Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
chapter 150


__ADS_3

Sore harinya Ayarra yang merasa khawatir dengan Arka, memutuskan untuk ikut Alexa ke rumahnya. Dia ingin bertanya pada Arka, kenapa sedari pagi pesannya tidak pernah dibalas.


Padahal Ayarra merasa dia dan Arka tidak sedang bertengkar atau apalah yang bisa menyebabkan Arka tidak membalas pesannya.


"Kamu yakin mau ikut Alexa, ke rumahnya Ay?" tanya Nia.


"Iya, tumben banget kan Arka, nggak balas pesan atau pun angkat telepon aku. Aku khawatir sama dia," jawab Ayarra.


"Tapi kamu nggak lagi berantem sama abang, aku kan Ay?" tanya Alexa penuh selidik.


Sebenarnya dia juga merasa heran, nggak biasanya Arka seperti ini pada Ayarra. Jadi dia berpikir jika mereka sedang bertengkar.


"Ya nggaklah, Al, kalau emang aku lagi berantem sama dia, ngapain aku bertanya-tanya kayak gini," jawab Ayarra.


"Ya kali aja kalian lagi berantem, tumben banget lho," ujar Alexa seraya merapikan alat-alat tulisnya.


Lalu, mereka pun berjalan meninggalkan kelas, diikuti dengan para lelaki di belakang mereka.


***


Sesampainya di rumah Alexa, Ayarra tersenyum saat melihat motor Arka sudah berada di perkarangan rumah, dan di teras itu ada Yuda dan Neil sedang bercengkrama.


"Hai, ladys, apa kabar semuanya," sapa Yuda sambil tebar pesona.


Ayarra dan Nia terkekeh melihat tingkah Yuda seperti itu, mereka memutuskan masuk ke dalam saja dan mengabaikan Yuda.


"Ya ampun, cowok ganteng kayak gini diabaikan. Kalian berdosa sekali," gerutu Yuda saat melihat Ayarra dan Nia mengabaikannya.


"Gaya Abang, yang kayak gitu bukannya memikat malah buat ilfil tau nggak," ketus Alexa seraya mendorong tubuh Yuda kemudian mengikuti Ayarra dan Nia ke dalam.


"Heh, Abang, tuh ganteng tau nggak, kalian aja yang dibutakan oleh satu laki-laki," timpal Yuda. Alexa yang mendengar itu hanya angkat bahu acuh.


Ayarra dan Nia duduk di ruang tamu, kemudian Alexa juga ikut duduk di samping Ayarra.


"Abang, ke mana?" gumam Alexa sambil mengedarkan pandangannya, yang dijawab gelengan oleh Ayarra, karena dia juga sedang mencari Arka.


Tak lama Arka turun bersama David dari lantai atas, mata Arka sempat melirik sekilas pada Ayarra. Namun, sedetik kemudian dia memalingkan wajahnya.


"Terus kira-kira kamu pulangnya kapan?" tanya David.


"Ya, besok kan lombanya, kemungkinan aku tidur di sana. Jadi, senin sorelah Pah, aku baru pulang," jawab Arka.


"Abang, mau ke mana?" Alexa yang mendengar percakapan David dan Arka bertanya.


"Mau minep di rumah Yuda," jawab Arka menatap Alexa tapi tidak menoleh sedikitpun pada Ayarra.


"Lah, Ayarra, ke sini kok Abang, malah pergi, kasian lho. Ayarra mau ngobrol sama Abang, jangan di tinggal dong!" ujar Alexa.


Arka menoleh pada Ayarra. "Buat apa dia ngobrol sama Abang? lagi pula masih ada besok kan?" kata Arka.


Hal itu sukses membuat Ayarra bingung, dia memperhatikan Arka dengan dahi mengkerut.


"Tapi kan---."


"Udahlah, Pah, aku berangkat dulu ya," potong Arka sambil menyalami tangan David, kemudian berjalan keluar meninggalkan Ayarra yang masih memperhatikan dia dengan wajah bingung.


David yang berada di sana menoleh pada Ayarra. "Ay, mungkin Arka, lagi sibuk, jadi belum bisa ngobrol sama kamu, jangan dipikirin ya! nanti kamu telepon aja dia," tutur David dan Ayarra mengangguk.


"Ayah, aku pulang dulu ya!" Yuda datang dan menyalami tangan David.


"Iya, hati-hati dijalannya, dan nanti kalau Papah sama Mamah udah sampai, suruh hubungin Ayah," jawab David.


"Siap, kalau gitu aku pulang dulu." Setelah mengatakan itu Yuda hendak berjalan keluar. Namun, dicegah oleh Alexa.


"Kenapa?" Yuda bingung karena tiba-tiba saja Alexa menahan lengannya.


Alexa bangkit dari duduknya dan berbisik pada Yuda. "Abang, bang Arka, kenapa sih? Kok dia tumben nyuekin Ayarra?" Alexa bertanya dengan berbisik.


"Abang, nggak tau, tapi dari pagi dia udah marah-marah terus," jawab Yuda membuat Alexa mengkerutkan kening.


"Dari pagi?" Alexa bertanya lagi.


"Iya, bahkan tadi dia nggak makan, malah pergi ke danau," terang Yuda.


"Memangnya Ayarra, nggak cerita ke kamu?" tanya Yuda dan Alexa menggeleng.


"Yaudah kalau gitu nanti Abang, cari tau ya, dan nanti Abang, kabarin kamu. Ok!" sambung Yuda.

__ADS_1


"Ok, makasih Abang," jawab Alexa.


"Iya, sama-sama." Yuda mengacak-acak rambut Alexa sebentar kemudian berjalan keluar.


David tersenyum melihat anak dan keponakannya itu, mereka terlihat saling menyayangi satu sama lain. Walaupun jika sedang bersama mereka seperti tikus dan kucing yang tidak pernah akur.


Akan tetapi mereka akan saling membantu dan mendukung apa pun yang saudaranya butuhkan, bahkan terkadang mereka mengalah demi satu sama lain.


Melihat Yuda sudah pergi, David pun kembali ke lantai atas, meninggalkan putri-putrinya beristirahat di ruangan itu.


Kini di sana hanya sisah mereka bertiga, Ayarra terlihat masih kebingungan dengan sikap Arka.


Di saat Nia dan Alexa heboh membicarakan idol K-Pop kesukaan mereka, Ayarra hanya dia sambil memperhatikan ponselnya.


Alexa yang melihat itu langsung mengambil ponselnya dan memotret Ayarra, kemudian dia mengirimkan foto tersebut pada Arka, dengan tulisan.


"Noh liat anak orang mukanya sedih gitu gara-gara abang, kalau punya masalah ngomong dong, jangan didiemin." Begitulah kira-kira pesan dari Alexa. Namun, belum dibaca oleh Arka, mungkin mereka masih di jalan.


Alexa tersenyum setelah mengirimkan pesan tersebut, dia yakin jika nanti **** pasti akan menghubungi Ayarra.


"Oh, iya Al, hari rabu nanti katanya kantor akan ada acara ya? dan semuanya wajib ikut, termasuk kita?" tanya Nia.


"Iya, makannya kan om Brian dan tante Diana pulang sekarang, mungkin karena ada acara itu," jawab Alexa.


"Terus kamu mau ikut?" Nia kembali bertanya.


"Ya ikutlah, bahkan papah, bilang aku boleh bawa Dimas," jawab Alexa.


"Kalau kamu Ay? kamu ikut juga kan ke acara kantor?" Kini Alexa bertanya pada Ayarra yang sedari tadi sibuk melamun.


"Iya, aku juga ikut, kata papah, kan semua anak-anak disuruh ikut semua," jawab Ayarra dengan nada pelan.


"Aduh, kita pakai baju apa ya Al, besok kan minggu, gimana kalau kita pergi beli baju yang cocok yuk!" ajak Nia yang dijawab anggukan oleh Ayarra dan Alexa.


***


Di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman keluarga Panji Wijaya.


Arka tersenyum saat melihat foto Ayarra yang dikirimkan oleh Alexa. Di foto itu Ayarra terlihat sangat menggemaskan.


"Nggak kenapa-kenapa, kan udah di bilangin dari tadi. Nggak kenapa-kenapa, kok masih nanya mulu sih," jawab Arka.


"Ya iyalah, secara Abang, nggak biasanya kayak gitu ke Ayarra, kenapa sekarang cuek sama dia," terang Yuda.


"Kepo ih." Arka menjawab sambil merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu itu.


"Biarin aja Yud, ntar juga kalau direbut orang mewek dia," timpal Neil spontan, membuat Arka langsung menoleh dan memberikan tatapan tajam padanya.


Neil yang merasa sudah salah bicara hanya bisa meneguk salivanya, sedangkan Yuda hanya terkekeh melihat tingkah kakak dan sahabatnya itu.


"Ayarra, nggak kaya gitu," ketus Arka.


"Udah tau Ayarra, nggak akan gitu tapi kenapa Abang, masih cemburu sama dia? Foto kayak gitu kan belum tentu benar, jangan tanya kenapa aku bisa tau, karena Abang, pasti udah tau jawabannya. Apa lagi kalau bukan kepo." Yuda menimpali kembali ucapan Arka.


"Permasalahannya semua ada di Abang, harusnya kalau emang Abang, cemburu, bilang aja sama dia. Jelaskan, tanya, bukannya malah ngambek nggak jelas. Lagi pula kayanya Ayarra, tuh nggak gitu," sambung Yuda.


Arka hanya diam mendengarkan kata demi kata yang dilontarkan oleh Yuda, ucapan Yuda memang ada benarnya, harusnya tadi dia menanyakan pada Ayarra.


Saat Yuda masih mengoceh panjang lebar Arka bangkit dari duduknya, membuat keduanya mengkerutkan kening. "Mau ke mana lagi Bang?" tanya Yuda.


"Mau ketemu sama Ayarra, kalian tunggu di sini dulu ya! Nanti Abang, balik lagi," jawab Arka kemudian dia berlalu meninggalkan Yuda dan Neil, yang masih kebingungan.


"Dia mah gitu, aku lagi nyerocos malah ditinggal," gerutu Yuda membuat Neil terkekeh geli.


"Tapi, aku salut sama kamu, walaupun mungkin hati kamu sakit saat mereka berdua, tapi kamu selalu jadi pendengar dan penasehat yang baik untuk keduanya," ujar Neil penuh bangga pada sahabatnya itu sambil mengelus pundak Yuda.


"Karena kebahagiaan keduanya adalah kebahagiaan aku juga, lagi pula Ayarra, nggak cinta sama aku. Jadi, nggak mungkin juga dipaksakan, lebih baik lepaskan," jawab Yuda.


Ya, wanita yang selama ini Yuda cintai adalah Ayarra, dia bahkan sudah mengungkapkan perasaannya pada Ayarra. Namun, Ayarra menolaknya, dengan beberapa alasan.


Lalu, beberapa bulan kemudian, Yuda mendengar kalau Ayarra dan Arka berpacaran. Saat itu hatinya sangat hancur, bahkan dia sempat menjauh dari Arka hingga berhari-hari dan dia memacari Dewi.


"Btw, nggak jemput tante dan om, Yud?" tanya Neil.


"Katanya mereka mau naik taksi aja, kasian kalau aku jemput malam-malam," jawab Yuda.


***

__ADS_1


Di tempat lain.


Arka kembali lagi ke rumahnya, dan bibirnya membentuk senyuman saat melihat Ayarra sedang duduk di perkarangan rumah sendirian.


Arka berjalan secara perlahan saat menghampiri Ayarra, dia ingin menjalin Ayarra. Namun, saat dia ingin melaksanakan aksinya.


Tiba-tiba saja Alexa dan Nia datang sambil membawa makanan dan minuman. "Abang, kenapa balik lagi?" tanya Alexa dengan wajah datarnya.


Alexa memang akan selalu marah pada Arka jika dia dan Ayarra bertengkar. Alexa sangat menyayangi Ayarra begitu juga sebaliknya.


"Emm ... Abang, mau ngomong sebentar sama Ayarra," jawab Arka.


"Sama aku? mau ngomong apa?" tanya Ayarra.


"Aku mau ngomong berdua, kita ngobrol di taman aja yuk!" Arka menarik tangan Ayarra dan membawanya ke taman belakang rumah.


Nia dan Alexa memperhatikan mereka sampai keduanya hilang dibalik tembok dapur. "Orang aneh," gumam Alexa sambil menggelengkan kepalanya.


Di taman.


"Kamu mau ngomong apa?" tanya Ayarra.


"Duduk dulu ay." Arka memerintahkan Ayarra untuk duduk di kursi taman itu.


Taman belakang rumah memang tidak besar, tapi taman ini tempat anggota keluarga bersantai atau mendinginkan pikiran jika sedang butuh waktu sendiri.


Tempatnya pun cukup indah, karena pohon-pohon disekitaran taman dipasang lampu kemerlap-kemerlip oleh Arka, karena memang dia yang sering sekali kalau malam mencari angin di taman ini.


"Aku minta maaf ya, karena seharian ini cuekin kamu, aku nggak ada maksud begitu," ujar Arka.


"Kalau nggak ada maksud cuekin aku, terus karena apa?" tanya Ayarra, tapi bukannya menjawab Arka malah memeluknya.


"Itu semua karena aku takut, aku takut kehilangan kamu," lirih Arka dia memeluk tubuh Ayarra erat.


Seolah-olah dia tidak ingin melepaskannya, dia pun mencium rambut Ayarra lembut.


"Maksud kamu apa Ka? aku ninggalin kamu? Apa sih?" tanya Ayarra beruntun.


Arka melepaskan pelukannya dan langsung menggenggam tangan Ayarra kuat. "Jadi, tadi pagi aku dapat kiriman foto, dan---."


"Foto apa?" potong Ayarra bingung.


"Foto kamu sama laki-laki lain, kalian terlihat sangat akrab di sana, dan itu membuat aku cemburu," jawab Arka.


"Aku bener-bener takut kamu berpaling, dan tadi siang saat aku mulai berpikir jernih soal kamu. Orang itu ngirimin lagi foto kalian saat di kantin sekolah," sambung Arka. Ayarra nampak terkejut dengan penjelasan Arka.


"Boleh aku liat fotonya?" Ayarra menadahkan tangannya meminta foto yang Arka maksud.


Arka mengangguk, dia mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan memberikannya pada Ayarra.


Ayarra memeriksa pesan yang diterima oleh Arka, dan matanya membulat sempurna saat melihat fotonya bersama Doni yang terlihat sangat dekat itu.


"Kenapa di foto ini aku dekat banget sama Doni," gumam Ayarra.


"Makannya aku cemburu, aku tau kalau Doni itu suka sama kamu." Arka kembali memeluk Ayarra.


"Tapi aslinya aku nggak sedekat itu kok, aku serius," jelas Ayarra.


"Iya aku tau, makannya aku minta maaf ya, udah cuekin kamu seharian." Arka membelai rambut Ayarra.


"Aku maafin tapi kamu harus janji dulu," ucap Ayarra.


"Janji apa?" tanya Arka.


"Kamu harus janji, kalau ada yang begini-begini lagi, jangan langsung marah, tapi kamu harus tanya dulu sama aku."


"Iya aku janji, aku janji nggak akan begini lagi, maafin aku ya," jawab Arka dan Ayarra mengangguk.


"Terima kasih." Arka langsung mengecup kening Ayarra.


Nia yang hendak mengambil es batu di dapur, mampir sebentar ke taman untuk memperhatikan Arka dan Ayarra. Bibirnya membentuk senyuman tipis saat melihat Arka mengecup kening Ayarra dengan penuh kasih.


Saat Arka mengangkat dagu Ayarra menggunakan telunjuk dan mulai mendekatkan wajahnya pada Ayarra. Nia langsung membalikkan tubuhnya dan pergi dari sana.


Nia meninggalkan pintu yang mengarah ke taman itu sambil memegangi dadanya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2