Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
72


__ADS_3

Sebenarnya bukan bocah yang menari membuat Dahlia tertawa,Tingkah Desi yang masih kesal dengan Rudi yang berhasil mengocok perutnya.


Sementara Rudi dia tidak memperhatikan Desi yang komat kamit mengumpat dirinya,dia hanya fokus dengan Dahlia.


Jandamu sangat menarik di mataku Dam,andai dari dulu aku tahu kelemahan mu sudah pasti aku tawarkan bunga busuk padamu,


Dahlia menyadari dirinya di perhatikan oleh Rudi,mencari cara supaya Rudi dan pengawalnya segera keluar dari rukonya.


"Tik,kalian berdua bisa kan di tinggal untuk sesaat,aku ada keperluan dengan customer baru kita,Maaf bang Rudi,saya tinggal sebentar ya,jika masih ingin menunggu silakan tunggu saja,Tika dan Desi akan melayani keperluan Bang Rudi " Dahlia melirik Tika Dan Desi.


"Iya, Tika akan senang hati melayani anda tuan," Desi dengan senyum yang di paksa melihat Rudi.


"Maaf,saya juga masih ada urusan,terima kasih Desi yang ramah,bisa kabarkan kalau Dahlia sudah kembali " Rudi menyerahkan kartu namanya pada Desi.


Dahlia cekikikan mendengar perang sindir sindiran antara Rudi dan Desi.


Rudi keluar dari ruko,melangkah menuju mobil.


"Awas Des,jatuh cinta lho.... " Goda Dahlia setelah meyakinkan Rudi menjauhi Rukonya.Dia mengurungkan niatnya sekedar pergi sebab orang yang di hindari sudah keluar.


"Lebih baik aku tidak jatuh cinta kak,dari pada jatuh cinta dengan alien berwujud manusia" Desi masih kesal.


"Hahaaaa...." Tika dan Dahlia tertawa bersamaan.


Canda dan tawa selalu ada setiap harinya di ruko,Dahlia memperlakukan Tika dan Desi seperti saudara.


Jika ada yang berkunjung langsung ke tokonya mereka tidak tahu jika Dahlia adalah pemilik toko.


Jam delapan malam toko di tutup untuk pembeli yang datang langsung ke toko,untuk pembeli secara online mereka melayani hingga pukul sepuluh malam.


Dahlia merebahkan badannya di tempat tidur,menggeliatkan badannya guna meregangkan otot otot yang kaku setelah bekerja dari pagi hingga malam.


Dahlia bisa saja tidur lebih awal dari anak buahnya,tapi itu bukan tipe Dahlia.


Bagaimana Rudi tahu aku berada di sini,apa ini hanya kebetulan,ck apa dunia ini milik Rudi hingga di mana pun aku berada selalu saja bertemu Rudi.


"Mas Adam,kenapa aku sulit melupakanmu apa aku yang terlalu bodoh mencintaimu, "


Mata Dahlia berembun,sulit untuknya tidak menangis jika mengingat mantan suaminya.


Dunia ini terlalu kejam untuk aku yang tidak pernah menuntut banyak uang ,


Air mata Dahlia semakin deras,andai saja kamar dirinya berbatas tembok dengan Tika dan Desi sudah pasti mereka akan mendengar isak tangisnya.


Untungnya kamar mereka terletak dekat dengan dapur, dua buah kamar berukuran kecil,tapi nyaman untuk Dahlia beristirahat.

__ADS_1


Sementara di tempat lain Adam murung,yang biasanya sering berkelakar dengan Tambun,kali ini Adam banyak melamun.


Bayangan wajah anak dan mantan istrinya melintas di pikirannya,


Lia.... semoga kamu baik baik saja Lia, Semoga kamu bisa mendapatkan orang yang jauh lebih baik lagi dari Mas, sampai saat ini Mas belum bisa melupakanmu, Mas juga belum bisa memaafkan diri Mas sendiri


"Dam,kamu melamun terus dari tadi,lagi mikirin apa ?"Tambun melintir ujung kumisnya.


Adam masih diam,hanya gelengan kepala saja yang di berikan.


"Gak mau cerita ?" Tambun mendekati Adam, Setelah kejadian duel satu lawan satu tempo hari,Adam dan Tambun menjadi akrab.


Sikap Tambun yang arogan kini berubah ramah,wajah sangarnya saja yang tidak di rubah.


"Siapa orang yang paling berarti dalam hidupmu " Pertanyaan datar dari Adam merubah wajah Tambun menjadi lebih sangar dari sebelumnya.


Giginya di gertakan wajahnya memerah akibat dari rahang yang mengeras.


Kepalan tangannya di layangkan ke udara,


"Arghhh !" Tambun berteriak,Adam menjadi keheranan.


Kenapa dinosaurus ini berteriak


"Tambun..." Adam menaikkan alisnya, "Kamu mau aku curhat tapi kamu bikin jantungku hampir loncat Mbun," Adam menggeser posisi duduknya.


"Tambun,..." Adam meminta penjelasan dari Tambun dari isyarat matanya.


"Sorry bro... aku tidak bisa mengendalikan emosiku jika di tanya tentang orang yang paling berharga dalam hidupku " Dari tatapan matanya Adam melihat ada kebencian yang terselubung.


"Kalau seperti ini siapa yang cerita duluan,kamu mau aku cerita dan aku juga mau kamu cerita,apa kita berdua cerita bersama saja " Logat bicara Adam seperti orang o'on Tambun melempar handuk yang terletak di pundaknya ke arah Adam.


"Moyang mu dari alam lain yang ngajarin kalau kita bisa cerita secara bersamaan ,"


Adam menggaruk kepalanya yang sudah di pelontos.


"kita berdua adalah orang yang saling penasaran dengan perubahan cuaca hari inikan ?" Sejenak Adam lupa dengan gundahnya hari ini.


"Kamu dulu yang bacakan berita cuaca mu hari ini" ujar Tambun.


"Kamu yang sudah membuat suhu berubah,jadi kamu yang duluan " balas Adam, selalu saja ada kalimat yang di ubah oleh keduanya.


Akhirnya Tambun pun bercerita tentang kisahnya yang telah menyeretnya ke dunia yang brutal.


"Suami mana yang tidak sakit hatinya jika orang yang paling dia sayang mengkhianatinya, istriku kabur bersama selingkuhannya,aku mencarinya sampai aku merubah sifat dan penampilanku menjadi seorang preman jalanan, tujuanku cuma satu,ingin merebut istriku kembali"

__ADS_1


Tambun menghela nafasnya,di raihnya hp yang terletak di lantai,Tambun menampakkan sebuah foto wanita berparas anggun.


"Bertahun tahun aku berkeliling dari kota ke kota hingga akhirnya aku melihat istriku sedang berjalan bersama pria dengan dua orang anak yang masih kecil,aku mengikutinya sampai ke rumah barunya.


Dia tampak bahagia,yang menyakitkan selingkuhannya adalah sahabatku sendiri,aku telah di buta kan oleh emosi,sampai aku tidak menyadari telah mengakhiri dua nyawa bocah yang tidak berdosa" Tambun menarik nafasnya dalam,mengeluarkan lagi dengan kasar.


"Aku menyesal Dam,ternyata karena cinta semuanya bisa buta,cinta memang tidak bisa di paksakan,tapi aku tidak memaksa hatiku melupakan istri ku Dam hiks...hiks..." Antara iba dan ingin tertawa Adam melihat Tambun yang menangis.


Di sisi lain hatinya juga murka dengan penuturan Tambun.


Dia memang benar cinta bisa merubah segalanya,selain dari uang cinta juga bisa membuat buta,buta segalanya.


"Bertobatlah Mbun,berserah pada-NYA, yang punya Kuasa segalanya,,dengan begitu dosa dosa mu bisa di ampuni, "


Tambun tahu jika Adam hanya menghiburnya,karna sebentar lagi dirinya akan melakukan sidang penentuan eksekusi mati. Mengerikan jika tambun membayangkan timah panas yang akan bersarang tepat di jantungnya.


Dirinya kini sudah pasrah,mengingat bagaimana dirinya di bantu oleh dua orang temannya yang sampai saat ini belum di temukan keberadaannya.


"Kenapa kamu bisa berpikir langsung menyerahkan diri pada polisi ?" Adam masih ingin mendengar cerita Tambun,Adam menangkap sesuatu yang tidak beres dengan cerita Tambun.


"karena aku sudah melakukan kesalahan Dam," Jawab Tambun lirih.


"Kenapa dua orang temanmu bisa aman sampai saat ini,apakah yang menghabisi mereka semua adalah kamu ?" Tanya Adam lagi.


"Bukan,pada saat itu aku sedang memeluk anak dari istriku dengan suaminya ,aku ingin menculiknya seperti yang di sarankan salah seorang temanku"


"Tentu kamu tahu siapa yang sebenarnya menjadi manusia pencabut nyawa" Tambun membenarkan perkataan Adam dalam hatinya,


"Aku berada di sini sudah senang Dam,apalagi jika aku cepat di hantar oleh mereka bertemu dengan dua bocah malang yang saat itu meregang nyawanya dalam pelukanku,aku ingin meminta maaf dengan mereka di 'sana' "


Krek krek Suara berisik dari gembok besi yang di buka seorang sipir,


"Saudara Tambun,pengacara anda ingin bertemu "


"Katakan saja padanya,aku sudah siap dengan eksekusi mati " Tambun tetap diam di tempat.



\*\*Hai sahabat pembaca setia Bukan Menantu Pilihan,



Dukung terus author ya,beri like dan komen biar author tambah semangat


__ADS_1


Beri vote juga,terima kasih sahabat baca ku 😊😊\*\*


__ADS_2