
Dahlia dan Adam sudah berada di puskesmas,kini Dahlia mengambil nomor antri.Mereka duduk di kursi tunggu,
"hai Lia.... ngapain ke sini ngantri di kursi orang hamil...!? kamu gak kuliah hari ini? ada keperluan apa kamu ke sini ?" Dahlia melihat ke arah sumber suara,ternyata teman sekelasnya yang kepo tingkat dewa bertanya beruntun seperti kicauan burung murai yang tak berhenti.
Dahlia hanya tersenyum nyengir ada rasa mual melanda ketika dia melihat temannya itu.Dahlia cepat cepat berpamitan hendak ke toilet,rasa mualnya semakin tak menjadi ketika temannya mendekat.
Entah kenapa akhir akhir ini Dahlia seperti alergi melihat teman sekelasnya yang punya gelar CCTV KAMPUS.
Karna penasaran temannya Dahlia bertanya sama Adam
"eh...kamu pacarnya Lia ya...Lia kenapa ke sini ,koq dia pucat banget,Lia sakit ya..?"
"iya Lia kayanya sakit ketika lihat kamu deh.."kata Adam seenaknya.
"emangnya aku ini apa koq bisa Lia sakit cuma gara gara lihat aku,palinglah si Lia kesambet deh "
"iya Lia kesambet dengan gaya bicaramu yang persis burung murai," kembali Adam bicara seenaknya.
Teman Dahlia merasa kesal karena di samai dengan burung murai,dia pun berlalu pergi.
Setelah melihat temannya pergi Dahlia pun kembali duduk di kursi tunggu,hingga namanya pun di panggil.
__ADS_1
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan Adam pun segera mengantar Dahlia pulang ke rumahnya.
Ketika malam tiba di rumah Dahlia
"bu,dua hari lagi aku dan Adam akan menikah,aku hanya memohon kehadiran ibu saja " Dahlia memecah keheningan di ruang tamu.
"urus saja dirimu sendiri,jangan melibatkan orang tuamu,karna kamu sudah mengecewakan kami" Bu Lina berkata tanpa memandang putrinya.
Dahlia diam sesaat sambil menarik napas
"jika ibu tidak memberi restu tidak masalah bu,aku hanya ingin kehadiran kalian saja," titah Dahlia.
"bu ..semua sudah terjadi,kita ambil hikmahnya,lha yang di kandung Dahlia cucu kita juga bu,..."Ucap ayah Dahlia penuh wibawa.Air mata Dahlia seketika menetes mendengar ucapan ayahnya,dan dia langsung bersujud di kaki ayahnya sambil menangis tersedu.
"ayah...ayah...maafin Lia yah...." Dahlia tidak bisa berkata lagi dia terus menangis.
"sudahlah nak,ambil hikmahnya dari semua ini" Pak Yatno mengusap punggung putrinya.Sementara bu lina masih saja bungkam.
Dua hari kemudian
Sebuah acara kecil kecilan di laksanakan di kediaman rumah Adam,hanya kerabat keluarga yang datang di acara pernikahan Dahlia dan Adam.
__ADS_1
Pernikahan sederhana dan tidak ada undangan untuk kerabat jauh mengingat semuanya harus secepatnya nikah kilat.
Bu lina dan Bu nani sama sama memasang wajah kaku tanpa senyum.
Satu persatu para tamu dan kerabat pulang,tinggallah beberapa orang yang masih berbincang.
Bu nani... besannya koq tidak di bawa gabung sini" kata Bu RT yang masih menunggu suaminya ramah tamah dengan kedua orang tua Dahlia.
Dengan senyum di buat ala iklan pepsodent bu nani memanggil besannya
"bu besan... kita yang perempuan duduk di sini saja,yang di sana biarkan bapak bapak saja,.." bu nani bicara sambil tersenyum mengejek.
"terima kasih bu besan,dan juga bu RT,sebentar lagi kami pulang,iya kan pak...? "
bu lina berucap sambil memberi isyarat ke suaminya.
"iy..iy..iya bu,sebentar lagi kami pulang " kata pak yatno gugup.
"Rasain... punya anak koq gak di jaga" bu nani berucap dalam hati.
Kedua orang tua Dahlia pun berpamitan pulang.
__ADS_1