
"Nji, apa kamu tau Rumah Yumna?" tanya Omah Ratih saat mereka sedang kumpul bersama di ruang keluarga.
"Iya, Panji tau, memangnya ada apa, Mah?" jawab Panji.
Omah Ratih menatap ke depan dengan tatapan kosong, dia teringat bagaimana gilanya David dulu saat kehilangan Yumna.
"Mamah, pingin ke sana." Omah Ratih menjawab.
"Nji, baiknya kita bantu David menjelaskan pada Yumna, apa yang sebenarnya terjadi tiga tahun lalu," sambung Omah Ratih membuat Panji dan Ajeng bingung.
"Maksud Mamah?" tanya Panji.
"Mamah nggak tega sama David, barangkali jika David kembali dengan Yumna. Dia mau kembali tinggal di sini," jawab Omah Ratih.
"Tapi, Mah, David kan..."
"Kita main dulu aja ke sana, Mamah kangen sama anaknya David. Dia ganteng banget, mirip sama David waktu kecil, iya kan?" potong Omah Ratih dengan senyum mengembang mengingat tingkah lucu Arka.
Panji menatap Ajeng dari tatapannya terlihat jika dia sedang bertanya, seolah paham dengan tatapan Panji, Ajeng pun mengangguk lemah.
Melihat anggukan Ajeng dan senyuman Panji, Omah Ratih merasa sangat bahagia. Dia sudah tidak sabar melihat David sang cucu kesayangan bisa hangat seperti dulu.
"Kalau gitu mari kita bersiap ke Rumah Indra!" Panji menyuruh semua anggota keluarga yang mau ikut untuk segera bersiap.
Setelah semuanya selesai bersiap, semua anggota keluarga Wijaya pun berangkat ke Rumah Yumna.
____________________________________________________
Sementara itu di tempat lain.
David sedang mengetuk pintu kamar Yumna, dari tadi Yumna belum juga membukakan pintu untuknya.
"Yumna, sayang kok sekarang malah kamu yang marah sih," ucap David dari balik pintu kamar Yumna.
"Sayang, buka pintunya dong!" David berteriak sekali lagi. Namun, tidak juga ada jawaban dari Yumna.
David menghela napas panjang dan membuangnya kasar, lalu David memutar tubuhnya untuk pergi dari sana. Namun, saat David ingin beranjak dari sana Arka datang bersama Mbak Mala.
"Papah kenapa di lual?" tanya Arka.
"Papah nggak boleh masuk?" tanyanya lagi dan David mengangguk.
"Alka bantu." Arka langsung berjalan mendekati pintu dan mengetuknya.
"Mamah huaaa..." Arka menangis. David sempat terkejut tapi Arka malah tersenyum padanya sambil mengedipkan sebelah mata.
__ADS_1
David menggelengkan kepalanya melihat tingkah menggemaskan Arka, ia sama sekali tidak pernah mengira kalau Arka bisa sepintar ini.
"Mamah huaaa..." Arka kembali menangis. lebih tepatnya hanya pura-pura menangis.
Yumna yang mendengar Arka menangis langsung membukakan pintu, ia langsung menggendong Arka.
"Kenapa sayang? Arka kenapa Nak?" tanya Yumna sambil mengelus rambut Arka pelan.
"Alka mau tidul sama Mamah, sama Papah." Arka menjawab dengan merangkul leher Yumna dan menempelkan kepalanya di pundak Yumna.
Yumna melirik David dengan tatapan curiga, sedangkan David hanya angkat bahu berpura-pura tidak tau apa-apa.
Yumna membawa Arka masuk ke kamarnya dengan David mengekori dari belakang, Arka tersenyum pada David begitu juga sebaliknya.
David menutup pintu kamar Yumna, tapi sebelum David menutup pintu dia tersenyum pada Mala dan menundukkan kepalanya, mungkin sebagai tanda kalau dia harus permisi.
Mbak Mala yang melihat semua persengkokolan antara anak dan ayahnya tersenyum sendiri.
Sungguh ini sangat lucu, dan harus segera dia ceritakan pada Tante Rani.
Yumna merebahkan tubuh anaknya di tengah, dia sengaja seperti itu agar David tidur di sebelah kanan Arka. Namun, Arka protes, dia menyuruh David untuk tidur di belakang Mamahnya.
"Alka sini, Papah deket Mamah," protes Arka, David tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Yumna hanya melirik padanya.
"Sayang, katanya mau tidur sama Mamah dan Papah, ya berarti Arka harus di tengah dong." Yumna berusaha menolak, tapi Arka menggeleng.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit akhirnya keluarga Wijaya sudah tiba di Rumah Indra. Mereka, Panji, Ajeng, dan Omah Ratih berjalan beriringan, sesampainya di depan pintu Panji menekan bel.
Ceklek
Seorang ibu paruh baya membuka pintu. "Maaf Bapak cari siapa?" tanya ibu paruh baya itu.
"Saya cari Pak Indra, apa beliau ada?" jawab Panji.
"Oh, ada Pak, mari masuk, Pak, Bu." Ibu paruh baya itu sedikit menepi, dan mempersilahkan keluarga Wijaya untuk masuk.
"Silahkan duduk dulu, Pak, Bu, saya akan buatkan minum dan memanggil Pak Indra dulu." Ibu paruh baya itu mempersilahkan mereka untuk duduk, dan dia segera pergi dari sana untuk memanggil Indra.
tok tok tok
Indra yang sedang bekerja dari rumah langsung beranjak dan membukakan pintu saat mendengar ketukan dari luar.
"Maaf, Pak, di luar ada tamu." Asisten Rumah tangga Indra yang lain memberitahu.
"Di mana?" tanya Indra.
__ADS_1
"Di ruang tamu, Pak, kalau gitu saya permisi dulu." Setelah mengatakan itu asisten Rumah tangga itu pun pergi.
Indra mematikan laptopnya lebih dulu, lalu menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu.
"Eh, Panji dan ibu, apa kabar?" sapa Indra sambil bersalaman dengan semuanya.
"Baik," jawab keluarga Wijaya serempak.
"Ada apa nih tumben?" tanya Indra.
"Yumna ada?" tanya Omah Ratih.
"Ada, tapi di mana ya? Mbak Mala." Indra memanggil Mbak Mala, tak berselang lama Mbak Mala pun datang.
"Iya, Pak?"
"Yumna kemana?"
"Ibu, ada di kamarnya, Pak, bersama Arka dan Pak David," jawab Mbak Mala membuat keluarga Wijaya terkejut.
"David ada disini?" tanya Omah Ratih, dan Indra mengangguk.
"Dia sering kesini," jawab Indra.
"Kalau begitu saya permisi, Pak!" pamit Mbak Mala, Indra mengangguk.
Tak lama ibu paruh baya yang tadi datang, membawakan minuman dan Snack untuk semuanya.
Setelah menata semua makanan dan minuman di meja, dia pun pamit untuk kembali ke dapur.
Keluarga Wijaya dan Indra pun langsung berbicara panjang lebar sambil menunggu David dan Yumna turun. Tadinya Indra ingin memerintahkan Mbak Mala memanggil Yumna dan David tapi di larang oleh Panji.
Mereka tidak ingin menggangu Yumna dan David, apa lagi Mbak Mala bilang kalau Arka ingin tidur bersama kedua orangtuanya.
Dua puluh menit kemudian Arka pun sudah terlelap, Yumna ingin beranjak tapi tangan David melingkar di perutnya membuatnya susah bergerak.
"Mas, tangannya awas aku mau bangun," ucap Yumna, tapi tidak di jawab oleh David.
Yumna menoleh ke belakang, ternyata David juga sudah terlelap. "Pantas saja berat, ternyata udah ngorok," gumam Yumna sambil melepaskan tangan David perlahan.
Yumna beranjak dari kasur dan berjalan keluar kamar, matanya membola saat melihat ke ruang tamu, disana ada keluarga Wijaya dan Papahnya sedang berbincang.
Yumna berjalan mendekati mereka dengan perasaan was-was, apakah mereka marah karena tau David disini?
BERSAMBUNG...
__ADS_1
hai ka 👋 jangan lupa tinggalkan like and komennya ya 🙏
kalau kalian mau ngasih bunga atau love juga Monggo dengan senang hati aku menerimanya 🥰