Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
Ancaman Fathan


__ADS_3

"Arka," panggil Nia sambil menyentuh bahu Arka. "Udah ya, nggak enak sama orang-orang yang ada di sini," sambung Nia, membuat Ayarra melepaskan paksa pelukan Arka.


Setelah pelukannya terlepas, Ayarra pun berpamitan, "kalau gitu aku pulang dulu ya Tante, Nia, Arka."


Lalu, dengan berat hati Ayarra pun berlalu dan kembali ke mobil, sedangkan Fathan masih berdiam diri menatap Nia.


Nia yang ditatap seperti itu oleh Fathan hanya bisa meneguk salivanya, dan berpura-pura tidak mengenalnya.


"Arka, Nia, ayok masuk lagi," ajak Yumna.


Arka mengangguk dan mengikuti Yumna masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Nia. Namun, saat Nia hendak mengikuti Arka dan yang lain.


Tangannya ditahan oleh Fathan. "Lepasin." Nia mencoba melepaskan tangannya dari cekalan Fathan.


Akan tetapi sepertinya Fathan tidak berniat melepaskan cekalan tangannya. "Kenapa kamu nggak kabarin aku sama sekali setelah malam itu?" tanya Fathan dengan wajah yang terlihat kesal dan marah.

__ADS_1


"Maaf maksud kamu apa?" Nia berpura-pura tidak mengenal Fathan.


Fathan terkekeh pelan saat mendengar jawaban Nia. "Kamu yakin nggak kenal sama aku? apa perlu aku ulangi apa yang kita lakukan pada malam itu?" ujar Fathan membuat mata Nia membulat sempurna.


"Kenapa ekspresi kamu kaya kaget gitu? bukannya kamu nggak kenal sama aku?" sindir Fathan.


Sudah habis kesabaran Nia, dia menepis tangan Fathan dan mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Fathan. "Denger ya, aku memang wanita yang malam itu, tapi aku sama sekali nggak ada niat buat ketemu lagi sama kamu," tutur Nia seraya melirik ke belakang.


Dia takut jika apa yang sedang mereka bicarakan terdengar oleh orang lain, saat dipastikan tidak ada orang didekatnya. Nia mendorong tubuh Fathan sedikit lebih jauh dari pintu.


"Dan kamu harus lupain apa yang telah terjadi pada malam itu, anggap aja kita nggak pernah ketemu dan saling kenal, karena aku udah nikah," sambung Nia.


"Aku bilang stop bahas itu, atau---."


"Atau apa? kamu denger ya! aku nggak akan pernah pergi dari pandangan kamu sebelum anak yang kamu kandung ini lahir, karena bisa aja kan dia milikku," potong Fathan.

__ADS_1


Mata Nia membulat, mulutnya terkatup-katup karena terkejut dan ingin sekali dia berkata kasar dan memaki Fathan tapi dia mencoba menahannya karena kondisinya sangat ramai.


"Jangan ngomong aneh-aneh, apa maksud kamu, malam itu nggak ngasilin apa pun. Ini beneran anak aku dan suami," ujar Nia.


Ayarra dan Doni yang udah berada di dalam mobil melirik pada Fathan yang masih asik berbincang dengan Nia.


"Fathan ayok! ini udah siang," panggil Ayarra dan Fathan mengangguk.


"Ok, untuk saat ini aku cuma bisa percaya, kita liat nanti setelah kamu melahirkan, sayang." Setelah mengatakan itu Fathan pun pergi dari sana dan berjalan menghampiri Ayarra dan Doni.


"Maaf ya Mbak lama, tadi aku ngucapin selamat menempuh hidup baru dulu sama Mbak Nia," ujar Fathan pada Ayarra saat dia sudah naik ke kursi pengemudi.


"Memangnya kamu kenal sama Nia?" tanya Ayarra dan Fathan mengangguk.


"Sebenarnya aku cuma kenal sama Pak Adit aja sih," jawab Fathan terkekeh.

__ADS_1


"Oh, yaudah ayok berangkat! aku takut ketinggalan pesawat," pinta Ayarra.


BERSAMBUNG...


__ADS_2