Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
Chapter 104


__ADS_3

Puisi adalah ungkapan rasa.


Puisi adalah alunan jiwa yang tak bernada.


Puisi adalah alunan lagu cinta yang tak berirama.


Aku mencintaimu bukan karena siapa kamu, tapi karena sebuah rasa yang terjadi saat bersamamu. batin David sambil menatap Yumna dengan penuh cinta.


"Papah, pulang yuk!" ucap Arka tiba-tiba membuat semua orang tertawa mendengarnya.


"Iya, nanti sekarang kan Papah, masih sakit." David menjelaskan sambil menunjukan tangannya yang di infus.


Arka memperhatikan tangan David. "Papah, ini sakit enggak?" tanya Arka.


"Sakit, makannya Arka doain, Papah, ya! biar cepet sembuh," jawab David dan Arka hanya mengangguk


"Selamat siang semuanya," sapa Brian yang baru saja datang sambil membawakan beberapa kantong plastik jajanan.


Brian jalan mendekati David diikuti oleh Diana dan Yuda dari belakang. Namun, seketika dia mematung saat melihat Nayla yang sedang duduk di sofa bersama Indra.


Brian menatap David seolah bertanya melalui tatapannya, sedangkan Nayla menundukkan kepalanya.


Hal itu tak luput dari tatapan Yumna. Ia memperhatikan Brian, David, dan Nayla bergantian, Yumna yakin kalau ada sesuatu diantara mereka.


Begitu pula dengan Diana, dia nampak tidak suka dengan adanya Nayla di sana, sedangkan Arka langsung memeluk David erat saat melihat kedatangan Yuda.


Hal itu sukses membuat, yang ada di sana tertawa melihat tingkah Arka terlihat sekali kalau Arka tidak ingin Yuda mendekati papahnya.


"Gimana keadaannya, Mas, sekarang?" tanya Brian seraya memberikan bingkisan pada Yumna yang tengah duduk di sebelah David.


"Sudah lebih baik, lagi pula aku harus segera sembuh, biar bisa nikah dengan Kaka ipar mu," jawab David.


"Mas, nggak boleh kemana-mana dulu, pernikahan kan bisa diundur." Brian menasehati David sambil mendudukkan tubuhnya di kursi samping David yang lain, sedangkan Diana dan Yuda duduk di sofa bersama Indra dan Nayla.


Diana memberikan tatapan tajamnya pada Nayla, membuat Yumna bingung.


"Di, apa kamu kenal Nayla?" tanya Yumna penasaran, dia ingin sekali tau tentang kejanggalan yang terlihat di matanya.

__ADS_1


"Tentu saja, dia itu kan perempuan yang nggak punya malu, udah tau mau bertunangan tapi malah naksir laki-laki lain, giliran calon tunangannya pacaran sama orang dia cemburu," cibir Diana.


"Maksud kamu?" Yumna masih belum mengerti yang di maksud oleh Diana.


"Dia itu---."


"Di, udah ah jangan bahas apapun dulu sekarang, kita fokus dulu pada kesembuhan, Mas David, dan pernikahannya," potong Brian saat Diana masih ingin mengoceh.


Yumna menatap ke arah David tapi suaminya itu hanya tersenyum manis padanya.


"Arka, sayang, pulang yuk!" ajak Indra pada Arka Karena ini sudah sore, anak kecil seperti Arka tidak boleh berlama-lama di Rumah Sakit, tapi cucunya itu menggeleng.


"Alka, mau tunggu, Papah," jawab Arka.


"Tapi, Arka, Papah kan udah dijagain sama mamah, Arka pulang aja ya!" bujuk Yumna.


"Papah, alka pulang dulu ya!" pamit Arka.


"Iya, sayang, hati-hati ya!" ucap David, Arka tersenyum lalu mencium pipi kanan kiri Papahnya itu, kemudian dia turun dari brankar dibantu oleh Brian.


Saat berhadapan dengan, Yuda, Arka, sempat menghentikan langkahnya lalu memberikan tatapan tajamnya.


Nayla beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri David. "Cepat sembuh ya, Mas," ucap Nayla sambil mengelus pundak David.


Mata Yumna melotot tidak suka ke arah David dan Nayla.


"Hey, tangannya, hargai yang punya, lu saudaranya Yumna kan?" Diana membentak Nayla membuat Nayla langsung menunduk.


"Maaf, Mbak Yumna," ucap Nayla tidak enak hati, Yumna hanya tersenyum tipis kemudian memalingkan wajahnya dari Nayla.


"Mari semuanya, saya permisi," pamit Nayla, lalu dia berjalan mengikuti Indra.


"Dadah, Mamah, Papah, aunty dan uncle." Arka melambaikan tangannya pada semua yang ada disana.


"Dasar gatel," cibir Diana, membuat Yumna semakin penasaran pada Nayla dan yang lainnya.


"Ssssttt." Brian mengingatkan Diana untuk tidak berisik.

__ADS_1


"Apa? kamu nggak suka aku cibir dia? apa kamu masih--" ucapan Diana terpotong saat melihat David dan Brian menggeleng.


"Maaf, maaf," ucap Diana dengan tersenyum kikuk, sedangkan Brian menggeleng.


_______________________________________________________________________________


Sementara itu di tempat lain.


Angel tengah memarahi Bayu, dia sama sekali tidak mengerti apa yang diinginkan Bayu.


Mengapa sampai saat ini Bayu tidak juga bekerjasama dengannya.


"Besok hari pernikahan mereka, apa kamu benar-benar pasrah?" tanya Angel dengan nada tinggi.


Dia merasa ini tidak bisa dibiarkan, dia harus mendapatkan David, apapun yang terjadi.


"Nggak, biarkan saja, lagi pula belum tentu besok mereka akan menikah. Siapa tau salah satu dari mereka sekarang lagi sekarat, dan belum sadar." Bayu menjawab sambil menyodorkan segelas wine pada Angel.


Angel mengkerutkan kening bingung dengan apa yang diucapkan Bayu, dia masih mencernanya.


"Maksud kamu apa?" tanya Angel.


"Nggak ada maksud apa-apa," jawab Bayu santai sambil meneguk wine yang dia pegang.


Angel mendengus dan mendekatkan wajahnya pada Bayu. "Kamu nggak ngapa-ngapain David kan?" sindir Angel.


"Kenapa kamu nuduh gitu?" tanya Bayu.


"Aku nggak nuduh, tapi kalau sampe bener kamu ngapa-ngapain David, liat aja. Aku akan melakukan hal yang sama pada Yumna." Angel mengancam Bayu.


"Jangan pernah kamu sentuh Yumna, atau--"


"Kalau begitu jangan sampai aku mengetahui kalau kamu ngapa-ngapain David, karena kalau aku mendengar itu lihat saja," potong Angel.


Lalu, dia beranjak dan pergi dari sana.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


hai ka 👋 jangan lupa tinggalkan like and komennya ya 🙏 kalau kalian mau ngasih bunga atau love juga monggo dengan senang hati aku menerimanya 🥰


__ADS_2