
Semua bergeming, tidak ada yang bertanya atau pun berbicara kali ini, ruangan itu pun seketika terasa hening. Sebab semua orang tengah menunggu apa yang ingin Fathan sampaikan.
Apakah sebegitu pentingnya, hingga dia harus mengumpulkan semua orang seperti ini.
Fathan memperhatikan anggota keluarga satu persatu, wajahnya sendu ketika menatap semuanya, karena sebenarnya dia merasa sangat tidak sopan sudah bertamu dan membuat gaduh seperti ini.
Apa lagi David sudah sangat baik padanya selama ini, dia yang mengusulkan Fathan untuk menjadi asisten pribadi Bayu. Namun, dia memang harus melakukannya, karena ini juga demi kebaikan semua orang. Termasuk janin yang tengah Nia kandung.
"Sebenarnya ada apa sih Pah? kenapa semuanya malah diam? harusnya mulai saja pembicaraannya, jangan bertele-tele," gerutu Alexa, dia menoleh pada Fathan dan memberikan tatapan tajamnya.
Sebab dia sangat tidak suka dengan orang yang bertele-tele, seperti Fathan.
"Iya Fathan, sebenarnya ada apa ini? kenapa kamu kumpulin kita, apa yang mau kamu bicarain sama kita semua?" tanya David ada Fathan.
"Sebenarnya kedatangan saya ke sini untuk mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milik saya dari awal, tapi karena keegoisan seseorang membuat itu tidak terjadi. Dengan tega dia memisahkan saya dengan apa yang seharusnya menjadi milik saya," tutur Fathan.
__ADS_1
Degh, sesaat jantung Nia serasa berhenti mendengar penuturan Fathan. 'apa hak? maksudnya hak apa?' batin Nia menerka-nerka sambil melirik Fathan.
"Apa maksudmu hak dan milikmu? apa ada barang kamu di sini?" tanya David dengan suara tegas.
"Ini bukan barang, tapi sesuatu yang sangat berharga bagi setiap manusia. Kehadirannya pun selalu ditunggu-tunggu," jawab Fathan.
"Uhuk uhuk ... Uhuk uhuk." Nia tersedak ludahnya sendiri saat mendengar jawaban Fathan.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Nayla.
"Nggak apa-apa Mah, aku cuma merasa sedikit nggak enak badan," bohong Nia, padahal dia hanya ingin pembicaraan ini terhenti, karena Nia takut jika yang akan dibahas adalah janin yang tengah dia kandung.
"Nggak ada yang boleh pergi dari sini, seenggaknya sampai apa yang ingin saya bicarakan selesai," tegas Fathan seraya memberikan tatapan tajam pada Nia, dan hal itu membuat Nayla tersulut emosi.
"Hey, siapa kamu yang berani melarang kita semua, anak saya lagi nggak enak badan, gimana bisa kamu melarang kita," sungut Nayla pada Fathan masih menunjuknya.
__ADS_1
Fathan hanya tersenyum dan berkata penuh penekanan, "kalau anak Ibu ini hanya berpura-pura bagaimana?"
"Jaga mulut kamu ya, aku bukan orang yang kayak gitu," maki Nia.
"Udah udah! kenapa kalian malah berantem sih, coba kita dengerin dulu apa yang mau Fathan sampein," ujar Yumna menengahi perdebatan yang terjadi di antara Fathan, Nayla dan Nia.
"Terima kasih Bu Yumna, ok baiklah kedatangan saya ke sini untuk mengambil hak saya," ucap Fathan.
"Apa itu?" tanya David.
"Janin yang tengah dia kandung." Fathan menjawab sambil menunjuk ke perut Nia.
Hal itu sontak saja membuat semua orang terkejut, termasuk Arka dan Alexa, yang sedari tadi malas mendengarkan perdebatan demi perdebatan yang terjadi.
Arka langsung memperhatikan wajah Nia dan Fathan dengan saksama dan bergantian.
__ADS_1
"A-a-apa mak-maksud kamu? ini anak aku bersama suamiku," tanya Nia dengan terbata-bata.
BERSAMBUNG...