
Sepanjang perjalanan Adit tersenyum lebar, malam ini dia merasa sangat bahagia bisa jalan bersama Nayla setelah sekian lama.
Saking bahagianya tanpa sadar Adit menggenggam tangan Nayla yang berada di perut Adit.
Nayla yang diperlakukan seperti itu hanya bisa tersenyum tipis. "Nay, kamu udah makan belum?" tanya Adit tiba-tiba.
"Em ... Belum sih, emangnya kenapa?" jawab Nayla.
"Aku laper banget, gimana kalau kita makan dulu yuk!" ajak Adit.
"Baiklah." Nayla menjawab dengan singkat karena kedua pipinya sudah bersemu merah karena menahan malu.
Lima belas menit kemudian, mereka pun sudah sampai di sebuah cafe yang nuannya cukup romantis. Adit sengaja memilih cafe yang seperti ini karena dia ingin memulai pendekatan dengan Nayla.
'semoga Nayla mau memberikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Bantu aku dari sana Mah, Pah, aku ingin serius pada perempuan ini.' batin Adit sambil menggandeng tangan Nayla dan masuk ke dalam cafe.
"Nay, kamu cari kursi yang ada atas sana ya! Di atas pemandangannya sangat indah, aku mau pesan makanan dulu," Adit menunjuk tangga yang menuju ke lantai atas cafe.
Di atas adalah tempat yang lebih sunyi dari pada di bawah cafe. Namun, pembeli yang duduk di sana akan disuguhi beberapa pemandangan indah.
Seperti bintang-bintang buatan cafe yang ada diatas mereka, pohon-pohon buatan cafe juga terlihat sangat indah dengan kemerlap-kemerlip yang melingkari pohon tersebut.
Belum lagi semilir angin yang berembus, menambah ketengan tersendiri untuk siapa pun yang duduk di atas sana.
Nayla berjalan ke arah pagar cafe dan tersenyum melihat pemandangan beberapa gedung yang berada tak jauh dari cafe tersebut. Dia merasa lebih tenang sekarang setelah beberapa hari dia merasa khawatir karena Arka hilang.
"Nay," panggil Adit, Nayla pun berbalik dan tersenyum pada Adit.
__ADS_1
"Pemandangannya indah banget ya Dit, gimana kamu bisa tau kalau ada cafe yang menyuguhkan pemandangan sebagus ini?" tanya Nayla seraya berjalan mendekati Adit.
Adit tersenyum lalu duduk di kursi kosong yang ada di sana diikuti oleh Nayla. "Aku dulu sering ke sini kalau lagi sedih," jawab Adit.
"Sama pacar?"
"Enggak, kamu orang pertama yang aku ajak ke sini," jawab Adit.
'dan kamu orang pertama yang ada di hati aku Nay, hanya saja dulu aku terlalu pengecut untuk mengatakan suka sama kamu,' batin Adit sambil menatap wajah Nayla dalam.
"Kenapa kamu nggak pernah bawa pacar kamu sebelum ke sini? Tempat ini kan bagus banget." Nayla kembali bertanya, karena dia sangat heran bagaimana bisa dia orang pertama yang dibawa Adit ke sini.
"Karena aku belum pernah pacaran, semua wanita yang sering jalan sama aku hanya sebatas teman aja," jawab Adit.
Nayla menatap Adit, mata keduanya pun bertemu, ada perasaan aneh yang menjalar di relung hati Nayla saat menatap kedua netra hitam Adit.
"Permisi," ucap sang pelayan sambil membawa makanan yang dipesan oleh Adit tadi.
Pelayan tersebut meletakkan beberapa makanan yang Adit pesan ke atas meja, Nayla sempat terkejut dengan apa yang Adit pesan, karena semuanya itu makanan kesukaan dia.
"Terima kasih Mbak," ucap Adit saat sang pelayan itu hendak pergi.
"Sama-sama Mas." Pelayan itu pun pergi meninggalkan Adit dan Nayla berdua.
"Dit, ini kok makanan aku semua sih?" tanya Nayla.
"Sengaja, udah makan yuk!" kata Adit.
__ADS_1
Lalu, mereka pun makan malam bersama, dan saat semuanya telah tandas. Tinggal makanan penutup saja, Adit pun memerintahkan Nayla untuk memakan desert tersebut.
Nayla mengangguk, dan saat dia memakan desert itu Nayla merasa ada sesuatu. Dia mengeluarkan benda yang tidak sengaja dia makan itu.
Nayla terkejut ternyata ada cincin di dalam desert tersebut, matanya menatap Adit tidak percaya. Namun, Adit hanya tersenyum menanggapi.
"Apa ini Dit?" tanya Nayla dan lampu padam.
Semua gelap gulita tapi ada lampu kemerlap-kemerlip yang berbentuk love dan ucapan aku mencintaimu Nayla.
Nayla terpaku melihat semua itu, dan tiba-tiba saja Adit berlutut dan tangannya menggenggam tangan Nayla.
"Nay, aku minta maaf atas kesalahanku beberapa tahun lalu, aku memang pengecut karena tidak mau jujur. Tapi jujur Nay, but honestly, I love you. not because of your body, but i love you for who you are. Nayla, will you give me a second chance and marry me?" tutur Adit.
Nayla terharu dengan apa yang Adit ucapkan, air matanya mengenang di pelupuk mata. Dia menyeka air matanya. "Aku butuh waktu," jawab Nayla.
Adit menghela napas. "Baiklah, tapi selama itu, ijinkan aku selalu ada untuk kamu, ijinkan aku menggantikan David dalam hatimu dan kita mulai semuanya dari awal ya," ujar Adit, dan Nayla pun mengangguk.
Adit tersenyum dan dia pun bangkit dari berlutut. Seketika lampu dicafe itu pun kembali menyala.
"Terus cincin ini gimana Dit?" tanya Nayla.
"Sini aku pakein." Adit mengambil cincin yang ada di tangan Nayla, dan memakaikannya di jari manis Nayla.
"Cantik, sama kaya yang pakai," puji Adit membuat pipi Nayla merona.
BERSAMBUNG....
__ADS_1