkan Gilang di depan UGD itu.


Setelah kepergian sang sopir, Gilang kembali merasa bingung, dia bingung harus menghubungi siapa untuk memberitahukan jika Alexa kecelakaan.


***


Kembali ke tempat kejadian.


Dimas yang baru saja selesai pacaran dengan wanita yang dilihat oleh Alexa, berniat mengantarkan wanita itu pulang ke rumahnya. Namun, saat melihat motor sang kakak, Dimas mengkerutkan kening.


"Ini bukannya motor kakak?" gumam Dimas sambil memeriksa plat nomor itu.

__ADS_1


"Ah, iya ini motor kakak," yakin Dimas.


"Kalau emang ini motor kakak, kenapa ada di sini? dan ke mana kakak?" Wanita yang sedang bersama Dimas itu bertanya sambil mengedarkan pandangannya.


"Nggak tau! biar aku telepon aja kakak," jawab Dimas seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kecil miliknya. Lalu, Dimas mencari nomor Gilang untuk di telepon.


[Ya hallo, kamu sekarang di mana Dim?] Gilang bertanya dari sebrang sana setelah sambungan teleponnya tersambung.


"Emmm aku lagi di taman xxx ka, kakak ada di mana? Kenapa?—"


[Cepat ke Rumah Sakit Melati, sekarang!] Gilang memotong ucapan Dimas.


"Kakak kenapa? kakak nggak apa-apa kan?" Dimas merasa sangat khawatir.


[Udah jangan banyak tanya, kamu ke sini aja sekarang!] tegas Gilang.


"Ok baiklah ka!" jawab Dimas, kemudian dengan segera dia menarik tangan wanita yang bersamanya, dan masuk ke dalam mobil yang tadi dia bawa.


***


Beberapa belas menit kemudian Dimas dan wanita itu pun sampai ke rumah sakit yang diminta oleh Gilang.


"Ayok sayang!" ajak Dimas pada wanita itu.


"Kakak," panggil Dimas sesampainya mereka di UGD.


"Dimas kenapa—." Ucapan Gilang terpotong saat melihat wanita yang berada di samping Dimas. Dari sorot mata Gilang terlihat jika dia tidak menyukai wanita itu.


"Kakak nggak kenapa-kenapa kan? siapa yang sakit?" tanya Dimas dengan khawatir.


"Kakak nggak kenapa-kenapa, ngapain kamu sama dia?" Gilang menjawab dengan tatapan matanya yang tajam.


"Dia baru kembali Ka, dan dia kembali untuk aku," jawab Dimas.


"Jadi kamu pingin kembali sama dia? terus gimana sama—."


"Kak, udah deh jangan bahas orang lain dulu! nanti aku akan ceritakan semua ke Kakak. Sekarang jelaskan dulu ngapain Kakak di sini?" Dimas memotong ucapan Gilang.


"Kamu bilang Alexa orang lain? kenapa kamu kaya gitu Dim? kenapa kamu—."


"Siapa Alexa?" timpal wanita itu.


"Bukan siapa-siapa sayang! nanti aku ceritain ke kamu ya!" ucap Dimas, sambil mengelus rambut panjang wanita itu.

__ADS_1


Melihat itu Gilang mendengus, dia memalingkan wajahnya menghadap pintu UGD yang sampai sekarang belum terbuka sejak tadi.


"Andai kamu tau siapa orang yang ada di dalam!" gumam Gilang.


"Emangnya yang di dalam siapa sih Ka? kenapa dari tadi Kakak main tebak-tebakan sama aku," kesal Dimas.


"Yang di dalam itu adalah Alexa, dia kecelakaan dan mengeluarkan banyak darah di taman xxx tadi." Gilang menjawab tanpa menoleh ke arah Dimas.


"Apa?" pekik Dimas tidak percaya, dia berlari ke arah UGD dan menggedor-gedor pintu UGD tersebut.


"Hey Dimas! kamu ngapain hah?" bentak Gilang, dia menahan tangan Dimas agar tidak mengganggu perawat dan Dokter yang sedang bertugas di dalam.


"Gimana keadaan Alexa Ka?" lirih Dimas.


"Kakak juga belum tau, karena dari tadi belum ada Dokter atau perawat yang keluar," jawab Gilang.


Wanita yang bersama Dimas tadi terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi. "Hey, sebenarnya ada apa ini sayang?" tanya wanita itu.


Dimas menoleh ke arah wanita itu dan menggenggam tangannya. "Kalista, apa kamu keberatan kalau pulang sendiri? nanti aku akan telepon kamu setelah kamu sampai rumah. istirahatlah! kamu pasti capek karena habis melakukan perjalanan jauh," tutur Dimas pada wanita yang bernama Kalista itu.


"Tapi kenapa? apa dia orang penting buat kamu?" Kalista kembali bertanya, karena dia merasa jika orang yang di dalam sana ads hubungannya dengan Dimas.


"Nanti aku akan ceritakan sama kamu semuanya, tanpa ada yang aku tutupi," jawab Dimas.


"Tapi—."


"Kalista, kamu percaya sama aku ya! sekarang kamu pulang dulu dan istirahatlah!" potong Dimas dengan suara tegas.


"Ok, aku akan tunggu semua penjelasan kamu." Setelah mengatakan itu Kalista pun pergi, meninggalkan Gilang dan Dimas.


Setelah melihat Kalista pergi Dimas jatuh terduduk di kursi, dia merasa sangat lemas, ketika mendengar Alexa kecelakaan.


"Kakak nggak paham sama kamu Dim, ngapain kamu sama dia lagi hah?" bentak Gilang.


"Karena ternyata aku masih mencintai Kalista, Ka!"


"Terus gimana hubungan kamu sama Alexa hah?"


Dimas tidak menjawab, dia malah melirik pada pintu yang sampai saat ini belum terbuka. Gilang menggelengkan kepalanya dan duduk di samping Dimas.


"Apa kamu punya nomor telepon keluarga Alexa? kalau punya, tolong cepetan telepon keluarganya, dan beritahukan kondisi Alexa," titah Gilang.


"Aku nggak punya nomor kedua orang tua Alexa, tapi kayaknya aku punya nomor Ayarra, sekarang kan Ayarra adalah kakak ipar Alexa. Jadi, aku akan hubungi dia," kata Dimas.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2